NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Ujian Peringkat Luar

​Tujuh hari berlalu dalam sekejap mata.

​Hari ini, Pelataran Luar Sekte Pedang Awan Surgawi dipenuhi oleh lautan manusia. Seratus ribu murid luar berkumpul di Alun-Alun Puncak Awan, sebuah dataran luas yang terletak di tengah-tengah pegunungan luar. Udara dipenuhi dengan antusiasme yang mendidih, ketegangan, dan hawa persaingan yang kental.

​Hari ini adalah Ujian Peringkat Luar, acara tahunan paling bergengsi. Sepuluh murid yang berhasil menduduki peringkat teratas tidak hanya akan mendapatkan sumber daya berlimpah, tetapi juga secara otomatis dipromosikan menjadi Murid Dalam, melangkah satu kaki ke eselon atas sekte.

​Di tengah alun-alun, sepuluh pilar batu giok setinggi sepuluh meter berdiri kokoh melingkari arena utama. Di atas pilar-pilar tersebut, duduk sepuluh murid terkuat yang menguasai Pelataran Luar tahun lalu.

​Tatapan semua orang tanpa sadar selalu tertuju pada pilar tertinggi yang berada di tengah.

​Di sana, duduk seorang pemuda berambut perak panjang yang mengenakan jubah putih tanpa noda. Matanya terpejam, napasnya begitu selaras dengan alam hingga embun pagi tidak berani menyentuh pakaiannya. Auranya sangat dalam dan tenang, namun memberikan tekanan yang membuat ahli Bintang 9 sekalipun merasa tercekik.

​Dia adalah Gu Tianying. Peringkat 1 absolut Pelataran Luar.

​Kultivasinya berada di Puncak Bintang 9 Pengumpulan Qi, namun semua orang tahu bahwa ia bisa menerobos ke Ranah Inti Emas kapan saja. Ia hanya menahannya untuk memadatkan pondasinya mencapai batas kesempurnaan. Di Pelataran Luar, kata-katanya adalah hukum dewa.

​Di barisan penonton VIP, Tetua Feng dan beberapa Tetua Luar lainnya duduk mengawasi.

​"Tahun ini, Gu Tianying pasti akan masuk ke Pelataran Dalam dan langsung menjadi Murid Inti," bisik salah satu Tetua. "Bahkan beberapa Tetua biasa bukan tandingannya lagi."

​Teng! Teng! Teng!

​Suara lonceng sekte bergema, menandakan ujian segera dimulai. Kerumunan yang tadinya bising perlahan mereda.

​Di sudut kerumunan, sesosok pemuda berjubah abu-abu berjalan dengan langkah santai mendekati arena. Ia tidak memancarkan tekanan Qi sedikit pun, terlihat seperti manusia fana yang tidak bisa bela diri. Namun, ke mana pun ia melangkah, lautan murid secara otomatis membelah dengan wajah pucat, memberinya jalan yang sangat lebar.

​"Itu Lin Chen... Iblis pembantai dari Kamar 444 sudah datang."

"Sejak dia membunuh Zhang Kuang, tidak ada satu pun murid sektor Barat yang berani menatap matanya. Kudengar dia sudah mencapai Bintang 7?"

"Bintang 7 atau bukan, hari ini dia akan tamat. Kakak Senior Liu Meng'er dari Puncak Teratai Es telah mengeluarkan titah. Banyak master di sepuluh besar yang mengincarnya."

​Lin Chen mengabaikan bisikan itu. Ia berdiri di pinggir arena, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap sepuluh pilar batu di depannya dengan tatapan mengevaluasi.

​"Hanya pemuda berambut perak di tengah itu yang layak menjadi pemanasanmu. Sisanya adalah sampah," suara Mo Xuan terdengar meremehkan dari lautan kesadaran Lin Chen.

​"Setengah langkah menuju Inti Emas. Menarik," batin Lin Chen sambil tersenyum tipis.

​Seorang Tetua Penegak Hukum yang botak melompat ke tengah arena.

​"Ujian Peringkat Luar resmi dimulai! Aturannya sederhana: Siapa pun berhak menantang murid yang duduk di sepuluh pilar! Jika kalian menang, kalian mengambil posisi mereka. Senjata sungguhan diizinkan, tetapi pembunuhan dengan sengaja sangat dilarang!"

​Begitu suara Tetua Botak itu berhenti, suasana meledak. Beberapa murid elit Bintang 8 langsung melompat ke arena, menantang murid di pilar peringkat 10 hingga peringkat 6. Pertarungan sengit terjadi, pedang berbenturan, dan ledakan Qi mewarnai udara.

​Lin Chen tidak bergerak. Ia hanya menonton dengan bosan layaknya melihat anak-anak sedang bermain pedang kayu.

​Setengah jam berlalu, beberapa posisi peringkat bawah berganti pemilik, namun lima pilar teratas tidak tersentuh. Kekuatan mereka terlalu dominan.

