Elara mati dengan air mata dan penyesalan. Pria yang paling ia sakiti justru menjadi orang terakhir yang memeluknya di tengah kobaran api. Namun ketika ia membuka mata lagi, dunia berubah—waktu mundur ke masa sebelum semuanya hancur. Kini, di kehidupan keduanya, Elara berjanji tidak akan menyakiti Lucent lagi. Ia akan mencintai pria yang dulu ia abaikan… dan menghancurkan mereka yang mengkhianatinya. Tapi bagaimana jika cinta yang dulu ia tolak kini telah membeku menjadi dingin? Dan mungkinkah kesempatan kedua benar-benar cukup untuk menebus semua luka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sintasina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pengganti
Dua pria itu terus berjalan di sampingnya.
Tanpa henti.
Tanpa lelah.
Satu terus memohon.
Satu lagi ikut menimpali dengan canggung.
Seolah—
keduanya benar-benar tidak akan diam sebelum Elara berhenti.
“Elara, dengarkan aku.”
“Nyonya, sebaiknya Anda—”
“Ini penting.”
“Benar-benar penting.”
Kata-kata itu terus terdengar.
Berulang.
Tanpa jeda.
Hingga akhirnya—
mata Elara berkedut.
Langkahnya terhenti mendadak.
Ia berbalik.
Cepat.
“Oke!” ucapnya, nadanya meninggi. “Katakan saja! Apa sebenarnya penjelasannya?!”
Suara itu tegas.
Jelas menunjukkan bahwa kesabarannya telah habis.
Lucent terdiam sejenak.
Lalu—
senyum tipis muncul di wajahnya.
Akhirnya.
Ia mau mendengar.
“Kita kembali ke perusahaan,” ucapnya segera.
Tanpa menunggu bantahan, ia memberi isyarat pada asistennya.
“Siapkan semuanya.”
“Asisten itu langsung mengangguk.”
“Baik, Tuan.”
Ia dengan sigap menyerahkan sebuah mantel bersih kepada Lucent.
Lucent menerimanya, lalu tanpa banyak kata, ia memakaikannya pada Elara.
Gerakannya tenang.
Namun tegas.
Seolah itu sudah menjadi kebiasaan.
Elara hanya memutar mata.
Namun tidak menolak.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali berada di dalam gedung perusahaan.
Langkah mereka langsung menuju ruang kerja Lucent.
Pintu terbuka.
Dan di dalam—
seseorang sudah menunggu.
Wanita itu.
Inara.
Ia berdiri di sana, dengan ekspresi yang masih sama—tenang, namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan.
Elara langsung menegang.
Namun Lucent tidak memberinya waktu untuk bereaksi lebih jauh.
Ia melangkah masuk, berdiri di depan ruangan itu dengan posisi yang jelas—
di sisi Elara.
“Apa yang ia katakan padamu,” ucap Lucent dingin, “tidak benar.”
Inara tersenyum tipis.
“Apa kau yakin?” balasnya santai.
Ia melangkah maju satu langkah.
Tatapannya langsung tertuju pada Elara.
“Aku tidak berbohong,” lanjutnya. “Orang yang ia cintai adalah aku. Bukan kau.”
Suaranya lembut.
Namun penuh keyakinan.
“Kau hanyalah pengganti.”
Hening.
Namun sebelum kata-kata itu sempat mengendap—
Lucent berbicara.
“Tidak.”
Satu kata.
Pendek.
Tegas.
Dan langsung memotong semuanya.
Tatapan Lucent beralih pada Inara.
Dingin.
“Kau yang justru pengganti.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Inara terdiam.
Elara pun membeku.
Lucent melanjutkan.
“Sejak awal… bukan kau yang aku cari.”
Nada suaranya rendah.
Namun setiap kata terasa berat.
Ia tidak menoleh pada siapa pun.
Tatapannya lurus ke depan.
Seolah sedang membuka sesuatu yang selama ini terkunci.
“Dulu,” ucapnya perlahan, “aku menyatakan perasaanku.”
Tatapannya akhirnya beralih—
pada Elara.
“Padamu.”
Elara terdiam.
Napasnya sedikit tertahan.
Lucent mengepalkan tangannya pelan.
“Dan kau menolakku.”
Tidak ada emosi berlebihan dalam suaranya.
Namun justru itu—
yang membuatnya terasa lebih nyata.
“Aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu.”
Ia tertawa kecil.
Pahit.
“Aku melakukan banyak hal untukmu.”
Nada suaranya tetap tenang.
Namun isinya—
tidak ringan.
“Membantumu mengerjakan tugas.”
“Memberikan bekal makan siangku.”
“Bahkan uangku.”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya tetap pada Elara.
“Aku benar-benar menyukaimu.”
Hening.
Berat.
Dan tanpa sadar, jemari Elara sedikit mengerat.
Lucent menarik napas pelan.
“Lalu kau menolakku.”
Ia mengalihkan pandangannya sejenak.
Seolah mengingat sesuatu.
“Dan saat itu… aku hancur.”
Suasana ruangan semakin sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
“Kemudian,” lanjut Lucent, “aku bertemu dengannya.”
Tatapannya kini beralih pada Inara.
“Dan aku berpikir… mungkin aku bisa melupakanmu.”
Namun sudut bibirnya bergerak tipis.
Bukan senyum.
Lebih seperti pengakuan yang tidak bisa dihindari.
“Tapi aku salah.”
Ia menunduk sedikit.
“Karena setiap kali bersamanya…”
Suara Lucent melambat.
Lebih dalam.
“Yang kulihat… tetap dirimu.”
Hening.
Kali ini—
benar-benar hening.
Seolah waktu ikut berhenti.
“Setiap momen,” lanjutnya pelan, “yang kurasakan… bukan bersamanya.”
Tatapannya kembali pada Elara.
“Melainkan dengan bayanganmu.”
Inara membeku di tempatnya.
Senyumnya menghilang.
Dan untuk pertama kalinya—
ekspresinya retak.
Sementara Elara—
tidak bergerak sama sekali.
Karena kata-kata itu—
bukan hanya menjelaskan.
Namun juga—
menghancurkan sesuatu yang lain.
AI ke ni
Buruan dong update nyaaa! 🫵 Plis plis up yang banyak banyak yaaa 🙌 jangan pelit yah Thor 👀
SEMANGAATTTTTTT 🫶💪🔥