NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Dunia yang Disembunyikan

Senja di kota Riston turun perlahan, seperti tirai yang ditarik dengan hati-hati. Cahaya keemasan memantul di jendela-jendela tinggi Sekolah Sihir Everton, menciptakan bayangan panjang yang tampak hidup di lantai batu.

Jam empat sore.

Waktu di mana sebagian murid mulai lelah… dan sebagian lainnya justru harus bersiap menghadapi pelajaran yang lebih berat.

Aula kelas utama telah dipenuhi murid. Suasana lebih tenang dibanding pagi tadi, tapi bukan berarti lebih santai. Ada sesuatu dalam udara—sejenis ketegangan halus—seolah pelajaran kali ini bukan sekadar latihan sihir biasa.

Evelyn Edison duduk di bangkunya, sedikit menjauh dari kelompok lain seperti biasa. Tangannya terlipat di atas meja, matanya mengarah ke depan, namun pikirannya belum sepenuhnya hadir.

Bisikan pagi tadi masih tersisa seperti bayangan yang menempel.

Ia mengabaikannya.

Atau setidaknya, mencoba.

Pintu kelas terbuka.

Guru yang sama memasuki ruangan, langkahnya tenang namun membawa aura yang berbeda. Hari ini, tidak ada tongkat sihir di tangannya. Tidak ada buku mantra. Hanya sebuah kristal kecil yang berpendar samar.

Itu saja sudah cukup membuat ruangan menjadi sunyi.

“Pelajaran hari ini,” suara sang guru bergema, “bukan tentang bagaimana kalian menggunakan sihir… tapi tentang memahami dunia tempat kalian hidup.”

Beberapa murid saling pandang.

Topik itu terdengar… berbeda.

Guru itu mengangkat kristal di tangannya. Cahaya lembut menyebar, lalu membentuk bayangan di udara—sebuah gambaran langit luas, dipenuhi bintang-bintang yang berkilau seperti serpihan kaca.

“Dunia ini,” lanjutnya, “adalah dunia fantasi. Dunia sihir. Dunia yang tidak terhubung dengan dunia manusia.”

Bayangan itu berubah.

Kini terlihat sebuah planet—biru, hijau, berputar perlahan di ruang hampa.

“Ini,” katanya pelan, “adalah bumi.”

Beberapa murid terdiam. Sebagian terlihat kagum, sebagian lagi kebingungan.

“Tidak ada satu pun penyihir yang hidup di sana,” lanjut sang guru. “Bumi adalah dunia manusia. Dunia tanpa sihir. Setidaknya… begitulah yang mereka yakini.”

Sebuah jeda.

Seolah kalimat berikutnya memiliki berat yang lebih besar.

“Kita,” ia menunjuk ke seluruh ruangan, “berasal dari dunia yang berbeda. Dari sebuah planet yang telah lama hilang dari penglihatan manusia.”

Bayangan di udara kembali berubah.

Kini terlihat sebuah dunia yang aneh—bercahaya, dipenuhi aliran energi yang berputar seperti sungai cahaya.

“Itulah asal kita. Dunia para penyihir. Sebuah planet yang dulunya sejajar dengan bumi… namun menghilang dari jalur waktu mereka.”

“Menghilang?” salah satu murid akhirnya bertanya.

Guru itu mengangguk pelan. “Bukan hancur. Bukan lenyap. Tapi… tersembunyi.”

“Kenapa disembunyikan?” suara lain menyusul.

“Untuk melindungi.”

Jawaban itu singkat, tapi cukup membuat ruangan kembali sunyi.

Evelyn memperhatikan dengan lebih fokus sekarang.

Matanya tertuju pada bayangan planet yang berpendar itu.

Ada sesuatu dalam penjelasan itu yang terasa… tidak lengkap.

Seperti sebuah cerita yang sengaja dipotong di bagian pentingnya.

“Hubungan antara dunia kita dan bumi telah lama diputus,” lanjut sang guru. “Tidak ada perjalanan, tidak ada komunikasi. Dan tidak akan pernah ada… selama keseimbangan tetap terjaga.”

Keseimbangan.

Kata itu menggantung di udara.

Evelyn mengernyit tipis.

Sihir di dalam dirinya bergetar pelan lagi.

Seolah kata itu memiliki arti yang lebih dalam dari yang terlihat.

Pelajaran berlanjut dengan penjelasan tentang sejarah singkat pemisahan dunia, tentang batas-batas yang tidak boleh dilanggar, dan tentang bahaya yang mungkin terjadi jika dua dunia itu kembali bersentuhan.

Namun bagi Evelyn, semua itu justru menumbuhkan satu hal:

Rasa penasaran.

Bumi.

Dunia tanpa sihir.

Dunia di mana penyihir… tidak ada.

Bagaimana mungkin?

Bagaimana dunia bisa berjalan tanpa sihir?

Bagaimana manusia hidup tanpa merasakan aliran energi yang baginya terasa seperti napas itu sendiri?

Dan yang paling mengganggu—

Jika benar tidak ada penyihir di sana… kenapa ia merasa sebaliknya?

Dentang lonceng menandai akhir pelajaran.

Murid-murid mulai beranjak, beberapa masih membicarakan apa yang baru mereka dengar.

“Serius? Dunia tanpa sihir? Membosankan banget.”

“Ya jelas, makanya kita di sini, bukan di sana.”

“Bayangin hidup tanpa mantra… kayak hidup tanpa warna.”

Tawa kecil terdengar.

Evelyn berdiri tanpa berkata apa-apa.

Namun kali ini, langkahnya tidak menuju asrama.

Ia berbelok ke arah lorong yang lebih sepi.

Ke tempat yang jarang dikunjungi murid lain.

Perpustakaan.

Pintu kayu besar itu terbuka perlahan saat ia mendorongnya. Aroma buku tua langsung menyambut, bercampur dengan bau khas debu dan sihir yang tertinggal di halaman-halaman kuno.

Cahaya redup menggantung di udara, seolah tidak ingin mengganggu ketenangan tempat itu.

Rak-rak tinggi menjulang seperti hutan diam.

Evelyn melangkah masuk.

Matanya bergerak cepat, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Tentang bumi.

Tentang dunia manusia.

Tentang… kemungkinan.

Ia berhenti di salah satu rak yang tampak lebih tua dari yang lain. Tulisan di atasnya hampir pudar, namun masih bisa terbaca:

“Sejarah Dunia yang Hilang.”

Jemarinya menyentuh punggung buku-buku itu.

Satu per satu.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah buku yang terasa… berbeda.

Lebih dingin.

Lebih berat.

Seolah menyimpan sesuatu di dalamnya.

Ia menariknya perlahan.

Debu tipis beterbangan di udara, menari dalam cahaya redup.

Judulnya sederhana.

Namun cukup membuat napasnya tertahan sejenak.

“Gerbang yang Terlupakan.”

Evelyn membuka halaman pertama.

Tulisan di dalamnya tidak seperti buku lain.

Lebih tua.

Lebih… hidup.

Dan di baris pertama, tertulis sebuah kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat:

“Dunia tidak pernah benar-benar terpisah. Mereka hanya menunggu untuk ditemukan kembali.”

Sihir di dalam dirinya berdenyut kuat.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Seolah sesuatu di dalam dirinya… mengenali kata-kata itu.

Evelyn menatap halaman itu lebih lama.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa dingin yang ia bangun di dalam dirinya.

Rasa ingin tahu. Dan mungkin… Sebuah awal dari sesuatu yang tidak bisa ia hentikan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!