Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kedatangan Bagas
Diandra tersentak dari tidurnya,tanpa terasa dia tertidur lagi setelah dia membereskan pakaian Bagas tadi,dan dia terbangun karena mendengar suara bel berdering. Diandra mengusap kedua matanya yang masih terasa mengantuk,kemudian merapikan rambutnya yang terasa acak acakkan.
Setelah itu dia bangkit dari atas kasurnya bergegas ke kamar mandi dan mengabaikan bel yang terus berdering,karena dia tau itu adalah perbuatan Bagas.
Diandra menikmati kegiatannya di dalam kamar mandi,mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Dia memejamkan matanya mencoba melepaskan semua beban pikirannya,mencoba menikmati keadaannya yang akan dia buat menjadi lebih baik nantinya setelah dia benar benar terlepas dari Bagas. Setelah 15 menit berkutat dengan kegiatannya di dalam kamar mandi,Diandra memutuskan untuk menyudahi mandinya karena sudah terlalu lama tubuhnya tersiram air. Diandra keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian. Sudah tidak lagi terdengar bel,Diandra mengecek ponselnya dan benar saja tertera beberapa panggilan tak terjawab dari kontak Bagas. Entah berapa mungkin saja sudah beratus ratus kali. Tapi Diandra masih saja tidak memperdulikan itu. Setelah berpakaian dan sedikit berdandan Diandra keluar kamar menuju dapur untuk membuat susu coklat hangat. Lagi lagi Diandra tersentak karena bel berbunyi lagi. Diandra mengelus dadanya dan menahan emosinya. Tapi dia masih melanjutkan kegiatannya membuat susu coklat hangatnya. Setelah itu dia duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Bel masih saja berdering tanpa henti. Benar benar Bagas tidak menyerah dan tidak tahu malu.
Diandra berdiri dari duduknya kemudian melangkah keluar untuk membuka pintu ingin mengusir Bagas.
Perlahan dia buka pintu dan tampak Bagas yang berdiri diambang pintu.
Wajahnya tampak memelas saat melihat Diandra yang sudah berdiri dihadapannya.
"Itu aku sudah siapkan semua pakaianmu di dalam koper,kamu tinggal bawa,kamu mau apalagi?" tanya Diandra sambil menatap tajam Bagas.
"Kalau masih ada yang tertinggal nanti aku bereskan lagi,dan aku kabari kamu untuk mengambilnya" jelas Diandra lagi.
"Di,,,kita bicara dulu"
"Hhhhhhh,,,,," Diandra mendengus kesal.
"Bicara apa? Mendengarkan alasanmu,mendengarkan kekhilafanmu? "
"Aku benar benar khilaf Di"
"Khilaf sampai hamil?"
Bagas menatap Diandra dengan tatapan sayu berharap Diandra mau mendengarkan penjelasannya meski harus mendengar amarah Diandra nantinya.
"Kamu pergi,gak ada lagi yang harus dibicarakan,kamu sudah menghianatiku,kamu sudah benar benar membuatku kecewa,gak ada lagi kesempatan buatmu Bagas. Heran aja aku sama kamu,senaif itu kamu,hanya karna aku belum bisa memberimu anak lantas kamu bermain dengan Sinta yang tidak lain temanku sendiri. Kegilaan apa yang kalian perbuat,kalian gak memikirkan dampak yang terjadi,tidak memikirkan bagaimana hubunganku selanjutnya dengan Sinta"
"Tapi yang jelas sejak aku tahu penghianatan kalian aku gak pernah mengenal kalian,untuk sebelumya dan yang selanjutnya,jangan pernah kalian tampakkan wajah kalian dihadapanku lagi" jelas Diandra tegas,menahan emosinya yang sudah mulai tersulut karena rasa benci nya pada Bagas yang masih belum beranjak dari rumahnya.
"Tidak perlu persetujuanmu,aku akan mengurus perceraian,dan kamu harus sadar diri kamu yang harus pergi dari sini karna ini rumahku,aku membangunnya sebelum mengenalmu"
Bagas tampak terpana mendengar ucapan ucapan Diandra yang tajam dan penuh rasa amarah.
"Pergi sekarang,bawa barang barangmu itu,tenang saja yang tertinggal aku akan bereskan dan akan aku paketkan ke alamatmu,oh iya tinggal di mana kamu sekarang? Bersama Sinta atau di mana? Ohhh atau aku taruh saja nanti di luar pagar,aku akan kabari setelah semua beres karena aku harus membayar orang lain untuk membereskan barang barangmu itu. Aku jijik menyentuhnya" jelas Diandra lagi dengan tegas kemudian menutup pintu rumahnya dengan kasar dan menguncinya.