NovelToon NovelToon
OTW Salihah

OTW Salihah

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nela Kurniaty Idris

Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.

Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya

Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.

Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".

Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.

Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LITTLE GIRAFFE

TAP JEMPOL KALIAN DULU SEBELUM BACA YA TEMEN-TEMEN. PLISS

***

Dengan sisa tenaga yang ada, Bening sampai di anak tangga terakhir dan terkulai lemas disana. Bening tak punya tenaga lagi.

Dari balik vas bunga besar yang berdiri disamping tangga, Bening dapat melihat dengan jelas komplotan lelaki yang tadi membawanya kesini.

Seketika kekuatan Bening seperti dipaksa terisi kembali, karena ketakutan yang luar biasa. Andai tertangkap kembali, dia tak mungkin bisa melarikan diri lagi. Tiba-tiba saja Bening mendengar suara getaran yang berasal dari ponsel yang ada di saku celana yang masih dibawanya.

Bening lupa membuang pakaian itu, tapi ini bagus karena ponsel di penjahat ternyata masih di saku celananya. Bening mengambil ponsel itu, sepertinya sebuah panggilan masuk dari si lelaki yang ada di sini.

Bening menuliskan suatu pesan dan mengirimkan ke nomor asal panggilan. Seketika, laki-laki yang ada di hadapannya membaca pesan itu dan segera masuk ke lift yang tidak jauh dari sana. Sekiranya sudah dipastikan laki-laki itu dibawa lift naik ke atas, Bening keluar dari persembunyian dengan terseok-seok.

Diluar sedang gemuruh, petir dan hujan sangat lebat. Suara petir menyambar-nyambar di angkasa. Bening terpaku di depan pintu kaca besar hotel itu. Selain tak bertenaga, kini dia ketakutan hebat. Dia harus tetap menerjang badai atau kembali tertangkap.

Dia menadah telapak tangannya, tak lupa membuang baju hitam itu ke tempat sampah disana dan berlari kencang keluar dari perkarangan hotel itu.

Lebatnya hujan yang turun mampu menyamarkan air mata. Tak ada yang tau dia sedang menangis. Sambil tetap berlari sekencang-kencangnya. Kini suara dentuman di atas sana sudah lebih bersahabat di telinga.

Bening berdiri menanti jalanan sepi karena dia akan menyebrang. Terlalu banyak kendaraan lalu-lalang. Lampu-lampu jalan menyilaukan pandangannya. Yang ada dalam benak Bening saat ini adalah pelukan mami yang hangat.

Tubuh Bening yang hampir limbung tiba-tiba terasa seperti kembali tersengat saat dia merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhhny erat dari belakang.

"Toloooong... toloong... lepaaaaas, lepasin aku lepas..Mami tolong aku mi, toloongin Bening mi" Teriaknya sambil berusaha melepaskan rengkuhan itu sekuat tenaga.

"Ning, Bening...ini aku Ning, buka mata mu, ini aku Bern. Aku bersama mu Ning"

Bern memutar badan Bening kini berhadapan dengan tubuhnya, dirinya memeluk tubuh Bening dengan sangat kencang, bisa dirasakanya tubuh itu sangat dingin dan bergetar.

"Bening, buka mata mu. Ini aku. Ayo kita pergi dari sini!"

"B..b...bern? BERN!!!" Bening berteriak kencang saat memastikan tubuh besar yang mendekap badannya adalah Bern "Bern, ayo kita pergi dari sini Bern, ayo Bern sebelum mereka melihat kita. Bawa...bawa aku pergi dari sini" Ucap Bening kalut.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Bern mengangkat tubuh Bening menerjang hujan lebat menyebrang jalan menuju mobilnya. Bening membenamkan wajahnya ke dada Bern seakan tak punya keberanian lagi melihat dunia.

"Bening" Bern mengusap kepala Bening yang masih mendekap di dadanya "Bening kamu kedinginan parah, kamu bisa hipotermia. Aku antar kamu pulang ya"

"Aku, aku ga apa-apa Bern. Bawa aku pergi dari sini, aku, aku gabisa pulang kerumah dulu sekarang."

"Ning, apa kamu bisa ceritakan yang terjadi?"

Bening menggeleng-gelengkan kepalanya dalam dekapan Bern. Dia rasanya tak sanggup untuk kembali membayangkan hal buruk yang hampir menimpa dirinya.

