NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Puing-Puing Keangkuhan dan Lahirnya Permusuhan

Angin sore yang bertiup dari arah padang rumput Valeria membawa serta aroma debu jalanan, keringat kuda-kuda Gryph-horse, dan wangi manis dari kacang karamel yang dijajakan oleh pedagang kaki lima di sekitar gerbang kota. Namun, semua hiruk-pikuk perniagaan itu seakan membeku. Udara di depan gerbang kayu besi setinggi tiga puluh meter itu mendadak terasa sangat pekat dan mencekik.

Para pedagang, ksatria bayaran kelas rendah, hingga rakyat jelata menepi hingga merapat ke dinding tembok raksasa. Tidak ada yang berani bersuara. Mata mereka terpaku pada dua kelompok yang sedang berhadapan di tengah-tengah jalan masuk utama.

Di satu sisi, berdiri Rino dan Richard. Zirah merah Rino yang biasanya memancarkan hawa panas arogan, kini terlihat sedikit kusam. Napas pria kekar itu memburu. Di sebelahnya, Richard menggenggam tombak esnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Lima anggota elit kelompok mereka berdiri di belakang dengan lutut yang sedikit bergetar. Mereka adalah petualang Kelas A+, legenda di mata rakyat biasa, namun di hadapan kelompok yang menghalangi jalan mereka, mereka tak lebih dari sekumpulan prajurit pemula.

Di sisi seberang, berdiri delapan orang dengan formasi setengah lingkaran yang sempurna. Mereka adalah The Silver Fang, kelompok petualang Kelas S yang merupakan anak emas dari Kerajaan Valeria.

Pemimpin mereka, Arthur, melangkah maju satu tindak. Pria itu memiliki rambut perak panjang yang diikat rapi, wajah bangsawan yang angkuh, dan sepasang mata biru yang memandang segala sesuatu seolah itu adalah kotoran di bawah sepatunya. Ia mengenakan Zirah Perak Suci, sebuah mahakarya pandai besi tingkat tinggi yang terbuat dari campuran meteorit dan mithril, memancarkan pendaran cahaya putih yang menyilaukan dan kebal terhadap sihir elemen dasar. Di tangannya, ia memegang Pedang Fajar Bersinar, sebuah pedang raksasa (Greatsword) yang bilahnya diukir dengan rune cahaya suci.

[SISTEM: Menganalisis Entitas Ancaman.]

[Nama: Arthur]

[Ras: Manusia (Bangsawan)]

[Level: 135]

[Kelas: S (Ksatria Cahaya Murni)]

"Kau masih belum beranjak, Rino?" dengus Arthur, suaranya menggema penuh dengan nada ejekan. Ia menyandarkan pedang raksasanya ke bahu berlapis zirahnya dengan santai. "Sudah kukatakan, pria berjaket hitam itu kini adalah urusan Silver Fang. Master Leon mungkin telah kehilangan akal sehatnya dengan menaikkan seekor tikus sampah dari Kelas F langsung ke Kelas S dalam satu malam. Hal itu adalah sebuah penghinaan bagi kami yang telah menumpahkan darah selama bertahun-tahun untuk mendapatkan gelar ini.".

Rino mengertakkan giginya. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya. "Pria itu... pria itu adalah monster, Arthur. Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi. Aku kemari bukan untuk melindunginya, aku kemari karena dia memiliki hutang rasa sakit padaku! Aku ingin melihatnya hancur!"

Richard di sebelah Rino berbisik dengan nada panik, "Rino, kita tidak bisa melawan Arthur. Fluktuasi mana cahayanya bisa membutakan dan membakar kita dalam hitungan detik. Biarkan saja si arogan Silver Fang ini berhadapan dengan Ajil. Biar dewa kematian itu yang mengurus mereka.".

Sebelum Rino sempat menjawab, kerumunan penonton di ujung jalan tiba-tiba terbelah layaknya lautan yang disapu angin badai. Suara bisik-bisik yang penuh dengan ketakutan, kekaguman, dan keterkejutan menyebar dengan cepat.

