NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasya Bukan Aldo — Lalu Siapa?!

Hari itu hujan.

Bukan hujan biasa—tapi hujan sore bulan November yang deras dan dingin, dengan angin yang membuat pepohonan di halaman sekolah menari seperti orang kesurupan. Aku berdiri di teras perpustakaan, meringkuk di balik jaket merah muda yang kebesaran, menunggu.

Jam menunjukkan 14.47. Dia terlambat 17 menit.

"Pasti dia batalin," gumamku ke udara. "Pasti. Cowok itu suka banget bikin penasaran lalu kabur."

Tepat saat aku hendak berbalik pulang, sebuah payung hitam besar muncul di atas kepalaku.

"Nunggu siapa?"

Aku menoleh. Rasya berdiri di sampingku—basah kuyup di bahu kiri karena payungnya terlalu kecil untuk dua orang, tapi dia tidak peduli. Wajahnya sedikit pucat, matanya sembab seperti kurang tidur, tapi senyum tipisnya tetap terpahat.

"Kamu basah," kataku bodoh.

"Kamu juga kalau nunggu di luar."

"Aku nunggu di teras. Ini beratap."

"Tapi anginnya bawa air hujan ke sini." Dia mengusap pipiku dengan punggung tangannya—basah. "Liat."

Aku tersentak. Tangannya dingin. Tapi mengapa pipiku jadi panas?

"Ya—ya udah, ayo masuk," kataku cepat, berjalan lebih dulu ke dalam perpustakaan.

---

Di Dalam Perpustakaan

Perpustakaan sore itu sepi. Bu Lastri sudah pulang—katanya ada arisan. Hanya kami berdua di antara ribuan buku yang berdebu.

Rasya berjalan ke meja panjang di pojok, dekat jendela yang dibasahi hujan. Dia meletakkan payungnya di lantai, lalu duduk.

Aku duduk di seberangnya.

Kami berdua diam.

Hujan mengguyur kaca jendela dengan suara ritmis yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat jantungku berdebar semakin kencang.

"Nayla." Dia memecah keheningan. "Sebelum aku cerita, aku mau kamu janji satu hal."

"Apa?"

"Jangan lari."

Aku mengerutkan dahi. "Lari ke mana?"

"Entahlah. Tapi janji."

"Baik. Aku janji."

Dia menarik napas panjang. Lalu, dengan suara yang bergetar di akhir kalimat, dia mulai bicara.

"Nama asliku di kehidupan sebelumnya bukan Aldo."

"Aku tahu. Kamu sudah bilang."

"Bukan hanya itu." Dia menunduk, tangannya menggenggam erat buku catatan biru itu. "Aku juga bukan siapa-siapa yang kamu kenal. Aku tidak pernah jadi teman sekelasmu. Tidak pernah jadi tetanggamu. Tidak pernah jadi bagian dari hidupmu."

"Lalu?"

Dia mengangkat kepala. Matanya... basah.

"Aku sopir pribadimu."

Keheningan yang Memekakkan Telinga

Aku mengerjap.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

"Maaf... apa?"

"Sopir pribadimu," ulangnya. "Di kehidupan sebelumnya. Namaku bukan Aldo. Namaku... namaku Rasyid. Aku bekerja sebagai sopir untuk keluargamu mulai tahun 2018 sampai... sampai kamu meninggal."

Mulutku terbuka. Lalu tertutup.

Sopir?

Dia... sopirku?

"Tapi—tapi kamu—" Aku menggelengkan kepala, berusaha memproses. "Kamu terlihat seusia denganku sekarang. Berarti di kehidupan sebelumnya, kamu juga—"

"Aku 7 tahun lebih tua darimu di kehidupan sebelumnya." Dia tersenyum pahit. "Tapi entah kenapa, saat aku terlahir kembali, aku terlahir di tahun yang sama denganmu. Aku juga bingung. Mungkin karena takdir ingin mempertemukan kita di usia yang sama?"

"Tapi—tapi kenapa aku nggak ingat kamu?"

"Karena kamu nggak pernah memperhatikan sopirmu, Nayla." Suaranya tidak menyalahkan. Hanya... fakta. "Kamu terlalu sibuk dengan Andre, Vania, dan semua drama hidupmu. Aku hanyalah bayangan di kaca spion. Tidak penting."

Kata-kata itu menusuk.

"Tidak penting."

"Rasya—"

"Tapi aku memperhatikanmu," potongnya cepat. "Setiap hari. Setiap kamu ke kantor, setiap kamu pulang larut malam dari kencan sama Andre, setiap kamu nangis di dalam mobil karena bertengkar dengan Vania. Aku melihat semuanya."

Aku menelan ludah. Rasanya seperti ada yang membuka album foto kehidupan sebelumnya—tapi foto-fotonya buram, kecuali satu sosok yang selama ini tidak pernah kulihat.

"Saat kamu dijebak Andre dan Vania, saat kamu divonis bersalah untuk kasus yang tidak kamu lakukan... aku berusaha membantumu." Tangannya gemetar. "Aku mengumpulkan bukti. Rekaman CCTV, chat mereka, semuanya. Aku simpan di dalam amplop cokelat."

Amplop cokelat.

Jantungku berhenti berdetak.

"Kamu... kamu yang di pinggir jalan itu?"

Dia mengangguk. Matanya akhirnya menangis. Air matanya jatuh pelan ke meja kayu.

"Saat kamu mengalami kecelakaan, aku sedang dalam perjalanan menemuimu. Aku ingin memberikan amplop itu. Bukti bahwa Andre dan Vania yang mengatur semuanya—penggelapan, pemalsuan tanda tangan, semuanya. Tapi aku... aku terlambat."

Aku tidak bisa bernapas.

"Mobilmu meledak di depanku, Nayla." Suaranya hancur. "Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku berlari ke arah mobil yang terbakar, tapi orang-orang menahanku. Dan saat itulah—saat itulah aku melihat cahaya putih, lalu terbangun di tubuh bayi yang baru lahir."

Hujan di luar semakin deras.

Tapi di dalam dadaku, ada badai yang lebih dahsyat.

"Kamu... selama ini..." Aku berusaha bicara, tapi suaraku serak. "Kamu diam-diam mengawasiku? Melindungiku? Dan aku bahkan tidak tahu namamu?"

"Nama belakangmu di kehidupan sebelumnya adalah Kirana. Sama seperti sekarang." Dia tersenyum, tapi air matanya masih mengalir. "Aku suka nama itu. Kedengarannya seperti... seperti bidadari."

"Oh, Tuhan, Rasya." Aku menutup mulut dengan kedua tangan. "Aku—aku nggak tahu harus bilang apa."

"Kamu nggak perlu bilang apa-apa." Dia mengusap air matanya sendiri. "Aku cuma ingin kamu tahu. Karena di kehidupan ini, aku nggak mau jadi bayangan lagi. Aku mau kamu lihat aku. Aku mau kamu tahu kalau..." Dia berhenti. Menelan ludah. "Kalau aku mencintaimu."

Tiga Kata Itu

Aku mencintaimu.

Tiga kata yang di kehidupan sebelumnya aku dengar dari Andre—tapi palsu, racun, penuh kebohongan.

Tapi dari mulut Rasya, yang bahkan tidak aku kenal di kehidupan sebelumnya, yang selama ini diam-diam menjagaku seperti penjaga toko yang setia di tengah badai salju...

Tiga kata itu terasa nyata.

"Kamu nggak perlu jawab sekarang," katanya cepat, seolah takut mendengar penolakanku. "Aku nggak maksa. Aku cuma—"

Aku meraih tangannya.

Tangannya dingin. Tangannya. Tapi aku menggenggamnya erat.

"Rasya."

Dia membeku.

"Kamu bilang di kehidupan sebelumnya, kamu cuma bayangan di kaca spion?"

Dia mengangguk pelan.

Aku mendekat. Melewati meja panjang yang memisahkan kami. Lalu aku duduk di sampingnya—di kursi yang sama, bahuku menyentuh bahunya.

"Sekarang," bisikku, "kamu ada di depanku. Tidak di kaca spion. Tidak di belakang. Di sini. Bersama aku."

Dia menatapku. Matanya lebar, tidak percaya.

"Nayla..."

"Aku nggak tahu apakah ini cinta atau bukan," lanjutku, jujur. "Tapi yang aku tahu, setiap kali kamu ngirim pesan, aku tersenyum. Setiap kali kamu dekat, jantungku berdebar kencang. Setiap kali kamu marah demi aku, aku merasa... dilindungi. Dan itu perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."

Dia tidak bergerak. Tidak bernapas. Seperti dia takut kalau dia bergerak, mimpi ini akan buyar.

"Jadi aku nggak bisa bilang 'aku juga cinta kamu' sekarang," kataku. "Tapi aku bisa bilang... aku mau mencoba. Dengan kamu. Kalau kamu mau."

Dua detik.

Lima detik.

Lalu dia tertawa.

Bukan tertawa mengejek, bukan tertawa histeris—tapi tertawa lega, seperti orang yang baru saja selamat dari tenggelam.

"Kamu tahu," katanya di sela-sela tawanya, "di kehidupan sebelumnya aku nggak pernah punya nyali buat ngomong ini. Aku pikir kamu terlalu tinggi untuk aku."

"Dan sekarang?"

"Sekarang kita sama-sama tinggi." Dia menatapku, matanya berbinar. "Kita lahir di tahun yang sama. Kita sekolah di tempat yang sama. Kita... kita punya kesempatan kedua."

"Bersama?"

Dia mengangguk. "Bersama."

Tapi Dunia Tidak Seindah Itu

Tepat saat kami berdua tenggelam dalam momen yang rasanya seperti diambil dari film romansa Korea, pintu perpustakaan terbuka dengan keras.

"Nayla! Kamu di sini!"

Aku dan Rasya saling berpandangan. Lalu menoleh ke arah pintu.

Sasha berdiri di ambang pintu, basah kuyup, wajahnya pucat pasi.

"Sa-Sasha? Kamu kenapa?" Aku berdiri.

"Aku tadi—aku dengar—" Sasha susah payah mengatur napas. "Aku dengar Vania ngomong sama anak kelas 3. Dia... dia bilang..."

"Bilang apa?"

Sasha menelan ludah. Matanya beralih ke Rasya sebentar, lalu kembali ke aku.

"Dia bilang, dia akan membuat hidupmu sengsara. Sama seperti di kehidupan sebelumnya."

Darahku membeku.

Vania tahu.

Vania juga terlahir kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!