Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Harta Karun Suamiku
Gadis itu mengenakan kaus longgar berleher tinggi dan rok panjang berwarna abu-abu tua kusam. Benar-benar monoton, redup, dan menyembunyikan siluet tubuhnya secara berlebihan. Dan, wajahnya yang tanpa polesan.
"Kamu yakin, kayak gitu berangkat ke rumah Mama kita?"
Lova mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Untuk pertama kali ada yang mengomentari penampilannya. Bahkan, enam orang yang mencoba masuk ke dalam hidupnya, tak pernah berkata demikian, termasuk Teddy.
"Bukan kah, saya selalu seperti ini?" ucapnya sedikit ragu-ragu. "Ada yang kurang? Atau, bajuku jelek?"
Tanpa mengatakan satu patuh pun, Arnold hanya menggoyangkan telunjuknya beberapa kali dan melangkah masuk ke dalam kamar Lova.
Ia membuka pintu lemari besar yang sudah ia isi sebelumnya, mengabaikan Lova yang mengekor di belakangnya dengan bingung. Tangan luwes Arnold dengan cekatan menarik sebuah kardigan rajut berwarna kuning mustard cerah dan celana kulot santai berwarna krem lembut.
"Ganti pakai ini!" ucap Arnold mutlak, menyerahkan pakaian itu ke tangan Lova.
"Tapi Kak, saya tidak biasa memakai warna terang begini..." cicit Lova ragu sambil merapikan rambut hitamnya yang tergerai.
"Zarisha Allova, secara psikologis, pakaian berwarna monokrom atau abu-abu pekat seperti yang kamu pakai tadi akan terus mengurung alam bawah sadarmu dalam zona depresi dan masa lalu yang kelam."
"Pakaian cerah ini mampu menstimulasi otak untuk memproduksi hormon dopamin, memberi sinyal bahwa hari ini adalah lembaran baru yang menyenangkan. Ini perintah dokter, ya. Ganti sekarang," terangnya.
"Tapi, s-saya ...."
Arnold mendorong Lova masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia sendiri yang menutup pintu itu. Lalu, masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lama kemudian, ia kembali membawa harta karun yang terkadang ia gunakan jika pergi ke pesta bersama bestie-bestienya.
Lova hanya bisa pasrah dan mematuhi perintah itu. Pakaian itu telah melekat padanya. Meski merasa ada yang berbeda, ia tetap keluar keluar dan menemui pria yang telah menantinya seakan ada lagi episode berikut yang harus ia kerjakan.
"Tuh kan, lebih cakepan gini kamu, ih,' ucap Arnold memastikan wajah Lova terlihat jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan kecantikan alaminya. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai kontras berpadu dengan warna pakaiannya yang cerah.
"Udah yuk, kita berangkat. Aku kangen sama Mama," ucap Lova.
"Tunggu, ada yang kurang! Kamu ini kebiasaan ya? Nggak pakai skincare, make up tipis-tipis gitu? Kan, kalau wajahnya nggak dipoles gini, dikirain kamu punya suami yang nggak memedulikan istri lagi? Di mana muka suamimu ini?"
Lova menggaruk pelipisnya dan menggigit bibir. Lalu ia menggeleng perlahan. "Aku tak memiliki itu," ucapnya pelan.
Arnold tersenyum tipis seolah sudah tau jawaban yang akan diberikan. "Sini, Best ..." Ia menepuk sofa di sampingnya menyuruh Lova duduk di sana.
Lova mengangguk dan duduk di sampingnya.
Arnold pun membuka kotak harta karun bewarna krem yang berada tepat di atas meja. Refleks Lova tersentak dan bibirnya sedikit terbuka melihat isi yang ada di sana. Serangkaian skincare lengkap dan peralatan make up.
"I-ini untukku?" tanya Lova dengan polos.
