Sebenarnya apa salahku sehingga mereka sangat membenciku, bahkan dia tega memperkosa ku dan terus membuatku menderita.
Aku ingin ingin bertanya pada mereka, tapi aku sama sekali tidak punya keberanian. Apakah hidupku akan terus begini. Lalu, bagaimana dengan janin yang ada di kandunganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'm Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Rencana Kepulangan Ayah.
Xavier mengatakan jika ayah dan ibu tiriku, akan pulang lebih cepat dari yang di rencanakan. Untung saja luka di keningku sudah sembuh, dan bekas luka yang ada di sana juga sudah mulai memudar. Salep yang di berikan Xavier sangat manjur, untuk menghilangkan bekas luka. Harga salepnya juga pasti sangat mahal.
Ayah dan ibu tiriku, akan membawa teman mereka juga. Orang itu juga adalah rekan bisnis ayah, yang cukup berpengaruh. Dari sekarang aku sudah di peringatkan untuk menjaga sikap. Tidak boleh ada masalah, ini perintah mutlak dari mereka.
Sebenarnya aku tidak peduli, ayah akan pulang. Aku hanya orang asing di antara keluarga ini. Aku yang bodoh dan sangat penakut, bahkan tidak bisa pergi dari keluarga yang tidak menginginkan ku.
Sejak pagi para pekerja di rumah ini, sudah sibuk membersihkan setiap sudut rumah. Xavier memerintahkan mereka, jangan sampai ada yang terlewat. Untuk masalah kebersihan dia cukup rewel, tidak seperti masalah makanan.
"Ganti bajumu dan kita akan pergi," Kata Xavier yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
Aku yang hanya memakai handuk sangat kangen dan menutupi dadaku dengan tangan. Aku tidak tau Xavier akan masuk ke dalam kamarku.
"Gak usah di tutupi, gw udah liat semuanya," Xavier menatapku dengan tatapan celaan.
Aku hanya bisa tersenyum pahit, mendengar ucapan Xavier. Dia memang sudah melihat tubuhku, bukan hanya itu saja, dia sudah menikmatinya berulang kali. Mataku tiba-tiba perih dan berair, tidak lama lagi air mataku akan menetes.
Dadaku terasa sesak, nafasku juga terasa sangat berat. Ternyata hatiku masih sangat terluka akan peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.
"Dasar cengeng," Maki Xavier, lalu membanting pintu dengan keras! sebelum pergi dari kamarku.
Aku langsung bergegas Menganti baju, sebelum Xavier datang lagi. Ku coba memperbaiki suasana hatiku dengan berucap aku baik-baik saja, dalam hati tanpa henti.
Aku segera menghampiri Xavier. Ribi mengatakan jika Xavier sudah menunggu di mobilnya. Xavier bersandar di mobilnya, dia terlihat sempurna mengunakan kaos hitam dan celana denim hitamnya. Untuk orang lain dia terlihat sangat tampan, tapi untukku dia terlihat sangat menakutkan.
"Sampek kapan lo mau pelototin gw."
"Maaf kak."
"Udah gw bilang jangan minta maaf trus, gw muak. Sekarang masuk aja ke mobil."
"Baik kak."
Aku masuk ke dalam mobil Xavier dan duduk di sebelahnya. Dia menampilkan senyum kecil yang tidak akan di sadari jika tidak di perhatikan. Aku cukup sensitif pada perilaku Xavier, jadi aku menyadarinya. Jangan sampai dia merencanakan sesuatu untuk membuatku menderita.
Kami berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di kotaku. Aku jarang sekali ke sini, walaupun ayahku orang yang cukup kaya. Selama ini aku mendapatkan uang dengan mengajari anak-anak yang nilainya rendah. Setelah aku selesai sekolah, aku tidak lagi mendapatkan pemasukan. Untung saja aku memiliki tabungan.
"Ayo beli baju yang layak buat lo, jangan buat keluarga kita malu, dengan pakaian kayak gembel lo sekarang," Kata Xavier cukup menusuk jantungku, tapi itulah kenyataannya.
"Iya kak."
Xavier membawaku ke sebuah toko ternama dunia, aku sama sekali tidak menyangka dia mau melakukan hal ini. Tamu yang di bawa ayah pasti sangatlah penting.
"Ambil yang cocok sama lo, jangan lihat harga," Kata Xavier lalu duduk di sofa.
Aku melihat-lihat baju yang ada di toko ini. Harga satu baju saja butuh berbulan-bulan bagiku, untuk menabung. Orang kaya memang berbeda, tidak perlu khawatir akan uang.
"Harganya mahal, kalau tidak beli jangan pengang-pengang," Kata seorang penjaga toko sinis padaku. Aku yang memengang baju bewarna coklat itu langsung mengembalikannya pada tempat semula.
"Bangs*t," Maki Xavier di belakangku dengan marah.
"Jangankan buat beli baju ini, buat beli kepala lo aja gw lebih dari mampu," Katanya dengan rahang mengeras.
"Cepat panggil manager lo!" Teriak Xavier marah.
Pelayan itu terlihat ketakutan dan tubuhnya bergetar. Dia menatapku dengan tatapan menyesal.
"Gw bilang panggil manager lo! Bukan diam kayak orang tol*l!"
"Maaf.......... Saya benar-benar minta maaf," Kata penjaga toko itu padaku dan Xavier.
"Gw bilang panggil manager lo!"
Seorang laki-laki datang dengan terburu-buru dan menghampiri kami, dia melotot pada penjaga toko yang berkata sinis padaku. Wajah laki-laki laku itu berkeringat dan terlihat sangat malu.
"Maaf tuan dia penjaga toko baru. Dia tidak tau siapa tuan," Katanya pelan dan penuh dengan nada khawatir.
"Lo ajarin yang bener, kalau gak lo pecat aja!"
Pelayan toko perempuan yang bernama Caca sesudah menangis dan getar Aku menggenggam tangan Xavier, aku tidak ingin ini di perpanjang. Aku ingin mengatakan ya tapi tidak berani.
Xavier tidak berbicara lagi, dia mengambil baju baju dan melemparnya ke Caca dan manager toko ini. Mereka menangkapnya dengan bingung. Xavier terus melakukan hal itu, tidak peduli jika gantungan bagi itu mengenai wajah atau kepala mereka.
Xavier melihat menggelilingi toko itu, saat dia merasa baju yang di lihatnya cukup menarik dia akan mengambilnya dan lempar pada dua orang yang sama sekali tidak berani berbicara. Xavier hanya menatap dingin saat melihat, sang manager yang akan berbicara, sehingga laki-laki itu tidak berani lagi berbicara.
Xavier benar-benar tau cara membuat orang menderita. Dia terus menyusahkan ke dua orang ini. Aku hanya bisa mengikuti Xavier dari belakang.
Xavier mengambil semua barang yang ku perlukan, mulai dari tas sepatu dan baju. Xavier juga membeli beberapa jaket untukku dan semua itu di bawa oleh manager toko dan Caca.
Saat di kasirpun wajah Xavier biasa saja, melihat nominal yang harus di bayar untuk barang yang telah di pilihnya. Dia dengan enteng memberikan kartu kreditnya, yang membuat kasir tersenyum saat melihat kartu kredit itu. Aku tidak terlalu paham akan arti dari kartu kredit itu.
Setelah selesai belanja, Xavier memberi es krim untuk ku. Aku menerima dengan senang. Aku suka sekali es krim coklat.
"Lo segitu senangnya dapat es krim coklat. Bahkan lebih senang dari pada gw beliin baju mahal."
"Aku suka es krim," Kataku kecoplosan, semoga dia tidak mengamuk.
"Kalau lo bertingkah baik. Gw bakal beliin lagi," Kata Xavier, lalu mengelus rambutku pelan. Aku mengangguk, dan berterima kasih.
Xavier tersenyum puas, dan mengambil belanjaan yang ku bawa. Dia membiarkan ku menikmati es krim yang di belinya. Sesekali Xavier melirik padaku sambil terus berjalan. Hari ini Xavier baik sekali padaku. Dia membelaku, dan tidak ikut menindas ku, mungkin Xavier orang yang sedikit baik.
ngapain juga masih disitu...😡😡
hahahah