NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan dadakan

CAPTER 17

KENCAN DADAKAN

Di rumah Andik yang sudah pulang sedari tadi sebelum magrib tak tenang mendapati Hanis serta Ilyas tak kunjung pulang. Ia berkali-kali menghubungi Hanis namun tak dijawab, hingga akhirnya ia mencoba menghubungi Ilyas. Berharap wanita itu pulang bersamanya seperti kemarin. Tak ada jawaban juga bahkan saat mencoba menghubungi untuk yang kedua kalinya panggilan itu ditolak oleh Ilyas; bertambah kesal Andik. Saat itu Ilyas sedang jalan-jalan berdua dengan Indah dan juga suasana hati yang sedang mekar; terfokus pada wanita di samping membuat ia enggan menerima panggilan masuk apalagi itu dari Andik. Tapi agar tidak terus mengganggu Ilyas mengirim chat.

"Itu anak kemana juga sih?! Kok panggilanku ditolak?!" gumannya bertambah kesal. Terus Andik memutar-mutar ponsel, berharap ada panggilan atau sekedar chat dari Hanis karena ia tahu Ilyas tidak bersama wanita itu.

Naura tak tahan juga melihat kegelisahan serta kebingungan Andik, sedari tadi keluar masuk rumah hanya menanti kedatangan Hanis. Saat ia kembali masuk Naura langsung menegur, memarahi tepatnya.

"Yang tenang kenapa sih?! Hanis itu bukan anak kecil, dia ngerti jalannya

pulang!" ujar Naura.

Andik terdiam, ia berjalan dengan langkah berat menuju

kursi. Menjatuhkan badan lesunya sebelum bersuara dengan nada datar dan tak melihat ke Naura.

"Pasti dia itu dapat cowok baru lagi, jadinya lupa yang mau pulang Mba...." kata Andik setengah datar.

"Emang kenapa kalo dia punya cowok lagi? Dia masih muda, cantik juga wajar kan?! Apa kamu cemburu?!." Naura mencerca Andik dengan pertanyaan, mencoba membungkam sekaligus menghentikan kegelisahannya yang tak jelas.

Lumayan mujarab, Andik tak menimpali. Ia hanya duduk terdiam di kursi, menatap ponsel di tangan yang tak menyala. Merasa bersalah Naura mendekat, ia mengusap lengan Andik; mulai memberinya masukan sekedar mengurangi kegelisahan serta kemarahan laki-laki itu.

"Mba paham dengan sikapmu, kamu nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Hanis kan?! Tapi berilah dia sedikit kelonggaran biar dia nggak ngelonjak dan ngelawan ke kamu! Dia nggak susah diatur kok yang penting caranya tidak keras! Buktinya sekarang dia nggak cuma tinggal sementara di sini tapi mau balik lagi, kamu kurang kalem ke dia, Dik!" tutur Naura.

Di luar Hanis baru saja turun dari motor

ojek, ia tadi mampir dulu ke toko buku berhubung teringat dan agar tak keluar

lagi setelah berada di rumah. Sekaligus ia berlama-lama dengan menyewa buku dan membacanya di sana. Langkah kaki Hanis ringan dan santai saat memasuki rumah. Tak sengaja ia mendengar perbincangan di antara Andik dan Naura.

"Iya Mba maaf, masalahnya aku ini nggak bisa nyantai Mba kalo menyangkut anak itu! Aku juga nggak mau sebenarnya bersikap keras, sikapku ini muncul dengan sendirinya! Andai sekali saja omonganku ini didengar dan nggak mancing kemarahan aku ya juga bisa lembut!" sahut Andik menyanggah.

"Santai ... Sudah kamu hubungi?!" tanya Naura.

"Sudah tapi nggak diangkat! Ini malah sepuluh kali ada mungkin, masak dia nggak nyadar ada panggilan masuk kalo hpnya dipegang?!" jawab Andik.

"Mungkin juga ponselnya di silent, kita kan nggak tahu! Ya sudah kamu mandi sana biar lebih tenang!" seru Naura.

"Iya Mba bentar lagi," jawab Andik.

"Ya sudah mba ke atas dulu, ingat nggak usah marah-marah kalo nanti Hanis

balik!" ujar Naura sebelum beranjak pergi meninggalkan Andik duduk sendiri

di ruang keluarga.

Saat suara langkah kaki Naura tak terdengar lagi dan menunggu beberapa menit setelahnya, Hanis bersuara dengan menguluk salam walau tak begitu lantang; memberitahu kedatangannya secara tidak langsung.

Andik beranjak dari kursi saat itu juga, tak menjawab salam Hanis. Saat matanya menangkap sosok wanita itu ia berhenti berjalan, berdiri mengamati Hanis antara marah dan lega. Cukup tak nyaman dengan tatapan itu wajah Hanis tertunduk dengan sendirinya namun langkah kaki tak terhenti. Saat melewati Andik tiba-tiba tangannya diraih, Hanis menoleh memandang Andik yang tak bersuara.

"Sudah sholat?!" tanya Andik.

"Tadi sudah di toko buku," jawab Hanis.

"Di toko buku?!" seru Andik, dahinya dan kedua alisnya menyatu dengan akur.

"Iya tadi aku nyari-nyari buku, sempat baca-baca juga di sana sekalian ngabisin waktu," ungkap Hanis.

Sedikit lega dada Andik tapi jawaban itu belumlah cukup sebenarnya, tangan kirinya yang bergelantungan terangkat begitu saja. Kemudian mendarat di kepala Hanis, mengusapnya pelan.

"Bisakah Kamu ini nggak bikin aku cemas?!” ucapnya.

“Apa teleponku itu nggak penting?! Apa permintaanku ini terlalu berlebihan? Atau mungkin aku yang tak punya malu menuntut demikian?!" ucapnya lagi datar namun serius.

Bergetar hati Hanis mendengar ucapan Andik yang terdengar datar, tak ada amarah di nada suaranya namun jelas ia menahan emosi saat itu walau berhasil ia bingkai agar tak meledak. Hanis yang tadinya acuh kini terpengaruh, ia mendongak menatap lekat wajah Andik. Jelas terlihat kecemasan, kemarahan, lelah dan berat semua menjadi satu.

"Maaf...." seru Hanis. Matanya berkaca-kaca manakala berucap sepatah kata itu namun ia masih kuat menahannya.

Andik melempar senyum tipis serta singkat, membalasnya tak kalah kalem.

"Masuklah ke kamarmu," ucap Andik melepas tangan Hanis kemudian berlalu

dari sana, tak menunggu wanita itu melangkah.

Hanis tertegun di tempatnya berdiri, dua

bola mata ia pusatkan menatap punggung Andik; berjalan lesu ke kamar. Ingin rasanya ia berlari, menghentikan langkah kaki pria itu namun tertahan. Saat sosoknya tak terlihat kaki Hanis melangkah, berjalan ke kamarnya yang

bersebelahan dengan kamar Andik dan Ilyas.

Tas ransel merah maroon di punggung ia jatuhkan ke kasur disusul tubuhnya terhempas begitu saja. Pikirannya menerawang bersamaan dengan pandangannya yang lurus ke atas, menatap langit-langit kamar.

"Apa aku ini keterlaluan?!" gumannya.

Pikiran Hanis masih belum teralihkan,

ekspresi wajah Andik serta suaranya saat berucap masih terngiang. Masih menatap langit-langit saat tangan kanan Hanis menarik ponsel dari saku celana,

jemarinya membuka riwayat panggilan dan menghubungi nomor kontak Andik.

Tepat pada saat itu Naura mengetuk pintu kamar Andik, laki-laki itu tak menjawab ia lebih memilih turun  dari kasur; membuka pintu kamar secepatnya.

"Iya Mba?!" ujar Andik, mengabaikan ponsel yang berdering.

"Itu hpmu bunyi!" seru Naura.

"Nggak apa-apa Mba biar aku telfon balik! Ada apa Mba?!" tanya Andik.

"Ohh itu Ilyas, jam segini kenapa belum balik? Dia ngabari kamu nggak?!" tanya

Naura cemas.

"Tadi aku telepon dia nggak diangkat, tapi dia ngirim chat bilangnya masih di luar! Apa perlu aku telepon lagi Mba?!" jawab Andik.

"Nggak usah, mungkin dia lagi kumpul sama rekan sekantor!" seru Naura.

