Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
016. Episode 16
Bimo bersiap keluar rumah untuk melakukan lari pagi. Sepatu olahraga yang dipakainya sudah mulai usang dan jelek karena terlalu sering dipakai. Dirinya tidak punya cukup uang untuk sekedar membeli sepatu baru, bahkan sepatu bekas sekalipun, karena semenjak orangtuanya bercerai dan dia tinggal bersama adiknya, dirinya jarang menerima uang tunjangan setiap bulannya. Alasannya tak sempat. Alhasil, dirinya dan adiknya terpaksa harus kerja sambilan untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi Bimo tidak pernah mengeluh, apalagi sampai mempermasalahkannya. Bimo selalu bersyukur, karena setidaknya dia masih bisa bersekolah setiap harinya. Meskipun harus dikejar-kejar uang SPP setiap bulannya.
Ia bergegas keluar dari halaman depan rumahnya karena tidak mau berurusan lagi dengan kakaknya yang dia anggap licik itu. Matahari masih belum menunjukkan batang hidungnya.
Di jalan, dirinya berpapasan dengan berbagai orang dan aktivitas. Ibu-ibu yang berbelanja di pasar sambil menggendong anak balitanya, tukang ojek online yang tertidur di atas motornya karena terlalu lelah bekerja, penjual sayur keliling yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, pasangan muda-mudi, lansia, bahkan satu keluarga yang melakukan lari pagi juga, dan banyak hal normal lainnya. Bimo tersenyum mengetahui hal-hal masih wajar hari ini. Ia mengisi penuh paru-parunya dengan udara dingin yang masih bebas dari polusi.
Bimo berlari dengan kecepatan sedang menuju taman kota. Fisiknya yang lumayan bagus membuatnya kuat berlari dari rumah ke taman kota yang berjarak dua setengah kilometer dari rumahnya tanpa sekalipun istirahat. Sesekali ia bertukar sapa dengan orang-orang yang kebetulan berada dekat dengannya sambil tersenyum. Ia lalu menambah kecepatan larinya ketika hampir sampai.
Taman kota masih lumayan sepi untuk saat ini. Padahal biasanya, ramainya taman kota tidak mengenal waktu, apalagi jika hari libur seperti hari ini. Hanya petugas kebersihan yang memenuhi sebagian besar manusia di taman itu. Memangkas semak, membakar sampah, menyapu sampah dan dedaunan yag rontok, atau bahkan tidak bekerja dan hanya merokok mengawasi situasi dari kejauhan. Bimo membayangkan setiap hari, pagi-pagi sekali mereka harus bangun dan berangkat bekerja. Terutama untuk yang sudah berkeluarga, pasti akan sangat sibuk setiap paginya mengurusi urusan rumah tangga. Lalu jika pengorbanan dan jasa mereka setiap harinya dibalas dengan perlakuan semena-mena seperti membuang sampah sembarangan, pasti akan sangat menyakiti hati mereka.
Karena itu, Ayah dulu akan marah besar padaku jika aku ketahuan membuang sampah sembarangan, bahkan satu batang tusuk gigi sekalipun, pikir Bimo.
Setelah melakukan putaran sebanyak lima kali di taman kota seluas tiga hektar tersebut, Bimo melakukan istirahat sejenak. Ia memakan bekal yang dibawanya dari rumah tadi.
Ia menghabiskan air mineral botol hanya dalam beberapa tegukan. Mulutnya sibuk mengunyah sarapan ala kadarnya yang dibungkus asal-asalan olehnya. Selepas menghabiskan sarapannya, ia berniat berlari lima putaran lagi karena ingin segera pulang dan mengerjakan tugas setelahnya. Tapi entahlah. Saat berdiri dan bersiap berlari lagi, dirinya terkejut melihat seorang perempuan yang melintas di hadapannya dengan pandangan kosong. Bimo menyapa perempuan tersebut dengan hangat.
“Nita? Sedang lari pagi juga? Sendirian, ya?”
Nita terperanjat lalu menoleh. Wajahnya seketika memerah.
“A, ah, i-iya, hehe,” jawabnya gugup seraya berhenti.
Bimo mempersilakan Nita duduk bersebelahan dengannya di bangku yang sedang dipakainya. Nita merasa sangat canggung.
“Kamu biasanya juga lari pagi di sini juga?”
“Nggak juga. Aku jarang lari pagi. Paling-paling juga kalau lagi ingin saja.”
Bimo melirik ke kanan dan kiri. “Ngomong-ngomong sekarang jam berapa, ya?”
Nita menunduk untuk melihat jam tangannya. “Masih jam setengah enam.”
“Wah, jam enam tepat aku sudah harus berada di rumah. Mau beres-beres rumah dan ngerjain tugas, banyak banget. Pak Madi nggak kenal ampun.”
Nita tertawa getir. Ia masih belum dapat menerima keadaan. Setelah itu, mereka hanya membisu.
“Nit,” ujar Bimo tiba-tiba.
“Hmm?”
“Aku minta maaf, ya.”
Nita terperanjat. Jantungnya berdetak cepat. Ia tatap Bimo lekat-lekat. “Minta maaf soal apa? Kak Bimo, kan, nggak pernah buat salah sama aku.”
“Aku minta maaf, karena aku merasa sudah menyakiti kamu. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk ngelakuin itu. Kamu pasti merasa sakit, kan?”
Ya, Tuhan, dia peka banget.
“Kenapa Kak Bimo merasa begitu? Aku juga nggak merasa sakit, tuh.” Nita masih berusaha bertahan.
“Karena,” Bimo menatap balik Nita, “meskipun kamu nggak pernah bilang, perilaku kamu nggak bisa berbohong. Aku yakin itu.”
“Tapi kenapa? Memang benar, kok, Kak Bimo nggak pernah….”
“Kamu tetap nggak bisa berbohong. Asal kamu tahu, sebenarnya aku rindu persahabatan kita. Oleh karena itu….”
Tiba-tiba Bimo mengulurkan tangannya pada Nita. Nita yang terkejut melihat ke wajah Bimo yang kelihatan sangat tampan dengan senyuman.
“Mau lari bareng? Lima putaran lagi, setelah itu aku pulang. Anggap saja sebagai penebusan salahku. Tapi jangan berharap lebih, ya?”
Tanpa berpikir panjang lagi, Nita menyanggupi uluran tangan Bimo dengan hati gembira. Mungkin dari hal ini, aku dan Kak Bimo dapat kembali seperti dulu lagi, pikirnya dengan bahagia.
Mereka berlari tanpa berbicara satu patah kata pun. Nita sebenarnya ingin mengajak bicara Bimo, namun ia takut salah dan malah memperburuk keadaan. Saat putaran terakhir, Bimo segera menjauh dan berpisah dengan Nita.
“Duluan, ya, Nit. Keburu siang.”
Nita melambaikan tangan dengan senyuman kemenangan.
Bimo keluar dari gapura taman dengan napas tidak beraturan. Ia berlari dengan keadaan setengah melamun. Ia sama sekali tak memperhatikan jalan.
Kakinya sudah menempuh jarak yang lumayan jauh dari taman kota. Karena berjalan dengan setengah melamun, dirinya hampir menabrak seseorang yang kemudian dihadang oleh orang yang bersama seseorang yang hampir ditabraknya tadi.
“Eh, eh. Kalau jalan lihat, dong. Mau modus ke adik gue, kan?” tegur suara seseorang yang menghadangnya.
“Maaf.”
Bimo mendongak. Dirinya terperanjat. Ia hanya mampu melihat pemandangan di depan matanya.
“Eh? Kenapa lo? Kok, tiba-tiba mati kutu?” ujar suara itu kembali sambil melambai-lambaikan tangan ke muka Bimo.
“Adeth?” tukas Bimo tak percaya.
Lelaki penghadang, yang ternyata Bisma kebingungan. “Lho? Kalian saling kenal?”
Adeth mengangguk cepat.
“Iya. Ini senior pramukaku, Kak Bimo. Dan Kak Bimo, ini kakak tertuaku, Bisma.”
“Cuih, pencitraan. Kakaknya sendiri nggak disebut ‘kak’. Oke, kalau itu mau kamu, aku sanggupi.” Bisma melakukan gerakan tragis yang dibuat-dibuat. Adeth merasa jijik dengan kakaknya.
“Banyak mau, kamu, ya.”
Bimo memandang ke arah Bisma dengan canggung. Meski begitu, tangannya menjabat erat uluran tangan Bisma. Sejenak kemudian, ketegangan di antara mereka mencair, ditandai dengan senyum lebar Bisma kepada Bimo, yang ditanggapi Bimo dengan masih canggung.
“Aku suka dengan karaktermu. Meski kau dalam situasi tidak baik seperti kecanggungan, kau tetap berusaha mengeluarkan sikap positifmu. Mulai sekarang, kita saudara,” ucap Bisma sambil menepuk-nepuk pundak Bimo.
Adeth tersenyum, mengetahui tidak ada yang perlu dicemaskan. Tanpa sengaja, dirinya melihat Bimo yang sedang mencuri pandang ke arah dirinya, dan langsung memalingkan muka.
“Maaf, saya sedang terburu-buru. Terimakasih atas waktunya. Saya pamit dulu.”
Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Bimo sebelum dia pergi. Adeth memandangi bagian belakang tubuh lelaki yang mulai menjauh dari dirinya tersebut. Cukup lama dirinya memandang siluet yang mulai menghilang tersebut dari ekor matanya. Sampai akhirnya, ia menyerah pada waktu. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Kakinya berbalik arah dan menyusul keluarganya.
Sementara itu, Bimo merasa kacau. Tangannya menutupi wajahnya yang terasa panas. Merah. Ia merasa seperri orang bodoh. Ia usap wajahnya yang licin. Pandangannya beralih ke awang-awang, berusaha melupakan apa yang terjadi.
___________________________________
Bagaimana keadaan Covid-19 di daerah kalian?
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,