Melihat dua orang wanita yang sangat dia cintai didepannya meninggal, serta Kakak laki-laki yang selalu bersama dengannya sejak kecil. Kemudian, di susul oleh kedua Papanya. Dengan ketiga adik kecilnya yang diikat dengan kejam di pondasi baja, membuat darah Arsen mendidih, sejak itu hatinya di penuhi dengan dendam.
Bertahun-tahun Arsen mencari pria yang tega membunuh keluarganya. Akan tetapi, sangat sulit, walaupun berkali-kali dia hampir menangkapnya. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seorang gadis yang mirip dengan wanita yang dia cintai berada di samping pembunuh itu.
Bisakah Arsen membalaskan dendamnya, atau terjebak dengan dendamnya sendiri, terjebak pesona gadis itu?
Yuk, baca kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dengan Zean
Di daerah lain. Seorang pemuda tampan yang memiliki rambut pirang bergelombang, tengah mengais-ngais tong sampah mencari sisa makanan.
“Uh, akirnya aku mendapatkan sepotong roti!” serunya senang. Sebuah roti yang seperempatnya sudah di makan oleh orang lain. Dia memakan lahap roti sisa itu.
Dia berjalan sambil memegang tenggerokongannya karena tercekik, makan roti buru-buru, jadi sia butuh air minum.
“Air, aku butuh air!” Dia kepayahan, berlari dari tong sampah satu ke tong sampah lain, mencari botol minuman yang menyisakan minuman.
“Uh!” Dia sangat tercekik.
“Ini, kau mau minum?” Sebuah tangan mengulurkan pria itu sebotol air minum segar.
Dia menoleh sekilas dengan cepat, meraih minuman itu, dan meminumnya sampai kerongkongan dia lega.
“Aaaahh!” Dia menghabiskan lebih dari setengah air minum di dalam botol itu.
“Kau Zean Chiano Dimitri 'kan?” kata Pria yang memberikan minuman itu menatap pria yang mengais tong sampah tadi.
“K-kau siapa?” Zean terbata.
“Aku? Aku–” Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan. “Aku temannya Abraham dan Cleo, kau masih ingat?” ujarnya.
“Genius di kampus Italia?” tanya Zean menatap pria itu dari atas hingga bawah. “Ardhen?” lanjutnya lagi.
“Sssst, iya. Akan tetapi, tak usah memanggilku Ardhen, kau bisa memanggilku Dhenny sekarang.” Ardhen menarik tangan Zean. “Lama tidak bertemu, aku mencari-cari sosial mediamu,” tutur Ardhen.
“Maaf, aku tidak bisa membantumu, kehidupanku berantakan,” ujar Zean.
“Tidak masalah, tetapi, aku bisa memasak makanan enak, kau bisa mencicipi makananku seperti biasanya, ayo!” Ardhen tersenyum.
“Apa kau memperhatikan aku mengais sampah sejak tadi?” selidik Zean curiga, Ardhen mengangguk. “Hm, tapi ... apa kau melakukan operasi wajah? Wajahmu berubah, jika aku tidak memperhatikannya dengan detail, aku akan mengira kau orang lain, Dhen!” ucap Zean.
“Ya, begitulah. Ayo, istriku sudah menunggu sejak tadi, aku tidak ingin dia kesal karena menunggu kita lama!" sahut Ardhen.
“Kau sudah menikah? Ya ampun, jangan bilang kau operasi wajah, demi istrimu! Padahal wajahmu sangat rupawan, wajah lamamu lebih natural dari pada sekarang terlihat umum dan biasa saja,” protes Zean. Ardhen hanya tersenyum saja mendengar.
“Sayang, kok–” Haizum menghentikan ucapannya, tadinya dia mau protes pada Ardhen.
“Sayang, kenalkan, ini teman lamaku, dia Zean,” ucap Ardhen. Haizum melihat pria itu dari atas hingga bawah.
Zean yang di pandangi merasa tak nyaman, penampilannya yang lusuh, badannya yang bau karena mengais sampah sejak tadi. Haizum mengatupkan kedua tangannya ke arah Zean.
“Hai, salam kenal, saya Haizum,” ucap Haizum.
“Ayo, aku sewa rumah di sekitar sini!” Ardhen membawa Zean ke kontrakannya.
***
“Sayang, kamu duluan beresin kontrakan kita, kamar tamu dan pakaian aku untuk dia ya, aku mau beli sayuran dulu di mini market!” kata Ardhen pada istrinya.
“Baiklah.” Haizum mengangguk saat mereka tiba dipersimpangan ke kontrakannya dengan minimarket.
“Kamu mau belanja Dhen?” tanya Zean.
“Iya, ayo!” sahut Ardhen.
“Enggak Dhen, aku tunggu di sini aja ya!” Zean menyadari kondisinya.
Ardhen tampak berpikir lama. “Baik, tapi kamu jangan kemana-mana, aku sengaja berbelanja untuk menjamu dan memamerkan kamu makananku!” ancam Ardhen.
“Iya, aku akan tunggi di sini!” balas Zean.
Tak lama, Ardhen membawa belanjaan tiga kantong penuh. Zean membantu Ardhen yang kepayahan membawa barang belanjaan itu. Mereka berdua membawa barang belanjaan pulang.
“Nah, ini kamar tamu untuk kamu, ini baju, kamu mandi biar segar, sekaligus aku juga mau beres-beres nih! Mau masak, biar kita makan besar!” ucap Ardhen meletakkan belanjanya dan menarik tangan Zean ke kamar tamu.
“Tapi ... Dhen,” gumam Zean pelan.
“Tidak apa-apa, istriku pasti juga senang, di sini aku punya teman, kita bisa mengobrol kisah kita satu sama lain 'kan?” Ardhen tersenyum, Zean pun mengangguk dan patuh masuk ke kamar tamu untuk membersihkan dirinya.
Semoga dia bisa segera bebas dari Johan..
Btw Jay jealous tuh, calon istrinya diganggu cwo lain..
Arsen tidak akan berhenti sampai dendamnya terbalaskan..