Kisah remaja Dea yang tenang mulai berubah ketika dia bertemu dengan Andre, siswa baru di sekolahnya dan juga salah satu anggota Scorpio. Dia sempat tenang karena sosoknya sekarang sebagai Dea, gadis tomboi dan merupakan ketua osis. Namun tidak diduga, kalau cowok itu sangat mengenalnya sebagai Dion. Bukan itu saja, dia mengancam bahwa dia akan membongkar identitasnya sebagai pemenang drumer terbaik Kompetisi Berbakat Musik.
Dengan terpaksa, Dea setuju untuk bergabung menjadi anggota Scorpio. Setelah bergabung dengan band itu, Dea mulai menemukan prahara-prahara kehidupan kisah seragam putih abu-abunya. Dia dan anggota Scorpio bertemu dengan Five Lions, musuh mereka, dan Andika, salah satu dari anggota band itu yang menyukai dirinya. Andika juga mengetahui sosok lain dari Dea, sosok sebagai Dion. Dan saat itupula terjadi persaingan untuk mendapatkan cinta dan kepandaiannya.
#SelamatMembaca #Alsaeida
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alsaeida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5.2
Akhirnya tiba. Waktu perjalanan ini berlalu sangat cepat. Dea turun dari motor merah Andre. Dia membuka pagar merahnya dan segera masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih. Sikap itu memang tidak sopan. Namun dia harus melakukannya. Ya, alasannya hanya satu, karena air mata itu terlanjur keluar. Dia tidak ingin memperlihatkan lagi air mata sedih itu. Apalagi berwajah cenggeng di hadapan Andre. Cukup sudah!
Dea bergegas masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu. Air matanya semakin deras. Tidak tahu sejak kapan dia menjadi gadis yang cenggeng. Sudah banyak air mata yang tumpah hanya karena cowok itu. Padahal sebelum bertemu Andre, dia tidak pernah menangis kecuali pada permakaman Dion.
Dea duduk di tempat tidur. Memandang foto Dion. Sudah dua tahun berlalu sejak Dion meninggal dirinya dan orang tua. Sudah banyak yang berubah. Lebih utama kepada dirinya. Dia menjadi gadis cenggeng. Suka mengeluarkan air mata dengan sia-sia.
Dulu kalau Dea menangis, Dion selalu mengejeknya dengan kata “Jelek”. Maka dari itu, dia tidak mau menangis. Namun sekarang berbeda. Dia sangat gampang menumpahkan air mata itu. Apalagi hanya gara-gara seorang cowok. Cowok jahil yang bernama Andre itu.
Dea kembali mengenang masa lalu. Air matanya terus tumpah. Dulu kalau ada masalah, dia selalu bercerita kepada kakak laki-lakinya itu. Dan menemukan solusi yang baik. Namun kini, dia tidak bisa bercerita dengan siapa-siapa. Dengan Tari, itu tidak mungkin. Dengan Andre, itu semakin tidak mungkin. Dengan Andika,… Oh My God. Dea baru ingat kalau ada janji dengan Andika. Dia menggunakan pakaian feminim ini karena Andika. Dea melirik jamnya. 8.45 malam. Ah, tidak mungkin Andika masih menunggunya. Ya, sangat tidak mungkin.
Dea segera mengambil ponselnya. Mencari nama Andika di kontak. Lalu meneleponnya. Tidak di angkat. Dea terus mencoba dan masih belum di angkat.
Tok… tok… tok…
“Dea kamu sudah tidur? Ada teman kamu tuh?” panggil Mama Dea.
Dea langsung turun dari kamarnya. Apakah itu Andre? Tapi itu tidak mungkin, cowok itu baru saja pulang. Andika? Kalau iya, dia harus memberi penjelasan apa. Aha! Bilang saja kalau dia sedang tidak enak badan. Andika pasti tidak akan marah. Kemudian dia memeriksa badannya. Panas. Dia melihat wajahnya pada kaca. Lumayan pucat.
“Andika,”
“Dea?” kata Andika dengan wajah khawatir. “Kamu tidak apa-apa?”
“Maaf aku tidak menepati janji. Aku kurang enak badan,”
Andika tertegun. Dia memandang Dea dengan tatapan heran. Yah, pakaian ini. Dea belum ganti pakaian sehingga masih menggunakan pakaian feminim ini. Gawat! Gawat! Gawat! Pasti ketahuan deh kalau bohong. Perlahan, cowok itu tersenyum. Dia mengusap kepala Dea.
“Ya, sudah. Kamu masuk saja,” perintahnya. “Udara di luar sangat dingin. Nanti sakit kamu semakin parah,”
Dea diam. Bohong. Dia sudah berbohong kepada Andika. Bagaimana ini? Kalau jujur, mungkin Andika akan marah besar. Dia tidak ingin menciptakan kerenggangan pada pertemanan mereka. Kalau tidak jujur, dia takut akan terus berbohong. Karena kata mamanya, sekali kita berbuat kebohongan, ada kemungkinan kita akan melakukan lagi. Aduh! Tidak mau bohong lagi.
“Maaf ya, Andika,” mohon Dea.
“Nggak apa-apa kok,” kata Andika lembut. “Lain kali, kamu tidak boleh sakit lagi jika ada janji denganku,”
Dea mengangguk pelan. Lalu, dia meninggalkan Andika yang masih berwajah khawatir. Di kamar, Dea menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dia binggung. Bahkan benar-benar sangat binggung hingga akhirnya dia tidak dapat tidur. Yah, seperti malam itu ketika dia memikirkan Andre.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! JANGAN LUPA LIKE, VOTE, COMMENT, AND RATING YA!
apa ngk ada visualx yaa kk aku jadi penasaran hehehe😅
Dramanya bagus,,,
Semangat thor,,,
Lanjuuuuttttt
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" Fighting 🥰
harusnya bereaksi dong saat perjanjian itu dibuat..bukan diem aja....
Mampir juga ya ke novelku ya
"Kekasih Sahabatku"
Terima Kasih
-Pengorbanan Cinta Arya dan Isyana
-Antara cinta dan misi
like,komen,rate 5, dan vote 😊
Jangan lupa singgah dicerita aku juga
"pretend lover"
Salingg support thor❤
apakah dia ada trauma ?
atau jangan"......