"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Manis Madu
Minggu-minggu berikutnya di kediaman Baskara terasa seperti kembali ke masa keemasan sepuluh tahun lalu, namun dengan intensitas yang berbeda.
Bima benar-benar membuktikan ucapannya untuk menjadi "Paman" yang manis. Ia tidak lagi mengekang; sebaliknya, ia menjadi pendukung nomor satu bagi segala keinginan Alea, bahkan dalam hal-hal yang biasanya dilarang oleh Baskara.
Sore itu di ruang keluarga, Alea sedang merayu ayahnya agar diizinkan mengikuti study tour arsitektur ke luar kota selama tiga hari.
"Dad, ini penting untuk nilaiku. Semua teman angkatanku ikut," bujuk Alea sembari menggelayut di lengan ayahnya.
Baskara tampak ragu, ia memijat pelipisnya. "Tiga hari di hotel bersama ratusan mahasiswa? Daddy tidak yakin, Alea. Pergaulan sekarang terlalu bebas. Daddy lebih suka kalau kau fokus belajar di rumah saja."
Alea cemberut, matanya mulai berkaca-kaca karena kecewa. Namun, sebelum ia sempat memprotes lebih jauh, suara berat Bima terdengar dari arah pintu balkon. Pria itu masuk dengan kemeja putih yang lengannya digulung, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.
"Biarkan dia pergi, Baskara," ucap Bima tenang. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan air mineral untuk dirinya sendiri.
Baskara menoleh. "Bima? Kau biasanya yang paling khawatir soal keselamatannya."
Bima tersenyum tipis, tatapannya beralih pada Alea dengan kelembutan yang memabukkan.
"Alea sudah dewasa. Kita tidak bisa terus-menerus memotong sayapnya jika ingin dia terbang tinggi. Aku sudah memeriksa detail acaranya, dosen pembimbingnya sangat ketat. Dia akan aman."
Bima melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya di bahu Baskara. "Lagi pula, aku sudah memesankan kamar terbaik di hotel tempat mereka menginap agar Alea tidak perlu berbagi kamar dengan orang asing. Aku juga sudah mengatur agar supir pribadiku standby di sana jika dia butuh sesuatu. Jadi, apa lagi yang kau takutkan?"
Baskara tertegun, lalu tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. "Kau ini... selalu saja punya cara untuk memanjakannya. Baiklah, kalau Bima sudah menjamin, Daddy izinkan."
"Yeay! Terima kasih, Uncle!" Alea spontan berlari kecil dan memeluk Bima singkat.
Bima menerima pelukan itu dengan tangan yang tetap berada di sampingnya, menjaga batasan agar Alea tidak merasa terancam, namun matanya berkilat penuh kepuasan.
Ia telah berhasil menjadi sosok yang memberikan "kebebasan" bagi Alea, posisi yang membuatnya terlihat jauh lebih heroik daripada ayahnya sendiri.
Baskara memperhatikan interaksi itu dengan senyum haru. "Melihat kalian berdua, aku jadi teringat masa dulu. Kau tahu, Bima? Cara kau membelanya, cara kau menjaganya... kau benar-benar seperti 'ayah muda' bagi Alea. Persis seperti saat kau mengurusnya waktu bayi dulu."
Suasana mendadak menjadi sedikit kaku. Bima melepaskan senyum tipisnya, rahangnya mengeras sesaat mendengar kata "ayah".
"Aku terlalu muda untuk menjadi ayahnya, Baskara," sahut Bima dengan nada yang sedikit lebih tajam dari biasanya, meski ia berusaha menutupinya dengan tawa kering. "Jangan membuatku terdengar seperti pria tua yang membosankan."
Baskara tertawa terbahak-bahak, menepuk punggung Bima dengan keras. "Hahaha! Maaf, maaf. Aku lupa kau adalah bujangan paling diincar di Singapura. Aku hanya bercanda, kawan. Tapi sungguh, aku berterima kasih karena kau begitu menyayangi putriku."
Baskara tidak menaruh curiga sedikit pun. Baginya, perhatian berlebih Bima hanyalah wujud kasih sayang seorang sahabat karib kepada keponakannya.
Ia tidak menyadari bahwa di balik kemanjaan yang diberikan Bima, ada jaring kendali yang sedang ditenun. Bima memberikan izin itu bukan karena ia ingin Alea bebas, tapi karena ia sudah memastikan bahwa di kota tujuan nanti, Alea tetap berada di bawah pengawasannya tanpa gadis itu sadari.
Malamnya, saat Alea sedang mengepak barang di kamarnya, Bima mengetuk pintu dan masuk membawakan sebuah kamera Leica terbaru.
"Gunakan ini untuk memotret bangunan-bangunan bagus di sana," ujar Bima sembari meletakkan kamera itu di atas tempat tidur. "Hadiah dariku karena kau sudah bekerja keras di kampus."
Alea menatap kamera mewah itu dengan mata berbinar. "Ini terlalu mahal, Uncle."
"Tidak ada yang terlalu mahal untukmu, Alea," bisik Bima, kali ini ia memberanikan diri mengusap pipi Alea dengan jempolnya. Sentuhannya sangat singkat, namun meninggalkan sensasi panas yang tertinggal lama.
"Nikmati perjalananmu. Ingat, jika ada pria yang mengganggumu, cukup sebut namaku. Mengerti?"
Alea mengangguk, merasa sangat beruntung memiliki Bima kembali. Ia merasa Bima adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti jiwanya yang haus akan petualangan. Di mata Alea, Bima telah berubah total menjadi pahlawan yang manis.
Bima keluar dari kamar Alea dengan senyum yang perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang penuh perhitungan.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada orang kepercayaannya: "Pastikan dia tidak pernah lepas dari pandangan kalian selama di sana. Dan siapa pun pria yang mencoba mendekatinya... beri mereka peringatan yang tidak akan mereka lupakan."
Bima tahu benar cara bermain. Ia akan menjadi "ayah muda" yang memanjakan di depan Baskara, menjadi "Paman manis" di depan Alea, namun tetap menjadi "pemangsa" di balik bayang-bayang.