Sinopsis:
Liu Bai berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak bela diri. Dalam menghadapi kesulitan, Liu Bai harus bertahan dan pantang menyerah. Hanya dengan begitu Liu Bai dapat menerobos dan melanjutkan perjalanan untuk menjadi yang terkuat. Suatu hari murid rendahan Liu Bai menemukan bela diri terkuat yang tidak pernah di sangkanya dan menempatkan dirinya di jalan menuju puncak dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAN JF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17 - Seorang Wanita
Liu Bai yang sudah terbang selama kurang lebih 1 jam pun memutuskan untuk berhenti sejenak di udara.
"Perbatasan antara Hutan Kematian dan wilayah Kekaisaran Biru Langit tak lama lagi akan segera terlihat." ujar Liu Bai saat melihat ke arah Utara.
"...!" Pandangan Liu Bai tiba-tiba teralihkan ke bawah.
"Ada sekitar 17 ekor Binatang Buas tingkat ke-1 di bawah sana. Tak heran jika terdapat Binatang Buas tingkat ke-1 karena aku sekarang sudah berada di pinggiran Hutan Kematian. Itu artinya kita sebentar lagi benar-benar akan segera keluar dari Hutan Kematian ini." ujar Liu Bai.
'Apa yang akan kau lakukan setelah melihat para Binatang Buas itu?' Sun Wukong bertanya kepada Liu Bai.
"Kau tentu sudah tahu jawabannya. Aku akan memanen tubuh mereka untuk ku jadikan Pil dan ku jual. Setelah berada di dalam Gua untuk waktu yang cukup lama, aku hampir lupa soal betapa pentingnya biaya hidup saat akan tinggal di dalam sebuah kota. Saat ini aku benar-benar miskin. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari uang." ujar Liu Bai menanggapi pertanyaan yang di berikan oleh Sun Wukong kepadanya.
'Kekeke... Sungguh merepotkan.' ujar Sun Wukong membalas perkataan Liu Bai.
"Baiklah, aku mulai!" seru Liu Bai sambil turun ke permukaan tanah.
Tepat saat Liu Bai sudah mendarat, dirinya langsung di sambut oleh sekumpulan Binatang Buas tingkat ke-1, Kelinci Bertanduk, yang berukuran kurang lebih setengah meter. Sekumpulan Kelinci Bertanduk itu menatap tajam Liu Bai dan bersiap untuk menyerang dirinya.
"Majulah." ujar Liu Bai sambil menyeringai kepada sekumpulan Kelinci Bertanduk itu.
"...!" Sekumpulan Kelinci Bertanduk itu tersentak saat mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Liu Bai.
Dengan instingnya, 5 ekor Kelinci Bertanduk dari sekumpulan itu pun melompat maju ke arah Liu Bai.
Bam-! Bam-! Bam-! Bam-!
Liu Bai memberikan masing-masing 1 pukulan cepat kepada 4 ekor Kelinci Bertanduk secara berurutan tepat pada saat 4 ekor Kelinci Bertanduk itu mendekati dirinya dan membuat 4 ekor Kelinci Bertanduk itu terpental jatuh ke tanah.
Seekor Kelinci Bertanduk yang melompat maju bersamaan dengan mereka berempat juga sudah berada tepat di belakang Liu Bai.
Bam-!
Liu Bai dengan cepat memberikan sebuah tendangan kepada Kelinci Bertanduk yang tersisa itu dan membuatnya terpental jatuh ke tanah.
"Melawan Binatang Buas tingkat ke-1 sangat mudah. Aku dapat menyelesaikannya dengan cepat." ujar Liu Bai.
"Baiklah, sekarang apa yang kalian tunggu?" ujar Liu Bai sambil menyeringai kepada sekumpulan Kelinci Bertanduk itu.
"...!" Sekumpulan Kelinci Bertanduk itu tersentak saat melihat wajah Liu Bai.
Sekumpulan Kelinci Bertanduk yang terprovokasi oleh wajah dan perkataan Liu Bai pun melompat maju secara bersamaan ke arah Liu Bai.
"Itulah yang aku mau." ungkap Liu Bai dengan perasaan yang sangat senang.
Bam-! Bam-! Bam-! Bam-! Bam-!
Bam-! Bam-! Bam-! Bam-! Bam-!
Liu Bai memberikan banyak pukulan cepat dengan menggunakan kedua tangannya secara bergantian kepada 10 ekor Kelinci Bertanduk dan membuat Kelinci Bertanduk itu terpental jatuh ke tanah.
Kemudian 2 ekor Kelinci Bertanduk yang tersisa menyerang Liu Bai dari sisi kanan dan juga sisi kiri.
"Sangat lambat." ujar Liu Bai.
Grep-!
Liu Bai menangkap 2 ekor Kelinci Bertanduk dengan kedua tangannya. Kedua tangan Liu Bai menggenggam dengan erat leher 2 ekor Kelinci Bertanduk itu.
"...!" Kedua ekor Kelinci Bertanduk itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri tanpa dapat bersuara akibat leher yang di cengkeram oleh Liu Bai.
"Terimakasih atas hidup kalian." ujar Liu Bai sambil memperkuat cengkeraman di kedua tangannya pada leher 2 ekor Kelinci Bertanduk itu.
Tubuh 2 ekor Kelinci Bertanduk itu pun kejang-kejang selama beberapa detik hingga titik di mana 2 ekor Kelinci Bertanduk itu kehilangan nyawanya.
"Dengan ini selesai. Sekarang tinggal mengubah mereka menjadi Pil." ujar Liu Bai sambil meletakkan 2 ekor Kelinci Bertanduk yang di pegang olehnya ke tanah.
'Kekeke... Kau sungguh kejam membunuhnya dengan cara seperti itu.' ujar Sun Wukong kepada Liu Bai.
"Aku tak ingin mendengarnya darimu. Aku tahu kau pasti juga pernah melakukan hal seperti ini di masa lalu. Aku tahu rasanya menjadi seseorang yang lemah. Mereka yang kuat selalu menginjak yang lemah. Jika aku yang dulu melawan para Kelinci Bertanduk ini, mungkin akulah yang akan terbunuh. Aku hanya melakukannya dengan caraku." ujar Liu Bai menanggapi perkataan dari Sun Wukong.
'Kekeke... Begitulah seharusnya. Kekeke...' ujar Sun Wukong membalas perkataan Liu Bai.
Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Liu Bai mengarahkan kedua telapak tangannya ke tubuh para Kelinci Bertanduk. Liu Bai pun mulai menggunakan Teknik Pembakaran Semesta miliknya ke tubuh para Kelinci Bertanduk itu.
Bersamaan dengan itu, semua tubuh Kelinci Bertanduk yang menjadi target penggunaan Teknik Pembakaran Semesta milik Liu Bai pun mulai melebur menjadi cahaya dan terkumpul serta berubah menjadi bentuk bulat seukuran Pil pada umumnya.
Kemudian Liu Bai mengeluarkan bungkusan kain berisi Pil-Pil yang di simpannya di balik pakaiannya. Liu Bai pun membuka bungkusan kain itu.
"Masuklah." ujar Liu Bai kepada Pil-Pil yang melayang di udara tersebut.
Whoosh-!
Semua Pil yang melayang di udara itu pun terbang ke arah Liu Bai dan masuk ke dalam bungkusan kain yang di pegang olehnya.
"Selesai." ujar Liu Bai sambil mengikat kembali bungkusan kain berisi Pil-Pil itu dan memasukkannya kembali ke dalam pakaiannya.
"Waktunya melanjutkan perjalanan. Tapi sebaiknya aku berjalan kaki saja menyusuri hutan ini sampai ke perbatasan. Jika bertemu dengan Binatang Buas tingkat ke-1 atau pun Binatang Buas tingkat ke-2, aku bisa langsung melawannya. Dengan berjalan kaki, Binatang Buas akan lebih mudah di jumpai. Bahkan mungkin mereka yang akan mendatangiku." ujar Liu Bai sambil tersenyum kecil. Kemudian Liu Bai pun melangkahkan kakinya, berjalan mengarah ke Utara menuju ke perbatasan antara Hutan Kematian dan Kekaisaran Biru Langit.
***
Tiga puluh menit telah berlalu sejak Liu Bai mulai menyusuri hutan dengan berjalan kaki. Gerobak berkuda yang di kendarai 2 orang yang mengenakan jubah bertudung dengan penutup wajah yang menutupi hidung hingga dagu telah sampai di luar wilayah Hutan Kematian.
"Akhirnya kita sampai juga, Kakak Zen." ujar Wei Doyun kepada Zen Fen.
"Perjalanan kita benar-benar memakan banyak waktu. Ayo kita tuntaskan pekerjaan kita dan segera kembali." ujar Zen Fen membalas perkataan Wei Doyun.
Mereka berdua pun turun dan berjalan menuju ke belakang gerobak. Zen Fen dan Wei Doyun memandangi wanita yang terikat sedang terbaring tak sadarkan diri di atas gerobaknya.
"Sebentar lagi efek Pil Pelumpuhnya akan berkurang. Seharusnya dia akan segera sadar kembali. Aku akan mengangkatnya." ujar Zen Fen kepada Wei Doyun.
"..." Wei Doyun terdiam sejenak saat memandangi wanita itu.
"Hei, Adik Wei! Kenapa kau hanya diam saja?! Adik Wei!" seru Zen Fen yang sudah bersiap akan mengangkat wanita itu.
"Tunggu, Kakak Zen! Sebelum itu maafkan aku karena telah mengabaikan perkataan Kakak Zen. Adik ini memiliki saran untuk Kakak Zen." ujar Wei Doyun kepada Zen Fen.
"Saran apa itu, Adik Wei?" Zen Fen bertanya kepada Wei Doyun.
"Kakak Zen, bukankah wanita ini sangat cantik?" Wei Doyun bertanya kepada Zen Fen.
"Ya, lantas kenapa?" Zen Fen kembali bertanya kepada Wei Doyun.
'Tidak ku sangka Kakak Zen tidak mengerti maksud dari perkataanku. Sepertinya dia sangat tidak berpengalaman dalam urusan wanita.' gumam Wei Doyun di dalam hatinya.
"Begini, Kakak Zen. Wanita ini sangat cantik. Kita sudah melakukan perjalanan yang jauh dari ibukota hingga sampai ke tempat ini. Dari pada kita langsung membuangnya ke dalam Hutan Kematian, bukankah lebih baik jika kita menikmati tubuh wanita ini terlebih dahulu?" ujar Wei Doyun kepada Zen Fen.
"..." Zen Fen terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari Wei Doyun.
"Saranmu boleh juga." ujar Zen Fen menanggapi perkataan Wei Doyun.
"Ya, benar. Lalu sebagai seorang adik, aku akan memastikan untuk Kakak Zen yang menikmatinya terlebih dahulu. Adik ini akan menunggu berapa lama pun waktu yang di perlukan oleh Kakak Zen." ujar Wei Doyun kepada Zen Fen.
"Hahaha... Kau sungguh seorang adik yang berbakti. Saat kita kembali, aku akan memastikan kinerjamu akan sangat baik kepada para senior di sekte kita." ujar Zen Fen.
"Terimakasih banyak, Kakak Zen." ujar Wei Doyun kepada Zen Fen dengan sangat senang.
'Bagus. Kakak Zen sangat mudah untuk di manfaatkan. Walaupun aku mendapatkan bagian kedua, tapi aku tetap dapat menikmati setiap bagian tubuh wanita ini. Aku semakin tidak sabar.' gumam Wei Doyun di dalam hatinya sambil tersenyum lebar di balik penutup wajahnya.
"Mmm..."
Suara wanita tiba-tiba terdengar oleh Zen Fen dan juga Wei Doyun.
"Sepertinya dia sudah bangun." ujar Zen Fen.
"...!" Wanita itu di kejutkan dengan 2 orang yang mengenakan jubah bertudung di dekatnya.
"Mmm...! Mmmm...!" Wanita itu berusaha untuk berbicara dengan mulut yang masih tertutup dengan kain.
Wanita itu berusaha untuk bergerak. Namun saat ingin mencoba untuk bergerak walaupun hanya seujung jari pun, dia tak sanggup.
"...?!" Wanita itu sontak terkejut dan kebingungan karena tak dapat menggerakkan setiap bagian tubuhnya.
"Walaupun kau sudah sadar, tapi Pil Pelumpuhnya masih tetap bekerja. Pil Pelumpuh yang kami berikan padamu itu sangat kuat. Kau tidak akan dapat bergerak untuk beberapa waktu ke depan." ungkap Zen Fen kepada wanita itu.
"Mmm...! Mmmm...!" Wanita itu berusaha berteriak dengan ketakutan.
"Percuma saja. Tidak ada gunanya kau berteriak di tempat seperti ini. Tidak akan ada orang yang akan menolongmu." ungkap Zen Fen kepada wanita itu.
"Kalau begitu, adik ini akan menunggu di pohon di dekat sana. Silahkan Kakak Zen untuk memulainya." ujar Wei Doyun kepada Zen Fen sambil beranjak pergi ke pohon yang sudah di tentukannya.
"Baiklah." ujar Zen Fen membalas perkataan Wei Doyun.
"Mmmm...?! Mmm...?!" Wanita itu berusaha berbicara dan bertanya-tanya dengan gelisah apa yang akan di lakukan salah satu pria yang ada di dekatnya itu kepadanya.
"Tenanglah. Kau akan segera menikmatinya." ujar Zen Fen kepada wanita itu.
"Mmmm...! Mmmm...! Mmm...!" Wanita itu berusaha berteriak untuk meminta pertolongan dengan air mata yang mulai mengalir keluar di kedua matanya.
Kretek-! Kretak-! Kretek-!
Suara patahan semak-semak terdengar dari dalam pinggiran Hutan Kematian.
"...!" Zen Fen dan Wei Doyun sontak terkejut saat mendengar suara tersebut.
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara itu berasal.
'Apakah itu Binatang Buas?!' Zen Fen bertanya-tanya pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
"Adik Wei! Bersiaplah!" seru Zen Fen kepada Wei Doyun.
Zen Fen dan Wei Doyun menaikkan tingkat kewaspadaannya dengan perasaan gelisah.
"Sialan. Aku tidak menyangka akan ada begitu banyak Binatang Buas yang mendatangiku." ujar Liu Bai sambil keluar dari semak-semak di dalam Hutan Kematian.
"...!" Zen Fen dan Wei Doyun di kejutkan dengan seorang pria dengan pakaian yang kotor dan penuh robekan keluar dari dalam Hutan Kematian.