Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJALANKAN MISI DENGAN TERPAKSA
Pelangi masih bertahan pada posisinya, bahkan saat Gisel telah berlalu dari hadapannya. Wanita cantik berhati batu itu tidak menanggapi apa yang dilakukan oleh Pelangi. Padahal untuk melakukan apa yang Gisel inginkan, Pelangi harus menahan malu setengah mati, karena menjadi bahan tontonan oleh para pengunjung hotel. Sejak tadi, Pelangi berusaha menahan air matanya dan menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk serendah mungkin.
Kemudian, sebuah tangan menyentuh lengannya dengan lembut, ia tahu jika tangan itu pastilah milik Gilang. Gilang memintanya untuk bangkit dan menuntunnya menuju sebuah sedan mewah yang telah menunggu mereka.
Setelah duduk dengan nyaman di dalam sedan mewah itu, barulah Pelangi berani mendongak untuk menatap Gilang. Air matanya yang memenuhi sepasang mata sendunya pun ikut jatuh bersamaan dengan tatapan yang ia lempar ke arah pria tampan itu.
"Aku sudah berusaha, Pak, semoga dia tidak marah padamu lagi," ujar Pelangi, dengan suara lirih.
Gilang meremas tangannya yang ia letakan di atas pangkuan, berusaha setengah mati agar tangan miliknya itu tidak merayap ke wajah cantik Pelangi untuk mengusap kristal bening di kedua pipi gadis itu, atau menarik Pelangi ke dalam pelukannya agar gadis itu merasa sedikit tenang.
"Seharusnya tidak kamu lakukan. Kesalahanmu tidak sebesar itu sehingga kamu harus berlutut di hadapan Gisel," ujar Gilang, merasa bingung karena rasa ibanya pada Pelangi demikian tinggi.
Saat Pelangi tidak menjawab, Gilang segera memerintah Toni yang duduk di balik kemudi untuk menjalankan mobil dan mengantar Pelangi pulang.
Perjalanan itu terasa panjang bagi Pelangi. Dalam kesunyian, ia kembali teringat akan apa yang dilakukan Gisel padanya. Menampar, menghina, dan merendahkan. Dirinya gemas sekaligus kesal, kenapa Gilang yang baik bisa jatuh cinta pada nenek sihir macam Gisel. Belum lagi tentang perselingkuhan Gisel yang pasti tidak diketahui Gilang. Malang sekali nasib Gilang.
Tidak lama kemudian, Toni menghentikan kendaraan di depan rumah Pelangi. Angin kencang dan gerimis kecil menyambut mereka begitu mereka keluar dari dalam mobil. Gerimis itu kemudian segera berubah menjadi rintik deras,
"Kita kehabisan bensin!" Toni berteriak di tengah berisiknya suara hujan yang turun.
"Kenapa bisa?!" Gilang terlihat kesal.
"Khilaf," jawab Toni, santai.
"Masuklah dulu, kita bicara di dalam. Di sini dingin sekali," teriak Pelangi, sambil mengeluarkan kunci dari saku hoodie-nya dan membuka pintu untuk mereka semua.
Gilang dan Toni berebut melewati ambang pintu begitu pintu terbuka, tidak ingin berlama-lama berdiri di teras.
"Ini rumah seorang gadis?" Gilang reflek bertanya, begitu mereka tiba di dalam rumah.
Pelangi merona, rumahnya memang sangat berantakan sehingga tidak akan ada yang menyangka jika rumah itu ada penghuninya.
"Aku tidak ada waktu untuk beres-beres," ujar Pelangi, membela diri.
"Tapi setidaknya kamu harus membersihkan ... paling tidak sampah-sampah itu." Gilang menunjuk beberapa kemasan camilan yang berserakan di lantai.
Pelangi segera memunguti kemasan snack yang kosong melompong itu dan berlari ke dapur untuk membuangnya. Sementara Gilang dan Toni segera menghampiri sofa yang terbuat dari anyaman rotan dan duduk di atasnya dengan nyaman.
"Kita tidak bisa di sini semalaman, Toni, carilah cara agar kita bisa kembali di rumah."
