NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Getar di Balik Ancaman

​.. Pagi ini sinar matahari masuk menembus celah-celah gorden paviliun, menyentuh wajahku yang masih terasa mengantuk setelah semalam suntuk menemani Clarissa ke pesta mewah itu. Aku menatap jas hitam yang masih tergantung di pojok ruangan, teringat bagaimana Clarissa menggandeng lenganku dengan sangat erat. Jantungku rasanya masih melakukan tarian jaranan setiap kali mengingat tatapan matanya semalam.

​.. "Duh, Genta... ojo baper dhisik. Kamu itu bodyguard, dia itu bos besar. Ibarat kata, kamu itu tempe goreng, dia itu steak wagyu kelas satu. Jauh, Mas Bro!" gumamku pada diri sendiri sambil mulai merapikan tempat tidur. Aku bergegas mandi dan bersiap karena hari ini ada jadwal rapat penting di luar kantor.

​.. Begitu aku sampai di depan pintu utama rumah Clarissa, aku melihat sebuah amplop cokelat polos tergeletak di atas keset. Tidak ada nama pengirimnya, hanya ada tulisan "Untuk Clarissa Wijaya" dengan huruf yang digunting-gunting dari koran. Insting premanku langsung berteriak waspada. Ini bukan surat cinta, ini bau-bau masalah.

​.. Aku segera membawa surat itu masuk dan menemui Clarissa yang sedang asyik menyeruput kopi paginya. "Mbak Bos, maaf mengganggu sarapannya. Tapi tadi saya nemu ini di depan pintu. Sepertinya ada orang iseng yang mau cari perkara lagi," ucapku sambil menyodorkan amplop itu dengan wajah serius.

​.. Clarissa membukanya dengan tangan sedikit gemetar. Begitu isinya terlihat, wajahnya langsung pucat pasi. Di dalamnya ada foto Clarissa yang sedang di pesta semalam, tapi wajahnya dicoret-coret dengan tinta merah darah. Di bawahnya ada tulisan: "Kesenanganmu akan segera berakhir, Wijaya."

​.. "Genta... ini apa? Siapa yang tega melakukan ini? Bukannya Adrian sudah di penjara?" tanya Clarissa dengan suara yang bergetar hebat. Dia hampir menjatuhkan cangkir kopinya kalau aku tidak sigap menangkapnya. Aku bisa merasakan ketakutan yang mendalam dari sorot matanya yang biasanya penuh percaya diri itu.

​.. "Tenang, Mbak Bos. Tarik napas dulu. Selama ada Genta Arjuna di sini, jangankan orang iseng, lalat yang mau hinggap di kopi Mbak Bos saja harus ijin saya dulu. Sepertinya ini ada sisa-sisa anak buah Adrian yang belum ikhlas bosnya masuk penjara," kataku mencoba menenangkannya sambil memeriksa sekeliling ruangan dengan teliti.

​.. Hari itu, aku memutuskan untuk memperketat penjagaan. Tidak ada lagi jarak lebih dari dua meter antara aku dan Clarissa. Saat di kantor pun, aku berdiri tepat di depan pintunya, menatap setiap karyawan yang lewat dengan mata elangku yang tajam. Siapa saja yang terlihat mencurigakan, langsung aku tanya alamat dan silsilah keluarganya sampai mereka bingung sendiri.

​.. Sore harinya, saat kami berjalan menuju parkiran, aku merasa ada sebuah mobil yang membuntuti dari kejauhan. Aku tidak langsung tancap gas pulang, melainkan berputar-putar di daerah perkantoran yang ramai untuk memastikan kecurigaanku. "Mbak Bos, pegangan yang erat ya. Kita akan sedikit bermain petak umpet dengan pengecut di belakang sana," bisikku sambil menginjak pedal gas lebih dalam.

