Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sita
Melihat Maira keluar dari kamar Sita dengan mengulas senyum, Agam pun jadi penasaran akan apa yang terjadi di dalam sana tadi. Apa yang istrinya bicarakan di dalam kamar pembantunya itu?
Sambil menunggu Maira yang masih berjalan menuju kearahnya ia membenahi posisi duduknya, seolah bersiap mendengar apa yang akan diceritakan oleh Maira.
"Sayang, bagaimana? Kau terlihat bahagia sekali?" tanya Agam tak sabar karena melihat istrinya terus tersenyum. Ia meraih tangan istrinya dan memintanya duduk disampingnya.
"Iya, Mas. Aku senang sekali karena Sita tidak jadi minta berhenti kerja." Maira menarik nafas sejenak, "Sepertinya dia sudah menyelesaikan masalahnya, aku lihat tadi dia sudah lebih rapi dari sebelumnya." Maira mengatakannya dengan penuh semangat.
Agam ikut bernafas lega. Bukan apa-apa, ia hanya tak mau Maira-nya merasa sedih jika Sita jadi berhenti bekerja dengannya.
"Syukurlah, Mas juga senang mendengarnya." Agam manggut-manggut setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Tapi, Mas. Aku kok melihat ada beberapa tanda merah di leher Sita, ya? Maira juga melihat ada seperti lebam di lengannya dan juga tulang selangkanya. Kira-kira kenapa ya, Mas?" Maira menatap penuh tanya pada suaminya.
"Tanda merah? Tanda merah apa maksudnya, Sayang?" Agam mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti tanda merah yang seperti apa yang dimaksud oleh istrinya. Bekas dipukul atau apa?
"Iya, Mas. Tanda merah seperti bekas kecupan bibir. Seperti yang biasa Mas lakukan pada Maira." Dengan antusias Maira menceritakannya. Ia tentu penasaran dengan hal ini, karena tidak mungkin Sita secepat ini punya kekasih di ibukota ini.
"Maksudmu seperti ...." Agam mendekatkan wajahnya pada leher istrinya dengan ekspresi nakalnya. Namun tangan Maira dengan cepat mencegahnya. Ia menghalangi bibir suaminya yang hendak berbuat nakal itu.
"Mas, tidak perlu dipraktekkan juga! Maira serius, Mas. Kita sama-sama tahu jika Sita itu orang yang sopan dan cenderung polos. Mas lihat aja penampilan dia, memprihatinkan bahkan. Tapi, darimana dia mendapat tanda itu? Masa iya dia berpacaran?" Maira benar-benar dibuat penasaran karenanya. Ingin sekali mencari tahu, tapi jelas tidak enak jika bertanya langsung pada yang bersangkutan.
"Ya mana Mas tau, Sayang. Gemas sekali ah lihat istri Mas kepo seperti ini dengan urusan orang. Nggak biasanya kayak gini? Kenapa sih?" Agam mentowel hidung istrinya dengan gemas.
"Bukan gitu juga, Mas. Masalahnya Sita adalah asisten rumah tangga dirumah kita. Masih baru juga. Kalau dia berbuat sesuatu dirumah ini dengan pria dari luar kan kita juga yang kena, orang-orang bisa menuduh kita lalai lho, Mas." Yang tadinya penasaran, kini Maira justru kembali khawatir.
"Ya nggak mungkinlah, Sayang. Di rumah kita kan ada pak Kasim, ada kamera CCTV juga. Kita bisa pantau semuanya, kan?" Agam menunjuk beberapa CCTV yang terpasang di sudut-sudut rumahnya.
"Iya juga sih, Mas. Ya udah besok-besok kita cek rekamannya, ya? Sekarang pesan makan dulu, Maira lapar sekali. Dari tadi siang tau Mas, Maira belum makan," ujarnya manja pada suaminya. Ia lalu memeluk tubuh kekar yang ada disampingnya dengan sangat manja bercampur gemas. Maira tentu sangat merindukan suaminya mengingat sudah hampir dua minggu lamanya tidak pernah terlibat urusan ranjang dengannya.
"Kangen, ya?" goda Agam.
Pipi Maira langsung bersemu merah karenanya. Ya, dia juga manusia normal yang membutuhkan belaian suaminya. Namun bukan perempuan namanya jika ia tidak berusaha menyembunyikan hal itu dan pura-pura tidak membutuhkannya.
"Apaan sih, Mas. Ya udah sebentar ya, Maira pilih makanan dulu." Maira membenarkan posisi duduknya, melepas pelukannya pada suaminya dan fokus pada ponsel ditangannya. Ia membuka sebuah aplikasi pemesanan makanan secara online dan memilih beberapa macam makanan untuk dirinya, suaminya dan juga dua orang yang bekerja di rumahnya.
Sementara di balik pintu belakang, pak Kasim mengamati kedua majikannya dengan mengelus dadanya. Mengingat perlakuan Agam pada Sita dan melihat bagaimana majikannya memperlakukan istrinya benar-benar berbanding terbalik.
Agam yang dia lihat semalam seperti seorang yang keji yang tidak memperdulikan Sita yang tengah meronta kesakitan. Sementara Agam yang ia lihat saat ini benar-benar sangat lembut dan juga sayang sekali dengan istrinya.
Sebelum pergi ke kamarnya, pak Kasim sempat menengok ke arah kamar Sita. Ia kembali merasa kasihan pada gadis polos itu. Rasanya menyesal sekali tidak menolongnya saat Agam menguasai tubuh mungilnya.
Sekali lagi maafkan bapak ya, Sita.
*****
Malam itu setelah makanan yang mereka pesan datang, Maira lebih dulu mengantarkan makanan tersebut untuk Sita dan pak Kasim. Setelah itu ia dan Agam menyantap makan malam mereka di meja makan tanpa banyak obrolan lagi karena Maira fokus pada apa yang ia santap. Ia benar-benar kelaparan setelah menahannya sejak siang tadi.
Hari-hari berikutnya berjalan biasa, Sita sudah memulai pekerjaannya kembali setelah tiga hari diberi waktu istirahat oleh Maira.
Namun tidak seperti sedia kala, ia lebih banyak diam dan hanya menjawab saat Maira bertanya sesuatu padanya. Ia juga tidak berani menatap Agam, bahkan selalu menghindar jika akan berpapasan dengan lelaki itu.
Dan disini yang posisi yang paling tidak nyaman dan menyenangkan adalah posisi pak Kasim. Sita seolah memandang dengan penuh rasa benci padanya. Sita tau betul jika malam itu pak Kasim melihatnya dianiaya oleh majikan laki-lakinya. Tapi pak Kasim justru tidak melakukan apapun. Hingga akhirnya dia kehilangan kesuciannya.
Satu minggu berlalu dan hari terus berganti hingga pada dua minggu berikutnya.
Terhitung hari ini sudah genap tiga minggu setelah kejadian itu. Sita merasakan tubuhnya mudah lelah akhir-akhir ini. Ia juga sering merasakan kepalanya tiba-tiba berdenyut hingga membuat pandangannya menjadi gelap seketika.
Ia terhuyung, tapi untungnya ia berhasil meraih meja yang ada didekatnya. Sita menghentikan pekerjaannya dan meletakkan kepalanya diatas lengannya yang ada dimeja makan.
"Sita? Kamu sakit?" tanya Maira yang baru saja sampai dirumah. Ia meletakkan tasnya di atas meja makan dan memeriksa dahi Sita dengan punggung tangannya. Terasa dingin sekali, wajah Sita terlihat sangat pucat serta berkeringat. Ia bahkan tak berdaya walau hanya untuk menjawab salam Maira dan juga pertanyaan yang baru saja dilontarkan majikannya itu.
"Mbak bantu kamu ke kamar aja ya kalau gitu? Ayo, pegang tangan Mbak!" Maira mengalungkan salah satu tangan Sita dilehernya dan memapahnya ke kamar.
"Ya Allah, Sita. Kalau kamu sakit harusnya nggak usah ngerjain pekerjaan rumah dulu. Udah kamu istirahat aja disini!" Maira memakaikan selimut diatas tubuh Sita, sementara gadis itu tidak menyahuti apa yang baru saja dikatakan oleh majikannya.
Yang ia rasakan hanyalah pusing dan terasa penuh sekali di bagian dadanya. Terasa ada sesuatu yang menumpuk dan berkumpul disana. Ia merasa seperti sedang masuk angin dan hanya ingin tidur sekarang.
gw intip koq gk ad🙃