Arnold tertawa kecil, nada tawanya terdengar seperti denting yang ceria. "Ya iyalah, Adik Kecil. Masa buat Pak RT? Ini harta karun khusus yang Kakak kurasi sendiri. Kualitas premium, biar kulit kamu nggak 'ngambek' pas dipoles," sahutnya sambil mulai membuka salah satu botol serum.
Dengan gerakan yang sangat terlatih, bahkan mungkin sangat lihai, Arnold mulai mengaplikasikan rangkaian perawatan wajah ke kulit Lova. Jari-jarinya yang panjang terasa dingin namun menenangkan saat menepuk-nepuk halus pipi Lova.
"Tutup matanya, Sayang ... eh, Bestie. Biar nggak kelilipan," instruksi Arnold.
Lova memejamkan mata, merasakan aroma mawar dan melati dari produk yang diusapkan Arnold. Untuk sesaat, ia merasa seperti seorang putri yang sedang dipersiapkan untuk pesta, bukan seorang pasien yang sedang menjalani terapi warna.
Setelah selesai dengan skincare, Arnold mengambil kuas kecil. Ia memoleskan sedikit blush on berwarna peach yang sangat tipis di tulang pipi Lova, lalu mengakhirinya dengan lip tint berwarna natural.
"Nah! Perfecto! Sekarang kamu lihat ke cermin dulu," Arnold menyodorkan sebuah cermin kecil bermotif pita pink.
Lova perlahan membuka mata dan tertegun. Di balik pantulan kaca itu, ia melihat sosok wanita yang tampak hidup. Pipinya merona segar, bibirnya terlihat sehat, dan warna kuning mustard bajunya membuat pancaran matanya tidak lagi layu.
"Ini beneran aku?"
"Iya, dong. Ini Adik Kecilku yang kemarin suka murung. Sekarang setelah tinggal di sini, gak boleh murung-murung lagi ..." ucap Arnold, puas menata kembali peralatannya dengan rapi.
"Terima kasih, Kak... Bagus sekali," bisik Lova tulus.
"Sama-sama. Inget ya, ini bukan sekadar dandan. Ini adalah cara kita menghargai diri sendiri. Kalau kita terlihat segar, otak kita bakal mikir: 'Wah, aku baik-baik saja hari ini!'. Oke?" Arnold mengedipkan sebelah matanya, lalu menutup kotak harta karunnya dengan bunyi *klik* yang mantap.
"Yuk, cuss berangkat! Jangan sampai Mama hilang karena ditinggal ke pasar," ucap Arnold bangkit penuh semangat.
Perjalanan menuju rumah masa kecil Lova awalnya terasa menyenangkan. Lova sesekali memandangi jalanan kota lewat jendela mobil Range Rover hitam Arnold, merasakan secercah harapan yang belum pernah ia rasakan selama tiga puluh dua tahun hidupnya.
Namun, begitu mobil berbelok masuk ke arah rumah ibunya, atmosfer di kendaraan itu mendadak berubah. Perasaan tidak enak merayap menyesak di dada Lova.
Pagar tanaman rumah Lova yang biasanya rapi, kini tampak terbuka lebar dan rusak di beberapa bagian. Beberapa pot gantung kesayangan ibunya sudah pecah berserakan di atas tanah, tanahnya berhamburan layaknya luka yang menganga.
"Mama ..." bisik Lova lirih. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya. Ia mendadak mencengkeram erat lengan baju Arnold, membuat kain kemeja pria itu kusut seketika. Tubuhnya mulai bergetar hebat.
Arnold tidak lagi mengeluarkan candaan. Wajahnya mengeras. Ia menginjak rem dengan cekatan dan mematikan mesin.
"Tetap di belakangku," perintah Arnold. Suaranya berubah seketika menjadi bariton yang teramat dingin, berat, dan tajam. Aura pria ceria lenyap tak berbekas, digantikan oleh sosok pria protektif dengan tatapan mata yang seakan bisa menembus dinding beton.
Arnold mendorong pintu depan rumah yang ternyata sudah dalam keadaan rusak akibat didobrak paksa. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu itu, pasokan oksigen di sekitar Lova seakan menghilang seketika.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