Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Malam Yang Indah
AALIYAH
Mas Hadi duduk di teras menungguku dan bunda untuk makan malam di Restoran Resort. Kami kemudian jalan menuju restoran, Bunda berjalan di depan dengan Mas Hadi, aku berjalan di belakang mereka. Mereka asyik membicarakan sesuatu, Mas Hadi memang paling pintar mengambil hati Bunda. Mas Hadi sangat perhatian pada Bunda. Kadang-kadang mampir di rumah saat aku sedang kuliah ataupun menelpon bunda untuk mengetahui keadaanya. Bunda juga memasakkan makanan kesukaan Mas Hadi bila berkunjung ke rumah.
Aku mengamati punggung Mas Hadi, sangat kokoh dan atletis dan berkhayal seandainya dia jadi pacar aku... oh senangnya hati ini.
Sesampai kami di restoran, rupanya Keluarga Pak Hendrawan sudah ada disana. Mereka kaget melihat ada Mas Hadi bersama kami karena sebelumnya Mas Hadi mengatakan tidak bisa ikut ke puncak. Aku melihat mata Angga yang sepertinya kurang senang melihat aku datang bersama Mas Hadi. Aku tahu maksud Angga baik, dia tidak ingin Mas Hadi menyakitiku nanti karena Mas Hadi sudah punya Clarissa. Pak Hendarawan dan Ibu Laela senang melihat aku datang bersama Mas Hadi, terlihat dari sorot mata dan senyum mereka.
Sambil makan obrolan di meja makan lancar. Mas Hadi, Bunda, Ayah Hendra dan Bude Laela 1 topik, Aku, Adel dan Angga 1 topik juga.
"Aaliyah, kok tadi gak datang ke kolam renang sih" Adelia bertanya padaku.
"Maaf Aaliyah lupa kalau kalian masih bulan madu, baru sadar tadi, jadi Aaliyah gak mau mengganggu kalian" jawabku menirukan kata-kata Mas Hadi tadi.
Mas Hadi tersenyum mendengarnya.
"Trus tadi Aaliyah kemana?" Angga penasaran, curiga aku bersama Mas Hadi karena Mas Hadi sudah datang. Aku gelalapan harus menjawab apa.
"Tadi Aaliyah jalan-jalan kesana, " kataku sambil menunjuk arah Villa. Aku melihat Mas Hadi tersenyum kecil lagi.
"Sama siapa?" Angga bertanya lagi.
"Sama Mas Hadi," jawabku jujur.
Orang tua Mas Hadi tersenyum senang, Angga manggut-manggut. Tidak lama setelah itu Mas Hadi menerima telpon dan menjauh dari kami. Ia duduk di dekat kolam renang. Aku yakin, teman bicara Mas Hadi di telepon adalah Clarissa. Sejujurnya hatiku kurang senang dan sedih, tapi mau marah? aku tidak punya dasar. Toh aku bukan siapa-siapa Mas Hadi.
Sudah 20 Menit berlalu, Mas Hadi masih asyik dengan telponnya. Aku kecewa karena bagiku Mas Hadi melewatkan malam yang indah ini. Akhirnya aku mengikuti ajakan Angga dan Adelia jalan-jalan di sekitar Danau. Itu hanya alasanku untuk pergi dari tempat itu, sebenarnya aku cuman tidak ingin melihat Mas Hadi telponan dengan Clarissa.
Dari jauh aku masih bisa melihat Mas Hadi dipinggir kolam renang padahal sudah hampir satu jam waktu yang terlewatkan. Aku mulai muak. Tak ingin lagi tungguin Mas Hadi. Aku pamit pulang ke kamar pada Angga dan Adel. Sebenarnya Angga kurang setuju aku pulang ke kamar sendiri, karena jalan yang harus dilalui di dalam resort itu gelap dan sepi, Angga ingin mengantarku, tapi aku menolak dan mengatakan aku tidak takut jalan sendiri.
Rupanya diriku bukanlah pemberani, melewati jalan remang-remang dan sepi lumayan menciutkan nyaliku. Hantu-hantu dalam film horor yang pernah kutonton terus membayang. Sayup-sayup kudengar langkah kaki di belakangku, semakin mendekat. Aku takut menoleh ke belakang jangan sampai aku melihat sesuatu yang bisa membuat aku pingsan. Semakin kupercepat langkahku, langkah itu juga semakin cepat dan jelas, dan...
"Aaliyah!" Seseorang memanggil namaku, suara Mas Hadi.
"Ih Mas Hadi nakutin aku," kataku padanya.
"Anak gadis jalan sendiri di tempat sepi begini, berani amat. Tadi ngekor lagi sama pengantin baru gak merasa mengganggu ya?" ucapnya.
