NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Catur di atas salju

Nikolai Brine tidak pernah menjadi pemimpin mafia hanya karena ototnya; ia berada di puncak karena ia selalu berpikir tiga langkah di depan musuh-musuhnya. Saat Clara Marine masih gemetar karena mendengar pengkhianatan Julian dan Boris, Nikolai justru tampak sangat tenang. Ketenangan yang mematikan, seperti permukaan danau beku yang siap pecah dan menelan siapa pun di atasnya.

"Kau pikir aku tidak tahu Boris akan menjualku?" Nikolai bicara sambil memeriksa magasin senapannya, suaranya datar seolah sedang membicarakan cuaca. "Paman tua itu sudah kehilangan nyalinya sejak asetnya di Dubai disita. Dia butuh kambing hitam, dan Julian Tide datang membawa piring emas."

Nikolai menarik Clara ke pelukannya, sebuah gerakan yang posesif sekaligus protektif. Ia mencium puncak kepala Clara dengan kasar. "Taruhannya adalah kau, Clara. Dan aku tidak pernah kalah dalam taruhan yang melibatkan milikku."

Pembersihan di Dacha

Di lantai bawah, Boris dan Julian masih asyik merencanakan kejatuhan Nikolai. Mereka tidak menyadari bahwa pengawal yang berdiri di depan pintu ruang kerja bukanlah anak buah Boris, melainkan orang-orang Nikolai yang telah disuap kembali dengan jumlah uang yang lebih besar.

"Julian," panggil Nikolai dari ambang pintu yang tiba-tiba terbuka.

Kedua pria di dalam ruangan itu tersentak. Julian Tide segera berdiri, tangannya meraba senjata di balik tuxedo-nya, namun ia membeku saat melihat moncong senapan mesin Nikolai sudah mengarah tepat ke dadanya. Di belakang Nikolai, Clara berdiri dengan wajah pucat namun mata yang menatap tajam ke arah mantan tunangannya.

"Nikolai, ini tidak seperti yang kau dengar," Boris mencoba tertawa, namun suaranya pecah karena ketakutan.

"Aku tidak mendengar, Boris. Aku melihat," ucap Nikolai. "Aku melihat seorang pengecut yang mencoba menjual keponakannya sendiri dan seorang anjing pelacak yang menyamar jadi pengantin pria."

Tanpa peringatan, Nikolai melepaskan tembakan ke arah kaki meja kayu besar itu, membuat Boris terjatuh dari kursinya. Nikolai tidak langsung membunuh mereka; itu terlalu mudah. Ia ingin mereka merasakan ketakutan yang sama dengan yang dirasakan Clara.

"Julian, sampaikan pesan ini pada Silas melalui radio yang kau bawa," Nikolai melangkah maju, menekan ujung senjatanya ke dagu Julian. "Katakan padanya bahwa Clara Marine tidak akan pernah kembali ke Belanda sebagai mayat atau tahanan. Dia akan kembali sebagai badai yang akan menghapus nama Marine dari muka bumi."

Nikolai memerintahkan anak buahnya untuk mengikat mereka. "Bakar dacha ini setelah kita pergi. Biarkan Silas mengira rencana pengkhianatan ini gagal total."

Pelarian Menuju Perbatasan

Mereka meninggalkan rumah itu saat api mulai melalap kayu-kayu tua di tengah hutan pinus. Nikolai membawa Clara ke sebuah truk militer yang sudah disiapkan. Perjalanan menuju perbatasan Finlandia akan memakan waktu berjam-jam melewati medan bersalju yang ganas.

Di dalam truk yang berguncang, Nikolai menyelimuti Clara dengan mantel bulu tambahan. Ia terus merangkul bahu wanita itu, tidak membiarkan ada celah udara di antara mereka.

"Kenapa kau tidak membunuh Julian tadi?" tanya Clara.

"Karena Julian masih berguna sebagai umpan. Silas akan fokus mencarinya, member kita waktu untuk masuk ke Eropa lewat jalur utara," jawab Nikolai. Ia menatap Clara, jemarinya yang kasar mengusap pipi Clara yang dingin. "Kau ketakutan?"

"Aku lelah, Nikolai. Lelah karena semua orang yang aku kenal ternyata ingin aku mati demi uang," bisik Clara.

Nikolai menarik dagu Clara, memaksanya menatap mata birunya yang membara. "Aku tidak menginginkan uangmu, Clara. Aku sudah punya cukup untuk membeli setengah dari Moskow. Aku menginginkanmu. Dan itu jauh lebih berbahaya bagi musuh-musuhmu. Karena seorang pria yang menginginkan uang bisa disuap, tapi pria yang terobsesi pada wanitanya hanya bisa dihentikan oleh kematian."

Malam di Perbatasan

Saat mereka mencapai sebuah gubuk kecil dekat perbatasan Finlandia untuk berganti kendaraan, Nikolai kembali menunjukkan sifat protektifnya yang ekstrem. Ia tidak mengizinkan Clara keluar dari truk sampai ia sendiri memeriksa setiap jengkal gubuk itu dengan sensor panas.

Di dalam gubuk yang gelap, Nikolai membantu Clara duduk di dekat kompor minyak kecil. Ia melepaskan sepatu bot Clara dan memijat kakinya yang mati rasa karena kedinginan. Gerakannya sangat lembut, sangat kontras dengan pria yang baru saja mengancam akan membakar pamannya sendiri hidup-hidup.

"Setelah kita melewati Finlandia, kita akan ke Jerman, lalu masuk ke Amsterdam lewat jalur darat," Nikolai menjelaskan rencana selanjutnya. "Kita akan menyerang saat upacara peringatan kematianmu. Saat Silas merasa paling aman."

Clara menatap Nikolai. "Kau benar-benar akan mempertaruhkan nyawa seluruh pasukanmu untuk ini?"

"Aku mempertaruhkan nyawaku sendiri untukmu, Clara. Pasukanku dibayar untuk mati, tapi aku hidup untuk memastikan kau tetap milikku," Nikolai berdiri, menarik Clara ke dalam dekapannya yang erat. "Kau adalah satu-satunya wilayah yang tidak akan pernah aku lepaskan, apa pun harganya."

Di tengah badai salju yang menderu di luar, Clara menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar pelarian. Di bawah sayap Nikolai yang protektif dan obsesif, ia sedang dipersiapkan menjadi senjata yang mematikan. Nikolai bukan hanya lebih pintar dari rencana Boris dan Julian; ia adalah penguasa permainan yang tidak akan membiarkan bidak ratunya disentuh oleh tangan mana pun selain tangannya sendiri.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!