"Aku akan keluar sebentar kalau begitu--"
"Untuk apa?" potong Gilang. "Hubungi saja siapa pun, asisten ayahku mungkin, dan minta mereka membawakan bensin ke sini."
Toni mengangguk. Kemudian segera beranjak dari ruang tamu untuk mengambil ponsel dari dalam mobil. Begitu kembali, Toni memberi sebotol air mineral untuk Gilang, dan berkata, "Aku sudah hubungi Andrew, kurasa sebentar lagi dia akan menuju ke sini. Minumlah, kamu pasti haus."
Gilang mengernyit, sambil meneguk air mineral di tangannya hingga habis. "Kenapa harus dia? Aku tidak begitu suka dengan gayanya. Tampangnya yang lumayan itu membuatnya terkesan sombong," komentar Gilang, begitu airnya telah habis.
Pelangi tiba, dengan membawakan dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.
"Seharusnya tidak usah repot-repot, kami akan segera pergi," ujar Gilang.
"Tidak repot, ini hanya teh. Tapi sepertinya anda tidak haus lagi." Pelangi menatap botol air mineral yang kosong di tangan Gilang.
"Ya, tidak lagi," ujar Gilang, sembari menguap. "Berapa lama lagi kira-kira Andrew akan datang?" tanya Gilang.
"Mungkin dua puluh atau tiga puluh menit." Toni menjawab, sambil melempar tatapan menyelidik ke arah Gilang. Seolah sedang menunggu sesuatu terjadi.
Pelangi yang menangkap tatapan itu dari kedua matanya merasa heran. Jelas sekali ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh Toni. Namun, Pelangi tidak bisa menebak apa itu.
Detik demi detik berlalu, tanpa adanya obrolan di antara ketiganya. Kesunyian menyergap terasa tidak nyaman, tetapi Pelangi tidak bisa memulai obrolan, karena matanya sibuk mengawasi Gilang, takut terjadi sesuatu pada pria itu. Namun, tidak ada tanda-tanda Gilang terancam bahaya, kecuali jika rasa kantuk adalah sebuah bahaya.
Ya, Gilang sejak tadi tidak henti-hentinya menguap, kemudian menggeleng, berusaha untuk membuat dirinya tetap sadar. Pelangi bahkan berulang kali menawarinya kopi, barangkali Gilang butuh secangkir kopi, karena pria itu terlihat mengantuk sekali.
"Tidak, tidak perlu. Aku hanya sedikit kelelahan, jika boleh aku akan tidur sebentar, bangunkan aku jika Andrew datang," ujarnya pada Pelangi dan Toni.
Setelah mengatakan itu, Gilang bersandar pada sandaran kursi reyot di ruang tamunya dan seketika langsung jatuh tertidur.
Toni dengan sigap mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan dengan terburu-buru. "Semua oke, lanjutkan rencana!" serunya, pada seseorang di seberang panggilan.
Pelangi menatap Toni dengan bingung, baru saja ia ingin mengajukan pertanyaan, tiba-tiba seseorang yang tidak asing muncul di bingkai pintu rumahnya yang terbuka.
"Andrew," gumam Pelangi.
Andrew hanya mengangguk, kemudian menghampiri Gilang, membantu pria itu untuk berdiri dan menopang berat tubuh Gilang pada tubuhnya, sementara Toni melakukan hal yang sama pada sebelah lengan Gilang.
"Katakan, di mana kamarmu?" tanya Andrew.
Pelangi bingung, ia menatap Andrew dan Toni bergantian, seolah menuntut sebuah penjelasan, tetapi kedua pria tinggi itu tidak peduli. Andrew memindai setiap lekuk bangunan kecil itu, hanya ada satu pintu yang tertutup di rumah itu, yang ia yakini adalah kamar Pelangi. Andrew melangkah ke ruangan di balik pintu dan membuka pintu yang tertutup. Benar saja, ruangan itu adalah kamar Pelangi, kamar sederhana yang terlihat rapi, jauh berbeda dengan ruang tamu yang sangat berantakan.
Andrew dan Toni membaringkan Gilang di ranjang berukuran sedang yang ada di tengah ruangan kemudian keduanya melepaskan sepatu, jas, dasi, kemeja dan celana panjang Gilang, lalu melemparkan ke segala arah.
Pelangi menutup mata melihat pemandangan tubuh Gilang yang setengah telanjang. "Apa sebenarnya yang kalian berdua lakukan!" serunya, dengan mata terpejam.
"Berbaringlah!" seru Andrew, tanpa memedulikan pertanyaan Pelangi.
Pelangi membuka matanya, ekspresi terkejut di wajahnya membuat Andrew kesal.
"Ayolah, Pelangi, jangan buat aku semakin lelah. Aku sudah cukup lelah seharian ini," ujar Andrew.
Pelangi menatap Toni yang berdiri di samping ranjang. "Kalian sekongkol?"
"Ini perintah Tuan Farhan. Lagi pula, apa yang kita lakukan sekarang demi kebaikan Gilang. Jadi jangan salah paham, cepat buka pakaianmu dan berbaringlah di samping Gilang." Toni berkata dengan tidak sabar.
Pelangi menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau! Ini penipuan. Kita bisa ditangkap polisi jika Pak Gilang tahu semua ini! Lagi pula, dia akan menganggap jika akulah yang menggodanya." Pelangi merinding membayangkan dirinya tidur di samping Gilang, dan saat Gilang terbangun, Gilang akan menuduhnya sebagai gadis penggoda yang mencuri kesempatan.
Toni menghampiri Pelangi dan meletakkan kedua tangannya di pundak gadis itu. "Aku bisa lihat dari matamu bahwa kamu menyukai Gilang. Kamu suka dan peduli padanya, itulah sebabnya kamu rela berlutut di hadapan Gisel, benar? Jika kamu benar-benar peduli padanya, maka memisahkan Gisel dari Gilang adalah hal yang paling penting, Pelangi. Percayalah pada kami, pada Pak Farhan. Tidak mungkin dia melakukan ini tanpa berpikir bagaimana akibatnya."
"Tapi, kenapa harus aku?"
"Kamu butuh uang, bukan? Pak Farhan tahu jika kamu memiliki banyak utang yang tidak mungkin kamu lunasi walaupun kamu bekerja seumur hidupmu, Pelangi. Maaf, bukannya aku menghina, tetapi aku hanya ingin kamu sadar, bahwa inilah satu-satunya cara agar masalahmu selesai. Bagai melempar dua burung dalam satu batu. Gilang batal menikah dengan Gisel, dan semua utangmu lunas. Selain itu, Pak Farhan memiliki penilaian berbeda tentangmu. Suatu saat nanti dia pasti akan mengatakannya kepada kita semua, kenapa harus kamu yang dia pilih."
Pelangi berusaha mencerna perkataan Toni, walaupun tidak ada satupun yang dapat ia mengerti.
"Cepatlah, tidak ada waktu lagi." Andrew mendesak.
Pelangi mengusap air matanya, kemudian berjalan menghampiri Gilang yang berbaring di ranjangnya, separuh bagian tubuhnya tertutup selimut bermotif bunga. Hatinya seperti di remas, ia malu melakukan perintah dari Toni dan Andrew, tetapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Ia memang butuh uang dalam jumlah banyak, dan pekerjaannya sebagai Office girl di dua tempat seksligus tidak akan pernah mencukupi nominal yang ia butuhkan.
"Keluarlah, aku akan melepas pakaianku," ujar Pelangi, dengan suara pelan.
Toni dan Andrew mengangguk, lalu segera beranjak dari kamar itu dan menutup pintunya.
Begitu pintu tertutup, Pelangi segera melepas hoodie yang ia kenakan, tank top yang ia kenakan di balik hoodie dan juga celana training longgar.
Hanya tertinggal bra dan ****** ***** ketat yang menutupi tubuh langsingnya. Setelahnya, Pelangi menyingkap selimut dan merayap naik ke atas ranjang, berbaring dengan dada bergemuruh tak karuan di samping Gilang.
"Maafkan aku," lirihnya.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️