"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Lampu
~Jika doamu belum terkabul, coba cek diri sendiri. Barangkali ketaatanmu pada Sang Ilahi Rabbi masih sebatas ucapan.~
☃️☃️☃️☃️☃️☃️
☃️☃️☃️☃️
☃️☃️
Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu pun dengan alam. Siang akan berganti dengan malam, dan seterusnya akan tetap seperti itu. Malam databg menyapa penduduk bumi. Sehabis salat Magrib di masjid terdekat tadi, Riko masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.
Ia memilih lembur, karena memang hal ini teramat darurat. Suasana kantor sunyi senyap. Hanya ada beberapa karyawan yang masih berjibaku dengan lembaran kertas. Itu pun tak berangsur lama, karena satu per satu dari mereka segera pulang.
Azan Isya berkumandang merdu. Riko menghentikan kegiatannya, meregangkan jari jemari yang sejak tadi dipaksa mengetik kata demi kata.
"Badan gue sakit semua," keluhnya. Ia mungkin memerlukan hari libur. Akan tetapi, setiap weeekend, Adnan dan keluarga selalu datang. Sudah dipastikan Aqila akan mengintil di sampingnya.
Azan selesai. Riko berencana pulang, meskipun masih ada satu lagi dokumen yang perlu ditinjau. Matanya terlalu berat untuk menatap layar laptop kembali. Ia memakai jasnya, menyambar tas dan kunci mobil.
Begitu keluar ruangan, kantor sunyi senyap. Bahkan ketika ia turun ke lantai bawah dengan lift pun, hal serupa ia dapati. Kakinya baru saja berjalan tiga langkah, tetapi mendadak lampu padam. Tak ada cahaya, gelap gulita. Jarak antara lift dan pintu utama pun lumayan. Berkisar sepuluh meter.
Riko tetap berjalan. Suasana menjadi terasa mencengkram. Ya, mungkin karena efek mati lampu. Begitu kakinya melewati meja resepsionis, suara kursi terjatuh menghentikan langkah Riko. Apa itu?
Berbekal rasa penasaran, Riko mengarahkan kedua kakinya. Berjalan pelan, mencoba melihat apa yang terjadi. Ia merogoh ponsel di saku jas, menyalakan senter handphone, selanjutnya mengarahkan arah cahaya pada tujuan.
"Kamu." Kedua bola mata Riko tersentak melihat Lily duduk berjongkok dengan kepala menunduk. Perempuan itu membenamkan kepalanya di kedua tangan yang bertumpu pada lutut.
"Jangan mendekat! Aku mohon jangan mendekat!" Lily histeris. Bahkan saat Riko mencoba menarik kaki untuk sedikit mengikis jarak di antara mereka pun, perempuan itu tetap mengatakan hal yang sama.
"Ada apa denganmu?" Riko heran.
Lily tak sedikit pun mengangkat kepalanya. Di antara remang-remang cahaya, Riko bisa melihat kedua kaki Lily bergetar hebat. Perempuan itu seolah tengah mengalami ketakutan yang luar biasa.
"Kamu takut gelap?" Riko bertanya kembali.
Lily menggeleng cepat. "Aku mohon jangan mendekat! Ampuni aku!"
Riko semakin tidak mengerti. Akhirnya ia memutuskan berjongkok tepat di depan Lily. Riko berkata, "Jangan takut. Tidak ada orang lain selain aku di sini."
Suasana hening. Jari jemari Riko tak berani menyentuh sedetik pun diri Lily. Ia bimbang cara berkomunikasi yang benar pada orang yang sedang dirundung ketakutan.
"Jangan mendekat! Aku mohon!" Kali ini Lily menangis, hingga membuat Riko bertambah bingung. "Ampuni aku. Lepaskan aku!"
"Apa maksudmu? Aku Riko, atasanmu! Mantan kekasihmu!"
Dua detik selanjutnya Lily mengangkat kepala, melihat wajah Riko dalam remang-remang cahaya. Tatapan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain.
Hal yang paling tidak diduga Riko adalah ketika Lily bergerak cepat mendekat, dan memeluk Riko dengan erat.
Lily menangis. "Aku takut. Mereka mendekatiku! Mereka merampas semuanya."
Dalam siatusi seperti ini Riko terasa mendapatkan buah simalakama. Ia tahu ini jelas salah. Berpelukan dengan wanita yang belum ia nikahi, sangatlah salah. Namun, melihat keadaan Lily yang sedang dalam fase ketakutan hebat membuat Riko tak kuasa menjauhkan tubuh perempuan itu darinya.
"Jangan takut. Aku bukan mereka, aku Riko," bisik Riko tepat di telinga Lily.
Tiga menit mereka dalam keadaan seperti itu, lalu Riko melepaskan pelukan Lily. "Kita pulang, ya? Mungkin kamu butuh istirahat."
Lily mengangguk. Ia tak berdaya saat ini. Keduanya berdiri pelan-pelan, kemudian berjalan menuju pintu keluar di antara remang-remang cahaya. Begitu sampai di luar, lampu kembali nyala. Suasana malam pun terasa menyejukkan dengan udara dingin sebagai ciri khas-nya.
"Maaf ...," sesal Lily.
"Untuk apa?" tanya Riko.
"Aku memelukmu."
Riko tersenyum. "Tidak masalah, tapi aku harap kamu tidak melakukan hal yang sama pada laki-laki yang lain. Bisa saja mereka memanfaatkan siatuasi itu untuk merenggut kehormatanmu."
Lily diam. Sinar matanya meredup, ia menunduk dengan rasa malu. "Aku memang sudah kotor. Makanya, aku menolakmu, karena merasa tidak pantas bersanding denganmu."
Riko mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Lily menarik napas panjang. "Aku pernah diperkosa setengah tahun lalu oleh dua preman saat pulang kerja shif malam. Aku kotor! Aku bahkan tidak pantas untuk dicintai seorang laki-laki baik sepertimu!"
Hujan datang mengguyur bumi, membasahi tubuh Riko dan Lily yang seperti tak ingin beranjak dari tempat mereka masing-masing. Jiwa Riko tersambar kilat besar yang sanggup membuatnya terdiam mematung.
Lily menangis kencang kembali. "Aku wanita kotor!" Di antara curah hujan perempuan itu mengutarakan apa yang ia pendam sendiri. Rasa muak akan dirinya yang ia simpan rapi selama ini dalam sanubari.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