“Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada.”
Hampir dua tahun Danzel menyendiri tak memiliki kekasih setelah wanitanya direbut dengan licik oleh pria lain. Padahal, orang tuanya terus mendesak untuk segera menikah hingga berusaha mengenalkan para wanita cantik kepadanya. Tapi, tak ada satu pun yang memikat hatinya.
Namun, siapa sangka, jika rasa kagum kepada sekretaris barunya membuatnya terpikat pada wanita yang memiliki nasib malang itu. Ia akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa.
Danzel berusaha memikat orang yang dia taksir dengan mengambil hati putri dari wanita tersebut. Namanya hidup, tak ada yang sesuai keinginan. Sekretaris yang dia kira janda, ternyata masih memiliki suami.
Haruskah dia menjadi perebut istri orang agar cintanya tak gagal seperti dahulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Alcie menatap tajam pada anak kandungnya agar Aldrich takut dengannya. Dan terbukti dari bocah itu yang menunduk dengan wajah yang ditekuk seperti hendak menangis.
“He, anak narapidana! Dengar, aku bukan lagi mommymu! Dan jangan pernah panggil aku mommy lagi! Aku tak sudi!” Alcie meninggalkan toyoran di kening anak kecil itu. Hinnga kepala Aldrich terhuyung ke belakang.
Hal tersebut membuat Gwen geram dan meraih tangan Alcie dengan sorot matanya yang tajam. “Jika kau tak menyukainya, maka jangan lukai hatinya!” tegurnya penuh penekanan. Ia sedikit memutar pergelangan tangan Alcie untuk memberikan balasan karena sudah kasar dengan anak tirinya.
“Aw ... aw ... sakit! Lepas, Gwen!” Alcie menepuk tangan wanita yang melukainya agar melepaskan cengkraman.
Melihat selingkuhan suaminya merintih, Gwen baru melepaskan tangannya. Bisa-bisa dia mematahkan tulang wanita medusa itu jika diteruskan. “Semoga lelaki kaya yang akan menikahimu sadar jika kau tak layak menjadi seorang ibu!” doanya. “Aldrich, ayo kita pergi.” Ia memutar tubuh dan melangkah menjauhi rumah Alcie.
Sementara itu, Alcie Glee melotot dan melemparkan sandalnya ke arah Gwen. “Sialan! Kau menyumpahiku agar priaku tak mau menikah denganku?!” umpatnya.
Dan Gwen hanya membalas dengan kedikan bahu. Ia kian menjauh.
Aldrich yang berada digendongan Gwen masih sesegukan menangis. Dia sakit hati karena dibentak dan diperlakukan kasar oleh orang tuanya sendiri. “Mommy jahat,” celotehnya.
Gwen berusaha menenangkan anak tirinya dengan mengelus rambut halus dan pendek itu. “Tidak, Aldrich. Mommymu hanya sedang lelah.” Ia berusaha membalas dengan kalimat yang tak menjelekkan Alcie. Sebab, mau bagaimanapun wanita medusa itu adalah orang tua kandung dari anak tirinya. Dia tak mau membuat Aldrich membenci Alcie Glee.
“Aku tidak mau bertemu mommy lagi!” pinta Aldrich. Dia melingkarkan tangan di leher Gwen, membenamkan kepalanya di pundak yang tak terlalu lebar itu.
“Tidak boleh seperti itu, oke? Dia tetap mommymu, orang yang melahirkanmu, bertaruh nyawanya untuk membawamu menghirup udara segar di dunia ini.” Lagi-lagi Gwen menasehati Aldrich. Dia memposisikan sebagai orang tua yang tentunya tak ingin jika dibenci oleh anak kandung sendiri, sehingga dia tak mau menanamkan hal buruk pada bocah kecil itu.
Aldrich tak lagi berceloteh, membuat Gwen menengok ke kanan di mana anak tirinya tengah bersandar di bahunya. “Ternyata sudah tidur, pasti lelah setelah menangis,” gumamnya.
Gwen pun menaiki kereta lagi untuk menuju restoran khas eropa tempatnya bekerja menjadi pelayan. Sesekali dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan dia hanya bisa menghembuskan napas pasrah ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh yang artinya sudah lewat tiga puluh menit dari jam dia seharusnya mulai bekerja.
Gwen masuk ke dalam restoran melewati pintu belakang. Dia langsung menghadap manajer yang bertugas mengelola di sana. “Maaf, aku terlambat.” Kepalanya sedikit menunduk untuk memperlihatkan bahwa dia merasa bersalah sudah tak tepat waktu.
“Ck! Lain kali jangan diulangi,” tegur manajer itu. Matanya menangkap sosok mungil yang berada di gendongan Gwen. “Kenapa kau membawa anak ke sini? Bukankah sudah ku katakan tak boleh membawa anak!” omelnya.
“Maaf, aku tak bisa meninggalkannya di rumah sendirian,” balas Gwen mencoba menjelaskan situasinya.
Lagi-lagi manajer perempuan itu berdecak. “Jangan sampai dia mengganggu aktivitas kerjamu! Jika sampai hal itu terjadi, akan ku pecat kau!”
“Baik.” Gwen hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tak berani membantah karena sadar betul dengan posisinya yang hanya seorang pelayan biasa.
sama kayak yg aku alami
yg lamar aku kakaknya adeknya jd supir nya waktu itu
tapiii yg nikahi aku dan jodoh ku adeknya
hidup selucu ituu😀😀
laki² terbaik