NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: tamat
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO / Tamat
Popularitas:566.4k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Menghubungi Rayyan

#5

Niatnya tidur sebentar setelah makan tapi Rayyan bablas sampai pagi, bahkan Nanang harus ekstra berusaha membangunkan pria itu agar tak melalaikan kewajiban lima waktunya. 

Rayyan membuka mata pagi ini, tubuhnya terasa kembali bugar setelah bangun dari tidur paginya, karena tadi selepas subuh ia kembali memejamkan mata. 

Rayyan segera melipat alas sholat dan kain sarung milik Nanang yang ia pinjam. Hidungnya mengendus aroma sedap masakan yang sedang diolah Bu Siti, hingga membuat rasa laparnya terbit. 

Rayyan menoleh ke seluruh penjuru rumah, ia tak menemukan Nanang, namun, pintu depan terbuka lebar, “Bu, Nanang, mana?” tanya Rayyan mengejutkan Bu Siti yang sedang mengaduk tumisan di atas penggorengan. 

“Sudah bangun? Pulas sekali tidurmu?”

Rayyan menyeringai malu, mungkin ia membawa serta rasa lelahnya dari kota, hingga Rayyan bisa tidur pulas setelah menemukan tempat istirahat yang nyaman. “Sepertinya kemarin-kemarin saya stress memikirkan pabrik, Bu.” 

“Tidak apa-apa stress di masa muda, lelah, hingga rasanya hancur tulang belulang. Tapi nanti ketika tua kamu bisa merasakan nikmatnya kerja keras yang kamu lakukan sejak muda,” hibur Bu Siti. 

“Amin.” Rayyan mengaminkan doa Bu Siti. 

“Nanang tadi pamit, mau ke balai desa, memesan pupuk dan bibit padi baru.” 

“Lama, kah?” 

“Tidak, paling sebentar lagi pulang. Diminum dulu teh hangatnya, tapi Emak nggak bikin camilan. Sebagai gantinya Emak sudah minta tolong Nanang membeli ubi dan pisang goreng di warung Lilis.” 

Mendengar nama Lilis, Rayyan jadi ingat wanita yang kemarin menolak tawarannya. Ia juga mencuri dengar pembicaraan Lilis dan salah seorang ibu di bis kemarin, bahwa Lilis berdagang di warung. “Tidak apa-apa, Bu. Ini saja sudah cukup, kan sebentar lagi juga sarapan.”

“Iya, tunggu sebentar lagi sarapan siap. Tumis pepaya mudanya sebentar lagi matang.” 

“Hah! Pepaya muda, Bu? Nggak salah!” Sebagai orang kota mendengar menu tumis pepaya muda, sungguh asing di telinga Rayyan. Setahu Rayyan pepaya muda ya buat di rujak. 

“Nggak, lah. Tuh lihat di pekarangan belakang, pepaya Emak sudah berbuah lebat.” 

Rayyan melongok ke belakang, memang benar ada 2 pohon pepaya yang sedang berbuah lebat. “Rasanya seperti apa, Bu?” 

“Enak, nanti kamu coba.” 

Rayyan makin penasaran, namun tak lanjut bertanya, fokusnya kini ada di bahan-bahan  sambal yang belum lagi diolah. “Bu, aku yang bikin sambal, ya?”

“Boleh, Emak penasaran, Nanang bilang, sambal buatanmu sedap.” 

“Nanang tak tahu saja, Bu. Kalau sambalnya aku ludahi jadi rasanya sedap.” 

“Astaghfirullahalazim!” pekik Bu Siti dengan wajah pucat, kaget sekaligus tercengang mendengar ucapan Rayyan. Tiba-tiba ia menyesal karena menyetujui permintaan Rayyan untuk mengolah sambal. 

“Ahahaha, aku hanya bergurau, Bu.” Rayyan segera mencairkan suasana. 

Wajah Bu Siti berubah lega, “Kirain beneran,” gerutunya. 

Rayyan tersenyum simpul, kedua tangannya dengan terampil mengupas bawang serta menyiangi cabai yang hendak ia olah menjadi sambal. 