​.. Terjadilah aksi kejar-kejaran singkat di tengah kemacetan Jakarta. Aku masuk ke gang-gang kecil yang hanya cukup untuk satu mobil, memacu adrenalin sampai ke puncaknya. Clarissa hanya bisa terdiam sambil memegangi jok mobil, tapi dia tidak berteriak. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa takut namun terselip rasa aman yang sangat besar karena berada di sampingku.

​.. Akhirnya kami berhasil meloloskan diri dan sampai di rumah dengan selamat. Sesampainya di ruang tamu, Clarissa tiba-tiba memelukku dari belakang. "Genta... jangan pernah tinggalkan saya ya. Saya tidak peduli berapa banyak orang yang mengancam, asal ada kamu, saya merasa semuanya akan baik-baik saja."

​.. Aku terdiam membeku, merasakan kehangatan dari pelukannya. Di tengah ancaman yang nyata ini, aku sadar satu hal: hatiku sudah bukan lagi milikku sendiri. "Iya, Mbak Bos. Saya janji. Sampai titik darah terakhir, saya akan tetap jadi benteng nggo Mbak Bos. Nggak akan ada yang bisa menyentuh Mbak Bos selama saya masih bernapas," jawabku mantap. Malam itu, di bawah temaram lampu rumah, janji itu terpatri kuat, lebih kuat dari beton Wijaya Tower sekalipun.

​.. Malam itu, suasana di ruang tamu kediaman Wijaya terasa sangat sunyi, hanya ada suara detik jam dinding yang seolah menghitung setiap helaan napas kami. Clarissa perlahan melepaskan pelukannya, tapi matanya masih memerah menatapku. "Genta, kamu tidak takut? Orang ini sepertinya sangat nekat sampai berani mengirim foto seperti itu ke rumah saya."

​.. Aku mencoba memasang senyum paling santai yang kupunya, meski di dalam hati aku sudah menyusun rencana untuk melacak siapa bajingan di balik surat itu. "Takut? Wah, Mbak Bos belum tahu ya. Di Sidoarjo dulu, saya pernah dikejar satu kampung gara-gara disangka maling jemuran, padahal saya cuma mau ambil layangan yang nyangkut. Kalau cuma surat kaleng begini mah, buat bungkus kacang saja masih kurang, Mbak!"

​.. Clarissa akhirnya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat lega di telingaku. "Kamu itu ya, bisa-bisanya bercanda di saat seperti ini. Tapi terima kasih... kalau bukan karena kamu, mungkin saya sudah pingsan ketakutan tadi." Dia mengusap air matanya, lalu duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya.

​.. Aku berdiri di dekat jendela, sesekali menyibak gorden untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan di luar pagar. "Mulai besok, saya akan pasang kamera CCTV tambahan di titik-titik buta rumah ini. Dan satu lagi, Mbak Bos jangan pernah pergi sendirian, bahkan kalau cuma mau ke minimarket depan. Saya akan jadi bayangan Mbak Bos 24 jam sehari."

​.. Clarissa menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, ada binar kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. "Bayangan ya? Berarti kamu akan terus ada di samping saya, ke mana pun saya pergi? Sampai kapan, Genta?" tanyanya dengan suara lirih yang membuat jantungku berdebar tak karuan.

​.. Aku menelan ludah, mencoba mencari kata-kata yang pas agar tidak terlihat terlalu baper. "Sampai Mbak Bos merasa aman, atau sampai Mbak Bos bosan lihat muka saya yang pas-pasan ini. Tapi sejujurnya... saya lebih suka jadi bayangan Mbak Bos daripada jadi orang kaya di luar sana yang nggak punya tujuan hidup."

​.. Kami terdiam cukup lama, menikmati kebersamaan yang terasa sangat berharga di tengah ancaman yang menghantui. Malam itu, aku tidak tidur di paviliun, melainkan berjaga di sofa ruang tamu dengan sebatang kayu balok di sampingku. Jakarta mungkin sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk kami, tapi selama ada Genta Arjuna di sini, benteng pertahanan Clarissa Wijaya tidak akan pernah goyah sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!