Rasa cinta itu justru tersadar, ketika cemburu dirasakannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Sahabat-an?
"Emang salah kalau gue berusaha untuk suka sama cewek lain selain Elsa?" pikir Elang dengan gumaman yang cukup bisa didengar oleh seseorang yang berada di dekatnya.
"Salah bro. Harusnya lo jujur dulu sama Elsa tentang perasaan lo, jangan malah mainin perasaan cewek lain."
Elang tersentak kaget saat tiba-tiba sudah ada Bagas di sampingnya dan dengan jawaban dari gumamannya. "Lo sejak kapan ada di sini?"
Bagas merangkul Elang dan mengajaknya ke kelas. "Barusan, waktu gue liat lo tiba-tiba gandeng Dea, saat ada Elsa lagi sama Fandi. Bro, kalau lo gak cepet bertindak habis sudah cerita lo sama Elsa."
"Cerita gue itu gak akan habis, gue masih bisa sahabatan sama Elsa."
"Lo yakin? Lo masih bisa nahan sakit hati lo waktu Elsa cerita sama lo tentang Fandi? Ditambah lagi liat mereka bermesraan seumpama udah jadian."
Perkataan Bagas membuat Elang hanya terdiam. Dia begitu mengerti akan rasa itu. "Tapi sama aja, kalau gue jujur sama Elsa, pasti Elsa bakal jauhin gue karena dia gak mau merubah status kita." Elang begitu mengingat kejadian semalam saat dia hampir saja menembak Elsa.
"Akhirnya lo ngaku juga kalau beneran cinta sama Elsa, hahaha. Tapi emang lo udah coba bilang sama Elsa?" Bagas dan Elang kini telah masuk ke dalam kelas dan sama-sama melempar tasnya ke atas meja lalu duduk.
"Udah, kalau gue bilang serius pasti dia pergi kalau gue bilang bercanda Elsa malah seneng dan nganggap gue itu kakaknya. Gimana gak sakit hati gue main kakak adekan.."
Bagas malah nyengir kuda. "Sabar bro, yang penting usaha."
"Udahlah, nyerah gue. Terserah apa mau Elsa. Gue harus fokus buat dapetin cewek lain."
"Dea?"
"Yah."
"Lo jangan PHP-in cewek lagi. Gila lo kalau lo sampai nyakitin Dea sama kayak Anna." Dua cowok ini masih asyik ngerumpi, sedangkan siswa lain sudah pada datang dan duduk di kursi tak terkecuali Anna yang kini sudah duduk di bangkunya dan sekelebat menoleh ke arah Bagas saat Bagas menyebut namanya meski mereka tidak sadar dengan pandangan di sekitarnya.
"Gue serius. Gue harus bisa move on. Gue gak bisa sakit hati."
"Terserah lo-lah kalau lo mau nyiksa perasaan lo. Tapi gue saranin lo perjuangin cinta lo, jangan pernah menyerah sebelum lo berperang. Kayak gue." Pandangan Bagas berujung pada Anna yang masih melihatnya, Bagas tersenyum yang dibalas oleh senyuman manis Anna.
Bagas teringat kejadian semalam saat dia terpaksa pergi ke toko buku sendiri untuk membelikan buku adiknya yang masih SMP.
"Dasar, Agus tuh males banget kalau disuruh ke toko buku. Jadi gue kan, untung gue itu kakak yang baik." Bagas medumel sendiri sambil melihat deretan buku Matematika dengan membungkuk. Tiba-tiba ada yang menjatuhkan buku tanpa sengaja dan mengenai kepala Bagas. "Aduh!" Bagas langsung menegakkan badannya dan dia langsung terkejut. "Anna!" kalau jodoh memang tidak kemana.
"Sorry, gue gak sengaja. Gue gak nyampai ngambilnya," ucap Anna masih berusaha mengambil buku yang berada di rak atas.
Bagas langsung mengambilnya dan memberikannya pada Anna. "Ini?"
"Iya, makasih." Anna langsung mengambil buku itu dari tangan Bagas. Seperti salah tingkah dan bingung dengan apa yang akan dibicarakan.
"Lo sama siapa?"
"Gue sendiri. Gue duluan yah." Anna berlalu begitu saja.
"Belum juga ngobrol udah pergi." Bagas bergegas mengambil buku yang akan dia beli lalu segera menyusul Anna ke kasir. Tepat di belakang Anna, Bagas berdiri dan mengantri di kasir.
"Tungguin gue," bisik Bagas yang hanya mendapatkan sedikit respon dari Anna lalu dia berlalu setelah membayar di kasir. Bagas buru-buru membayar barangnya dan segera menyusul Anna keluar dari toko buku. Tidak ada sesosok Anna di depan. "Hmmm, mungkin Anna memang gak mau sama gue."
Satu tepukan tangan dipundak Bagas membuatnya langsung menoleh, "Anna, lo masih di sini?" Bagas langsung membalikkan badannya dan tersenyum lebar.
"Hmmm, ada apa?" sebuah pertanyaan yang begitu lemah lembut. Anna memang seseorang yang pendiam, dia tidak bisa mencari bahan pembicaraan.
"Gue anterin pulang yuk, lo gak bawa motor sendiri kan?"
Anna menganggukkan kepalanya. "Boleh."
Satu kesempatan lagi buat Bagas yang membuat Bagas bahagia teramat sangat. Tapi Bagas tidak mau terburu-buru dan terlalu memaksa Anna, dia ingin membuat Anna nyaman dengannya.
Lamunan Bagas berhasil dibuyarkan Elang dengan satu raupan di wajah Bagas.
"Lo ngayal muluk kerjaannya."
Bagas mendorong lengan Elang asal. "Sirik lo! Gue yakin Anna pasti bakal jatuh cinta sama gue. Makanya harusnya lo tuh berjuang demi Elsa mumpung masih ada kesempatan."
Pandangan Elang kini menangkap dua sosok yang kini masuk ke dalam kelas secara bersamaan. "Lo liat kan mereka. Udah jelas-jelas mereka lagi kasmaran."
Cieee, cieeee. Sorakan itu semakin membuat hati Elang panas.
"Sabar, bro." satu tepukan Bagas dipundak Elang agar Elang lebih sabar menghadapi kenyataan hidup.
Kebisingan kelas itu hilang saat Bu Lisa masuk ke dalam kelas. Mereka langsung berdoa dan mengucap salam.
"Anak-anak, tolong sampaikan kepada orang tua kalian surat ijin untuk mengikuti camping dua hari mendatang. Ibu minta tolong... Elang tolong bagikan ya."
Elang seperti tidak mendengar perkataan Bu Lisa. Dia masih tetap melamun dan menopang dagunya.
"Elang?"
Masih tidak ada sahutan sampai beberapa temannya ikut menoleh ke arah Elang termasuk Elsa.
Bu Lisa akhirnya mendekat dan memperkeras panggilannya. "ELANG HARDIAN!"
Elang langsung kaget dan mengangkat tangannya dengan spontan. "Iya, hadir buk."
Gelak tawa pun pecah melihat tingkah konyol Elang. Elang menurunkan tangannya perlahan saat dirasanya ada yang ganjil. Dia menoleh ke sisi kanannya sudah ada Bu Lisa yang menggelengkan kepalanya menatap heran Elang. "Eh, Bu Lisa." tawa gaje pun muncul di bibir Elang.
"Elang, kalau masih mau melamun, lanjutin di toilet sambil bersihin toilet!"
"Eh, tidak Bu. Maaf. Saya janji akan fokus pada Ibu, maksudnya pelajaran Ibu."
"Ya udah, sekarang kamu ambil selebaran di atas meja Ibu lalu bagikan pada teman-teman kamu."
"Baik, Bu." Elang langsung berdiri dan maju ke depan mengambil selebaran yang dimaksud Bu Lisa lalu mulai membagikannya satu per satu.
"Yang lainnya silahkan buka PR kalian dan kita bahas."
Elang menghela napas panjang. Ngapain gue mikirin Elsa sampai kayak gini bisa gila gue lama-lama. Tepat saat Elang memberikan selebaran itu pada Elsa, dia menatap Elsa. Elang tidak juga melepaskan kertas itu bahkan sampai Elsa menariknya.
"Elang," suara Elsa cukup pelan karna dia tahan. "Lo kenapa sih?"
Seperti tersadar, Elang langsung melepas kertas itu dan melanjutkan tugasnya sampai selesai lalu dia kembali ke tempat duduknya. Satu tepukan lagi dia dapat dari Bagas. "Fokus bro. Ngelamunin Elsanya nanti aja." Bagas tertawa kecil mengejeknya.
Elang memukul pelan perut Bagas agar berhenti mengejeknya.
Berhenti memikirkan Elsa?? Kayaknya gue bener-bener gak bisa...