NovelToon NovelToon
Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Petualangan / Patahhati / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:108.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: ilewaing

Afraza Humairah adalah seorang gadis cantik berhijab yang suka berpetualang. Namun, karena sebuah lamaran semua itu akan pergi dari hidupnya. Awalnya dia mati-matian menolak di jodohkan. Namun lucunya, setelah melihat lelaki itu dia malah terpesona dengan manik mata cokelatnya yang meneduhkan dan juga senyum manis sehangat mentari itu.

Dia malah terjebak dalam kebimbangan hati, Terima atau Tidak? Tapi akhirnya pilihan itupun jatuh pada menyetujui lamaran itu dengan memberi dua syarat.

"Pertama, aku minta surah An-Nisa sebagai mahar pernikahan. Dan yang kedua, aku minta hapalan 30 juz Al-Quran setelah kita menikah. Itu saja, apa kamu sanggup?"

Dan akhirnya pernikahan itu terjadi. tidak semulus semestinya, karena teka-teki cinta masa lalunya mulai terbongkar dan membuat kisah rumah tangganya merumit.


Penulis Asli : @ilewaing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilewaing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : KAKAK IPAR

Pagi yang begitu cerah. Matahari menyembul dari balik tirai dan menerpa wajah sepasang manusia yang tengah asik saling berdiam diri. Cerianya sang mentari pagi terlihat dari senyum super kilaunya, sangat berbeda dengan sepasang insan yang tak menampakkan segaris senyum sama sekali. Datar. Kamar nampak begitu sunyi tak ada suara.

Yah, Afra dan Ziran persis seperti robot hidup.

Sejak kemarin hanya Afra yang terus berbicara, berbuat ulah agar mendapat teguran, atau mengoceh tidak jelas sampai berteriak frustasi karena di diamkan sang pujaan hati. Sayangnya, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Ziran. Jika ingin mengatakan sesuatu dia akan mengirimnya lewat pesan, tidak akan bicara dengan mulut.

Akibatnya, pagi ini Afra sedikit lelah menghadapi tingkah Suaminya. Namun dia tidak melupakan kewajibannya sebagai istri, dengan fokus dan telaten memasangkan dasi ke kerah baju Ziran. Merapikan setiap sisi pakaian Suaminya yang kurang rapi, menepuk-nepuk baju itu seperti menghilangkan debu yang menempel di sana. Afra begitu perhatian.

Setelah selesai, dia berjalan mengambil ponselnya di atas nakas dan mengetik sesuatu di sana.

Dring.

Bunyi notifikasi pertanda ada pesan yang masuk di ponsel Ziran. Lelaki itu berjalan ke arah tempat tidur dan mengambil ponselnya.

"Makanan sudah aku siapkan di meja makan, jangan lupa teh-nya di minum, Suamiku."

Afra ikut-ikutan tidak ingin bicara juga, sebab di pikirnya itu hanya akan buang-buang tenaga. Buktinya kemarin, dia layak di sebut orang gila berteriak-teriak sendiri di dalam kamar mandi karena frustasinya membujuk Ziran berhenti marah. Sayangnya, Ziran malah tetap acuh padanya.

"Aku mau mandi, kamu turulah ke bawah dan segera habiskan sarapanmu. Jangan lupa masukkan bekal makan siangmu ke dalam tas!"

layaknya seorang ibu yang memberi peratian pada anaknya, Afra selalu memperhatikan hal-hal kecil pada Ziran. Sejak dia sah menjadi Istri, dia bukan sosok Afra yang dulu lagi. Dulu Afra selalu di manja, di bantu, di bimbing dan di berikan perhatian kasih sayang dari sosok Uminya, sekarang dialah yang akan melakukan itu semua pada Suaminya. Meski belum terbiasa, dia belajar terbiasa karena itu kewajiban seorang istri, kan?

Tring ting.

Pesan dari Ziran telah masuk.

"Iya istriku bawel."

Afra mengangkat pandangan melirik Ziran di belakangnya dan tersenyum geli. Kalau kalian tahu, sejak kemarin dia sudah menyandang nama itu. Dia suka Ziran mengatakan dia bawel, setiap wanita memang bawel kalau urusan rumah tangga dan menyangkut hal yang dia rasa sangat berharga, kan?

"Tunggu aku di bawah. Aku akan turun 10 menit lagi."

Setelah pesannya di baca oleh Suaminya. Dia melihat Ziran maju ke arahnya dan memeluk erat dirinya.

Sudah aku katakan, kan. Ziran memang tidak mau berbicara padaku, tapi soal memberi perhatian manis itu terus berlaku, meski tak mengubar kata romantis. Afra terkekeh pelan dan balas memeluk suaminya.

Pelukan itu terlepas dan Ziran melenggang hendak pergi keluar kamar.

Tring ting.

"Jangan lama-lama, Istriku!"

Afra membaca Pesan itu seiring tubuh Ziran yang telah tertelan di pintu kamar. Afra kembali sendiri dalam ruangan luas itu. Napasnya berat, ingatan perkelahian Ziran dan Kiki kemarin belum lekas hilang dari pikirannya.

Masih menjadi teka-teki tentang kata-kata kedua orang itu, entah sadar atau tidak semua itu menggangunya. Selalu berputar-putar di pelupuk mata, hingga saat terpejam pun masih nampak jelas membuatnya hanya tidur beberapa jam saja.

"Apa aku harus mencari tau? Sebenarnya siapa Alki Kihalmid itu? Apa Ziran dan Kiki orang yang saling mengenal? Ah, itu sudah pasti. Jelas sekali kata-kata kemarin menjadi bukti autentiknya. Ucapan Kiki yang akan merebutnya dari Ziran itu, membuatku takut. Tidak, aku telah mencintai Suamiku, aku tidak mau ada yang memisahkan aku darinya. Tidak, aku tidak mau!" Afra menggeleng cepat men-delate ucapan di luar estimasinya tadi.

"Benar. Aku tidak mau ada orang yang menggangu keluarga kecilku. Apalagi ingin membuat hubunganku dan Ziran memburuk. Itu tidak boleh terjadi! Tidak penting siapa itu kiki. Lupakan itu, Afra! Kamu telah bersuami dan bukankah cintamu telah sepenuhnya untuk Ziran, lelaki dengan banyak pengorbanan mendapatkanmu? Jangan buat cerita ini semakin sulit!" Kali ini Afra berbicara pada batinnya.

Afra memijit keningnya berharap rasa nyeri yang tiba-tiba mendera kepalanya menghilang.

"Aku harus menjauhi, Kiki!"

Itulah keputusan Final dari Afra. Paling tepat adalah mengindar sebelum rumah tangganya hancur.

***

"Ah, ternyata akan sesunyi ini di tinggal sendiri di rumah. Eh, enggak juga. Kan, ada mbok Wu dan pak Eno. Huff ..., tapi mereka super sibuk." Afra duduk malas di sofa ruang tamu sambil menopang dagu di tangan.

ini baru saja beberapa menit dia masuk ke dalam rumah setelah mengantar sang suami hingga di teras depan saat hendak pergi bekerja.

Tring ting.

Afra langsung duduk tegak saat bunyi notif ponselnya terdengar nyaring dalam ruangan tamu yang sepi. Di ambilnya benda yang di letakkan di meja tamu, tepat di hadapannya.

Afra melongo membaca satu persatu pesan yang masuk. "Ya Allah, ini amanah atau hukuman?" Yah, Ziran baru saja mengirimkan pesan berupa amanah seorang Suami untuk istrinya.

Pertama, tidak boleh ke luar rumah, ternyata dugaan pertama Afra benar.

kedua, jangan telfonan dan SMS-an sama lelaki yang bukan mahrom, ini memang harus Afra hindari.

ketiga, jangan pikirkan lelaki lain, mana berani dia.

keempat, jangan kerja berat kalau mau apa-apa minta sama Mbok Wu saja, yang benar saja, ini istri di ajarkan malas atau apa?

Dan yang terakhir, kalau mau melakukan sesuatu Izin dulu. Serius ini? Jadi ke kamar mandi harus izin juga?

Afra mengetuk-ngetuk ponselnya ke kepala. Amanah itu membuat dirinya tambah sakit kepala. Jadi apa yang akan dia lakukan di rumah? Bisa-bisa dia mati bosan tidak melakukan apa-apa!

Ting nong

Afra tersadar ketika Bel rumah berbunyi pertanda ada tamu yang datang. Mbok Wu datang tergesa-gesa dari dapur rumah ingin membuka pintu, segera Afra memanggil Mbok Wu untuk menghentikannya.

Mbok Wu berbalik dan tersenyum pada Afra. "Iya, Non?"

Afra membalas senyum itu. "Biar aku saja yang buka pintunya, Mbok."

"Baik, Non. Kalau begitu saya permisi ke belakang lanjutin pekerjaan lagi." Afra mengangguk tersenyum dan Mbok Wu lekas pergi dari hadapannya.

Ting nong

Kembali bel rumah berbunyi. Afra bergegas ke pintu untuk membukanya. Setelah membuka pintu, terlihatlah sosok wanita dewasa dengan senyum cantik di wajahnya, rambut cokelat lurus sepunggungnya melambai-lambai di terpa angin.

Beberapa detik Afra terpaku melihat wanita itu.

"Hai, Assalamualaikum Adik Ipar!" Sapa wanita itu riang. Terlewat ceria sampai wanita itu langsung meloncat memeluk Afra.

Afra terkejut bukan main. Setelah beberapa detik, pelukan itu akhirnya di lepas juga oleh wanita itu.

Siapa wanita ini? Aku belum pernah melihatnya sekalipun. Tapi, tadi dia memanggilku adik ipar? Oh, apa dia ini kakak Ziran? Batin Afra bertanya-tanya.

"Wa-waalaikumsalam, Kak." Nanti saja penasarannya. "Eh, ayo masuk kak, gak baik berdiri di depan pintu."

Wanita itu masih saja tersenyum, terlewat senang sampai wajah itu berseri-seri. "Oh iya. Ayo cepat, aku mau bicara banyak denganmu, Adik Ipar."

Lebih dulu tangan Afra yang di tarik masuk ke rumah oleh wanita itu. Afra mengikuti saja tanpa protes. Mereka telah sampai di ruang tamu.

"Kakak tunggu sebentar, yah." Afra hendak beranjak pergi ke dapur.

"Loh, mau kemana?" Namun di tahan oleh wanita yang menyebutnya adik ipar itu.

"Buatin minum, Kak. Hehe .... " Afra cengengasan menjawab.

"Ah, nggak usah. Kakak gak haus, mending kita duduk saja." Wanita itu kembali membawa Afra untuk duduk di sofa bersampingan. Tangan Afra di genggam kemudian beralih memegang kedua pundak Afra. "Kamu pasti bingung Kakak siapa, kan?"

Tebakan yang tepat.

Afra tersenyum malu memilih menunduk. "Maaf, Kak."

Wajah wanita itu melempeng, "Eh, kok minta maaf. Salah, seharusnya Kakak yang minta maaf, datang-datang gak perkenalkan diri dulu, langsung meluk lagi. Hehe..., saking senangnya jadi gitu, deh. Maaf ya."

Bibir Afra mengerut lucu. Ternyata wanita ini cukup cerewet dan sangat aktif. Selalu tersenyum, bersikap ramah, dan cepat sekali akrab. "Nggak pa-pa, Kak. Maaf ya kak, nama kakak siapa?"

Wanita itu gemas mencubit pipi Afra. "Zanira, panggil saja Kak Zani, oke. Pasti nama kamu Afra, kan?" Tebak wanita itu. Dan senyumnya makin melebar saat Afra mengangguk.

"Waktu pernikahanmu dan Ziran, kakak minta maaf ya, gak sempat datang karena waktu itu kakak ada di luar negri lagi rancang baju untuk ajang lomba Fashion show di Belanda, jadi Kakak baru bisa pulang kesini dan ketemu kamu hari ini." Raut wajahnya menjadi sedih.

Pantas saja aku baru melihatnya. Kak zani adalah orang yang sibuk dengan pekerjaan sebagai seorang desainer model. Afra berbicara pada hatinya.

"Ini gara-gara adik kakak tuh, Si Ziran. Kebelet banget cepat-cepat mau nikah. kan pernikahan Realnya sebulan lagi dan Kakak sudah atur jadwal untuk bisa pulang, tapi yah, pernikahan kalian malah di majukan. Sebal Kakak jadinya." Zanira menggerutu sambil menyentakkan kaki ke lantai.

Ternyata benar, mereka berdua kakak beradik. Kak Zanira adalah Kakak Iparnya. Beruntungnya punya kakak ipar seperti kak Zani, dia sosok yang ceria, ramah, dan sangat bersahbat. Afra bersyukur dalam hati.

"Hehe ..., gak pa-pa kok, Kak Zani. Aku senang sekarang bisa bertemu dengan kakak ipar." Afra tersenyum lembut. "Kakak Ipar butuh sesuatu?"

Zanira menghembuskan napas dan menggeleng. Dia menempelkan telapak tangan kanannya ke pipi sang Adik Ipar. "Kamu gadis baik, pastas saja Ziran ingin cepat-cepat menikahimu. Dia takut nanti kamu di ambil orang lain." Zanira mengusap pelan pipi Afra.

"Gimana Ziran ke kamu? Anak itu gak buat kamu naik darah, kan? "

Afra mematung mendapat pertanyaan itu. Apa yang harus dia katakan? Afra pun tersenyum kecut tidak tau menjawab apa?

Dan tingkah Afra barusan langsung mendapat tatapan selidik dari Kakak Iparnya, Zanira. "Kalian sedang berantem?"

Afra makin mati kutu. Tebakan itu seratus persen benar. Zanira orang yang sangat-sangat peka.

"Oh, jadi benar? Baru beberapa hari menikah sudah ada saja masalah. Huh, membangun rumah tangga itu ternyata ribet, ya." Zanira menepuk jidatnya cukup keras. "Kakak tau Ziran kalau marah pasti gak mau bicara. Apa dia juga seperti itu sekarang?" Tanya Zanira pada Afra.

"Iya, Kak." Berat rasanya membagi beban pada orang lain. Afra sebenarnya ingin menyesesaikan sendiri masalahnya dan Ziran, tapi sepertinya saudara kandung suaminya lebih mengerti bagaimana sifat adiknya di bandingkan dirinya yang baru beberapa hari menjadi istri Ziran.

"Gak pa-pa, Kak. Nanti semua akan kembali seperti semula."

"Eh ..., jangan seperti itu dong, Afra. lama nunggunya kalau ingin dia bicara lagi. Mau kakak bantu?"

Tawaran itu nampak menarik, tapi Afra kembali berpikir apa tidak masalah?

"Kakak akan bantu kembalikan Ziran yang cerewet seperti awal kali kamu kenal dia. Mau, kan?" Kembali lagi penawaran itu di ajukan Zanira.

Afra menimbang-nimbang sebelum membuat keputusan. Diapun berdehem panjang. "Mau, kak." Afra menyetujui setelah banyak pertimbangan.

Saking senangnya Zanira bertepuk tangan. Adik Iparnya menerima tawarannya. "Bagus, kalau begitu kamu harus bantu Kakak, oke?"

Lagi-lagi Afra mengangguk.

Zanira tersenyum mistis penuh misteri.

"Aku sudah punya rencana!"

-To Be Continue-

1
Habibi Desi
IGD x Thor
klo ICU utk pasien sekarat yg udh ditangani terlebih dahulu dr ruang IGD
Habibi Desi
Aamiin : kabulkan y Allah
tlg penulisan kt aminn ny sebuah y othor
linda lidiawatidewi
pas baca dialognya Dinda eh seketika suara kak Ros terngiang di telinga aku 😁
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉

ijin promo thor 🍿🍿🍿


jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",

kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿


jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
Uswatun Khasanah
tmn baik y bner2.jebak suami afra. Dan nabrak Lari afra blm sadat. nusuk dri belakang. dasae Gila km Faraday. org blm jofoh. Dan ga cinta afra y gmn lg.
Neng Ukhib
wah ada sangkutnya dgn kiki ini
Lew: xixi tebakan Anda benar.
total 1 replies
KARISMA ROJANAH
alhamdulilaj udah ending .
makasih author udah buat karya yang bgs
trs berkarya
salampembaca.
KARISMA ROJANAH: sama sama autor kesukaan
total 2 replies
Bilkis😉
2 like aku ucapkan semngat kak
Yayuk SKom
kok tdk update update
Bintun Arief
boomlike mendarat 💕
Yuan78_
rasanya blm bs move on ,move on baca cerita yg 1 ini😍😍😁
HIATUS
Semangat kk... Aku mampir lagi💪 salam sayang dari (Kisah masa kecilku) 💕
Di tunggu like nya juga 😘👍👍
Ajmi
sukses thor
yuliashafira14
Hadir
Nununa07
💪💪💪💪💪💪
A. Nusantari
keren bet visualnya
A. Nusantari
Semangat terus dalam berkarya ya Thor
that's great
A. Nusantari
semangat Thor
HIATUS
next kk, ditunggu kelanjutan nya🌷
semngat!💪😊
n@nn!!!chiang
kenapa sih ga sampe hamil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!