Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Pilihan di Ujung Napas
Hutan kabut itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara deru api dari kereta jenazah yang mulai melahap kayu-kayu pinus di sekitarnya. Arvand bersimpuh di atas tanah yang dingin, mendekap tubuh Aruna yang pucat pasi. Napas wanita itu begitu tipis, hampir tidak terasa, sementara kulitnya mulai membiru akibat racun pemalsu kematian yang bekerja terlalu kuat.
Di hadapannya, Seraphina berdiri dengan tenang di atas dahan pohon, memutar-mutar botol penawar kecil yang berkilau terkena cahaya api. Tawaran wanita itu seperti sembilu yang menyayat jantung Arvand.
"Pilih, Arvand. Istrimu atau anakmu?" suara Seraphina terdengar seperti bisikan iblis yang manis. "Waktu istrimu tinggal lima menit. Dan Arel... jika kereta kuda itu melewati gerbang perbatasan, dia akan menjadi tawanan perang seumur hidupnya."
Arvand menatap wajah Aruna. Wanita ini, yang dulu ia benci sebagai sumber malapetaka, kini menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup di penjara. Ia teringat bagaimana Aruna merentangkan tangan untuk melindungi Arel di lembah api.
"Argh!" Arvand mengerang, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Kenapa kau melakukan ini, Sera? Kau mengenalnya! Kau tahu dia bukan Ratri yang dulu!"
"Justru karena aku tahu siapa dia, aku ingin melihat seberapa besar pengorbanan yang sanggup kau berikan," jawab Seraphina dingin.
Tiba-tiba, jari-jari tangan Aruna yang kaku bergerak sedikit. Bibirnya yang membiru bergumam lirih, nyaris tak terdengar. Arvand mendekatkan telinganya ke mulut Aruna.
"A... rel... selamatkan... Arel..."
Air mata Arvand jatuh membasahi pipi Aruna. Di ambang kematiannya, wanita ini masih memikirkan keselamatan putranya. Obsesi Aruna untuk melindungi Arel telah melampaui rasa takutnya akan maut.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkanmu mati!" Arvand menoleh pada Seraphina, matanya menyala dengan amarah yang murni. "Ambil nyawaku sebagai gantinya! Tapi berikan penawar itu sekarang!"
Seraphina terdiam sejenak. Ia melihat tekad yang luar biasa di mata sang jenderal. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara derap kaki kuda yang sangat banyak terdengar dari arah jalur perbatasan.
"Pasukan Kaelan kembali!" teriak Mira dari balik semak-semak. "Jenderal, kita terjepit!"
Kaelan muncul dari balik kabut dengan wajah yang gelap. Ia melihat Arvand memeluk Aruna dan seketika amarahnya memuncak. "Arvand! Kau seharusnya sudah mati di tiang eksekusi! Beraninya kau menyentuh mayatnya dengan tangan kotormu!"
Kaelan tidak tahu bahwa Aruna hanya memalsukan kematian. Baginya, Arvand sedang menodai peristirahatan terakhir wanita yang ia cintai. Kaelan memacu kudanya, menghunus pedang peraknya, dan menerjang Arvand.
Arvand terpaksa meletakkan tubuh Aruna dengan hati-hati di atas rumput. Ia memungut pedangnya yang penuh karat dan menangkis serangan Kaelan. Denting logam memicu percikan api di kegelapan hutan.
"Dia mati karena kau, Kaelan! Kau yang mengurungnya di istana itu!" raung Arvand.
"Dia mati karena dia lebih memilih maut daripada bersamaku! Dan itu semua karena bayang-bayangmu masih ada di kepalanya!" Kaelan menyerang dengan membabi buta, teknik pedangnya yang biasanya rapi kini menjadi brutal dan tidak beraturan.
Di saat dua pria itu bertarung mati-matian, Seraphina melompat turun dari dahan pohon. Ia mendekati tubuh Aruna. Ia melihat botol penawar di tangannya, lalu melihat ke arah kereta kuda Arel yang mulai menghilang di kejauhan.
"Baiklah, Aruna. Mari kita lihat apakah naskah ini bisa benar-benar berubah," bisik Seraphina. Ia membuka paksa mulut Aruna dan menuangkan cairan penawar itu.
Reaksi itu instan. Aruna tersedak, tubuhnya melengkung hebat saat oksigen kembali dipaksa masuk ke paru-parunya. Ia terbatuk, mengeluarkan cairan hitam pahit dari tenggorokannya. Matanya terbuka lebar, menangkap bayangan kabut dan api yang menyatu.
"Uhukk! Ar... vand?"
Aruna mencoba duduk, kepalanya terasa seperti meledak. Ia melihat Arvand sedang terdesak oleh serangan Kaelan. Bahu Arvand yang terluka kembali mengucurkan darah, tapi pria itu tetap berdiri tegak sebagai perisai bagi Aruna.
"Aruna? Kau... hidup?" Kaelan menghentikan serangannya, pedangnya gemetar di tangannya. Wajahnya yang pucat menunjukkan rasa tidak percaya yang amat sangat.
Aruna berdiri dengan kaki gemetar, dibantu oleh Mira yang segera berlari mendekat. "Kaelan... hentikan semua ini. Jika kau benar-benar menyukaiku, biarkan kami pergi menyelamatkan Arel!"
Kaelan tertawa getir, tawanya berubah menjadi isakan yang menyakitkan. "Kau memalsukan kematianmu hanya untuk lari dariku? Sebegitu bencinya kau padaku, Aruna?"
"Aku tidak membencimu, Kaelan. Aku hanya tidak mencintaimu. Dan aku tidak akan membiarkan anakku menjadi korban politikmu!" Aruna menatap tajam ke arah Pangeran itu.
Kaelan menurunkan pedangnya. Ia menatap Aruna, lalu menatap Arvand yang sudah bersiap untuk serangan terakhir. Di kejauhan, suara trompet pasukan Kerajaan Utara terdengar semakin menjauh. Gerbang perbatasan sebentar lagi akan ditutup.
"Jika aku membiarkan kalian pergi sekarang, aku akan dianggap pengkhianat oleh Kaisar," kata Kaelan dengan suara rendah.
"Kau sudah menjadi pengkhianat sejak kau membiarkan Elian meledakkan lembah itu," balas Aruna.
Kaelan menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah pasukannya yang mulai mengepung tempat itu. "Tangkap Jenderal Arvand! Dan bawa Lady Ratri kembali ke istana!"
Namun, saat prajurit Kaelan maju, Seraphina melemparkan beberapa bom asap ke tengah-tengah mereka. Asap putih pekat seketika menutupi pandangan.
"Sekarang! Lari ke arah kuda di balik bukit!" teriak Seraphina.
Arvand menyambar pinggang Aruna dan menggendongnya, berlari menembus asap. Mira mengikuti dari belakang. Mereka mencapai tiga ekor kuda yang sudah disiapkan Seraphina.
"Bagaimana denganmu, Sera?" tanya Arvand sambil naik ke atas kuda.
"Aku punya urusan yang belum selesai dengan Pangeran kita yang patah hati ini," Seraphina tersenyum misterius, kipas besinya kembali terbuka. "Pergilah! Selamatkan bocah itu!"
Arvand memacu kudanya secepat kilat menuju gerbang perbatasan. Aruna memeluk pinggang Arvand erat, merasakan detak jantung suaminya yang sangat cepat. Angin malam menusuk kulitnya, tapi ia tidak peduli. Pikirannya hanya pada Arel.
Saat mereka mencapai gerbang perbatasan, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Kereta kuda Arel sudah berada di seberang jembatan kayu yang menghubungkan kedua wilayah. Para prajurit Utara mulai menyiramkan minyak ke jembatan itu, berniat membakarnya agar tidak ada yang bisa mengejar.
"Arel!" teriak Aruna.
Arel melihat mereka dari jendela kecil kereta. Wajahnya yang penuh air mata berubah menjadi harapan. "Ibu! Ayah!"
"Jembatannya akan dibakar!" Arvand memacu kudanya lebih kencang lagi.
Kuda mereka melompat ke atas jembatan tepat saat api mulai menjilat ujung kayu. Aruna bisa merasakan panas api di bawah kaki kuda mereka. Kereta kuda Arel sudah hampir mencapai daratan seberang.
Namun, seorang perwira Utara yang menjaga jembatan menebas tali penyangga utama. Jembatan kayu itu mulai miring dan retak.
"Lompat, Ratri!" teriak Arvand.
Arvand melempar Aruna ke arah daratan seberang yang hanya berjarak dua meter. Aruna mendarat dengan keras di atas tanah berbatu, namun ia segera berbalik untuk melihat Arvand.
Kuda Arvand tergelincir di atas kayu yang terbakar. Jembatan itu runtuh sepenuhnya. Aruna melihat Arvand terjatuh ke dalam jurang bersama kudanya, tepat saat jembatan itu hancur menjadi serpihan api.
"ARVAND!!!"
Aruna merangkak ke pinggir jurang, namun yang ia lihat hanyalah kegelapan dan sungai deras di bawah sana yang dipenuhi api dari reruntuhan jembatan. Tangisnya pecah, menghancurkan sisa-sisa kekuatannya.
Namun, ia tidak punya waktu untuk berduka. Dua prajurit Utara sudah berdiri di depannya, menodongkan tombak ke lehernya. Di belakang mereka, kereta kuda Arel mulai bergerak masuk ke dalam benteng musuh.
Tiba-tiba, dari dalam kegelapan di belakang prajurit itu, muncul sesosok pria dengan jubah abu-abu. Pria itu menebas kedua prajurit itu dengan sangat cepat. Saat ia membuka penutup kepalanya, Aruna terkesiap.
Itu adalah Barka. Tapi wajahnya tidak lagi menunjukkan kegilaan. Ia tampak sangat tenang, hampir seperti orang yang berbeda.
"Jangan menangis, Lady Ratri. Jenderalmu tidak semudah itu mati," kata Barka dengan suara yang dalam. "Tapi sekarang, kau harus ikut denganku jika ingin melihat anak itu lagi. Karena di dalam benteng itu, ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada Kerajaan Utara."
Aruna menatap Barka dengan curiga. "Kenapa kau membantuku? Kau ingin membunuhku tadi!"
Barka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Karena aku baru menyadari bahwa kunci perak yang kucuri dulu sebenarnya adalah kutukan. Dan orang yang memberikan kunci itu padaku... dia sedang menunggu Arel di dalam sana."
"Siapa?"
"Pencipta asli naskah ini," jawab Barka misterius.
Tepat saat itu, pintu benteng Utara terbuka lebar, dan sebuah cahaya ungu yang aneh menyembur keluar, menyelimuti seluruh area tersebut. Aruna merasakan kepalanya kembali pening, dan ia melihat bayangan wajahnya sendiri di dunianya dulu terpantul di dinding benteng.
Siapakah sebenarnya 'Pencipta Naskah' yang dimaksud Barka? Apakah ada orang lain dari dunia modern yang juga terlempar ke zaman ini dengan kekuatan yang lebih besar? Dan mampukah Aruna menyelamatkan Arel dari kekuatan ungu misterius yang mulai menelan kesadarannya?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.