​Tiba-tiba, seorang pemuda bertubuh tegap dengan bekas luka bakar di lengannya melompat dari pilar peringkat ke-8 dan mendarat dengan keras di tengah arena. Ia adalah Zhao Hai, ahli Pengumpulan Qi Bintang 8 Tahap Puncak, dan merupakan salah satu anjing setia Gu Tianying.

​Zhao Hai tidak menunggu siapa pun untuk menantangnya. Ia memutar tubuhnya, menunjuk lurus ke arah Lin Chen yang berdiri di pinggir arena. Matanya memancarkan niat membunuh yang dingin.

​"Lin Chen! Kudengar kau sangat sombong di sektor Barat dan mengklaim sebagai raja baru! Turunlah ke arena! Biarkan aku, Zhao Hai, menguji apakah tulangmu sekeras mulutmu, atau Bintang 7-mu hanyalah hasil memakan pil terlarang!"

​Kerumunan seketika terdiam. Semua orang tahu Zhao Hai adalah pion yang digerakkan untuk menguji kekuatan Lin Chen sebelum faksi Liu Meng'er benar-benar turun tangan.

​Lin Chen menepuk-nepuk lengan bajunya, perlahan berjalan menaiki tangga arena. Langkahnya sangat santai.

​"Kau menantangku?" tanya Lin Chen setelah berdiri sepuluh langkah dari Zhao Hai. "Biasanya, orang yang menantangku harus membawa peti mati mereka sendiri."

​Wajah Zhao Hai memerah karena amarah. "Sombong! Di atas arena ini ada Tetua Penegak Hukum! Kau pikir kau bisa membunuh sembarangan seperti di Arena Hidup dan Mati?! Hari ini, aku akan mematahkan keempat anggota tubuhmu dan membuangmu dari gunung!"

​Sring!

Zhao Hai mencabut pedang besarnya. Fluktuasi Qi Bintang 8 meledak, menekan udara di sekitar arena. Ia mengambil kuda-kuda, bersiap melepaskan teknik terkuatnya.

​Namun, di detik berikutnya, mata Zhao Hai membelalak kosong.

​Lin Chen, yang tadinya berdiri santai di depannya... hilang.

​Bukan melesat dengan cepat, bukan berkedip. Hanya hilang begitu saja tanpa meninggalkan bayangan atau suara hembusan angin.

​"Di m—"

​Sebelum otak Zhao Hai sempat memproses apa yang terjadi, dan sebelum para Tetua di tribun VIP sempat berdiri karena terkejut, sebuah suara bisikan pelan terdengar tepat di sebelah telinga kanan Zhao Hai.

​"Kau terlalu lambat."

​BAM!

​Dua jari Lin Chen dengan ringan mengetuk pangkal tulang belakang Zhao Hai.

​Terlihat seperti sentuhan lembut, namun ledakan Qi Emas yang sangat destruktif menembus masuk layaknya jarum baja, langsung memutuskan koneksi meridian di tulang punggung pemuda itu tanpa menyentuh organ vitalnya.

​Klang. Pedang besar Zhao Hai terjatuh ke lantai.

​Mata Zhao Hai bergulir ke atas. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya rubuh ke lantai arena layaknya boneka tali yang putusnya, lumpuh total dari leher ke bawah. Tidak ada darah, tidak ada luka luar. Tapi masa depan kultivasinya telah hancur sepenuhnya.

​[Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan: Langkah Pertama - Teruji Sempurna.]

​Keheningan yang mematikan menelan seratus ribu murid luar. Suara napas bahkan tertahan di tenggorokan mereka.

​Tetua Penegak Hukum di pinggir arena menggosok matanya dengan tidak percaya. "Kecepatan macam apa itu... Apakah itu teknik pergerakan Tingkat Bumi?!"

​Di tribun VIP, Tetua Feng berdiri dengan wajah menegang. "Bahkan ahli Inti Emas tahap awal pun tidak memiliki kecepatan setinggi itu. Lin Chen... anak ini adalah monster."

​Di atas pilar peringkat 1, mata Gu Tianying yang sejak pagi terpejam akhirnya terbuka perlahan. Kilatan cahaya sedingin pedang memancar dari pupil mata peraknya. Senyum yang sangat arogan dan kejam terukir di bibirnya.

​Lin Chen, tanpa repot-repot melihat tubuh Zhao Hai yang sedang dievakuasi, mendongak menatap lurus ke arah pilar tertinggi tersebut.

​"Tidak perlu menyuruh anjing peliharaanmu untuk maju satu per satu dan membuang waktuku," suara Lin Chen bergema jernih, mengiris keheningan alun-alun. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah Gu Tianying. "Turunlah ke sini, rambut perak. Pilar nomor satu itu terlalu tinggi untuk diduduki oleh seekor katak."

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!