Senja Aprillia Farnanda, gadis cantik yang kerap kali dapat perlakuan tak pantas dari teman-temannya. Diumurnya yang masih sangat kecil, ia sudah merasakan perceraian orang tua dan tontonan tidak baik dari kedua orang tuanya yang bertengkar. Gadis itu menjadi pendiam, gelap dan selalu murung. Belum lagi saat ia harus menerima tekanan dari teman-temannya yang tak menyukainya.
Namun dari sisi hangat seorang anak lelaki yang menghibur, Senja dapat tersenyum kembali dan mulai melupakan kisah hidupnya yang kelam. Berselang saat ia mulai tenggelam dalam kisah persahabatan yang ia jalin bersama seorang anak lelaki itupun berakhir. Ibundanya meminta agar rumah pemberian ayahnya itu disewakan dan mereka pindah ke Bandung, semata-mata agar mereka melupakan kejadian tragis itu.
Langit Prasetya Prawiradinata, seorang anak lelaki yang tumbuh ceria semenjak kehadiran gadis kecil yang selalu menangis. Ia sangat menyayangi gadis itu, sebab karenanya ia menjadi pribadi yang lebih hangat dan ceria. Setelah sebelumnya ia ditinggal oleh orang tersayang, papanya.
Dibawah pohon rindang itu ia duduk dikursi taman yang biasa ia duduki bersama gadis kecil itu. Namun sampai jingga datang, Senja tak kunjung menampakan diri. Hingga ia pun pulang dengan perasaan hancur dan kecewa.
Berhari-hari ia datang mengunjungi taman itu. Sampai pohon rindang yang biasa menyejukan tempat itu, daun-daunnya telah menguning, melepaskan diri dari tempatnya bergantung dan akhirnya pasrah biar angin yang membawa daun- daun itu pergi. Sama halnya dengan Langit, tanggal di kalender itupun membawa Senja pergi.
Apakah mereka menyadari bahwa selama ini mereka dekat dan bertatap muka setiap hari?
Mau tau kenapa judulnya masa lalu dan takdirku? Ikuti alurnya ya? Semoga kalian suka😁
Since Des 2019📌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hani Aprilliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
...
...
Keringat bercucuran dari dahi Senja, gadis itu benar benar lihai memainkan bola basket. Setelah pemanasan, siswi yang mengikuti eskul tersebut ditanding. Sayangnya Lia tak termasuk tim Senja.
Senja mempermainkan bola basket itu di hadapan Lia. "Risna? Tangkap!" Ia pun melempar bola itu ke arah perempuan yang dipanggil. Bukannya tertangkap, bola itu malah mengenai kepala Risna.
Membuat Risna meringis kesakitan. Bola basket itu keluar lapangan dan pertandingan dihentikan sementara. Senja kelabakan melihat Risna yang terlihat kesakitan. "Duh, Ris! Maaf ya, gue gak sengaja."
Senja terus meminta maaf atas kesalahannya, ia merasa tak enak hati kepada Risna. Sebab ia tahu bagaimana rasanya tertimpa bola basket sakitnya seperti apa.
"Eh Senja! Risna tadi belum siap, kenapa lo malah lempar ke dia?" omel Tiara yang sembari memegangi temannya, Risna.
"Udah Ti, gue gak apa-apa kok," kata Risna memegangi kepalanya.
Senja menunduk setelah Risna bicara bahwa ia tidak apa-apa. Namun Senja masih dengan rasa bersalahnya. "Maaf, gue gak sengaja Ris."
"Udah ganti Safira aja!" Senja tegak, kata-kata itu benar benar menyayat hatinya.
Tiara memanggil Safira. "Fir sini!" Yang dipanggil pun menghampiri kumpulan siswi itu.
"Eh lo gak bisa kaya gini dong! Emang lo siapa main ganti-ganti orang?" Lia tersulut emosi setelah Tiara mengambil tindakan.
"Udah Li..." kata Senja menenangkan sahabatnya yang termometer emosinya itu tengah naik.
"Gue pulang aja.." sambungnya.
"Enggak! Eh Tiara!" Lia yang langsung menarik lengan Tiara dan membuatnya berhadapan dengan Lia.
"Apa? Hah?" Tiara dengan matanya yang menatap Lia tajam.
Lia semakin kesal ketika Tiara menatapnya begitu. "Lo itu.." Lia menjambak Tiara yang kemudian mereka jambak-jambakan.
Hanya Senja dan Risna yang mencoba melerai.
"Lo yang mulai DULUAN!" kata Lia teriak.
"Tiara, Lia udah!" Risna mencoba melerai keduanya.
"Cewek cupu itu yang DULUAN!" teriak Tiara yang membuat hati Senja perih.
"CUKUP!" pekik Senja yang kemudian mereka benar-benar berhenti.
"Gue keluar!" Senja menyerah dan langsung menuju tasnya dan pergi keluar lapangan.
Lia melakukan hal yang sama. Kemudian ia mengejar Senja yang berlari menuju lokernya dan berniat mengganti baju olahraganya dengan baju seragam.
"Senja, lo mau kemana? Kan latihannya belum beres. Lo mau ditegur sama pak Hendra?!" Senja menutup lokernya kemudian menatap Lia.
"Gue cuma gak mau nyari ribut Li," kata Senja, meninggalkan Lia.
Lia tahu Senja marah kepadanya. Ia tak henti-hentinya membujuk Senja yang tak kunjung keluar dari salah satu bilik toilet. "Senja, lo marah ya sama gue?" tanya Lia.