Bening menyerahkan sebuah ponsel pada Bern. Bern meminta Mr.Stuart memeriksanya. Tak butuh waktu lama, Mr.Stuart sudah bisa menjelaskan rangkaian kejadian yang Bening alami berdasarkan catatan panggilan, pesan dan foto yang ada di ponsel itu.

Rahang Bern mengeras, dia tak menyangka yang ada di balik semua ini adalah Lilya. Bagaimana bisa seorang pelajar dan remaja dari keluarga terpandang bisa berfikir kotor dan melakukan semua ini hanya demi sebuah kontes.

"Segera proses Lilya dan orang tuanya!" Pinta Bern pada Mr.Stuart.

"Bern, cukup Bern!" Bening melepaskan pelukannya.

"Ning, ini kriminalitas. Ini pelecehan dan tindakan asusila. Kita gak boleh diam. Sama aja kita melindungi kejahatan namanya."

"Bern, Lilya dan keluarganya bukan orang biasa. Kalau hari ini kita balas dia, bukan gak mungkin kedepannya dia akan melakukan lebih dari ini. Hari ini aku bisa selamatkan diri, itu udah cukup. Aku gak mau tinggal disini lagi Bern, aku mau pergi, bawa aku pergi dari sini!"

Bern kembali memeluk Bening, mungkin malam ini Lilya akan lepas dari jerat hukum. Tapi Bern tidak akan membiarkannya begitu saja. Lilya harus mendapatkan jatahnya.

"Kita pulang ke rumah mami ya?"

Bening kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini dengan emosi yang dikeluarkan seluruhnya, Bening menangis menceritakan ketakutan dan kekecewaanya saat melihat jelmaan mami Sandra dalam wujud boneka. Air mata Bening cukup menggambarkan kehancuran hatinya. Bern bisa merasakan hal yang sama.

Ada sedikit sesal di dalam hati, karena dia merasa mengabaikan Bening akhir-akhir ini dikarenakan kesibukannya.

"Aku disini sekarang, kamu tenang ya. Kamu akan keluar dari sini, tapi kita tetap harus bicara sama Mami Sandra."

Mobil mereka berhenti tepat di depan kediaman Bening. Mami sandra tampak menyusuri koridor sekitar rumahnya membawa payung. Saat mobil Bern berhenti di depan halaman rumahnya. Dia segera berlari dan menunggu Bern keluar dari sana.

"Bening?" Mami Sandra langsung mendekap tubuh puteri kecilnya. Dia hampir kehilangan akal saat tidak menemukan Bening dimana-mana.

Mami Sandra sudah mencoba menghubungi kepolisian namun laporannya baru dapat di proses dan Bening baru bisa dikatakan hilang setelah 24 jam. jangankan 24 jam, 2 jam dalam keadaan begini saja jantungnya bisa benar-benar berhenti berdetak.

Bening hanya diam, tak membalas pelukan sang mami. Entah apa yang dia rasakan sekarang.

"Ning, Maafin mami..." Mami Sandra tak mampu lagi menahan tangisnya.

"Tante sebaiknya kita masuk dulu, Bening harus mengganti pakaiannya, kalau gak Bening bisa demam."

Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Bening masih takut melihat sisa-sisa plastik kemasan paket besar itu. Namun dia segera membersihkan diri dan berganti pakaian kering.

Sementara Bening berada di dalam, Bern menceritakan kejadian yang baru saja menimpa diri Bening. Sandra tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Dia tak bisa membayangkan jika seandainya orang-orang jahat itu berhasil merenggut masa depan Bening, Sandra mungkin akan benar-benar mengakhiri hidupnya.

"Sejak awal tante sudah tau hal seperti ini lambat laun pasti akan terjadi jika Bening masih disini."

"Tante, maaf. Kita sama-sama tau lingkungan ini bukan lagi tidak baik, tapi sudah sangat berbahaya dan mengancam jiwa Bening. Sewaktu-waktu bukan tidak mungkin ini akan terulang kembali."

"Apa yang harus tante lakukan Bern? tante belum bisa keluar dari sini, setidaknya satu atau dua pekan lagi."

"Tante percaya sama Bern kan? Bening akan aman bersama Bern. Izinkan Bern membawanya pergi sementara ke tempat yang lebih aman dan Tante bisa menyusulnya nanti. Tante bisa pegang ini," Bern meberikan asli kartu identitas miliknya "Bern gak bisa janji pake apa-apa lagi. Tapi Bern akan berusaha memastikan Bening aman disana nanti"

Sandra mengambil kartu itu dan memikirkan perkataan Bern. Dirinya tentu tak sanggup jauh dari Bening. Tapi sampai dia menyelesaikan urusannya, Bening memang akan lebih aman berada jauh darinya. Toh setelah urusannya selesai, dia akan segera menyusul Bening.

Bening keluar dengan tas besar yang berisi seragam sekolah dan beberapa keperluan pribadinya. Sandra berdiri, berjalan menghampiri anaknya sambil menangis memeluk Bening.

"Maafin mami Ning, mami gak nyangka kita akan keluar dari sini dengan cara seperti ini."

Bening melepaskan jinjingan di tangan dan memeluk erat Maminya. Dia tak mampu lagi mengeluarkan satu patah kata pun. Hujan dan angin kencang diluar sana mungkin cukup menjadi representasi perasaan Ibu dan anak ini.

Mr.Stuart segera mengambil tas besar yang tergeletak di lantai dan menunggu di depan.

"All is well Tante, Trust me ! ini cuma masalah waktu."

Sandra mengangguk, menatap Iba kepergian Bening yang dipayungi Bern menuruni tangga hingga masuk ke dalam mobil.

Sandra masuk ke dalam dan menyudut di atas kasurnya. Dia melihat boneka jerapah yang tergeletak di atas selimut berwarna biru. Sandra mengambil boneka kecil kesayangan Bening itu dan memeluk menangisi kepergian Bening dan mengutuk kebodohan dirinya atas semua yang terjadi dalam hidup puterinya.

Tiba-tiba Sandra mendengar derap langkah kecil masuk ke rumah dan membuka pintu kamar yang hampir roboh itu.

"Ning..." Suara Sandra lirih, dia berdiri menghampiri Bening yang berdiri di depan pintu "Kamu gak jadi pergi Ning? Kamu gak jadi ninggalin Mami?" Masih menatap Bening berdiri.

"Boneka jerapah aku, mi." Bening berjalan menghampiri Mami Sandra. Ternyata dia hampir meninggalkan si jerapah teman tidurnya.

Mami Sandra melihat nanar Bening mengambil boneka itu dari pelukannya. Namun kemudian Bening memeluk erat Maminya.

"Aku sayang mami."

"Dan mami mencintai mu lebih dari nyawa mami sendiri. Mami akan segera menyusul mu. Take care"

"Kalau gitu jangan sedih lagi, Aku bisa jaga diri mi." Menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi Maminya.

Lalu dia benar-benar pergi melangkah keluar dari rumah itu, Walau belum tau kemana Bern akan membawanya. Setidaknya malam ini dia bisa menenangkan diri dari ketakutan mendalam pasca kejadian yang hampir merenggut satu-satunya harta paling berharga miliknya.

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

1
Endriani
nah benar iqbar kan suami humai
Endriani
iqbal suami hmay kan ya
Endriani
ben anak viona sebelum sama samuel sepeeti nyq
She_Rha🍁
Ning I'm coming dari masa depan /Chuckle/
Lina M.
Masyaallah,, sebuah cara kembali pada-Nya yang senantiasa dirindukan setiap manusia di dunia 😊
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
may
Panitia hari kiamat😭apaan lagi ini
may
Tersesat kelamin😭ya ampun ngakak sekaleee akuuu🤣
may
Mas ahmad cemburu?
may
jadi.....
bern kakanya bening? 😯
nana's Apel
ternyata ini karya dah lama & aku baru baca di Januari 2025
Siti Hany
jd ilfil sma bening... kabor💃💃💃
Siti Hany
rasakan kmu bening gmn sakit gk ya sakit lh pasti... karma d byr kontan
Siti Hany
aku ikutan sedih Bern.,.. sabar ya msh bnyk Bening² laen d luarn sana
Siti Hany
gw jd gedek sma lo bening... 😡😡
Siti Hany
thor ko tega bngt sih kmu sma Bern😭😭😭
Siti Hany
kejutan bngt ni author 😤
Siti Hany
tegang thor🤭
Siti Hany
😂😂😂😂
Rosida maghrib
sedihhh banget gx kebayang kehilangan pasangan hidup selamanya
Rosida maghrib
part paling sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!