Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Jalan pikiranmu bisa merubah indahnya keadaan menjadi buruk... Atau sebaliknya...
Maka, jernihkanlah pikiranmu dengan cara mrnjernihkan hatimu
______________________________________
"Maksudku dia bertemu dan bersama siapa saat di supermarket tadi?" tanya Oma yang benar-benar menahan rasa geramnya. Ia tidak mau main-main menyangkut cucu kesayangannya. Apapun pasti akan ia lakukan demi kebahagiaan cucunya. Terdengar cukup egois memang.
Rahmat kembali bertanya-tanya didalam hatinya, entah apa yang membuat majikannya terlihat marah seperti ini. "Tapi nyonya, Aina tidak diapa-apakan sama dia kok," Rahmat tampak menunduk takut saat melihat majikannya kembali melotot kearahnya.
Oma hanya bisa pasrah sambil menarik napasnya dengan perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya yang menggila karena ingin meledak karena saking emosinya. Ia menepuk jidatnya, merasa heran dengan sopirnya ini, yang ditanya apa, eh yang dijawab malah apa. Tidak nyambung sama sekali. Oma ingin membuka mulutnya sebelum Rahmat menyelenya terlebih dahulu.
"Sebenarnya non Aina sedang bersama seseorang Nyonya, saat saya sudah datang kesana. Dan dia juga sedang tertidur pulas dalam pangkuan wanita itu, maksud saya non Rika, Nyonya." Rahmat mencicit diujung kalimatnya saat ia kelepasan menyebutkan nama Rika, ia memberanikan dirinya mengangkat kepalanya saat dirasanya kemarahan Oma sudah mereda.
Seketika Sam menghentikan ketikannya pada laptopnya, ia tampak terdiam setelah mendengar keterangan dari sopirnya. Sejak perdebatan pertama mereka tadi, ia memang sudah memperhatikan mereka, terlebih lagi saat ibunya mengungkit soal Aina yang keluar rumah tanpa sepengetahuannya.
"Apa kamu tahu dimana rumahnya?" tanya Oma lagi, namun kali ini terdengar dengan nama yang lebih lembut.
Rahmat meneguk ludahnya kasar, ia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan nona Ainanya setelah mereka pulang tadi, hingga tuannya ini begitu ingin tahunya tentang semua informasi mengenai wanita itu. Yang ia tahu, Rika memperlakukan Aina dengan sangat lembut. Oma kembali melotot saat melihat Rahmat yang tampak berpikir lambat.
"Iya. Saya tau nyonya. Kebetulan sekali saat itu dia membawa banyak belanjaan. Jadi saya merasa kasian dan memintanya agar mau ikut bersama saya. Awalnya ia menolak, tapi saya memaksanya ditambah lagi dengan pelukan Aina yang semakin mengerat dan tidak mau dilepaskan," ucap Rahmat dengan cepat.
"Bagus! nanti kamu jemput dia dan bawa kesini!" perintah Oma.
Rahmat tampak kembali bingung, apakah benar kalau ada sesuatu yang salah. Namun ia tetap mengangguk dan mengiyakan permintaan nyonyanya. Kali ini ia tidak ingin terlalu pusing memikirkannya.
"Iya nyonya, besok pagi akan saya jemput," putusnya.
"Sekarang kamu boleh kembali ketempat kerjamu."
"Baik Nyonya."
Oma menatap kearah anaknya yang sejak tadi hanya diam saja. Bahkan ia terlihat menatap kosong kearah laptopnya. Oma tersenyum tipis melihat hal tersebut, ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sam, anaknya tersebut.
"Sam, mama hanya ingin mempertemukan Aina dengan wanita yang dimaksud olehnya. Bukan untuk menjodohkanmu. Kamu tenang saja, sebentar lagi Aina akan bertemu mamanya," ucap Oma dengan penuh penekanan diujung kalimatnya. Ia berharap agar si Kepala Batu dapat tersindir dengan ucapannya. Oma menepuk bahu Sam dan berdiri dari sana meninggalkan Sam yang tetap seperti posisi awalnya. Ia ingin menghampiri cucunya yang sudah berada diruang makan.
Sam hanya menatap kearah punggung wanita yang sudah melahirkannya itu, dan ia hanya bungkam dibuatnya. Sam tahu kalau ibunya sedang menyindirnya dengan kata-kata yang penuh penekanan seperti tadi. Bahkan wanita itu tidak pernah bosan untuk mencarikannya wanita dan selalu berusaha menjodohkannya dengan banyak wanita diluaran sana. Sebenarnya ia tidak mau melakukan semua itu karena ia merasa lebih nyaman dengan keadaannya yang sekarang. Namun setelah mengingat Aina yang menginginkan sosok seorang ibu, ia terpaksa menyetujui ide gila mamanya tersebut. Namun lebih beruntungnya lagi, Aina selalu menolak setiap kandidat yang diajukan oleh ibunya. Entah apa yang menjadi alasannya.
