Kavinder Sarfaraz Natapraja, semua orang mengenalnya sebagai pria tampan dan kaya raya. Kehidupan Kavin tak pernah lepas dari media dan para wanita yang selalu mengincarnya. Menginjak umur dua puluh tujuh tahun, Kavin selalu dipaksa oleh sang ibu untuk segera memiliki seorang istri. Namun Kavin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Menikah? Kavin tidak berpikiran sampai sejauh itu. Pokok utamanya saat ini hanya terus mengembangkan perusahaannya agar semakin jaya dan sukses. Namun, siapalah yang mampu melawan kehendak takdir yang Tuhan berikan. Di kemudian hari, Kavin dihadapkan pada satu kenyataan di mana dia harus menikahi seorang gadis belia yang umurnya terpaut cukup jauh. Ternyata gadis tersebut adalah pilihan orang tuanya.
Akankah Kavin menerima gadis yang bahkan tidak dia kenal untuk menjadi istrinya? Dan mungkinkah cinta tumbuh diantara keduanya?
cerita murni dari haluan author. cerita kedua aku, batu voting y guys❤️
MLW@JANUARI 2022
Ovie Nur'Aisyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovie NurAisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Dianterin
Happy reading♡
Setelah acara makan malam selesai, Ashel sudah pamit untuk pulang namun Sarah terus menahannya dengan berbagai alasan.
Sebenarnya Ashel sudah mengantuk sejak tadi, namun Rafello terus terusan mengajaknya ribut.
Kavin yang juga ikut bergabung dengan mereka sedari tadi memperhatikan Ashel. Namun Ashel menghiraukannya.
"Tante, aku pulang ya. Udah ngantuk banget," ucap Ashel
"Kayaknya kamu kecapean banget ya? Padahal tante masih mau ngobrol ngobrol sama kamu," ucapnya.
"Sudahlah ma. kasian dia," ucap Faraz, suami Sarah.
"Ya sudah tapi kamu pulang diantar Kavin ya. Tante takut kamu kenapa napa apalagi kamu kayaknya ngantuk banget," ucap Sarah.
"Gak usah tan, aku bawa mobil biar aku pulang sendiri aja. Gak papa ko," tolak Ashel.
"Gak boleh! Kamu harus nurut Ashel. Ini demi kebaikan kamu," ucap Sarah.
"Biar Fello aja ma yang anter dia. Bang Kavin kan sibuk sama kerjaannya." Rafello yang sedari tadi diam kini menawarkan diri.
"Gak. Yang ada nanti kalian ribut terus dimobil," tolak Sarah.
Ashel hanya menatap mereka. Ia sudah sangat mengantuk. Rasanya juga sangat lelah. Padahal tadi di sekolah ia tidak banyak kegiatan.
"Jadi Ashel pulangnya kapan?" Tanya Ashel saat Sarah dan Rafello tidak menghentikan percakapan mereka.
"Ayo lo gue anter," ucap Rafello.
"Biar abang aja," ucap Kavin. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya setelah diam sejak tadi.
Ashel melihat ke arahnya. Ia tersenyum saat mendengar suara Kavin. Jujur saja sejak tadi ia sangat ingin mendengar suara Kavin.
"Nice. Kamu hati hati di jalannya," ucap Sarah.
"Titip mobil grandpa ya tan," ucap Ashel memberikan kunci mobil pada Sarah.
"Ashel pamit dulu semuanya. Makasih jamuannya," ucap Ashel kemudian ia keluar dari dalam rumah itu diikuti oleh Kavin.
Ashel pun berhenti saat sudah sampai di pintu depan.
"Mobilnya yang mana?" Tanya Ashel. Sedangkan Kavin tak menjawabnya dan berjalan mendahului Ashel.
Ashel pun berkacak pinggang. "kalo di tanya itu ya jawab. Hargain yang nanya."
Sedangkan di dalam rumah, Sarah dan yang lainnya sudah memasuki kamar mereka. Sedari tadi Sarah terus terusan tersenyum.
"Kenapa sih ma?" Tanya Faraz.
"Gak kenapa napa. Mama bahagia aja malam ini," ucapnya.
Faraz hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
***
Di perjalan menuju ke rumah Ashel, Kavin terus terusan diam meskipun Ashel sudah mulai bertanya padanya.
"Orang mah kalo di tanya ya di jawab. Ini malah dicuekin," gumam Ashel.
"Kayanya ahlaknnya ketinggalan di rahim."
"Baru kali ini nemu manusia modelan es batu kayak dia."
"Cakep sih, tapi percuma kalo gue tanya aja kagak di jawab."
Ashel sedari tai terus terusan bergumam. Ia kesal. Sebab ia tidak pernah di cueki seperti ini.
Akhirnya ia pun diam. Perjalanan menuju ke rumahnya pun masih cukup jauh. Lama lama, ia kembali mengantuk. Tak sadar, ia pun tertidur.
Kavin melirik ke arah Ashel. Ternyata anak itu sudah tertidur. Sebenarnya sejak tadi Kavin mendengar gumaman gadis ini namun ia menghiraukannya. Ia lebih memilih diam daripada harus berbicara dengan gadis ini.
Dari beberapa meter, gerbang rumah Ashel sudah terlihat. Kavin menekan klakson mobil kemudian gerbang pun dibuka oleh satpam yang berjaga.
Sedangkan Ningrat sudah berdiri di luar sejak tadi dengan ditemani suaminya, Prabu. Ia sungguh gelisah karena cucunya belum kunjung pulang.
Ningrat menghentikan langkahnya yang mondar mandir tak jelas saat mobil hitam berhenti di depan pintu rumahnya.
Kavin keluar dari dalam mobilnya kemudian memberi salam kepada Ningrat dan Prabu.
"Loh, nak Kavin kenapa kamu kesini? Tumben," ucap Ningrat.
"Iya, saya disuruh mama mengantar cucu kalian."
"Bukannya dia bawa mobil ya?" Tanya Prabu.
"Iya memang, tapi mama meminta saya mengantarkannya. Lagi pula di perjalanan tadi dia tertidur," ucap Kavin.
"Terus dia masih tidur?" Tanya Ningrat. Kavin pun menganggukan kepalanya. Ia pun membuka pintu mobil sebelah dimana Ashel berada. Dan nampaklah Ashel yang tengah tertidur pulas.
"Astaga," ucap Ningrat saat melihat wajah cucunya yang tengah tertidur dengan wajah yang damai.
"Boleh kan kalo saya suruh kamu buat angkat cucu saya ke dalam?" Tanya Prabu.
"Boleh." Ia pun mengangkat tubuh Ashel ke dalam pangkuannya dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ningrat, sedangkan Prabu memilih duduk di ruang tengah melanjutkan koran bacaannya.
Kavin berjalan menuju ke kamar atas dimana kamar Ashel berada. Tiba tiba, Ashel terus terusan menggerakan kepalanya mencari kenyamanan. Tangannya pun tidak tinggal diam, ia mengusap ngusap dada Kavin yang terbalut kemeja berwarna hitam. Lama lama, tangan Ashel merambat ke leher Kavin.
Kavin dibuat merinding oleh sentuhan itu. Nafasnya menjadi tidak teratur. Jakunnya pun naik turun sejak tadi.
"Ini kamarnya," ucap Ningrat kemudian membuka pintu kamar Ashel. Kavin pun masuk dan menurunkan Ashel perlahan dari pangkuannya.
Setelah Ashel tertidur di kasurnya, Kavin pun hendak bangun namun tiba tiba tangan Ashel memeluk lehernya alhasil Kavin terjatuh tepat ke dada Ashel.
Ningrat yang melihat itu pun hanya menutup mulutnya kemudian menahan tawanya.
"Ngghhh," lenguh Ashel.
Sial!
Bisa bisanya gadis ini bertingkah seperti ini. Kabin sedari tadi mengumpat di dalam hatinya. Ia pun berusaha melepaskan pelukan gadis itu. Wajahnya sudah memerah sejak ia ditarik untuk dipeluk gadis ini.
Dan sialnya wajahnya jatuh tepat di depan dada Ashel. Jantung Kavin berpacu cepat.
Beruntung gadis ini melepaskan pelukannya dan Kavin pun terbebas. Setelahnya ia pun keluar dari kamar Ashel dan langsung berpamitan pulang.
Prabu dan Ningrat sempat menahannya untum sekedar minum teh atau kopi sebagai ucapan terimakasih mereka pada Kavin karena telah mengantarkan cucu mereka. Namun Kavin menolaknya dengan alasan sudah malam dan ia masih memiliki beberapa pekerjaan.
Kavin terus memukul stir mobilnya. Tiba tiba saja ia terus terusan terbayang bayang wajah gadis itu. Apalagi suara gadis itu yang melenguh terngiang ngiang oleh Kavin.
"Sialan. Bisa bisanya," umpatnya. Entah mengapa tubuhnya menjadi panas dingin. Ia pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera sampai di rumahnya.
***
Deru mobil terdengar dari arah garasi. Kavin pun mematikan mesin mobilnya dan langsung masuk ke dalam lift untuk cepat sampai di lantai atas dimana kamarnya berada.
Saat keluar dari dalam lift di rumahnya, ia dikejutkan dengan suara mamanya.
"Mama ngagetin aja," ucap Kavin.
"Hah? Tumben kamu kaget biasanya juga enggak," ucap Sarah namun dihiraukan Kavin. Sarah memperhatikan raut wajah anaknya. Seperti ada yang aneh.
"Kamu kenapa? Kok mukanya merah? Sampe telinga lagi?" Tanya Sarah.
"Gak papa," ucapnya
"Nafas kamu juga kok berat? Wah jangan jangan," ucap Sarah tertawa. Namun Kavin menghirauknnya dan pergi meninggalkan mamanya.
tbc.
part selanjutnya bikin saia malu kack✋️👍
lanjut thor semangat terussss