Pernikahan adalah pengikatan janji sakral yang dilaksanakan oleh dua orang yang saling mencintai. Tapi tidak dengan Aqila.
Aisyah Aqila adalah seorang gadis yang cantik, baik, pintar dan manja. Tetapi juga berani. Berumur 18 tahun dan baru lulus sma.
Aqila adalah salah satu murid terpintar dan bintang sekolah di sma nya dulu. Karena kepadaiannya, ia ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi keadaan yang membuat nya mundur.
Hingga nasib buruk menimpanya.
Aqila harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal dan bahkan orang yang ditakuti dikota itu.
umurnya pun jauh berbeda 10 tahun lebih tua darinya.
Hanya karena ayahnya tidak bisa membayar hutangnya yang bunganya sangat besar.
"Saya akan membebaskan hutang-hutang kamu Hendra, tapi dengan satu syarat," ucap Edwin menggantungkan kata-katanya yang terakhir.
"Kamu nikahan saya dengan gadis bodoh ini?" sambil menunjuk Aqila.
Aqila bingung, di satu sisi ia tidak ingin menikah dengan orang itu, tapi disisi lain keadaan yang membuatnya harus bilang iya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auriel zeta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 17 Putus
Hari berganti pagi...
Aqila terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
"Huah," Aqila menguap.
Dia membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya.
Melihat sekeliling kamarnya.
"Lah, kok gue bisa ada dikamar? Perasaan tadi malam kan gue..."
"Iya, kan gue sama om nggak punya hati itu. Dan gue ketiduran dimobilnya, terus kok bisa ada disini." ucapnya bingung.
"Ah, mungkin ayah yang gendong gue," berusaha menepis pikirannya tentang Edwin.
Aqila masih belom sadar kalo boneka yang dikasih Rehan diambil oleh Edwin.
Dia mengambil handphonenya yang ada di meja samping tempat tidur.
"Ya ampun, handphone gue kan lowbat dari semalam. Belom gue charger juga,"
"Gue charger dulu ah, terus gue mandi deh,"
Dia bangun dari tempat tidurnya dan mencharger handphonenya.
Kemudian dia pergi ke kamar mandi.
30 menit...
Aqila baru selesai mandi.
Dia keluar memakai baju santai menghampiri ayah dan bundanya yang lagi duduk diruang tamu.
"Ayah bunda," ucap Aqila berlari kepelukan bundanya.
Bunda Maryam pun memeluk Aqila sambil mencium kening Aqila.
"Anak bunda udah bangun," ucap Bunda Maryam.
"Udah dong bun,"
"Oh ya, Aqila mau tanya sama ayah sama bunda, kemarin ayah yang gendong Aqila dari mobilnya om nggak punya hati itu?" tanya Aqila.
"Enggak sayang," jawab Bunda Maryam.
"Terus siapa? Nggak mungkin om nggak punya hati itu mau capek-capek gendong Aqila."
"Iya sayang, tuan Edwin yang menggendong kamu dari mobilnya sampai kamar kamu." jawab Ayah Hendra.
"Ha?" Aqila tidak percaya.
"Ayah nggak bohong kan?"
"Enggak sayang," jawab Ayah Hendra.
"Ih, pasti om nggak punya hati itu cari-cari kesempatan deh," gumannya.
"Oh ya sayang, ayah mau tanya. Kamu kok bisa sama tuan Edwin, bukannya kamu sama Rehan?" tanya Ayah Hendra.
"Hem, jadi gini ayah bunda ceritanya. Rehan ngajak pulang Aqila, ditengah perjalanan pulang, tiba-tiba ada dua mobil yang menghadang kita. Aku sama Rehan kaget. Terus orang dalam mobil itu turun, ternyata om nggak punya hati itu sama bodyguardnya yang serem itu,"
"Terus sayang?" tanya Bunda Maryam yang kepo.
"Terus Aqila sama Rehan turun dari motor. Aqila sempat dibentak sama bodyguard itu, Rehan udah ngelarani Aqila untuk meladeni bodyguard itu tapi Aqila nggak mau. Akhirnya om nggak punya hati itu turun dari mobil menghampiri Aqila, dan mengajak paksa pulang Qila ayah bunda," jelas Aqila.
"Oo gitu," jawab Bunda Maryam.
Aqila mengangguk.
"Terus handpone kamu kenapa nggak bisa ayah hubungi?" tanya Ayah Hendra.
"Hehehhe, handphone Aqila lowbat ayah. Jadi Aqila pinjam handpone nya om nggak punya hati itu. Untung dipinjemin," jawab Aqila.
"Maafin Aqila ya ayah bunda. Aqila udah buat kalian cemas," ucapnya.
"Hem, sayang lain kali handpone harus dicek dulu kalo mau pergi," Bunda Maryam meningkatkan.
"Siap bos," jawab Aqila.
"Ya udah, kita sarapan dulu yuk," ajak Bunda Maryam.
"Hehhehe bunda peka banget sih kalo Aqila udah laper," ucapnya sambil peringisan.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan.
Seperti biasa, Bunda Maryam selalu mengambilkan Aqila dan Ayah Hendra nasi.
"Makasih bunda," ucap Ayah Hendra.
"Sama-sama ayah," jawab Aqila.
Ayah Hendra dan Bunda Maryam tertawa mendengar Aqila yang menjawab.
"Hehehhe,"
"Makan sayang," ucap Bunda Maryam.
Suasana diruang makan sangat harmonis.
Karena tingkah lucu Aqila dan kejailan ayah yang selalu rebutan lauk.
.
.
.
Sementara di rumah Edwin yang megah dan mewah, suasana tegang.
Mama Merliana dan Papa Sanjaya yang selalu mendesak Edwin untuk menikahi Clariska.
Entah kenapa Edwin bimbang untuk menikahi Clariska.
Terlebih, lima hari lagi Edwin akan menikahi Aqila.
Dimeja makan, Mama Merliana bertanya kepada Edwin.
"Sayang, kapan kamu menikahi Clariska?" tanya Mama Merliana.
Edwin yang lagi sibuk makan, tiba-tiba berhenti makan.
"Saya masih sibuk dengan bisnis saya. Begitupun Clariska juga sibuk dengan modelnya." jawab Edwin.
"Iya sayang, mama paham kalo kalian sama-sama sibuk, tapi umur kalian sudah semakin dewasa, dan kalian juga sudah berpacaran lama," ucap Mama Merliana.
"Iya Edwin, papa juga malu sama keluarganya Clariska yang selalu nanya kapan kamu nikahi Clariska," sahut Papa Sanjaya.
Edwin semakin badmood.
Dia langsung meninggalkan meja makan dan keluar entah kemana.
Di mobil, Edwin menghubungi Riko.
"Halo Win," suara Riko dari handphone.
"Ke kantor sekarang." jawab Edwin dan langsung mematikan handpone nya.
Riko pun langsung on the way kekantor. Karena dia tahu kalo sahabatnya sangat disiplin.
Sampai dikantor, Riko langsung menuju ruangan Edwin.
Ternyata Edwin sudah berada diruangannya.
"Ada apa Win?" tanya Riko mendudukan tubuhnya disofa.
"Saya benar-benar bingung," jawab Edwin memegang kepalanya.
"Bingung kenapa?" tanya Riko.
"Mama dan papa sekarang pulang. Dan mereka selalu mendesak gue untuk segera menikahi Clariska. Lo tahu kan, kalo gue lima hari akan menikah dengan Aqila." jawab Edwin.
"Lo masih yakin mau menikahi anaknya Hendra?" tanya Riko.
"Ya, gue yakin akan menikahinya." jawab Edwin.
"Apa mama sama papa tahu kalo lo mau menikahi anak dari karyawan lo?" tanya Riko.
"Gue belom bicara sama mereka,"
"Terus Clariska mau lo kemanain?" tanya Riko.
"Gue juga bingung," jawab Edwin.
Clariska sudah datang lima menit yang lalu setelah Edwin datang. Dia sengaja tidak langsung masuk karena dia melihat Edwin dan Riko sedang berbicara serius.
Tanpa disengaja Clariska menguping semua pembicaraan Edwin dan Riko.
Clariska benar-benar kaget dengan apa yang didengarnya.
Dia langsung masuk keruangan Edwin.
Edwin dan Riko pun sangat terkejut.
"Maksud kamu apa Edwin!" bentak Clariska.
Edwin yang mengerti kalo Clariska mendengar pembicaraannya dengan Riko mencoba menjelaskan.
"Saya akan jelaskan sama kamu," bujuk Edwin.
"Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi sama aku. Aku udah denger semuanya!"
"Jadi alasan kamu nggak mau nikahi aku karena kamu mau nikahi gadis bodoh itu."
"Kamu benar-benar tega Win. Aku kecewa sama kamu."Clariska sangat marah dan kecewa.
Dia langsung pergi gitu aja tanpa mendengar penjelasan dari Edwin.
Edwin pun mengajar Clariska dan langsung memeluk Clariska.
Clariska menangis dipelukan Edwin dan memukul-mukul dada Edwin.
"Saya bisa jelasin semuanya," ucap Edwin dengan lembut.
Clariska tidak menjawab dan masih terus menangis.
"Kita kembali keruangan saya dan saya akan jelaskan semua sama kamu," ajak Edwin.
Clariska pun menurut.
Edwin menuntun Clariska menuju ruangannya.
Sampai diruangan, Edwin menjelaskan semuanya kepada Clariska.
"Saya akan jelaskan semuanya," ucap Edwin.
"Gadis bodoh itu adalah anak dari karyawan saya. Ayahnya mempunyai hutang yang cukup besar kepada saya, Sampai-sampai tidak bisa membayarnya. Dan anak nya lah sebagai ganti untuk melunasi hutangnya," jelas Edwin.
"Tapi kenapa kamu harus menikahinya Edwin?" tanya Clariska sambil menangis.
"Ya, itu adalah salah satu cara agar hutang dia bis lunas." jawab Edwin.
"Apa nggak ada cara lain selain kamu harus menikah dengan nya? Apa mama dan papa kamu tahu? Apa kamu nggak mikir perasaan ku?" Clariska menyerbu Edwin dengan beberapa pertanyaan.
Edwin hanya terdiam.
"Entah kenapa saat pertama saya bertemu dengan gadis bodoh itu, saya ingin sekali memilikinya." gumannya dalam hati.
"Kenapa kamu diam?" tanya Clariska ditengah isak tangisnya.
"Apa kamu udah nggak cinta sama aku?" tanya nya lagi.
"Saya masih sangat mencintai kamu." jawab Edwin.
"Terus kenapa kamu nggak mau menikahiku Edwin! Kenapa kamu malah menikahi gadis bodoh itu?"
"Saya sudah jelaskan sama kamu, kalo itu hanya untuk melunasi hutangnya," jawab Edwin.
"Berapa hutangnya? Biar aku yang melunasinya dan kamu nggak jadi nikah sama dia."
"Itu bukan tanggung jawab kamu. Tapi itu tanggung jawab karyawan saya untuk melunasi hutangnya." jawab Edwin.
"Hahahha, itu hanya alasan kamu Edwin. Aku tahu kalo kamu sebenarnya diam-diam juga suka sama dia?" tuduh Clariska.
"Apa benar saya menyukai gadis itu? Tapi saya sangat nyaman berada didekatnya." ucapnya dalam hati.
"Kalo itu mau kamu, kita sekarang juga putus! Aku akan bilang sama papa dan mama kalo kamu cuma buat mainan aku," ucap Clariska dan pergi meninggalkan Edwin diruangannya.
Edwin tidak mengejar Clariska pergi.
Dia hanya terdiam diruangannya sendiri.
Karena Riko sudah kembali diruangannya.
mampir juga di karya aku
mari saling mendukung 🤗
semangat terus Thor,mampir juga di karyaku
Ustadz Idolaku
terimakasih 🙏
salam manis dari " PERJUANGAN DALAM PERNIKAHAN "
jangan lupa mampir
smngt up & smg ceritanya sukses ya, aku tunggu feedback-nya 😉✨
salam dari _Pesona Pocong Cantik_🤗