Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ENAM BELAS
Tangga marmer terasa dingin di bawah langkahku padahal aku menggunakan alas kaki. Setiap anak tangga yang kutapaki terasa menambah beban di dadaku. Lantai dua rumah keluarga Dirgantara ini jauh lebih sunyi daripada lantai bawah. Lampu gantung kristal di lorong memantulkan cahaya redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Hening. Seolah-olah aku sedang berjalan menuju ruang yang menyimpan rahasia kelam.
Begitu pintu kamar terbuka, langkahku sempat terhenti.
Ruangan ini… begitu luas, megah, dan mewah. Tapi entah kenapa, aku merasa ada hawa dingin yang langsung merambat ke tubuhku. Warna abu-abu mendominasi hampir semua sudut—dari dinding, sprei, hingga karpet tebal di lantai. Rasanya seolah aku sedang melangkah masuk ke dalam dunia Althaf sendiri. Dunia yang sunyi, rapi, dan terlalu sempurna, tapi juga dingin dan kosong.
Ranjang besar di sisi kanan terlihat begitu teratur, dengan bantal-bantal tersusun rapi seakan tak pernah berantakan. Di nakas, ada vas bunga putih segar—kontras sekali dengan nuansa abu-abu yang melingkupi ruangan ini. Mungkin Oma yang menaruhnya di sana, karena aku sulit membayangkan Althaf peduli dengan hal-hal sehangat itu.
Mataku kemudian tertuju pada jendela kaca besar yang menghadap ke luar. Tirai tebal menjuntai anggun, tapi tak mampu menyembunyikan cahaya lampu yang berkelip di kejauhan. Indah, memang… tapi aku justru merasa semakin kecil, semakin asing, berdiri di tengah kamar ini.
Ada sofa melingkar berwarna krem dengan meja rendah di depannya. Di atas meja, lilin aromaterapi menyala, menyebarkan wangi lembut. Aroma itu seharusnya menenangkan, tapi bagiku justru menambah perasaan canggung. Ruangan ini terlalu sepi. Terlalu teratur. Seakan-akan tidak ada kehidupan di dalamnya, hanya ada keheningan yang dibungkus dalam kemewahan.
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Jadi ini kamar Althaf. Ruangan yang setiap malam menjadi saksi tidurnya, ruang yang menyimpan semua diamnya, semua rahasia yang tak pernah ia bagikan pada siapa pun. Dan malam ini… aku harus berbagi ruang di sini bersamanya.
Dadaku terasa sesak. Aku tahu ini hanya pernikahan di atas kertas, tapi berada di kamar pribadinya membuat semuanya terasa jauh lebih nyata, lebih berat.
Kamar ini—dan Althaf—seakan sama. Abu-abu. Indah dari luar, sulit ditebak di dalamnya, dan perlahan-lahan membuatku bingung harus bagaimana menghadapinya.
Althaf masuk ke kamar dengan langkah mantap namun wajah tetap dingin, seperti biasa. Tangannya mendorong pintu hingga menutup rapat, menciptakan bunyi klik kecil yang justru membuat suasana semakin menegang. Aku bisa merasakan udara di dalam kamar seolah ikut berubah—lebih berat, lebih sulit untuk kuhirup.
Aku duduk di ujung sofa bundar, tubuhku kaku seperti patung. Cahaya lampu gantung yang temaram jatuh di wajahku, menyingkapkan kegugupan yang coba kututupi dengan menunduk. Jari-jariku sibuk meremas-remas ujung baju, seakan kain tipis itu mampu menyalurkan resah yang menumpuk di dadaku.
Althaf melepas jam tangannya, gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. Tatapannya sempat berhenti padaku—singkat, tajam, dan penuh arti—namun segera ia alihkan seolah tak ada yang perlu dipermasalahkan.
Aku mengikuti gerakannya diam-diam. Punggungnya lebar, tegap, tapi ada kesan dingin yang menguar dari sikapnya. Seakan-akan dinding tak kasatmata memisahkan aku darinya. Sesaat aku ingin berkata sesuatu, sekadar basa-basi untuk mencairkan suasana, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Keheningan begitu menekan. Hanya suara detik jam dan desiran angin malam yang menyelinap melalui sela gorden tebal.
Dengan masih fokus pada kancing-kancing kemeja yang satu per satu ia lepaskan, Althaf menghampiriku. Tubuhnya berdiri menjulang tepat di hadapanku, memaksa aku untuk menengadah menatap sorot matanya yang dingin.
“Saya rasa dalam kontrak kita sudah jelas tertulis untuk tidak melewati batas masing-masing,” ucapnya datar, namun tajam seperti bilah pisau. “Hadir ke kediaman Oma saya tanpa izin dari saya, itu sudah melewati batas yang saya berikan, Senjani.”
Aku menunduk, mencoba menahan debar jantung yang menggila. Beberapa detik hening sebelum akhirnya aku memberanikan diri menengadah lagi.
“Maaf, Mas. Saya memang salah tidak izin dulu. Tapi… saya sudah beberapa kali menolak undangan Oma untuk datang. Jadi saya pikir—”
Ucapanku terhenti ketika Althaf memotong dengan seringai dingin yang menusuk perasaanku.
“Kamu punya seribu alasan untuk menutupi kebohongan kamu tentang kedekatanmu dengan pria yang kamu sebut sahabat itu. Tapi kamu nggak punya satu pun alasan untuk menolak ajakan Oma saya? Lucu sekali. Kamu benar-benar membuat saya ingin tertawa, Senjani.”
Seketika dadaku terasa panas. Kenapa semua yang kulakukan selalu salah di matanya? Bukankah dia sendiri yang meminta aku untuk berakting menjadi istri baik di depan keluarganya? Lalu hanya karena aku datang memenuhi ajakan makan malam sederhana, kenapa ia marah sebesar ini?
Napas memburuku. Kali ini aku tak bisa lagi menelan semua amarah yang terasa tak adil.
“Bukannya Mas Althaf sendiri yang meminta saya untuk berperan sebagai istri yang baik di depan Oma? Lalu kenapa ketika saya datang memenuhi undangan Oma, Mas justru marah? Lagi pula, kami tidak membicarakan apa-apa. Oma murni hanya ingin makan malam bersama.”
Aku bangkit berdiri, menantang dinginnya sorot matanya dengan kepalaku yang terangkat, meski jantungku seakan melompat keluar.
Althaf menyelesaikan melepas kancing terakhir kemejanya. Kemeja itu kini menggantung terbuka, menampilkan otot-ototnya yang terukir jelas. Sekilas aku tercekat, pandanganku terpaku beberapa detik sebelum buru-buru kualihkan. Darahku seperti berdesir halus tanpa kendali.
Senyum mengejeknya kembali muncul. “Kamu sudah pandai melawan saya ya, Senjani. Siapa yang ngajarin kamu? Laki-laki yang dari dulu naksir kamu itu? Iya kan?”
“Dia punya nama, Mas. Dan saya rasa Mas nggak perlu bawa-bawa Revan dalam masalah kita. Revan nggak sal—”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba tubuhku direngkuh dengan keras. Satu lengannya melingkari pinggangku, menarikku rapat hingga dada kami bertemu, sementara tangannya yang lain mencengkeram daguku, memaksa wajahku mendongak.
Aku terkejut, napasku tercekat. Tatapannya begitu dekat, matanya berkilat dengan amarah yang ditahan, rahangnya mengetat, seakan menahan sesuatu yang lebih gelap di balik kontrol dirinya.
“Don’t let his name slip past your lips… not in front of me.” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. Nafasnya terasa panas di wajahku.
Napas Althaf kian memburu, membaur dengan debar jantungku yang berisik di dada. Wajahnya mendekat begitu cepat hingga aku tak sempat berpaling. Dan dalam sekejap, bibir dinginnya menyentuh bibirku—kecupan singkat namun sarat akan kuasa. Tubuhku menegang, hatiku terombang-ambing antara ingin menolak atau justru tenggelam lebih dalam. Seolah seluruh duniaku runtuh hanya pada jarak sedekat ini.
Ciuman Althaf yang lembut yang awalnya hanya sebuah kecupan-kecupan kecil kini berubah menjadi lebih dalam, aku tersentak tak mampu merespon ciumannya. Aku pikir Althaf hanya ingin menciumku sebentar, namun pikiranku salah saat merasakan lidah Althaf yang mencoba menerobos masuk, aku mendorong bahu Althaf pelan namun doronganku tak berarti apapun bagi Althaf. Aku benar-benar kehabisan napas, Ciuman Althaf semakin tak terkendali membuatku terengah-engah dan membuka bibirku yang ternyata membuat lidah Althaf kini menari-nari bersama bibirku.
Aku menyentuh bahu Althaf, meremasnya pelan. Sensasi basah dari bibir Althaf membuatku pening, membuat efek menggelitik di perutku. Ciuman Althaf semakin menggebu, tangan Althaf yang memeluk pinggangku mendadak mencengkramku kuat sebelum akhirnya dia membawaku dan merebahkanku di atas kasur lembutnya. Althaf menatap wajahku dengan tatapan gelap sarat akan gairah sebelum akhirnya bibirnya menyesap leherku dan memberinya kecupan-kecupan kecil yang membuat tubuhku merinding sejadi-jadinya, aku mengerang tertahan saat kini tangan dingin Althaf menyentuh puncak payudaraku meremasnya pelan sebelum akhirnya bibirnya kembali membungkam bibirku kuat..
“Kamu lebih memabukkan daripada alkohol manapun, Senjani…” bisiknya, suara dalamnya merambat pelan ke relungku.
Dan malam itu, sekali lagi batas-batas di antara kami runtuh. Semua kemarahan, gengsi, dan kepura-puraan melebur dalam sentuhan yang kian menyalakan bara. Kami menyerah pada arus, berkali-kali, hingga lupa waktu dan ruang. Setiap sudut kamar—ranjang, sofa, bahkan kamar mandi—menjadi saksi bisu bagaimana aku dan Althaf terseret dalam pusaran yang sama: getir, namun juga candu.
***
Pagi itu aku terbangun dengan rasa nyeri yang masih terasa jelas di pangkal pahaku. Sisa-sisa kelelahan dari malam panjang yang tak pernah kusangka akan kulewati bersamanya membuat tubuhku begitu letih. Setelah sesi terakhir… aku bahkan tertidur tanpa sempat mengenakan kembali pakaianku.
Saat membuka mata, sisi ranjang di sampingku sudah dingin dan kosong. Althaf sepertinya bangun jauh lebih awal. Entah ke mana ia pergi, tapi aroma samar tubuhnya masih tertinggal di udara, membuat dadaku kembali berdesir tanpa kendali.
Dengan langkah gontai, aku turun dari ranjang. Sentuhan dingin marmer di bawah kakiku membuatku sedikit terperanjat, menambah kesadaran bahwa aku benar-benar terjaga. Aku menyeret tubuhku menuju kamar mandi, berharap air bisa menghapus semua jejak kebisuan semalam.
Namun begitu menatap cermin, aku terdiam. Leherku penuh dengan tanda merah—bekas kecupan dan gigitan Althaf. Seketika wajahku panas, tubuhku bergetar oleh campuran malu dan entah apa. Rasanya seperti diingatkan kembali akan setiap kecupan dan sentuhan Althaf.
Aku menggigit bibir. Bagaimana aku bisa menutupinya? Hari ini aku harus ke kampus untuk mengumpulkan tugas ke Bu Yuanita. Tidak mungkin aku datang dengan kondisi seperti ini.
Saat aku melangkah keluar dari kamar mandi, tubuhku seketika menegang. Althaf berdiri tegak di tengah kamar, seolah menunggu, dengan kemeja navy yang membalut rapat tubuhnya. Potongan rapi itu menegaskan bahunya yang bidang, sementara lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat lengannya yang tegas. Sepagi ini, ia sudah tampak seolah siap menghadapi dunia—berbeda jauh dengan diriku yang masih setengah limbung.
Di tangannya, sebuah cangkir porselen putih mengepulkan aroma kopi hitam pekat. Ia menyesapnya perlahan, lalu menghentikan gerakan itu saat matanya bertaut dengan mataku. Pandangannya menusuk, dingin, dan tak menyisakan sedikit pun jejak keintiman dari malam yang baru kami lewati.
“Bersiaplah,” ucapnya datar, suaranya rendah namun mantap. “Saya sudah menyiapkan kebutuhanmu di walk-in closet.”
Aku hanya berdiri terpaku, tak mampu merespons selain dengan anggukan kecil. Jantungku berdentum aneh—bukan karena debar yang hangat, melainkan rasa getir yang menyayat.
Senyum tipis lolos dari bibirku, hambar, bahkan menyakitkan. Apa yang sebenarnya kau harapkan, Senjani? Bahwa ia akan menyapamu dengan senyum lembut? Mengucapkan selamat pagi, lalu mengecup keningmu seperti suami yang penuh kasih?
Itu hanya mimpi. Kenyataannya, yang berdiri di hadapanku hanyalah Althaf yang dingin, kaku, dan tak tersentuh.