NovelToon NovelToon
PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Transmigrasi / Sci-Fi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.

Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.

Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa di Atas Barisan Kode

Gedung Feng Sky Tower malam itu tampak seperti berlian raksasa yang menusuk langit Kota Metropol. Cahaya lampu sorot berwarna emas membelah awan, menandakan bahwa sang raja telah kembali ke tahtanya. Di lantai teratas, musik orkestra mengalun lembut, mengiringi ratusan tamu elit yang hadir dengan setelan jas dan gaun seharga mobil mewah.

Lin Diya berdiri di balkon pribadi, menatap kerlip lampu kota di bawahnya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang memeluk tubuhnya dengan sempurna—pilihan Feng Yan yang katanya "setara dengan kedalaman samudera".

"Secara hukum acara, Nona Pengacara," sebuah suara berat menyapa dari belakang. Feng Yan muncul, tampak sangat berwibawa dengan tuksedo hitam tanpa cela. Ia membawa dua gelas sampanye non-alkohol. "Seorang calon permaisuri tidak seharusnya melamun sendirian di saat tunangannya sedang pamer kekayaan di dalam sana."

Diya menerima gelas itu, tersenyum tipis. "Saya hanya berpikir, Tuan Feng. Pulau Nol sudah hancur, Sekretaris Han sudah di penjara, tapi kenapa saya merasa 'Penyunting Takdir' itu tidak benar-benar mati? Kode genetik yang ditemukan Rendy... itu terlalu kompleks untuk dihancurkan hanya dengan satu ledakan."

Feng Yan berdiri di sampingnya, memandang ke arah yang sama. "Logikanya memang begitu, Mutiara. Tapi malam ini, biarkan dunia mengira kita menang. Musuh akan lebih mudah terlihat saat mereka pikir kita sedang lengah."

Di sudut lain aula pesta, suasana jauh lebih "panas". Anitha tampil memukau dengan gaun backless berwarna merah menyala yang menutupi pistol kecil di paha kanannya. Ia sedang bersandar di pilar, menatap Chen Lian yang berdiri kaku dengan setelan jas hitam di dekat pintu darurat.

"Tuan Hantu," Anitha berjalan mendekat dengan gaya kucing yang mengincar mangsa. "Secara protokol penyamaran, berdiri diam seperti patung di pojok ruangan justru akan membuat orang curiga kalau kau adalah agen rahasia. Kenapa tidak mengajakku berdansa agar kita terlihat seperti pasangan sosialita yang normal?"

Chen Lian melirik Anitha dari balik kerah jasnya. "Aku tidak berdansa, Anitha. Dan gaunmu itu... terlalu mencolok untuk seseorang yang katanya ahli infiltrasi."

"Mencolok itu strategi, Tuan Hantu! Biar semua mata tertuju padaku, sementara kau bisa bergerak bebas di bayangan," Anitha menyeringai, lalu tanpa izin, ia menarik tangan Chen Lian menuju lantai dansa. "Ayo, satu putaran saja. Anggap saja ini latihan koordinasi taktis!"

Chen Lian hampir saja menarik tangannya, tapi saat melihat binar di mata Anitha, entah kenapa logikanya mendadak tumpul. Ia membiarkan wanita itu membimbingnya ke tengah kerumunan. Di bawah lampu kristal, "Tuan Hantu" ternyata bisa berdansa dengan sangat luwes, membuat Anitha sedikit terperanjat.

"Wah, hantu ini ternyata punya ritme!" bisik Anitha sambil menyandarkan kepalanya di bahu Chen Lian.

"Diamlah, Polwan," sahut Chen Lian pelan, meski tangannya melingkar di pinggang Anitha dengan protektif.

Namun, momen manis itu terganggu oleh suara Rendy melalui saluran komunikasi rahasia di telinga mereka. Suara Rendy terdengar sangat panik, bahkan lebih panik daripada saat Pulau Nol akan meledak.

"Tuan Feng! Kak Diya! Semuanya! Kita punya masalah besar!" teriak Rendy dari markas bawah tanahnya. "Aku baru saja mendeteksi sinyal masuk ke seluruh ponsel tamu di ruangan itu. Bukan dari internet, tapi dari sinyal satelit militer yang tidak terdaftar!"

Feng Yan dan Diya seketika waspada. Diya melihat ponsel salah satu tamu di dekatnya. Layar ponsel itu tidak menampilkan berita, melainkan sebuah simbol baru: Seekor ular hitam yang melilit menara.

"Ular Hitam..." gumam Feng Yan, wajahnya berubah sangat dingin. "Klan Ouroboros."

Tiba-tiba, lampu aula padam total. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan, hanya menyisakan cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca. Dari pengeras suara yang seharusnya memutar musik klasik, kini terdengar suara distorsi yang berat.

"Selamat malam, warga Kota Metropol. 'Penyunting Takdir' hanyalah sebuah alat tulis. Sekarang, saatnya sang 'Penulis' yang asli mengambil alih cerita."

Sesosok pria muncul di layar proyektor raksasa di belakang panggung. Ia mengenakan topeng ular perak dan duduk di sebuah kursi singgasana yang dikelilingi oleh ribuan botol kecil berisi cairan bercahaya biru—cairan genetik yang dicuri dari Pulau Nol.

"Feng Yan... kau menghancurkan mainanku di pulau itu, jadi aku memutuskan untuk menjadikan kotamu sebagai laboratorium baruku. Dalam sepuluh menit, frekuensi genetik akan dilepaskan melalui seluruh menara pemancar di kota ini. Kalian semua akan menjadi versi 'terbaik' dari diri kalian... atau mati dalam prosesnya."

"Siapa kau?!" teriak Feng Yan, suaranya menggelegar di aula yang gelap.

Pria bertopeng itu tertawa pelan. "Sebut saja aku The Architect. Dan tunanganmu, Lin Diya... dia adalah variabel yang paling ingin kupelajari. Secara logika, DNA-nya mengandung kunci untuk menyempurnakan evolusi ini."

Layar mati. Lampu kembali menyala, tapi suasana pesta sudah berubah menjadi kepanikan masal. Para tamu mulai berjatuhan, memegang kepala mereka karena suara dengungan frekuensi tinggi yang mulai terpancar dari ponsel mereka.

"Reyhan! Blokade semua jalan keluar! Jangan biarkan frekuensi ini menyebar!" perintah Feng Yan.

"Anitha, Chen Lian! Pergi ke pemancar utama di atap gedung ini! Aku dan Diya akan menghadapi 'arsitek' sialan ini di jalur data!"

Anitha melepaskan sepatu hak tingginya, mengeluarkan pistolnya, dan menatap Chen Lian. "Tuan Hantu, sepertinya latihan dansa kita harus dilanjut di atap sambil baku tembak. Siap?"

Chen Lian menarik pedangnya yang tersembunyi di dalam jas. "Selalu siap, Polwan."

Diya menatap Feng Yan, tangannya gemetar namun matanya penuh tekad. "Tuan Feng, sepertinya kontrak kita bertambah satu pasal lagi: Menghancurkan 'Arsitek' dan menyelamatkan kota ini sebelum besok pagi."

"Setuju, Mutiara," sahut Feng Yan sambil memegang tangan Diya erat. "Dan setelah ini, aku benar-benar butuh liburan yang sangat panjang."

Musuh baru telah muncul dari balik bayangan. Klan Ouroboros dan Sang Arsitek siap mengubah Kota Metropol menjadi neraka digital. Tapi mereka lupa satu hal: Duo Detektif dan tim mereka tidak pernah bermain sesuai aturan logika yang biasa.

1
BlueHeaven
Penyelusup apa ya thor
Diah nation: penyelusup kaya pelakunya (khianat )..kalau penyusup itu mengamati itu perbedaanya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!