NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pemimpin Tanpa Nama

Aditya tidak bisa bergerak.

Kekuatan 115 melawan 9. Kecepatan 89 melawan 9. Bahkan Silent Step terasa seperti lelucon di hadapan makhluk ini. Pemimpin itu berdiri dua meter darinya, udara di sekitarnya bergetar oleh tekanan energi yang tidak kasat mata.

"Kalian bertiga," suaranya bergema dari balik topeng logam, "masuk ke sarang ular tanpa bisa membedakan ular dari cacing tanah."

"MAYA, TEMBAK!"

Perintah Alesha memecah kekakuan.

Maya melepaskan tiga tembakan berturut-turut. Peluru melesat ke arah kepala, dada, dan perut sang pemimpin.

Tapi pria itu hanya mengangkat satu tangan.

Zing! Zing! Zing!

Ketiga peluru berhenti di udara—mengambang, berputar pelan di depan telapak tangannya, lalu jatuh ke lantai seperti serangga mati.

"Tekanannya..." bisik Maya, matanya membelalak.

All-Seeing Eye mendeteksi: Skill "Pressure Barrier"—menciptakan perisai energi di sekitar tubuh. Kelemahan: Memerlukan konsentrasi. Terganggu jika diserang dari dua arah berlawanan secara bersamaan.

"Maya, Alesha—serang dari dua sisi!" teriak Aditya.

Maya melompat ke kiri, senapannya kini dalam mode otomatis. Alesha berlari ke kanan, Belati Surya menyala kebiruan. Keduanya menyerang bersamaan.

Pressure Barrier bergetar. Retakan kecil muncul di udara, seperti kaca yang hampir pecah.

"Cukup pintar," pemimpin itu mendengus, "tapi tidak cukup kuat."

Ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke lantai. Gelombang kejut menyebar—Aditya, Maya, dan Alesha terpental ke tiga arah berbeda.

Punggung Aditya menghantam tumpukan drum bekas. Nyeri menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Di sudut mata, ia melihat Maya jatuh di samping meja logam, senapannya terlepas. Alesha terlempar ke dinding, tapi masih mencengkeram belatinya.

Status Host: Terluka ringan. Stamina: 67%. Panel menyarankan: Mundur. Mundur. Mundur.

"Aku tidak akan mundur," Aditya menggeram, memaksa dirinya bangkit.

Pemimpin itu berjalan mendekat. Langkahnya lambat, menikmati ketakutan yang ia ciptakan. Empat kultivator yang tersisa—yang tadi berlindung—kini beringsut menjauh. Mereka lebih takut pada atasan mereka sendiri daripada pada penyerbu.

"Kau tahu kenapa aku tidak langsung membunuh kalian?" Pemimpin itu berhenti tepat di depan Aditya. Topeng logamnya dingin, matanya merah menyala. "Karena aku penasaran. Siapa yang mengirim bocah level 0 untuk menyerang markas Kartel Lotus?"

"Tidak ada yang mengirim. Aku datang sendiri."

"Jangan bohong. Sistem-mu itu... siapa yang memberikannya?"

Aditya terkejut. Bagaimana dia tahu soal sistem?

"Ya, aku bisa melihatnya." Pemimpin itu tertawa kecil. "Liontin di dadamu. Energinya bocor seperti mercusuar di malam hari. Kau pikir level 9 tidak bisa merasakan artefak sekaliber itu?"

Ia mengulurkan tangan. "Serahkan liontin itu, dan mungkin aku biarkan kalian hidup."

Aditya menatap tangan itu. Lalu menatap lantai gudang—ke genangan bensin yang tadi ia tumpahkan. Genangan itu mengalir pelan ke arah kaki sang pemimpin.

"Maya," bisiknya pada earpiece mikro yang tersembunyi di kerah. "Korek api. Sekarang."

"APA?!"

"PERCAYA!"

Maya merogoh sakunya. Satu korek api kayu melayang ke arah genangan.

Api menjalar dalam sekejap.

WHOOSH!

Lantai berubah menjadi lautan api. Empat kultivator yang tersisa berlari panik. Tapi pemimpin itu—ia melompat ke udara, menghindari api dengan mudah. Melayang sejenak di atas kobaran. Matanya menyala lebih marah.

"MAYA, SEKARANG!"

Dari balik api, Maya muncul dengan senapan yang sudah ia ambil kembali. Tembakan ke arah kepala. Pemimpin itu mengaktifkan Pressure Barrier lagi.

Tapi kali ini, Alesha sudah ada di belakangnya.

Belati Surya menebas dari sisi buta.

SSSHHRRREK!

Pressure Barrier pecah. Bilah biru itu menyayat lengan sang pemimpin—tidak dalam, tapi cukup. Darah hitam menetes. Dan racun pemurnian mulai bekerja.

"AAAAARGH!"

Pemimpin itu meraung. Levelnya bergetar—dari 9 turun ke 8, lalu 7. Matanya membelalak. "Belati Surya! Jadi itu bukan legenda!"

"Kalian terus bilang begitu," Alesha mendesis, "sampai lupa bahwa legenda bisa membunuh."

Ia menusuk lagi.

Tapi pemimpin itu menghilang.

All-Seeing Eye: Target mundur ke lantai dua. Kecepatan menurun drastis. Racun bekerja 38%. Rekomendasi: Kejar dan selesaikan.

"AKU AKAN KEMBALI!" suara pemimpin itu bergema dari atas. "KARTEL LOTUS TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI KALIAN—"

BRAK!

Suara pintu darurat dibanting. Lalu hening.

Api di lantai mulai padam, menyisakan genangan hitam dan asap tebal. Aditya terbatuk, matanya perih. Maya merangkak ke arahnya, wajahnya penuh jelaga.

"Dia kabur."

"Tapi markasnya hancur," Aditya menjawab, menunjuk ke sekeliling. Monitor-monitor meleleh, peta-peta terbakar, dan meja-meja logam rubuh. "Dan kultivatornya..."

Mereka menoleh. Empat kultivator yang tersisa berlutut di sudut, tangan di atas kepala. Mereka menyerah.

---

DING!

Misi Selesai: Serang Markas Divisi Eksekusi Kartel Lotus.

Hadiah: 800 Koin, 1 Pil Pemulihan Jiwa, Peta Wilayah Kartel Lotus.

Bonus: Mengalahkan pemimpin tanpa membunuh (+150 Koin), Menangkap 4 kultivator hidup-hidup (+300 Koin).

Total Koin: 2210.

Aditya tersenyum lelah. Pil Pemulihan Jiwa muncul di panel inventaris—sebuah kapsul biru transparan dengan cahaya berdenyut di dalamnya.

"Aku dapat pilnya," katanya pada Alesha. "Kakek bisa diselamatkan."

Alesha menatapnya. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak dingin atau penuh perhitungan. Hanya kelegaan—tulus, mentah, nyaris seperti anak kecil.

"Terima kasih."

Itu saja. Dua kata. Tapi bagi Aditya, dua kata itu lebih berharga dari ribuan koin sistem.

---

Satu jam kemudian, tim pembersih Pradipa tiba di gudang. Kultivator yang menyerah dibawa ke fasilitas khusus—Maya menyebutnya "penjara keluarga", sebuah tempat yang bahkan tidak ada di catatan kepolisian.

Aditya, Maya, dan Alesha berdiri di luar gudang, menatap asap yang masih mengepul dari atap seng yang roboh.

"Pemimpinnya masih hidup," Maya memecah keheningan. "Dia akan kembali dengan bala bantuan."

"Aku tahu." Aditya menatap peta wilayah Kartel yang baru ia dapatkan. Titik-titik merah menyebar ke seluruh Jakarta, Bogor, Bekasi. "Tapi kita tahu di mana mereka sekarang."

"Dan kita juga tahu sesuatu yang lebih penting," Alesha menambahkan. "Mereka takut pada pusaka. Belati Surya membuat level 9 lari ketakutan."

"Itu karena racunnya. Bukan karena aku."

"Kau yang menusuknya."

Maya terkekeh. "Kalian berdua mulai kompak. Menakutkan."

Aditya menatap ke timur—ke arah rumah sakit tempat Kakek Wijaya terbaring. "Besok pagi, kita bangunkan Kakek. Malam ini... aku butuh tidur dulu."

"Tidur?" Maya mengangkat alis. "Setelah semua ini?"

"Terlalu lelah untuk tidak tidur."

Ketiganya berdiri dalam diam, dikelilingi oleh bau asin pelabuhan dan sisa-sisa pertempuran. Di atas mereka, bintang-bintang mulai muncul—untuk pertama kalinya malam itu, langit tidak tertutup asap.

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!