Meski sambal akan lebih sedap bila di goreng di minyak jelantah, tapi kali ini Rayyan ingin membakar semua bahan-bahan sambal tersebut. 

Dengan dua bilah lidi, Rayyan mulai menusuk bawang, cabai, tomat, dan terasi, kemudian memanggangnya di atas api, jika ada bara,  aroma smokey-nya akan lebih sedap. Tapi karena tak ada, ya di bakar di atas api pun tak masalah. 

Bu Siti tak menegur Rayyan, sebaliknya ia serius mengamati betapa terampilnya pemuda itu dalam mengolah bahan sambal, hingga menghaluskannya dengan cobek tanpa kesulitan. Benar-benar seperti orang yang sudah profesional. 

•••

“Wah, sambalmu masih tetap sedap seperti dulu,” puji Nanang setelah mereka sarapan. 

“Gimana, sih, kan aku pengusaha sambal.” Dengan bangga Rayyan memamerkan pekerjaannya. 

“Eh, tapi kamu bilang bahan sambal mu bermasalah?” Nanang tiba-tiba teringat curhatan Rayyan sebelum datang ke Desa Kembang Turi. 

“Iya begitulah, ada perubahan pada rasa cabai yang disuplai petani ke pabrikku.”

“Berubah? Bukannya rasa cabai semuanya pedas?” gumam Nanang. 

Tapi Rayyan tak berpikir demikian, “Tentu saja beda, walaupun rasa dasarnya sama-sama pedas.” Rayyan berdiri dan memetik dua buah cabai rawit dari dua pohon berbeda di rumah tetangga Nanang. 

Nanang garuk-garuk kepala heran, Rayyan memang memiliki sensitivitas lidah yang berbeda. Ia peka pada rasa masakan terutama cabai. 

Kadang hanya menjelaskan satu rasa makanan saja, penjabarannya bisa sangat panjang, dan detail. Beda dengan dirinya yang makan, ya, tinggal dikunyah lalu ditelan. Kalau enak tambah lagi, kalau tidak cocok di lidah, ya, bersyukur atas rezeki hari ini. 

Kalau Rayyan punya filosofi berbeda, ia akan mengunyahnya perlahan, seolah-olah, milyaran kabel syaraf di otaknya mencerna serta berusaha merumuskan bahan apa saja yang ada dalam makanan. Pokoknya bagi Nanang semua itu ribet, lagi pula amat merepotkan. 

“Nih, cabai dari halamanmu, dan ini cabai dari rumah tetanggamu.” 

Rayyan menggigit ujung cabai tersebut, kemudian memejamkan mata. “Yang dari halaman rumahmu, rasa pedasnya intens, menyebar perlahan ke seluruh rongga mulut, dan meninggalkan rasa manis kemudian.” 

Nanang mengernyitkan dahinya, tetap tak memahami kalimat Rayyan. 

Kemudian Rayyan menggigit pisang goreng untuk menetralkan mulutnya, dan mencicipi cabai berikutnya. 

“Nah, yang ini, rasanya hanya pedas tapi langsung nonjok sampai ke tenggorokan.” 

“Intinya rasa cabai memang pedas, kebanyakan gaya kamu, apa jangan-jangan kamu juga membayangkan ada puluhan butir cabai terbang mengelilingi kepalamu?” cibir Nanang. 

Rayyan manyun kesal. “Dasar Nanang, hidupmu kaku tak ada seni nya sama sekali,” gerutunya dengan bibir ikal bergelombang seperti rambut minta di rebonding. 

“Kadang, realita hidup tak butuh seni, karena banyak orang-orang disekitar kita bahkan tak bisa mencium aroma makanan yang layak.”

Obrolan mereka terhenti, karena tak lama kemudian Bu Siti sudah siap hendak pergi ke sawah. 

“Nang, Emak ke sawah naik sepeda saja, kamu antar Rayyan keliling desa, sekalian ke ladang cabai di desa sebelah, siapa tahu dapat cabai yang sesuai untuk pabrik sambalnya.” 

“Iya, Mak. Emak hati-hati, ya?” 

“Hmm.” 

Setelah Bu Siti melaju dengan sepeda onthel nya, Nanang pun menyalakan mesin motor bebeknya. “Ayo, aku antar kamu healing keliling desa.” 