Tapi ia akan memikirkan kembali semua itu, mengingat Aina yang benar-benar menginginkan seorang sosok ibu untuknya, hingga ia berani mengklaim wanita asing sebagai ibunya dan itupun terjadi dalam pertemuan pertama mereka. Ia hanya takut kalau Aina hanya akan dijahati oleh seseorang ataupun orang yang mempunyai niat salah padanya, apalagi setelah tahu tentang keluarganya. Ia benar-benar menganggap orang asing itu sebagai mamanya, padahal Sam sudah berulang kali memperlihatkan foto ibunya Aina dan juga menceritakan tentang ibunya secara berulang-ulang pada Aina tanpa rasa bosan sekalipun.
***
Angga menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya, istrinya tengah sibuk berkutat dengan masakannya didapur. Bahkan ia terlihat biasa saja, seolah-olah tidak ada masalah yang dihadapinya. Benar-benar seorang perempuan yang sangat pandai mengatur emosinya, sehingga ia pantas dihadiahi bintang 5 untuknya. Tapi itu pantas untuknya, karena aktingnya sangat pas dengan kelakuan bejatnya dimasa lalu. Dan juga, lihatlah! masakannya sangat banyak bahkan berbagai menu kesukaan Angga sudah terhidang memenuhi meja makan mereka. Apakah ia sedang merayakan sesuatu yang mungkin saja sudah terlupakan oleh Angga, Angga berusaha untuk mengingatnya.
"Mas Angga, ayo duduk disini. Aku sudah menyiapkan semua makanan kesukaan mas Angga," Rika menatap kearah pintu pembatas dapur dan ruang tengah saat Angga melongokkan kepalanya, ia tidak mendengar sama sekali suara langkah Angga yang memasuki rumah. Rika mengumbar senyum manisnya saat matanya bersinggungan dengan mata Angga yang sejak tadi tidak pernah bisa melepaskan pandangannya pada sosok wanita yang terlihat sibuk dihadapannya ini. Ia hanya mengatup bibirnya rapat sambil berjalan mengikuti arahan Rika yang menuntunnya dengan lembut kearah kursi yang dimaksud oleh istrinya.
"Tunggu disini dulu, aku buatkan kopi untukmu dulu. Kamu pasti sangat lelah," senyum Rika tetap merekah dibibir merahnya. Membuat Angga merutuki dirinya yang tampak canggung karenanya. Ia menatap punggung Rika yang tampak menjauhinya, Rika melayaninya dengan sangat baik, sama seperti hari-hari biasanya. Ia benar-benar terlihat baik-baik saja, apakah yang dikatakan oleh Asra benar sehingga semua itu tidak mempengaruhi sikap Rika sama sekali. Ia tampak mulai meragukan itu. Tapi bukankah berita itu selalu 100% akurat.
Angga tampak dibuatnya melongo karenanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan suasana hati perempuan. Istrinya ini benar-benar pandai berakting. Seharusnya istrinya tidak bersikap begini, seharusnya ia sangat sedih karena dipecat. Bukannya seperti ini, seolah-olah pemecatan dirinya bukanlah momok yang menakutkan. Ada apa dengan istrinya ini.
Bukan ini yang ingin dilihatnya pertama kali saat memasuki rumah, tapi ia menginginkan ekspresi kesedihan yang terpancar dari wajah istrinya. Apa dia sangat bahagia karena kedatangan Angga. Baiklah kalau itu yang akan membuatnya bahagia, maka besok dia akan menghancurkan kebahagian istrinya itu. Namun, ia juga merasa ragu dengan opininya sekarang, pasti ada sebab lain selain opini pertamanya.
"Ada apa denganmu, sepertinya kamu sangat bahagia hari ini? Apa kamu baru saja mendapatkan bonus dari kantormu?" tanya Angga yang sudah menguasai emosinya saat Rika sudah berjalan kearahnya. Ia pura-pura tidak tahu dengan masalah yang dihadapi oleh istrinya dan memasang wajah seperti biasa.
"Tidak kok, Mas. Ini lebih dari sekedar bonus," jawab Rika yang sudah meletakkan segelas kopi hangat kehadapan suaminya.
"Apa!?" tanya Angga yang sedikit penasaran. Bukan sedikit, tapi sangat penasaran hingga benaknya hanya di penuhi oleh sikap Rika yang tidak seperti yang dibayangkannya, perempuan ini penuh dengan teka teki dan tidak bisa ditebak. Ia berusaha mengintip ekspresi wajah Rika. Namun yang didapatnya, wanita ini bersikap biasa saja, dan terlihat tenang. Dan jangan lupakan senyum merekah yang terus terukir dibibirnya sejak tadi yang membuat Angga geram melihatnya.
•
•
*********
**Ma'af ya lama upnya 🙏🙏
Soalnya Author sedang ada kendala di dunia nyata 😊😊
Jangan lupa like n commentnya ya**
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot