NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Libur Akhir Pekan

BAB 17 — Libur Akhir Pekan

Hujan deras dan ucapan pedas Alena malam sebelumnya ternyata menjadi titik balik yang besar bagi Adrian.

Pria itu sadar betul. Dia tidak bisa terus membiarkan gadis itu merasa seperti bayangan, merasa seperti rahasia gelap yang memilukan. Alena butuh kepastian. Alena butuh bukti nyata bahwa di balik sikap dinginnya di kampus, ada cinta yang begitu besar dan nyata yang tersimpan di dalam hatinya.

Maka, keesokan harinya, dengan cara yang sangat khas Adrian—tegas namun penuh perhatian—dia memberikan sebuah kejutan yang mampu mengubah suasana hati Alena seketika.

"Packing barang. Kita pergi akhir pekan ini," ucap Adrian singkat saat mereka berpapasan di koridor sepi, suaranya rendah dan cepat agar tidak terdengar oleh orang lain.

Alena mengerutkan kening bingung, tangannya memegang buku erat-erat. "Pergi? Ke mana? Aku kan masih ada tugas..."

"Sudah aku urus semua. Keluar kota. Jauh dari sini. Jauh dari kampus, jauh dari mata-mata, dan jauh dari topeng-topeng menyebalkan itu." Adrian menatapnya dalam, matanya memancarkan ketulusan yang jarang terlihat. "Beri aku waktu dua hari penuh. Biarkan aku menunjukkan kalau aku bisa jadi kekasih yang layak untukmu. Tanpa harus sembunyi. Tanpa jarak."

Hati Alena berdebar kencang mendengarnya. Janji itu terdengar begitu manis, begitu menenangkan. Tanpa pikir panjang, dia hanya bisa mengangguk patuh.

 

🏡 Vila Indah di Tepi Danau

Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam meninggalkan hiruk pikuk kota London. Saat mobil akhirnya berhenti di sebuah halaman yang tertata rapi, Alena terpesona melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya.

Sebuah vila kecil bergaya klasik Eropa, terbuat dari batu alam dan kayu cokelat tua, berdiri anggun dan tenang. Lokasinya tepat di tepi sebuah danau yang airnya sangat tenang, berwarna kebiruan gelap, memantulkan cahaya langit senja dan pepohonan hijau rimbun yang mengelilinginya.

Suasananya sangat damai, sejuk, dan sunyi. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada keramaian. Hanya ada angin berhembus pelan dan suara alam.

"Wow... tempatnya indah banget, Adrian..." gumam Alena takjub saat turun dari mobil, menghirup udara segar pegunungan yang dingin tapi sangat menyegarkan paru-parunya.

Adrian tersenyum tipis sambil mengambil tas-koper mereka dari bagasi. "Aku punya tempat ini sejak lama. Tempat favoritku untuk menyendiri kalau aku capek sama dunia. Dan sekarang... aku ingin berbagi sini sama kau."

Mereka masuk ke dalam vila. Interiornya sangat hangat, perabotan kayu klasik yang nyaman, dan ada perapian besar di ruang tengah yang sudah dinyalakan Adrian sebelumnya, membuat suhu ruangan terasa sangat nyaman dan romantis.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain... sesuatu yang ajaib terjadi.

Tembok itu runtuh. Topeng itu dilepas.

 

💑 Menjadi Pasangan Biasa

Tanpa ada yang melihat, tanpa ada aturan yang mengikat, tanpa ada jarak profesional yang harus dijaga... mereka bebas. Benar-benar bebas.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri pinggir danau saat matahari mulai terbenam, mengecat langit dengan warna oranye dan ungu yang memukau. Angin sore berhembus pelan, membuat rambut Alena berterbangan dan jaket tebal yang dipakainya terasa hangat.

Dan Adrian... dia tidak lagi menjadi Dr. Vale yang kaku dan dingin.

Dengan sangat santai dan alami, tangan besarnya terulur ke samping dan menggenggam tangan Alena. Jari-jemari mereka saling mengunci erat, kulit bersentuhan, hangat mengalir dari telapak tangan pria itu ke tangan gadis itu.

"Ahh..." Alena tersentak sedikit, lalu menunduk melihat tangan mereka yang saling menggenggam. Rasanya... aneh tapi sangat benar. Sangat indah.

"Kenapa kaget?" tanya Adrian sambil menatapnya, senyumnya lebar dan rileks. "Di sini kan tidak ada dosen dan murid. Cuma Adrian dan Alena. Boleh kan aku pegang tangan kekasihku?"

Hati Alena meleleh mendengar panggilan 'kekasihku' itu. Dia mengangguk cepat, membalas genggaman tangan itu erat-erat, seolah takut ini hanya mimpi. "Boleh... boleh banget."

Mereka berjalan perlahan, menginjak rerumputan yang agak basah oleh embun sore. Mereka mengobrol tentang apa saja. Tentang impian masa depan, tentang masa kecil yang lucu, tentang hal-hal konyol yang membuat mereka tertawa lepas tanpa perlu menutup mulut atau malu.

Tidak ada rasa canggung. Tidak ada rasa takut. Hanya ada tawa renyah Alena dan suara tawa Adrian yang... sungguh sangat memikat dan maskulin.

 

🍽️ Malam yang Penuh Cinta

Malam harinya mereka memasak makan malam bersama di dapur kecil yang hangat itu.

Berantakan sedikit, tepung berceceran di meja, bumbu terbalik, tapi rasanya sangat seru dan menyenangkan. Adrian yang biasanya hanya makan makanan mewah di restoran atau pesan antar, kali ini ikut mencuci sayuran, mengaduk kuah, dan menyiapkan meja makan dengan lilin aromaterapi yang dinyalakan.

"Kacau banget sih tangan Bapak," ledek Alena saat melihat Adrian mencoba memotong wortel dengan tidak rata.

"Sudah bersyukurlah aku mau bantu. Biasanya kan cuma bisa bikin kau ngeselin di kelas," balas Adrian sambil mencubit pelan pinggang ramping gadis itu, membuat Alena terkikik.

Mereka makan malam berhadapan, di bawah cahaya lampu kuning yang hangat, ditemani suara gemericik air danau di luar dan suara api perapian yang sesekali berderak.

"Enak gak masakanku?" tanya Alena bangga, matanya berbinar menunggu penilaian.

Adrian menyuap makanannya, lalu mengunyah perlahan sambil menatap gadis di depannya tajam namun lembut. "Enak. Sangat enak."

"Serius?"

"Serius." Adrian tersenyum, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Tapi yang bikin enak bukan makanannya..."

Alena menahan senyum manja, pipinya memerah. "Terus apa?"

"Orangnya. Orangnya cantik, jadi makanannya otomatis jadi berkali-kali lipat enak."

Bugh.

Jantung Alena berdegup kencang. Pria ini... kalau sudah mulai merayu, bahaya sekali.

 

😊 Senyum yang Paling Berharga

Malam semakin larut. Setelah membereskan piring kotor, mereka memutuskan untuk duduk bersandar di sofa panjang yang empuk, menghadap jendela besar yang memperlihatkan danau yang kini diterangi cahaya bulan purnama yang sangat indah.

Alena bersandar nyaman di dada bidang Adrian, sementara lengan pria itu melingkar erat melindungi bahunya, menutupi mereka berdua dengan selimut tebal yang hangat. Mereka diam menikmati kebersamaan itu, menikmati rasa bebas yang jarang bisa mereka rasakan.

Tiba-tiba Alena teringat sesuatu. Dia mendongak perlahan, menatap wajah profil Adrian yang tampan diterangi cahaya bulan remang.

Selama ini dia tahu Adrian itu tampan. Dia tahu Adrian itu keren dan berwibawa. Tapi wajah itu selalu dipenuhi garis-garis ketegasan, selalu dingin, selalu serius, seolah ada beban berat yang dipikulnya sendirian.

Tapi malam ini... di tempat ini...

Di bawah sinar remang itu, Alena melihat sesuatu yang berbeda dan sangat ajaib.

Bahu Adrian yang biasanya kaku dan tegang, kini tampak rileks sepenuhnya. Alisnya yang selalu berkerut memikirkan pekerjaan dan masalah, kini licin dan damai. Rahangnya yang tegas tampak lebih lunak.

Dan yang paling membuat jantung Alena berhenti berdetak sejenak...

Adrian tersenyum.

Bukan senyum miring, bukan senyum sinis, dan bukan senyum profesional yang kaku.

Itu adalah senyum lepas. Senyum tulus, lebar, dan sangat tenang. Mata itu tampak berbinar bahagia, membuat keseluruhan aura pria itu berubah menjadi sangat hangat dan manusiawi.

Seolah semua beban dunia, semua tekanan pekerjaan, dan semua rahasia berat itu hilang lenyap untuk sementara waktu. Hanya ada kedamaian dan kebahagiaan murni.

Alena terpana menatapnya.

Ini... ini pertama kalinya aku melihat Adrian tersenyum sebebas dan secantik ini... batin Alena bergumam haru, matanya mulai terasa panas.

Senyum itu begitu berharga. Senyum itu seolah memberitahunya bahwa Adrian juga bahagia. Bahwa Adrian juga mencintai hubungan ini sama besarnya seperti yang dia rasakan. Bahwa mereka bukan sekadar bermain-main.

"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Adrian menyadari tatapan itu, senyumnya masih mengembang manis di wajahnya.

Alena tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru mendekat, lalu mengecup pipi pria itu lembut, tepat di dekat sudut bibirnya yang tersenyum, lalu memeluk pinggang pria itu erat-erat.

"Gak apa-apa..." bisik Alena manja, matanya terpejam menikmati momen ini. "Cuma senang. Senang banget bisa lihat Bapak senyum kayak gini. Ganteng banget."

Adrian terkekeh pelan, suara tawanya bergetar di dadanya, lalu menarik wajah Alena agar bisa mencium bibir gadis itu lama dan dalam, penuh rasa syukur.

"Terima kasih sudah datang ke hidupku, Alena. Kau yang membuatku bisa senyum seperti ini."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!