•••

Di belahan bumi yang lain, seorang gadis tengah mondar-mandir gelisah, karena panggilannya tak mendapat jawaban. 

“Duh, Ray kemana lagi, sih? Mana aku lagi butuh duit, dianya malah nggak bisa di hubungi.” Mitha terus menggerutu, belum menyadari bahwa Rayyan sengaja memblokir nomor ponselnya. 

Malam nanti ada party, dan Mitha butuh uang untuk membeli outfit baru, karena seingat Mitha, bulan ini Rayyan belum mengirimkan uang. 

Tapi hingga satu jam berlalu, berpuluh kali dicoba, Mitha tetap gagal menghubungi Rayyan.

“Terpaksa pakai duit dari Papa, deh.” Mitha menyambar tote bag, kemudian pergi meninggalkan apartemennya. 

“Hai, Sweetie,” sapa seorang pria bule ketika Mitha keluar dari pintu apartemennya. 

Wajah Mitha berseri-seri, “Huh! Tak ada uang Rayyan, uang Mark pun jadi,” gumam Mitha dalam hati. 

Dengan gayanya yang manja, Mitha memeluk Mark dan memberikan ciuman sekilas di bibir pria itu. “I miss you,” bisiknya mendayu manja. 

“Really?”

Mitha mengangguk dan melenguh manja, “Huumm,” 

“Let's go, today I'm yours.” Mark tersenyum lebar, kemudian memeluk erat pinggang Mitha ketika meninggalkan apartemen gadis itu. 

1
Hasanah Purwokerto
Ih....si Nang Ning Nung ga peka bgt sih...kelamaan jomblo kali ya...🤭🤭🤭🤭
Nanda Kitt
🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
ada yg panas,,tp bukan kompor..🤭🤭🤭🤭
Anonim
Kak ini cerita rapi,mskpn berganti2 orang yg diceritakan dan q tdk membaca dr cerita papa gusman tp q paham, mgkn bs dilanjutkan dg cerita dr versi nanang dan cantika kak? Hidupku sendiri skrg adl seorang ibu pekerja,jd merasa mellow tb2 g tw knp. Antata cerita di novel yg tll bagus shg tdk berbanding lurus dgn hidup yg nyata. Atau memang ad kah kehidupan di dunia nyata yg spt rayyan dan lilis?
moon: pada kenyataannya mencari pasangan sempurna seperti rayyan dan lilis amat sangat susah, tapi bukan berarti tidak ada.

pasti ada, tapi langka.

karena tidak ada suami atau istri yang sempurna, semua punya sisi lemah dari segala arah.

karena begitulah manusia /Smile/
total 2 replies
Khairul Azam
hahahah ini salah cantik 😆😆😆😆 nanang gak salah lho ya gak salah dia mah 🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
Bu Saodah kali yaa
Hasanah Purwokerto
Gasssss lah,,,jodohmu Nang,,jgn sampai kabur lagi
Hasanah Purwokerto
👍👍👍👍👍😄😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Sekali sendal tetap lah sendal...
eh...sun dal maksudnya...🤭🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Lagi ikut sedih,,tiba" ngakak aja...🙈🙈🙈🙈😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Eh...Gwen dah punya anak,,pantesan Rayyan dipanggil eyang...😄😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Sandi kabur,,ga inget ma kamu Fat..
Hasanah Purwokerto
Emang kucing mas,,banyak anak...🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Tenang Lis,,,uang suamimu tdk berseri,,ga bakalan habis 10 tikungan 10 tanjakan...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Semua karya kak Moon aku suka..👍👍👍👍
moon: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Hasanah Purwokerto
Anakan ulet bulu sedang menggatal,,,untung halal...🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
astaga.....ckckckckk...
Hasanah Purwokerto
Wah...Dio tertipu hanis habisan ternyata,,,
Selamat ya bu Fatma,,calon cucumu bukan cucumu....🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Hahahhaa..om Agung iri,,pdhl dia juga dulu begitu...
Hasanah Purwokerto
Hhhhmmmmm...iya dech..iya ,,kamu memang tampan ,,rupawan,,menawan...🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!