Dari arah jalan setapak yang menanjak, dua sosok berjalan bersisian menuju gerbang.

Yang pertama adalah seorang pria berpostur tegap, mengenakan Setelan Malam Abadi berwarna hitam legam yang ujung trench coat-nya berkibar pelan tertiup angin sore. Wajahnya bersudut tajam, rahangnya mengeras, dan sepasang matanya yang kelam menatap lurus ke depan dengan kehampaan yang seolah bisa menelan seluruh cahaya di sekitarnya.

Dan di sebelahnya... sebuah pemandangan yang membuat napas semua orang—termasuk Arthur dan anggota Silver Fang—terhenti seketika.

Erina berjalan dengan anggun. Sang High Elf itu tidak lagi menyembunyikan identitasnya. Ia membiarkan jubah hijaunya terbuka, memperlihatkan zirah sutra mithril putih mutiaranya yang menempel pas di lekuk tubuhnya yang tak tertandingi keindahannya. Rambut perak kebiruannya berkilau ditimpa cahaya senja, dan sepasang mata zamrudnya memancarkan keagungan absolut seorang bangsawan peri. Kulit pualamnya yang bercahaya membuat wanita tercantik di Kerajaan Valeria sekalipun akan terlihat seperti pelayan rendahan di hadapannya.

"Dewa-dewa Ridokan... itu seorang High Elf..." bisik seorang pedagang permata yang sampai menjatuhkan dagangannya.

"Kecantikan macam apa itu? Wujudnya... melampaui lukisan surga..."

Mata Arthur terbelalak lebar. Sikap angkuhnya seketika goyah oleh gelombang nafsu dan ketamakan yang brutal. Sebagai seorang bangsawan Kelas S, ia telah mencicipi wanita dari berbagai ras, namun High Elf adalah entitas suci yang nyaris tidak pernah turun ke wilayah manusia, apalagi dengan kecantikan sekelas dewi seperti wanita di depan matanya ini.

[SISTEM: Peringatan! Niat bermusuhan, keserakahan, dan nafsu terdeteksi dari Entitas 'Arthur' dan kelompoknya. Target terkunci pada Anda dan Entitas 'Erina'.]

Ajil membaca layar merah transparan itu tanpa menghentikan langkahnya. Ia baru saja kembali dari neraka vulkanik, tubuh manusianya lelah, dan kini sekelompok lalat emas menghalangi jalannya menuju kasur yang empuk dan informasi Prasasti Dimensi. Hatinya yang sudah dingin, kini mulai memproduksi amarah yang mematikan.

"Berhenti di sana, Gelandangan!" perintah Arthur dengan suara lantang yang diisi oleh sihir pengeras suara, mencoba memamerkan wibawanya di depan sang High Elf.

Langkah Ajil tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan ritme yang sama, seolah Arthur hanyalah seonggok batu kerikil di jalan raya. Erina di sebelahnya tersenyum sinis, menatap Arthur dengan pandangan jijik yang biasa ia berikan pada pria-pria hidung belang di benua timur.

Melihat dirinya diabaikan, darah Arthur mendidih. Ia adalah elit Kelas S! Tidak ada yang berani mengabaikannya di Valeria.

TRANG!!

Arthur menancapkan pedang besarnya ke atas jalanan batu hingga aspalnya retak. Gelombang cahaya putih meledak dari pedang itu, menciptakan sebuah dinding sihir bercahaya yang melintang memblokir jalan Ajil.

"Aku bilang, BERHENTI!" raung Arthur. "Kau mungkin berhasil menipu Master Leon dengan trik sulap murahanmu dan mencuri gelar Kelas S. Tapi di hadapan Silver Fang, kau hanyalah sampah jalanan. Serahkan semua material dari Kawah Api Penyucian sebagai pajak perlindungan, dan... serahkan peri di sebelahmu itu kepadaku. Dia terlalu suci untuk berjalan di samping mayat hidup sepertimu!".

Mendengar tuntutan itu, Rino dan Richard di kejauhan menelan ludah. "Arthur telah menggali kuburannya sendiri," bisik Rino dengan wajah pucat pasi. Ia ingat betul bagaimana pria berjaket hitam itu merespons ancaman.

Langkah Ajil akhirnya berhenti, tepat satu meter di depan dinding sihir cahaya milik Arthur.

Erina mendengus pelan, suaranya merdu namun penuh bisa. "Tikus manusia ini benar-benar tidak tahu diri. Ajil, biarkan aku yang membungkam mulut kotornya. Panah suciku sudah lama tidak menembus tengkorak ras manusia yang sombong."

"Tidak," jawab Ajil datar, suaranya berat dan menggetarkan udara di sekitarnya. "Kau akan mengotori tanganmu."

Ajil perlahan mendongak, menatap lurus ke arah Arthur yang berdiri di balik dinding cahaya dengan senyum meremehkan. Mata hitam Ajil... tidak ada kilatan sihir di sana, tidak ada warna energi. Hanya ada sebuah lubang hitam keputusasaan dan kemurkaan murni seorang ayah yang terus dihalangi jalannya untuk pulang.

"Kalian membalut diri dengan zirah emas dan gelar pahlawan hanya untuk menutupi jiwa kalian yang kerdil dan ketakutan," ucap Ajil. Suaranya tidak berteriak, namun setiap suku katanya memotong kebisingan angin sore dengan sangat tajam, menembus langsung ke gendang telinga semua orang yang hadir. "Sementara aku... aku rela menanggalkan seluruh harga diriku, menenggelamkan duniaku dalam darah, hanya untuk melihat satu senyuman dari masa laluku yang telah kalian rampas. Jangan pernah membandingkan keserakahanmu dengan keputusasaanku.".

Arthur mengerutkan keningnya. Kata-kata itu terdengar seperti omong kosong orang gila baginya. "Masa lalu? Keputusasaan? Hah! Kau hanya seorang pengecut yang pandai merangkai kata! Pasukan, beri dia pelajaran!"

Tiga orang ksatria elit Kelas A dari kelompok Silver Fang menerjang maju menembus dinding cahaya mereka sendiri. Mereka mengayunkan tombak, pedang, dan kapak yang semuanya dilapisi oleh aura sihir tingkat tinggi. Kecepatan mereka luar biasa, menargetkan bahu dan kaki Ajil untuk melumpuhkannya tanpa membunuhnya secara langsung.

Di mata Ajil, gerakan mereka lebih lambat dari siput.

[SISTEM: Mode Pertahanan Otomatis. Mengaktifkan Tinju Petir Ungu: Output 10%.]

Ajil tidak repot-repot memanggil Pedang Petir Hijau Abadi. Ia bahkan tidak mundur selangkah pun. Ia hanya menarik napas panjang.

Tangan kanannya, yang masih tersembunyi di dalam saku trench coat-nya, memercikkan kilatan petir ungu yang merembes keluar menembus kain hitam (tanpa membakarnya). Dalam sepersekian detik, Ajil mengeluarkan tangannya dan hanya mengibaskannya ke depan, layaknya seseorang yang sedang mengusir lalat yang mengganggu.

BLAAAAARRRRR!!!

Sebuah gelombang petir ungu berbentuk busur melesat dari punggung tangan Ajil. Suara ledakan ozon memekakkan telinga merobek udara sore.

Ketiga ksatria elit yang sedang menerjang itu menghantam gelombang petir tersebut. Tidak ada adu kekuatan. Zirah baja sihir mereka, yang diklaim mampu menahan nafas naga, meleleh dan hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh. Senjata mereka meledak menjadi serpihan logam. Ketiga tubuh besar itu terhempas ke belakang dengan kecepatan peluru, menabrak tembok gerbang Valeria hingga menciptakan kawah kecil, dan jatuh ke tanah dalam kondisi hangus, tak sadarkan diri dengan otot-otot yang kejang karena sengatan jutaan volt listrik.

Keheningan yang mematikan turun seketika.

Ribuan pasang mata yang menonton menahan napas mereka hingga wajah mereka membiru. Tiga ksatria elit dari legenda Silver Fang dikalahkan hanya dengan... sebuah kibasan tangan?!

Arthur terperanjat mundur, wajah bangsawannya yang angkuh kini sepucat mayat. Pedang besarnya bergetar di tangannya. "S-Sihir macam apa itu?! Warna petir itu... itu bukan sihir manusia!"

Erina tersenyum mengejek, membelai rambut peraknya dengan santai. "Sudah kubilang, kau hanyalah tikus yang menantang naga purba."

Darah Arthur mendidih antara rasa terhina dan ketakutan yang tak terkendali. Ia adalah elit Kelas S! Ia menolak untuk dipermalukan di depan ribuan rakyat jelata.

"MATI KAU, KEPARAT!" raung Arthur. Ia menyalurkan seluruh mana sucinya ke dalam Pedang Fajar Bersinar. Pedang itu menyala seterang matahari siang, memancarkan hawa panas yang membakar jalanan. Arthur melompat tinggi ke udara, mengayunkan pedang raksasa itu lurus ke arah kepala Ajil dengan kekuatan yang diklaim mampu membelah tembok kota.

"Ajil!" panggil Erina, sedikit terkejut oleh output kekuatan Kelas S milik Arthur.

Ajil hanya mendongak. Wajahnya sedatar permukaan danau es. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas, merentangkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

WUSSSHHH!

TRANGGGGG!!!

Guncangan dahsyat terjadi. Aspal batu di bawah kaki Ajil hancur berantakan membentuk kawah sedalam satu meter akibat tekanan udara. Debu tebal mengepul tinggi.

Arthur tersenyum beringas. Tidak ada yang bisa menahan tebasan pedang sucinya dengan tangan ko—

Senyum Arthur membeku. Matanya nyaris melompat keluar dari rongganya.

Saat debu menipis, terlihatlah sebuah pemandangan yang menghancurkan seluruh logika dunia Ridokan. Ajil berdiri tegak di tengah kawah. Tangannya terangkat ke atas. Dan di antara dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengahnya yang dilapisi oleh percikan kecil petir ungu—ia menjepit bilah Pedang Fajar Bersinar milik Arthur.

Pedang raksasa yang diayunkan dengan kecepatan dan kekuatan penuh dari seorang Kelas S itu, dihentikan secara mutlak hanya oleh jepitan dua jari!

"I-Ini tidak mungkin... Mustahil! L-Lepaskan!" Arthur berteriak histeris, mencoba menarik pedangnya. Namun pedang itu tidak bergeser satu milimeter pun, seolah telah menyatu dengan jari-jari Ajil yang kokoh bagai penjepit dari dasar neraka.

Ajil menatap Arthur yang melayang di depannya. Tatapan itu adalah tatapan sang dewa kematian.

"Senjatamu ini," desis Ajil pelan, aliran petir ungu mulai merambat dari jari-jarinya, menjalar ke bilah pedang suci tersebut. "Terlalu ringan. Sama seperti harga dirimu."

KRETEK...

KRAAAAK!

Petir ungu God-Tier milik Ajil bereaksi secara brutal terhadap sihir cahaya pada pedang Arthur. Dalam hitungan detik, pedang legendaris yang tak ternilai harganya itu mulai retak. Cahaya sucinya dipadamkan secara paksa, digantikan oleh jaring-jaring retakan berwarna ungu yang terus menyebar hingga ke gagangnya.

PRANGGG!!!

Pedang kebanggaan Silver Fang itu meledak menjadi ribuan kepingan besi rongsokan.

"TIDAAAKKK!" jerit Arthur saat ledakan itu menghancurkan senjatanya. Belum sempat ia bereaksi, Ajil memutar pergelangan tangannya yang bebas dan mencengkeram kerah zirah perak Arthur dengan kecepatan kilat.

Ajil menarik tubuh Arthur ke bawah dan membantingnya ke atas aspal batu dengan kekuatan yang tak masuk akal.

BUMMM!!

Jalanan bergetar hebat. Zirah perak Arthur penyok ke dalam, tulang rusuknya patah berderak-derak. Darah segar menyembur dari mulutnya. Arthur terkapar di dalam kawah, tak mampu menggerakkan satu jari pun, matanya menatap langit senja dengan pandangan kosong akibat syok mental yang luar biasa. Pemimpin Silver Fang telah ditumbangkan dalam waktu kurang dari satu menit.

Sisa anggota Silver Fang yang masih berdiri langsung menjatuhkan senjata mereka ke tanah, berlutut gemetar dengan wajah memohon ampun, tak berani menatap wajah Ajil sedikit pun.

Ajil melepaskan cengkeramannya. Ia tidak membunuh Arthur. Pria arogan ini tidak pantas mengotori tangannya lebih jauh. Ajil merapikan kerah trench coat-nya yang sedikit berdebu.

Di kejauhan, Rino dan Richard menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mulut terbuka lebar. Nafas mereka tersengal. Ketakutan yang sebelumnya mereka rasakan kini bermutasi menjadi sebuah rasa takjub dan kekaguman yang absolut. Rino, sang raksasa berzirah merah, tanpa sadar menjatuhkan pedang apinya. Kakinya lemas, dan ia jatuh berlutut. Bukan karena tekanan gravitasi Ajil, melainkan karena lututnya sendiri yang menyerah melihat manifestasi kekuatan dewa di depan matanya.

"Dia... dia tidak sekadar kuat, Richard," bisik Rino dengan suara serak, air mata merembes dari sudut matanya, sebuah pengakuan kekalahan dari seorang pria yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pedang. "Dia adalah puncak dari segala kekuatan. Kesombongan kita... kita hanyalah debu di hadapannya. Aku... aku ingin menjadi sepertinya. Meskipun aku harus merangkak mencium sepatunya, aku ingin belajar bagaimana caranya memegang dunia di tanganku.".

Richard menelan ludah, tombak esnya telah terjatuh. Ia mengangguk pelan, matanya tak lepas dari sosok Ajil yang kini kembali melanjutkan langkahnya.

Ajil berjalan melewati tubuh Arthur yang mengerang kesakitan, menembus sisa-sisa anggota Silver Fang yang sujud ketakutan. Kerumunan ribuan orang di gerbang seketika membelah, membungkuk dalam-dalam layaknya menyambut seorang kaisar yang baru saja dinobatkan. Tidak ada lagi yang berani memanggilnya gelandangan, tidak ada lagi yang meragukan gelar Kelas S-nya.

Erina berjalan di samping Ajil dengan dagu sedikit terangkat, senyum bangga menghiasi wajah cantiknya. "Itu tontonan yang sangat menghibur, Ajil. Kau meruntuhkan sebuah legenda kota ini bahkan tanpa perlu menarik pedang dari cincinmu."

"Mereka bukan legenda," jawab Ajil datar, suaranya memudar di tengah angin senja saat ia melangkah masuk ke dalam perut kota Valeria. "Mereka hanya belum pernah bertemu dengan keputusasaan yang sebenarnya.".

Malam itu, di dalam tembok Kerajaan Valeria, sejarah baru telah ditulis. Sang Algojo Dimensi telah meruntuhkan keangkuhan elit ras manusia. Dan di sudut gerbang yang gelap, Rino dan Richard saling berpandangan, membulatkan tekad mereka untuk membuang harga diri yang selama ini mereka banggakan, bersiap untuk membayangi langkah pria berjaket hitam itu, berharap setetes dari lautan kekuatan Ajil bisa mereka pelajari.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!