"Hiks.. Hiks.." tak ada jawaban, hanya suara tangis yang terdengar.
"Eh, lo nangis ya? Please Senja, jangan nangis, gue minta maaf." Lia takut dan tak bisa mendengar temannya itu menangis.
"Gue mau sendiri!" Suara menggema itu milik Senja.
Lia menghembuskan nafas pasrah. "Yaudah gue pulang duluan. Lo pulang hati-hati."
Lia pun meninggalkan toilet. Sedangkan Senja masih sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Tiara. Ia berpikir bahwa selama ini hidupnya tak jauh dari bullyan.
"Kenapa selalu ada orang yang gak suka ke gue?" batin Senja menangis.
****
Sudah hampir tiga jam Arif, Falah dan Eri mencari keberadaan Langit. Mereka bahkan sudah mencari ke rumah lelaki itu, namun masih belum terlihat batang hidungnya. Ketiga sahabat itu pun memilih untuk ke rumah keduanya Langit.
Eri yang sedari tadi diam itu pun membuka suara. "Lo sih langsung cabut aja, kita kan belum nyari di kamar jenazah," katanya yang kemudian mendapat jitakkan dibagian kepala.
"Lo doain Langit meninggal?" tanya Arif.
"Ya.. eng, nggak. Bukan gitu maksud gue.." Eri gugup. Eri hanya meminta agar jangan salahkan dirinya, salahkan pemikirannya yang tak berhenti memikirkan Langit berada di kamar jenazah.
Arif dan Falah berdecak. Bagaimana bisa pemikiran Eri sampai sejauh itu?
Tring
Notifikasi muncul dari ponsel Arif. "Langit ya Rif?" tanya Eri semangat.
"Bukan, cewek gue."
Falah dan Eri kembali mengerucutkan bibirnya. Kenapa bukan Langit saja, kenapa harus Lia? Jiwa mereka menginginkan begitu. Namun Falah selalu berpikir jika Langit baik-baik saja.
^^^14.45^^^
Lianiku❤
Rif? Kamu belum pulang?
^^^Udah kok sayang^^^
Jangan bohong! Aku lagi di samping mobil kamu nih.
Arif memukul dahinya sendiri. Ia lupa bahwa mobilnya masih ada disekolah. "Gue balik ke sekolah dulu, lo berdua tunggu disini," ucap Arif berlari keluar rumah.
"Eh Rif! Jangan lupa tas gue," teriak Falah.
"Jangan lupa tas gue juga." Eri berteriak.
****
Senja keluar dari toilet dengan mata yang sembab. Ia berjalan sempoyongan menuju parkiran, berjalan dengan tatapan kosong ke depan. Yang ada dipikirannya hanyalah kata Cupu cupu dan cupu.
Lia terfokus pada ponselnya, sampai tak menyadari Senja lewat dan mengambil sepedanya. Senja yang melihat Lia dari kejauhan itupun hanya diam, tak ingin menyapa Lia untuk saat ini. Karena ia benar-benar hanya ingin sendirian.
"Arif mana sih? Lama banget," ujar Lia bermonolog.
Arif turun dari motor ojek online yang dipesannya, kemudian menghampiri Lia yang menunggunya kesal.
"Hai.." sapa Arif kepada Lia.
"Rif, lama banget sih!" tegur Lia dengan bibir cemberutnya, mengundang Arif untuk mencolek dagunya.
"Aku minta maaf deh. Udah dong ngambeknya, nanti cantiknya ilang," goda Arif. "Eh iya, Senja kenapa? Kok dia kaya abis nangis?" sambungnya. Arif memang berpapasan di gerbang dengan Senja.
"Loh kok kamu tau? Senja 'kan belum keluar?" tanyanya bingung.
"Orang Senja keluar gerbang barusan."
"Yah, aku gak liat dia tadi. Senja marah sama aku kayanya Rif." Lia kembali mengerucutkan bibirnya.
"Masalah?" tanya Arif dengan alis terangkat satu.
Lia pun menceritakan kejadian tadi kepada Arif. "Jadi, tadi aku berantem sama Tiara karena Senja.."
Arif hanya mengangguk-anggukan kepalanya untuk meladeni setiap ucapan Lia. "Yaudah nanti kamu minta maaf sama Senja."
"Hm, iya Rif." Lia dengan nada tak semangat.
"Kamu tunggu disini, aku ke kelas bentar!" kata Arif berlari menuju kelasnya.
"Loh Rif?" teriak Lia kemudian berdecak.
****
Senja melajukan sepedanya sedang. Ia masih dengan tatapan kosong, membuatnya tak fokus pada jalanan. Ia pun berhenti setelah sepedanya hampir menabrak seseorang didekat taman.
"Maaf Pak, maaf," ungkap Senja pada Bapak-Bapak yang hampir ditabraknya.
Bapak itu pun terus mengoceh. "Kalau naik sepeda itu pake mata! Bla bla bla."
Sedangkan Senja terus menetralnya jantungnya untuk tidak menerima setiap perkataan bapak itu.
Setelah bapak itu meninggalkannya. Ia pun kembali mengayuh sepedanya menuju taman, untuk menenangkan diri sebentar. Karena hari ini adalah hari yang sial baginya.
Saat menuju bangku favoritnya, ia sudah keduluan oleh seseorang yang memakai jaket kulit.
Siapa dia?
...****...
...🔱...
Kasihan guru nya,pasti capek dan bosen lihat mereka telat Mulu
eh salah kagak masuk nominasi
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih