Pagi yang cerah dengan jalanan ibu kota yang padat dengan kendaraan. Terdapat satu keluarga dengan seorang anak gadis yang sangat cantik.
Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya ada satu kejadian yang di harus kan ayah dari gadis itu di penjara.
Setiap hari gadis itu mendapatkan bully di sekolah karena ayah nya yang berada di dalam penjara. Sampai akhirnya dia bertemu salah satu pria yang menemani dia saat semua orang menghinanya.
Pria itu sangat baik, tetapi dari kebaikan nya itu ada maksud tersendiri, sampai akhirnya gadis itu mengetahui apa maksud pria itu mendekati nya.
Sampai pada suatu hari ayah dari gadis itu akhir nya bebas dari tuntutan yang membuat gadis itu sangat senang, tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama gadis itu harus menuruti perkataan orang tuanya.
Dia harus menikah dengan seorang pria yang sudah di tentukan oleh orang tua nya, pria itu ternyata satu sekolah dengan dia dan bisa di bilang musuh nya sejak awal masuk sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
“ARGH!”
Aldi terkejut bukan main, Elfaro meringis kesakitan sambil memegang perutnya membuat mereka bingung.
“El loe enggak apa-apa?” Mereka di buat bingung, pasalnya mereka tidak pernah melihat Elfaro kesakitan hebat seperti itu.
Wajah tampan yang selalu menampilkan ekspresi datar itu kini terlihat sangat pucat. Seperti mayat hidup.
Tidak, Elfaro tidak mau terlihat lemah. Dengan menahan segala rasa sakitnya, ia maju menghampiri Fadil. Meraih jaket yang di gunakan lelaki itu dengan sangat kasar.
“BUGH!”
Satu pukulan di dapatkan Fadil. Fadil sampai melemas. Cairan merah mengalir deras dari hidung saking kuatnya pukulan Elfaro.
Tak puasa dengan itu Elfaro menatik lengan kiri Fadil. Menariknya dengan sangat kencang, lalu memutar tangan tersebut sampai 180° hingga terdengar bunyi patahan tulang.
“Agh sialan, sakit El sakit, ampun El...” ucap Fadil.
“Ahh sakit, berenti, cukup El”
Elfaro tersenyum sangat puas melihat keadaan Fadil saat ini. “Pergi!” ucap Elfaro sambil melepaskan Fadil “Sebelum gue patahin semua tangan loe sama kaki loe”
Saat itu juga dan detik itu juga Fadil langsung di bawa pergi oleh teman–temannya.
“HUH BANCI LOE!” Teriak Aldi sambil menendang motor salah satu geng Fadil. Tidak ada lagi perlawanan dari mereka.
“Makasih El.” Aldi menepuk pelan bahu Elfaro. Lelaki itu hanya mengangguk sebagai balasan.
Elfaro tidak akan membiarkan teman–temannya di pukulin apalagi di hina oleh orang lain. Menurut Elfaro itu adalah harga diri dalam kamus dia tidak ada kata kalah oleh siapapun.
Mengingat akan kondisinya, Elfaro merasakan perutnya semakin nyeri. Dia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. Matanya terpejam bersamaan dengan tubuhnya yang meluruh ke bawah di luar kendali. Sakitnya tidak bisa di jabarkan Elfaro menekan perutnya untuk mengurangi rasa nyeri.
“El loe kenapa? Loe kalau ada apa–apa cerita, muka loe pucat banget kayak mayat hidup,” pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Brandan.
Aldi mengangguk setuju dia tidak pernah melihat Elfaro selemah itu sebelumnya. “Loe kenapa El, loe sakit?”
Elfaro menggeleng kan kepalanya dengan cepat dia merasa tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasa sakit itu melumpuhkan nya membuat Elfaro merasa lemah. Dengan terbata–bata Elfaro membuka suara “Di anterin gue pulang bisa?”
“Bisa ayok kita ke rumah sakit dulu,” Aldi membantu Elfaro berdiri bersama Brandan.
“Enggak usah ke rumah sakit, gue enggak apa-apa” tolak Elfaro cepat.
“Tapi El....”
“Cepet!”
Tidak ada perlawanan dari Aldi dan Brandan. Mereka langsung buru – buru membawa Elfaro pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Aldi dan Brandan langsung mengetuk pintu rumah Elfaro sambil memapah Elfaro.
Tidak perlu menunggu lama pintu itu pun terbuka terdapat di sana seorang wanita yang kaget melihat Elfaro tidak berdaya. “Ya Allah El kamu kenapa?” tanya wanita itu.
“Tante tadi ada masalah di jalan sehingga Elfaro jadi seperti ini,” jelas Aldi.
“Ya sudah ayo cepat bawa masuk!”
Elfaro pun di tidurkan di ruang tv, asisten rumah tangganya langsung mengambilkan teh hangat agar nyeri yang di perut Elfaro sedikit menghilang.
“Mamah mau telepon papah dulu.”
“Enggak usah mah, El enggak papa kok cuman sedikit nyeri aja sebentar lagi juga hilang.”
“Kamu harus di bawa ke rumah sakit El.”
“Enggak perlu mah, El enggak apa-apa, El tinggal tidur juga nanti nyerinya hilang.”
Tidak lama Aldi dan Brendan berpamitan untuk pulang mereka memberi waktu Elfaro untuk beristirahat.
“Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya tan,” ucap Brandan.
“Oh iyaa, makasih ya udah mengantarkan Elfaro sampai rumah.”
“Iya tante sama–sama, El kita pamit dulu ya, lu cepet sembuh jangan sakit–sakit El.”
“Iya elah lebay loe berdua.”
Brandan dan Aldi pun pergi meninggal kan rumah Elfaro dan Elfaro pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat dan memilih untuk tertidur.
...****************...
Di kantin sekolah terdapat Adira, Ica dan Aliya sedang menikmati makanan dan minuman di sana. Tiba–tiba Arini datang langsung menyiramkan minuman dingin kepada Adira hingga menarik perhatian para siswa dan siswi.
“Brengsek loe, gara–gara cowok loe, Elfaro kena hukuman dari sekolah.” Arini menghardik setelah menyiramkan segelas jus jeruk kepada Adira.
“Apaan sih nggak jelas loe, ade kelas kurang ngajar,” marah Adira.
“Heh loe tuh jangan mentang–mentang kakak kelas bisa seenaknya aja ya, bilangin tuh ke cowok loe jangan sok jadi jagoan di sekolah deh mentang–mentang ketua Osis bisa seenaknya aja” Arini mencengkram keras dagu Adira.
“WOI ADE KELAS SINTING! MULUT LOE KALAU NGOMONG DI JAGA YA!” Ica membela. Dia langsung menarik Adira menjauh dari Arini.
“Loe gak usah ikut campur!” Dorong Arini kepada Ica agar menjauh.
“Ya jelas ikut campur dong, maksud loe apa tiba–tiba dateng nyiram temen gue?” Aliya angkat suara.
“Sialan dasar ade kelas enggak tau diri! Gue pikir loe ini orang yang sangat kalem, anggun, dan cerdas. Ternyata oh ternyata loe hanya sampah! Upsh! Keceplosan deh gue maaf ya, gue tau deh sekarang ternyata loe ini cuman kalem di depan Elfaro doang, loe enggak mau nunjukin sifat asli loe di depan dia kan, kenapa? Takut Elfaro kaget ya ngeliat sifat asli loe yang kayak sampah gini, gue jadi Elfaro sih malu bisa suka sama sampah!” ucap Adira pedas.
Menggeram marah, Arini melihat Adira dengan tatapan tajam. “Awas ya loe, gue ga takut sama loe!” ucap Arini meninggalkan Adira.
“Awas berapa meter? Loe pikir gue takut sama loe? Takut kok sama sampah takut tuh sama Tuhan, dasar bau,” ucap Adira sambil tertawa terbahak–bahak melihat kepergian Arini.
“Asli gue ga abis pikir ternyata sifat Arini kayak setan ya," ucap Aliya.
“Iya enggak banget ya, pick me anjir, semoga Elfaro tau lah,” samber Ica.
“Ya udah sih bukan urusan kita ini kan mau Elfaro tau atau enggak nya, ****** kalau di tutupin juga bakal tercium baunya, dan gue yakin pasti Elfaro bakalan cepat tau dan cepet nyium bau ****** itu kan Arini juga sampah udah bau makin bau tertimpa ******,” ucapan pedas keluar dari mulut Adira.
“Ya udah ih enggak usah ngomongin yang enggak penting, mending kita lanjut makan, loe gue pesenin minun lagi ya Dir”
“Enggak usah Ca, gue mau ke toilet bersihin baju gue, kalian lanjut makan aja enggak apa-apa”
“Ya udah kalau gitu, mau kita temenin enggak?”
“Ga usah Al gue bisa sendiri kok tenang aja.”
“Oke hati–hati ya, awas ketemu setan lagi.”
“Siap bos!”
Adira pun pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena siraman jus jeruk.
akhir nya setelah lama menunggu Dira sadar juga.