Sebelum berlalu dari depan pintu, Naura berucap lagi, "Oh iya malam ini mba nginap di rumah Papa, dia kurang sehat kata bik Siti! Mungkin dia kangen sama

mba!" seru Naura dan melangkah pergi.

"Iya Mba, salam buat pak De! Semoga dia lekas sembuh!" sahut Andik.

"Terimakasih, jaga rumah ya!" pesan Naura dan mengangkat tangan kanan.

Andik menutup kembali pintu kamar, langkah kakinya diseret paksa menuju tempat tidur. Teringat dengan panggilan masuk dua kali tadi tangan kiri Andik menyambar ponsel yang ia letakkan di bantal.

"Hanis?!" seru Andik tak percaya.

Ia ragu untuk menelfon balik; diletakkannya lagi ponsel. Ia terdiam beberapa menit lamanya, kedua tangannya menopang kepala yang tertunduk lesu ke bawah. Cukup sulit namun pada akhirnya ia bangkit dari

tempat tidur, melangkah keluar dari kamar.

Andik tak yakin dengan tindakan yang ia ambil namun tangan kiri itu tetap terangkat, mengetuk pintu kamar Hanis pelan. Di dalam sana Hanis yang terdampar di atas tempat tidur, gundah dengan pikirannya sendiri; menoleh ke pintu. Ia tak langsung turun dari tempat tidur menunggu pintu diketuk lagi.

Saat suara ketukan pintu terdengar lagi

turunlah ia segera, langkahnya berat dan enggan mencapai pintu. Namun saat

pintu terbuka dan sosok Andik berdiri di sana, ia cukup tersentak. Seketika ia

tundukkan wajah, tak nyaman memandang  juga dipandang oleh Andik.

"Ada apa kok tadi nelfon?!" tanya Andik datar.

Hanis malu-malu, wajahnya semakin tertunduk kala berucap; menjawab pertanyaan laki-laki itu. "Itu...." Hanis tak bisa melanjutkan.

Dahi Andik menyatu, dipandangnya wanita itu lekat, "Itu apa?!" desak Andik bertanya lagi.

"Keluar...." ucap Hanis rendah tak dimengerti oleh Andik.

Kebingungan jelas tersirat di raut wajahnya, "Keluar? Kamu nyuruh aku enyah?!" ujar Andik menuntut penjelasan.

"Bukan itu maksudnya ... Maksudku...." seru Hanis. Wajahnya semakin tertunduk, tubuhnya merinding gugup.

Sadar akan sikap aneh Hanis saat itu senyum Andik terjalin dengan sendirinya, laki-laki itu mendekat menundukkan kepala kala berucap rendah, "Kamu kenapa?" tanyanya.

Pipi Hanis memerah, ia memalingkan muka saat menjawab, "Ayo kita keluar...." Senyum Andik semakin lebar, tubuhnya kembali tegap serta menjaga jarak beberapa senti dari wanita itu.

"Aku kasih waktu tiga puluh menit buatmu berdandan, jangan lama-lama ya!" seru Andik. Kemudian menghilang dari pandangan Hanis saat itu juga.

Andik sudah siap tak seberapa lama setelah meninggalkan Hanis, kini ia duduk tenang menunggu di ruang tamu. Malam itu Andik mengenakan kaos tebal lengan panjang warna biru gelap bawahnya ia mengenakan celana chino warna abu-abu, sebagai penyempurna penampilan kasualnya Andik memakai sepatu sneaker warna putih tanpa tali. Tak lupa juga dengan jaket sebagai pelapis luar.

Sudah lewat dari tiga puluh menit dan Hanis belum juga keluar, kaki Andik tak betah hanya diam menunggu. Ia hendak bangun namun tak jadi kala melihat Hanis berjalan ke arahnya; mengenakan baju tunik warna pink lemonade bermotif garis-garis kecil dengan lengan mengembang di bawah yang berkerut di siku. Bawahannya ia mengenakan celana pensil warna putih dan di bagian kepala ia memakai kerudung polos warna abu-abu. Agar nyaman saat

berkeliling ia memakai flat shoes warna abu-abu porpise seiras dengan kerudung.

Senyum Andik mengembang melihat penampilan Hanis yang terkesan istimewa buatnya. Ia bangkit segera berhambur ke arah wanita itu yang melempar senyum.

"Ngapain kamu dandan cantik begini?!" seru Andik, padahal sebenarnya ia ingin

memuji kecantikan Hanis.

"Ngapain juga kamu sok ganteng gitu?!" balas Hanis. Hilang senyum manis yang ia pertontonkan barusan karena usikan pertanyaan Andik.

Andik tersenyum lebar, wajah manisnya

bertambah manis saat itu. Tangan Hanis menyambar lengan Andik; menyeret laki-laki itu keluar dari rumah.

“Ayo buruan!” ucapnya.

Tepat saat Andik mengeluarkan motor dari garasi pintu pagar terbuka dengan sendirinya. Detik kemudian motor Ilyas masuk melewati halaman rumah, melihat Hanis berdiri di luar garasi ia mempercepat laju motor.

"Mau kemana?!" tanyanya penasaran, melihat penampilan bagus Hanis.

Hanis belum sempat menjawab muncul Andik dengan menuntun motor, Ilyas seketika itu menoleh. Ia mengamati penampilan Andik yang tak biasa meski hanya mengenakan kaos yang ditutupi jaket. Bola matanya berbalik ke Hanis, juga mengamati sejenak sebelum mulutnya bersuara.

"Kalian mau keluar bersama? Tumben? Sudah berdamai?" cerca Ilyas penasaran.

"Nganterin dia," sahut Andik malas buka suara.

"Kamu darimana baru pulang?." Andik balik bertanya.

"Habis keluar," ucapnya, menoleh ke Hanis; memberi isyarat agar tak membocorkan pertemuannya dengan Indah.

"Ohh gantian ya jaga rumah! Aku keluar dulu!" ujar Andik.

“Jaga rumah?!” seru Ilyas kebingungan.

“Iya, Mba ke rumah pak De! Nginap di sana!” kata Andik memberitahu.

“Tumben?” tanya Ilyas.

“Pak De kurang enak badan, katanya kangen sama Mba! Aku cabut dulu, hati-hati di rumah!” seru Andik.

“Kamu hati-hati di jalan, kalo ada belokan jangan lurus entar nabrak!” sahut Ilyas.

“Kamu kira aku ini rabun?!” balas Andik kemudian menyalakan motor.

Agar tak semakin panjang saja adu mulutnya Andik lekas menjalankan motor, meminta Hanis naik ke boncengan dan juga menyerahkan helm. Tak ada kata pamit keluar, Andik minggat begitu saja meninggalkan Ilyas yang masih dibuat penasaran bagaimana mereka bisa terlihat akur.

“Palestina sama Israel tiba-tiba damai?! Berasa kayak mimpi saja!” gumamnya.

Andik membawa motor dengan kecepatan normal khawatir Hanis yang tak memakai jaket merasa kedinginan. Hanis sendiri masih tampak malu dan canggung untuk lebih dekat, ia menjaga jarak dengan sedikit lebih ke belakang duduknya.

"Nis, kemana kita ini?!" tanya Andik bingung. Ia tak memiliki ide kemana akan keluar bersama dengan Hanis.

"Nggak tahu, emang Kamu nggak punya rencana kemana gitu?!" balas Hanis semakin membuat Andik bingung.

Supaya tak hanya putar-putar saja di jalan, Andik terpaksa menepi; berhenti sejenak hanya untuk mendiskusikan kemana mereka akan keluar malam itu.

"Kok malah berhenti?" tanya Hanis bingung.

"Masalahnya kita nggak ngerti mau kemana, jadi putusin dulu kita ini mau kemana!" seru Andik.

Hanis tak bersuara, otaknya berputar mencari ide kemana mereka akan pergi

menghabiskan malam. Andik yang tak tahan bersuara lagi, "Kamu nggak

lapar?!" tanyanya.

"Lapar sih!" jawab Hanis.

"Ok, kita cari tempat makan yang nyaman buat nongkrong!" seru Andik.

Kemudian, ia kembali menjalankan motor menuju suatu tempat yang dirasa cocok buat menghabiskan malam berdua. Hanis tak bertanya lagi hanya menikmati suasana jalanan di malam hari, kadang mengajak bicara Andik.

“Ngomong-ngomong kenapa kamu tiba-tiba ngajak keluar? Apa ada hal tertentu yang mendasari?” tanya Andik masih penasaran dengan alasan apa yang menyebabkan wanita itu tergugah,

mengajaknya keluar.

“Haruskan ada alasan dulu?!” Hanis balik bertanya.

“Ya secara Kamu ini kan nggak sukanya selangit ke aku! Terus tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan ngajak keluar, jelas aku penasaran kan?!” sahut Andik panjang lebar.

“Alasannya … adalah … pengen ngajak keluar aja!” jawab Hanis. Ia sendiri cukup bingung kenapa tiba-tiba ngajak keluar padahal tadinya ia hanya mau bicara saja.

“Masak sih? Nggak ada alasan lain?” tanya Andik belum puas.

“Bisakah tidak banyak nanya? Cukup bawa motor ke tujuan dan menikmati malam?!” jawab Hanis enggan membahas alasan ia mengajaknya keluar.

“Ok Tuan Putri, hamba akan tutup mulut!” ucap Andik menyerah.

Hingga sampailah mereka di sebuah taman yang berhadapan langsung ke bibir sungai. Ada sebuah kafe yang lumayan ramai pengunjung di sana terlebih di lantai dua di balkon yang mengarah pada taman di sepanjang pinggir sungai tadi.

"Pernah ke sini?!" tanya Andik.

"Belum pernah!" jawabnya kemudian turun.

“Baguslah, ayo turun!” seru Andik.

Setelah menaruh helm keduanya berjalan beriringan memasuki kafe, agar lebih nyaman suasana yang dirasakan mereka naik ke lantai dua. Andik bersikap penuh perhatian, tidak ada suara datar apalagi sikap kerasnya sehingga senyum Hanis tak pernah surut.

“Mau makan apa?” tanya Andik. Menyerahkan daftar menu yang diberikan pelayan kafe. Hanis mulai melihat semua daftar menu sebelum memilih dengan menunjuk gambar makanan serta minuman. Berikutnya Andik, ia tak butuh waktu lama; semua makanan enak di lidahnya yang terpenting mengenyangkan perut.

Pelayan itu segera mencatat pesanan ke

duanya sebelum mengambil kembali daftar menu dan pergi ke belakang.

Saling berhadapan keduanya mengobrol santai, Andik lah yang memulainya lebih dulu. Namun tiba-tiba keakraban yang terjalin tak begitu lama dirusak oleh kehadiran seseorang. Ia muncul begitu saja di hadapan mereka tanpa tahu dari mana datangnya. Siapa dia? Siapa lagi jika bukan Boy, pria itu masih sakit hati lantaran diputus oleh Hanis.

“Lagi kencan sama kakak yang satunya nih!” sindirnya.

Andik menatap tajam tapi ia tidak berusaha bangkit dari kursi. Setidaknya ia tidak ingin malam yang dirangkai berantakan hanya karena kemunculan orang yang tak penting baginya. Merasa tak mendapat respon Boy kembali menyindir Andik dan Hanis, bahkan kali ini keluar kata-kata yang tak enak didengar dari mulut laki-laki itu.

“Kalo iya kenapa? Sudahlah nggak usah gangguin kita! Nikmati saja malam mu nggak usah ngusik orang lain!” sahut Andik.

Boy menyeringai, lalu berucap lagi, “Suka sama yang bekas-bekas ya ternyata!.” Ucapannya menyulut emosi Andik. Saat itu juga laki-laki itu berdiri, Hanis juga ikut berdiri.

“Ngomong apa? Coba ulangi?!” seru Andik menantang. Hanis mendekat padanya, cemas ia. Kedua tangannya menahan lengan Andik, tidak ingin laki-laki itu terpancing amarah.

Boy dengan santainya mengulangi apa yang ia ucapkan tadi, sigap jari jempol dan jari telunjuk Andik mendarat ke leher Boy. Menekan pangkal bawah leher itu tepatnya di atas bagian sternum dimana jika ditekan sedikit detak jantung bisa dirasakan sedangkan jari telunjuk mendarat ke sisi kiri dari tulang sternum, lebih tepatnya di clavicular head. Spontan kedua tangan Boy memegang pergelangan tangan Andik sambil menahan rasa sakit padahal Andik menekan dengan tenaga tak seberapa.

“Kak….” Ucap Hanis takut sesuatu buruk terjadi. Namun Andik sudah terpancing, mustahil untuk meredakannya dengan gampang.

“Bicara sembarangan lagi aku pastikan kamu terkubur di tanah!” ancam Andik. Tak main-main dia, bukan hanya tangan kanannya yang kini mendarat di leher, anggota tubuhnya yang lain sudah dalam posisi siaga. Siap membuat gerakan di bagian vital tubuh Boy.

Laki-laki itu masih congkak meski sakit di lehernya tidak bisa lebih lama lagi ia tahan. Meski suaranya terdengar sulit keluar ia membalas ancaman Andik, “Oh berani juga dirimu, pecinta barang bekas!.” Kedua jari Andik menekan lebih keras dua titik bagian bawah leher Boy seketika itu juga. Mulut Boy ternganga dengan sendirinya bahkan bola matanya seakan mau keluar merasakan sakit yang bertambah.

“Apa mau aku buktikan saat ini juga?!” balas Andik, semakin menekan. Hanis bertambah takut, ia mendesak Andik melepaskan laki-laki itu tapi tidak diindahkan.

Boy tak bisa berkata-kata, ia menepuk tangan Andik memberi isyarat jika ia tak kuat bertahan. Seketika itu Andik melepaskan kedua jarinya, ia menatap Boy penuh ancaman.

“Jangan diulang untuk kedua kalinya!” ucap Andik.  Boy lekas pergi dengan dendam di hati.

Meski suasana hati tak senyaman sebelumnya Andik masih berusaha menciptakan rasa nyaman diantara mereka berdua. Ia tidak membahas insiden barusan, sama sekali tidak menyinggungnya. Hanya ada obrolan

santai untuk memancing senyum Hanis yang luntur sekaligus mengusir ketakutan menyelimuti wajahnya.

Makanan yang dipesan pun datang, kembali Andik memperlakukan Hanis berbeda. Ia membantu pelayan itu menyajikan makanan serta minuman di meja terlebih apa yang dipesan Hanis.

“Terimakasih,” ucapnya pada pelayan kafe.

“Ayo nikmati makanannya!” seru Andik.

Senyum Hanis tersirat meski berat, tangan kanannya bergerak ke piring dan meraih garpu. Menusuk makanan di piring dan menghantar ke mulut Andik. Bola mata Andik cukup terkaget, bertindak cerdas mulutnya terbuka segera menerima suapan dari Hanis.

“Gimana rasanya?” tanya Hanis yang belum menyicipi.

“Rasanya enak banget soalnya disuapin sama Kamu!” jawab Andik cukup membuat pipi Hanis merona.

Wanita itu tertunduk malu, ia tidak bersuara dan mulai menyantap makanan di piring. Andik yang berhadapan masih memperhatikan, entah kenapa dadanya yang tadi sesak karena amarah kini seketika terasa longgar membuatnya bernafas lebih lega.

Habis bersantap malam mereka tidak langsung beranjak, masih bertahan di sana menikmati suasana. Hingga tangan Hanis meraih tangannya dan mengajak pergi, tapi tidak untuk pulang. Andik menurutinya, setelah membayar ia membawa Hanis turun. Sekedar menghabiskan waktu mereka berdua menyebrang jalan menuju taman kecil dimana tak sedikit yang bersantai di

sana.

Sambil memandang aliran sungai yang dihiasi dengan lampu taman warna warni yang temaram, mereka duduk di sebuah kursi panjang. Tangan kanan Andik terangkat, meraih pundak Hanis dan menariknya ke dekapan; menyatu dengan perpaduan suasana hening  yang berteman dengan suara hembusan nafas. Kedekatan terjalin diantara mereka meski tidak terlibat dalam sebuah hubungan, namun mereka menikmatinya. Tidak ada kata-kata cinta terucap dari mulut Andik tapi entah kenapa Hanis merasa dirinya sudah menyatu.

“Mas….” Ucapnya tiba-tiba.

“Emm….” Sahut Andik.

“Mas pernah pacaran nggak sebelumnya? Atau pernah ada yang Mas naksir?” tanya Hanis berani.

“Kenapa nanya kayak gini?” seru Andik tidak menjawab.

“Jawab aja, jangan balik nanya!” ujar Hanis.

“Kalo pacaran belum pernah, tapi kalo naksir … nggak paham juga sih aku, apa itu naksir atau sekedar rasa suka, kagum ... tapi yang jelas pernah!” jawab Andik.

“Ohh … Sekarang apa rasa itu masih ada?” tanya Hanis ingin tahu isi hati Andik.

“Rasa buat yang aku naksir itu maksudnya?” tanya Andik memperjelas pertanyaan.

“Emm … iya itu maksudku….” Hanis terdengar ragu-ragu saat berucap.

“Nggak ada, sama sekali nggak ada!” jawab Andik.

“Ohh….” Seru Hanis. Perlahan ia bergerak melepaskan diri namun tangan kanan Andik kuat menahannya tak ingin terlepas.

Laki-laki itu mengalihkan pandangan yang tadi lurus ke depan, memandang Hanis lebih dekat. Tahu jika dirinya sedang dipandang oleh Andik tangan kiri Hanis mendarat ke pipi laki-laki itu;

mendorong muka Andik supaya kembali menatap ke depan.

Terusik, tangan kiri Andik menyambar tangan Hanis, menariknya ke bawah. Tetap ia tidak mau mengalihkan padangan, menatap wajah Hanis yang kembali merona.

“Kenapa pipimu merona?” tanyanya semakin membuat Hanis malu.

Wanita itu kian menunduk, menyembunyikan rona merah di pipi yang kian menyala. Andik tidak ingin melewatkan momen itu, melihat pipi merona Hanis. Dengan berani ia tangkap dagu Hanis dengan tangan kiri, mengangkat wajah wanita itu hingga ia bisa memperhatikan dengan leluasa.

“Kakak….” Ucap Hanis memprotes.

“Emm … Jangan panggil aku kakak, panggil mas….” Kata Andik rendah.

“Mas lepasin … aku malu….” Ungkap Hanis yang mukanya semakin memerah.

“Kenapa malu?” tanya Andik masih tidak mau melepaskan.

Hanis tidak bisa menjawabnya, ia hanya

kembali memanggil Andik dengan panggilan yang laki-laki itu minta. Suara rendah Hanis serta wajahnya yang terlihat malu-malu membuat jantung Andik berdetak tak karuan. Bukannya dilepaskan laki-laki itu malah menariknya mendekat sembari

kepalanya bergerak maju perlahan. Nafas hangat yang keluar diantara mereka semakin membulatkan hasrat Andik, pelan namun pasti ia mendaratkan ciuman lembut dan hangat ke bibir merah Hanis. Kedua mata Hanis terpejam, merasakan sentuhan itu menjalar panas ke seluruh tubuh yang terpusat pada ubun-ubun.

“Mas….” Ucap Hanis saat bibirnya terbebas walau sentuhan itu masih terasa membekas.

Ia menatap lekat Andik yang tak bersuara, hanya memandang dirinya terus. Dada Hanis berdegup kencang, matanya berkedip beberapa kali sebelum kembali tertutup lantaran tak kuasa membalas tatapan laki-laki yang betah memandangnya.

Satu tangan Andik yang mendekap pundak Hanis belum juga terlepas malah kini kian kencang cengkramannya. Juga menariknya semakin rapat bersamaan dengan dirinya yang kembali bergerak merapat. Sebuah sentuhan hangat kedua kalinya mendarat, sangat lembut sehingga membunuh kesadaran keduanya. Tidak ada balasan dari Hanis, ia hanya menerima dan merasakan sentuhan itu saja. Hingga nafas sukar karena rongga hidung yang menyatu barulah Andik perlahan melepasnya.

“Mas nggak tahu apa yang mas rasakan saat ini, tapi maukah Kamu menjalaninya? Biar waktu yang menunjukkan,” kata Andik. Ia tidak mau menyatakan cinta karena ia juga tidak tahu apa yang terjadi sekarang dan rasa yang timbul itu cinta atau bukan.

Hanis mengangguk pelan melegakan hati Andik. Kembali ia menarik Hanis ke pelukan dan mengecup lembut keningnya.

“Mulai sekarang coba pandanglah aku sebagai laki-laki, jangan memandang yang lain juga,” ucapnya.

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!