"Mending ganggu pengantin baru daripada ganggu orang pacaran ditelpon," kalimat itu meluncur begitu saja dibibirku.
Mas Hadi tertawa mendengarnya. Aku baru sadar jangan sampai Mas Hadi berpikir aku cemburu, padahal memang aku cemburu.
"Jalan-jalan yuk!" ajak Mas Hadi.
"Nggak, Aaliyah mau pulang ke kamar, Bunda nungguin" aku menolak ajakannya. Aku sudah terlanjur kecewa.
"Mas Hadi sudah minta izin kok sama Bunda," kata Mas Hadi lagi.
"Aaliyah ngantuk," aku tetap menolak.
Namun tanpa kata ia mengambil tanganku, digengam dengan erat dan ditarik ke arah Villa. Kalau sudah begini kumat lagi penyakit jantungku yang bergerak tak terkendali. Dan akhirnya akupun mengikuti langkahnya. Dibawah ke dasar danau pun mungkin aku akan mengikutinya.
Ia membawaku ke lantai 2 villa tempat aku berenang tadi. Dari sini aku bisa melihat keseluruhan Danau, resort, dekat sekali dengan bintang-bintang di langit, Viewnya sangat indah dan romantis. Amarahku tadi sudah hilang ditelan suasana malam ini.
Mas Hadi hanya duduk di kursi sambil meminum kopi pesanannya. Aku sibuk ke setiap penjuru teras Villa ini mengambil foto dan video. Dari sudut mataku aku melihat ia terus mengawasiku. Sama seperti di kolam renang tadi. Itu yang membuat aku tidak bisa dekat-dekat dengan dia, aku tak bisa mengendalikan jantung ini.
Lama tidak dipedulikan akhirnya ia berdiri di sampingku. Ia diam saja, kedua tangannya di kantong celana. Ia menatap ke arah danau.
"Mas, lihat itu Angga dan Adel ya?" kataku sambil menunjuk ke arah danau.
"Iya" hanya itu katanya, seperti kurang tertarik membicarakan mereka.
Trus ngapain ke dekatku kalau cuman diam-diam aja.
"Mas, ngerti rasi bintang ya? itu rasi bintang apa?" sambil menunjuk satu rasi bintang. Aku gak tahu harus ngomong apa.
"Oh itu, namanya Ursa Mayor. Dapat digunakan sebagai alat navigasi pada malam hari. Ursa mayor berada di langit utara, jadi bisa menjadi petunjuk arah utara." Mas Hadi menjelaskan.
Aku mau tanya apa lagi ya?
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" Sepertinya ia tahu pikiranku.
"Nggak" Jawabku singkat. Aku juga merasa bodoh dengan pertanyaanku.
Tiba-tiba ia membuka jacketnya dan dipasangkan padaku. "Pakai ini, udara sangat dingin" katanya.
Memang udara sangat dingin. Bahkan menembus sweater yang kugunakan. Sweaternya sih agak tipis.
"Trus Mas Hadi pakai apa? Nanti Mas Hadi kedinginan?" Aku khawatir karena Mas Hadi tinggal memakai baju kaos.
"Disuruh berenangpun sekarang Mas Hadi masih tahan," katanya.
"Serius Mas, Aaliyah mau lihat!" Aku nantang Mas Hadi.
Mas Hadi tertawa kemudian berkata "Yang penting Aaliyah tanggung jawab, hangatin Mas Hadi setelah itu. Mau?"
"Hangatin bagaimana?" aku pura-pura ****.
"Apa Mas Hadi perlu jelaskan caranya?" ia mulai menggodaku lagi.
"Nggak mau." Aku tahu pembicaraannya mulai vulgar, "Mas Hadi nakal" aku mencubit lengannya. Yang dicubit tertawa-tawa saja.
Semakin malam udara terasa makin dingin dan angin makin kencang. Mas Hadi mengajakku pulang.
Kami kembali melalui jalan yang remang-remang dan sepi. Tidak ada perasaan takut lagi pada diriku. Ada Mas Hadi di sampingku. Malah aku berharap jalan menuju kamar 10 kali lebih panjang, biar jalan dengan Mas Hadi lebih lama lagi. Tapi hanya sebentar kami sudah sampai di depan teras kamar. Aku mengembalikan jacketnya. Ia menerima dan menatapku lama, aku juga mulai berani menatapnya dan menunggu sesuatu, entah sesuatu yang akan dikatakan ataupun yang ia akan lakukan. Wajahnya mendekat ke wajahku, aku bisa merasakan hembusan nafasnya dan....
"Masuklah sayang, bersih-bersih, Sholat dan tidur" katanya.
Itu saja, kalian jangan berpikir macam-macam.
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget