"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Danu
Laporan di depan Freya tampak buram, tertutup oleh lapisan air mata yang tertahan di pelupuk mata, kehamilannya adalah satu-satunya sumber kekuatan saat ini. "Hanya enam bulan lagi," bisiknya pada dirinya sendiri dengan hening.
Namun, ketenangan itu hancur saat pintu ruangan kembali terbuka dengan bantingan keras. Bukan Danu yang kembali, melainkan Arga. Wajah lelaki itu merah padam, napasnya memburu seolah-olah baru saja lari maraton.
"Apa yang dia katakan padamu?" tuntut Arga tanpa basa-basi. Ia melangkah lebar, mengurung Freya di antara meja dan tubuhnya yang tinggi.
Freya tersentak, refleks menyembunyikan tangannya di bawah meja agar Arga tidak melihat gemetarnya. "Dia...dia hanya mengambil formulir basket, Arga."
"Jangan berbohong!" Arga memukul meja di samping tangan Freya. rem! "Gue lihat dia keluar dari sini dengan muka yang sulit ditebak. Lo ngadu apa? Lo cerita soal rencana kita? Atau lo mulai menceritakan kesedihan lo supaya dia jadi pahlawan lo lagi?"
Freya mendongak, matanya yang sembab kini memancarkan perlawanan. "Aku tidak bicara apa-apa! Aku sudah mengikuti perintahmu untuk menjauhinya! Tapi dia punya mata, Arga. Semua orang punya mata! Mereka melihat betapa kasarnya kau memperlakukanku!"
Arga tertawa sinis, tawa yang terdengar hampa. "punya mata? Itu poinnya, Freya! Kita harus terlihat saling membenci. Tapi kalau Danu sampai ikut campur, itu artinya aktingmu gagal. Lo terlalu lemah!"
Tepat saat Arga hendak menyemburkan makian lagi, pintu ruangan diketuk perlahan. Seorang guru piket melongok. "Arga, Freya? Belum pulang? Arga, Alice sudah menunggumu di parkiran, katanya ada urusan penting tentang prom night ."
Arga bingung, memberikan peringatan terakhir yang seolah-olah berkata 'urusan kita belum selesai' sebelum kembali pergi.
Satu minggu berlalu seperti berjalan di atas paku. Freya mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Mual di pagi hari semakin parah, dan seragam sekolahnya terasa sedikit lebih sesak di bagian pinggang. Ia harus ekstra hati-hati.
Sore itu, saat sedang membantu di perpustakaan, Freya merasa kepalanya berputar hebat. Bau bau dari pembersih lantai membuatnya mual luar biasa. Ia berlari menuju toilet di pojok perpustakaan yang sepi, menumpahkan isi perut yang sebenarnya hampir kosong.
Saat ia keluar dari bilik toilet sambil membasuh wajah, ia membeku.
Di depan cermin besar, Alice sedang berdiri sambil memperbaiki lipstiknya. Alice tidak sendiri, Laura ada di sana, bersandar di pintu sambil melipat tangan.
"Mual lagi, Freya?" Alice bertanya dengan suara lembut yang mematikan. Ia menyimpan lipstiknya dan berbalik. "Aku perhatikan, ini ketiga kalinya dalam minggu ini kau lari ke toilet di jam yang sama."
Jantung Freya seperti berhenti berdetak. "Aku... aku hanya salah makan."
Alice berjalan mendekat, matanya yang tajam menyapu tubuh Freya dari atas ke bawah, berhenti sejenak di area perut Freya yang tertutup rompi OSIS yang agak longgar. "Salah makan selama seminggu? Atau ada sesuatu yang tumbuh di dalam sana yang membuat tidak nyaman?"
"Apa maksudmu?" suara Freya bergetar.
“Jangan anggap aku bodoh,” desis Alice, suaranya kini setajam silet. "Aku tahu Arga menyembunyikan sesuatu. Dan kalau dugaanku benar... kau bukan sekadar 'pesuruh' yang dihukum, kan?"
Alice mengeluarkan sebuah benda dari tas kecilnya. Sebuah foto polaroid yang diambil diam-diam, foto saat Arga memegang bahu Freya di ruang keluarga malam itu, sebuah momen yang terlihat lebih seperti keintiman daripada ancaman jika dilihat dari sudut tertentu.
"Kalau Danu melihat ini, dia akan sadar dia sedang dikibuli. Tapi kalau aku memberikan ini pada wali kelas... kira-kira siapa yang akan dikeluarkan lebih dulu? Kau, atau Arga yang punya masa depan cerah?"
Tepat saat Freya merasa dunianya runtuh, sebuah suara bariton terdengar dari arah pintu luar toilet yang sedikit terbuka.
"Berikan foto itu padaku, Alice."
Itu suara Danu. Dia berdiri di sana dengan wajah yang sangat dingin, lebih dingin dari yang pernah Freya lihat sebelumnya. Danu tidak lagi mengamati dari jauh. Dia masuk ke dalam medan perang.
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga