Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Keluarga Baru
Satria yang di beritahu mamanya jika Diva pergi dari siang, tepatnya sebelum adzan dhuhur. Sepulang kerja dia langsung menuju ke titik di mana Diva berada , sesuai keterangan anak buah papanya yang mengikuti Diva.
Tapi sialnya dia malah bertemu dengan mantan kekasihnya yang baru di putuskan nya, karena ingin fokus mendekati sang adik.
"Apa yang terjadi !" Tanya Hana menyambut Satria yang masuk sambil membopong tubuh Diva.
"Aku tidak tahu , aku tadi ketemu mantanku. Dia menuduh Diva adalah pacar baruku yang menyebabkan aku memutuskannya."
"Lantas apa hubungannya ?" Tanya Raihan.
"Dia menyiram Diva dengan air mineral kemasan yang dipegangnya." Ucap Satria sambil menidurkan Diva di kamar yang selama ini di tempati Diva.
"Awas minggir biar mami periksa.. Detak jantungnya berdetak cepat, keringat dingin keluar."
"Mama! Jangan siram mamaku, mama lepaskan aku. Aku mau bersama mama. Lepaskan Tante aku mau bersama mama ! Mama!!" Suara yang keluar dari mulut Diva dengan mata terpejam, membuat semua orang yang ada di ruangan itu saling memandang.
"Diva bangun sayang ini mama." Ucap Hana sambil memegang tangan Diva dan satu tangan lagi menghapus keringat Diva.
"Mama aku mau sama mama! Jangan siram mamaku." Ucap Diva dengan suara yang mulai lemah.
"Itu kalimat yang kudengar setelah Nadiva menyiram tubuhku. Tepatnya Sebelum Diva di bawa keluar oleh Tantri." Ucap Hana sambil menangis.
"Dia sudah mulai tenang sebaiknya kita semua keluar, biar Diva istirahat."
"Kata mami benar lebih baik kita bersiap untuk sholat magrib berjamaah,"ucap papi Kana.
"Aku sholat di sini saja mi, pi!" Ucap Hana yang di anggukin semua orang.
Entah apa yang terjadi aku terbangun mendengar alunan ayat suci Al-Quran, yang di ucapkan dengan sangat merdu. Aku berusaha duduk dan bersandar ,aku bisa melihat mama yang sedang mengaji. Kenapa ada rasa hangat saat memanggilnya mama, apa ini yang di sebut ikatan batin ibu dan anak.
"Kamu sudah bangun ? Mana yang sakit ?" Aku hanya menggeleng sambil tersenyum tipis melihat senyum mama.
"Apa yang kamu rasakan, kenapa bisa pusing ?"
"Aku tidak tahu, aku hanya melihat seorang perempuan yang disiram air. Aku juga mendengar suara anak kecil menangis memanggil-manggil mamanya."
"Apa Diva tahu siapa itu ?"
"Tidak,aku hanya melihat bayangan dan mendengar suara mereka dengan jelas. Tapi wajah mereka aku lupa!"
"Apa masih pusing ?"
"Tidak hanya sedikit lemas."
"Sekarang Diva sholat magrib, mama akan siapkan makan malam. Diva mau makan malam di sini apa diluar ?"
"Mm di luar saja." Ucapku sungguh tidak enak, aku itu tamu masak ngelunjak makan di kamar.
Setelah selesai sholat magrib aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Sayup-sayup aku bisa mendengarkan obrolan beberapa orang.
"Kamu tidak perlu bersedih, meski Diva tidak mengingat tapi alam bawah sadarnya sudah mulai mengingat. Terbukti dari ucapannya saat matanya terpejam, sesuai yang kalian alami !"
"Iya mi,aku akan lebih bersabar. Aku sudah bersyukur dia masih sehat dan selamat dari tragedi itu. Apalagi sekarang aku tidak hanya bisa melihat tapi juga bisa memeluknya. Bahkan bisa memanggil dengan nama sebenarnya."
"Ayo bergabung dengan yang lain," ucap suara seorang laki-laki di sertai tepukan ringan di pundak ku. Aku tahu dia adik kembar mama, tapi aku tidak tahu dia om Radit atau om Randi.
"Iyaa omm.."
"Om Radit." Om Radit menggandengku ke meja makan. Kami makan sambil mengobrol ringan tanpa membahas masa lalu yang kulakukan, yang hanya membuatku pusing dan seperti orang bodoh. Hanya sesekali menanyakan hari-hari yang ku lalui selama ini. Sampai mami menyuruhku untuk istirahat, karena wajahku yang masih sedikit pucat dan harus banyak istirahat.
🎼✉️ Bunda
Seminggu lagi sidang pertama akan di laksanakan.
Bunda memutuskan untuk keluar dari rumah ayah dan tinggal bersama Niko, di rumah peninggalan orang tua bunda.
^^^✉️ to Bunda^^^
^^^Reva sayang bunda selalu^^^
^^^Apapun yang terjadi bunda juga orang tuaku, orang tua yang membesarkan aku dengan kasih sayang dan cinta tulus.^^^
^^^Ik hou altijd van je^^^
^^^(Aku sayang bunda selalu )^^^
🎼✉️ Bunda
Mama houdt meer van jou
(Bunda lebih sayang kamu )
Setelah menerima pesan dari bunda ,aku jadi tidak tenang. Sejak nenek meninggal, bunda tid ak pernah menginap lagi di rumah nenek. Apapun masalah yang terjadi antara bunda dan ayah, bunda tidak sekalipun kabur dari rumah. Setelah sholat subuh aku mengemasi barang pribadiku sebelum mandi, setelah semua siap baru aku beranikan menemui keluarga baruku.
"Selamat pagi." Sapaku pada mama dan mami yang lagi sibuk di dapur dengan istri om Radit dan Om Randi.
"Pagi,eh sayang ko udah rapi?"
"Maaf ma Diva mau pulang ke Solo menemui bunda. Sepertinya bunda sedang butuh sport dariku."
"Tapi kondisimu belum pulih." Ucap mama membuatku sedih karena tidak di inginkan pergi.
"Tidak apa-apa sayang pergilah, tapi di antar sopir setelah sarapan ya." Ucap mami langsung mengagukkan kepalaku.
"Sekarang bantu kami menyiapkan sarapan !"
"Tentu mami !" Ucapku dengan semangat 45.
"Apa kamu tidak melihat muka sedihnya waktu kamu larang. Ingat Hana kita ini keluarga baru buat Diva, meski kenyataannya kita keluarga lama.Jangan membuat Diva merasa tidak nyaman dengan kita."
"Maaf mi,aku cuma kuatir."
"Kita hanya bisa mendukung jangan mengekang Diva. Seharusnya kita juga berterima kasih kepada bunda Diva, yang sudah merawat Diva dengan sangat baik!"
"Iya mi." Aku yang tidak sengaja mendengar obrolan mama dan mami, jadi merasa sedih. Saat melihat mama menangis dan bersedih. Aku selalu terbayang bunda, entah dapat keberanian dari mana aku langsung memeluk mama.
"Maafkan Diva yang belum bisa mengingat mama. Mama dan bunda punya tempat yang sama di hatiku. Tapi bunda hanya punya aku dan Om Niko, untuk saat ini."
"Iya sayang pergilah, maafkan mama." Ucap mama sambil mencium seluruh mukaku.
Aku pulang ke Solo diantara sopir, yang kata papa dia bawahan papa. Bawahan papa sedang ada perlu di sekitar Solo jadi sekalian.
Tepat pukul 10 aku tiba di rumah bunda.
"Aku tahu aku salah telah mengambil suamimu. Tapi ini sudah takdir kita, jadi mari kita jalani bersama."
"Silahkan ambil mas Iksan, aku sudah bertekad hidup bebas tanpa gangguan kalian."
"Seharusnya kamu senang dengan adanya aku, Kamu tidak perlu di tuntut punya anak. Lagian harta mas Iksan tidak akan habis buat kita berdua dan anak-anak kita."
"Aku tidak mempermasalahkan harta. Aku hanya ingin punya suami yang hanya memikirkan aku, bukan orang lain. Tanpa harus berbagi suami dengan orang lain, baik raganya , hatinya dan cintanya."
"Itu baru bundaku." Ucapku lirih.
"Assalamualaikum." Teriaku dengan suara kencang seolah baru tiba.
"Walaikumsalam."
"Kamu datang sama siapa sayang?"
"Aku datang dengan calon ayah baru buat bunda. Jadi Tante tolong pulang, aku takut calon ayah baruku tidak nyaman !"
Ucapku sengaja keras, membuat lawan bicara bunda langsung pulang.
"Maaf ya om aku gunakan om untuk mengusir nenek lampir."
"Tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu. Mari semuanya!"
"Reva!!" Suara menggelegar bunda begitu sopir yang mengantarkan aku pergi.
.