NovelToon NovelToon
Devil Dosen

Devil Dosen

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:967.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rainawjy

Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole

Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!

Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17: Plan

"Hmm, ya? Itu terdengar menyenangkan. Kapan kita bisa bertemu lagi, Nara?"

Baru saja mereka keluar dari kamar mandi, Dino sudah mengajak Nara untuk berbincang. Mereka sudah bisa bercamda gurau. Sarah dan Adam masih di dalam toilet.

"Aku tidak tahu. Sarah begitu baik. Jangan pernah sakiti dirinya," kata Nara. Dino mengangguk.

"Yes! Kau benar! Dia baik sekali dan sayang sekali jika aku kehilangan dirinya. Bagaimana hubunganmu dengan dia?"

Nara terdiam sejenak. Dia mesti berbohong, "Baik."

Spontan tangan kanan Nara digenggam dengan sangat erat. Nara menggigit bibir bawahnya. Dia lupa akan perintah pria itu. Dia tak boleh berbincang dengan pria lain.

"Kita akan bertemu lagi?" tanya Dino sambil tersenyum.

"Kurasa tidak, Dino. Kami pulang dulu," jawab pria itu dengan tegas.

Nara berjalan dengan cepat di samping pria itu. Jantungnya sudah berdetak tak karuan. Dia tahu pria itu akan marah besar. Dino bingung sendiri. Apakah dia telah salah berbicara dengan Nara hingga jawaban temannya sekejam itu?

-oOo-

"Tidak! Jangan! Jangan!" Nara memekik sambil menangis. "Aku minta maaf! Aku minta maaf!"

Nara bersujud di hadapan pria itu. Dia memeluk kedua kaki pria itu. Dia menangis dan terus memohon agar pria itu tidak menyakiti Dino. Walaupun Dino teman baik pria itu, dia seperti tak ada rasa simpati. Dia bilang, dia benci sekali dengan orang-orang yang ada di sisi Nara. Dia benci orang yang berbicara dengan Nara mau itu temannya atau orang lain.

"Kumohon... jangan! Jangan! Aku masih mencintaimu! Hiks... hiks...," jerit Nara. Pria itu luluh sejenak.

"Lepas," kata pria itu.

"Berjanjilah, kau tidak akan menyakitinya."

"Aku berjanji," kata pria itu, "lepaskan."

Nara melepaskan pelukan di kaki pria itu. Dia mendongak menatap mata pria itu.

"Berdiri," titahnya dengan baik. Nara berdiri sambil menghapus air matanya. Nara tidak menangis lagi, hanya terisak-isak.

Pria itu meraih dagunya. "Katakan sekali lagi apa yang kau katakan terakhir kali," titahnya.

Nara berpikir. Tadi, bibirnya tidak terkontrol.

"Katakan sekali lagi," titahnya. "Jangan sampai aku kehilangan kesabaran."

Nara teringat, namun ini kata-kata yang salah baginya.

"Aku... aku... aku... masih—"

"CEPAT!" gertaknya. Nara terkejut batin.

"Aku masih mencintaimu."

Pria itu tersenyum miring. "Baik, jaga kata-katamu. Jangan sampai aku melihatmu berbincang dengan pria lain, Nara. Aku akan memusnahkan orang itu dalam sehari," ancamnya.

Dia menjauhkan tangannya. Dia berbalik badan dan membereskan barang-barang di meja tidur.

"Adam," panggil Nara dengan percaya diri. Nara menatapnya. Pria itu senang sekali ketika Nara berhasil memanggil namanya.

"Hmm?" Pria itu menghentikan tindakannya.

"Aku tidak suka dikekang," Nara berkata jujur. "Kau sudah tidak membiarkanku melanjutkan kuliah. Seakan semua masa depanku ada di tanganmu."

Pria itu mendengus kesal. Jantung Nara berdebar begitu cepat ketika pria itu berbalik badan.

"Kuliah atau tidak, itu tidak menentukan dirimu sukses atau tidak," jelas pria itu. "Kau butuh pengalaman disertai tindakan nyata. Nara, aku posesif dan rasa cemburuku tinggi."

"Hiks," Nara hanya terisak. "Tapi aku memang tidak suka seperti ini. Aku tidak leluasa. Aku tidak pernah lewat batas, Adam. Hanya sekadar berbincang agar aku bisa menghargai orang lain. Kuharap kau mengerti. Aku... jujur... aku takut padamu."

"Suka hati, namun jangan menyesal bila kutegur dirimu. Nara, aku tak pernah berbicara dengan wanita lain. Kujaga sikapku baik-baik."

"Setiap orang berbeda-beda, Adam. Jangan terus mengekangku, aku tidak suka. Aku masih manusia, Adam," jelas Nara baik-baik.

"Hmm... kau membantah?" tanya pria itu lalu menjabat kedua tangan Nara. "Seharusnya kau senang bila dikekang karena itu tandanya aku perhatian padamu. Aku tidak ingin kau bergaul dengan orang-orang yang tak kukenal baik dan selalu menjagamu."

"Hiks," Nara terisak lalu menunduk. Ia tak berani menatap pria itu. "Tapi... itu berlebihan."

"Aku suka yang berlebihan. Karena dengan itu, aku bisa dekat denganmu. Jangan terus melanggar peraturan yang kubuat, Nara. Kau tahu bagaimana sisi mengerikanku, bukan? Jadi, jangan coba-coba membuatku naik pitam," ancamnya.

"Tapi... aku... aku ingin bebas—"

"Bebas? Itu tidak ada dalam peraturanku. Kau ingin bebas karena kau ingin lari dariku? Apa kau bicarakan dengan Dino tadi? Kalian saling tertawa dan aku begitu cemburu melihat hal itu. Kapan aku bisa membuatmu tertawa lepas seperti tadi, Nara? Kapan?"

Nara meneguk ludah. "Kau... kau terlalu serius. Aku tidak bisa tertawa denganmu. Aku takut. Kau mencekam batinku."

"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau jatuh cinta dengan Dino?" tanya pria itu mengintimidasi. Dia mengeratkan genggamannya.

"Tidak. Aku tidak jatuh cinta dengan siapa pun," Nara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. "Lepaskan!"

"Apa maksudmu? Apa? Katakan yang sejujurnya. Jangan pernah mengkhianatiku," pria itu memaksa. "Jangan sampai aku bertindak keras."

Nara tak menjawab. Air matanya merembes kembali.

"Kau bilang kau mencintaiku tadi, tapi sekarang kau tak bisa tertawa bersamaku. Kau membohongiku, ha?"

"Adam, kau memaksaku untuk mencintaimu. Kau memaksaku untuk menjadi jodohmu. Hiks. Aku tidak siap menikah denganmu," kata Nara tegas.

Pria itu menghela napas. Dia melepaskan genggaman dari tangan Nara. Dia membalikkan badan. Kedua tangannya menggenggam sudut meja.

"Kita akan menikah bulan depan," kata pria itu. Emosinya berkecamuk di dalam dada mendengar bahwa Nara tidak siap menikah dengannya.

Nara terisak sambil menjawab, "A—Apa?! Tidak... hiks. Aku bilang, aku tidak siap menikahimu, Adam."

Pria itu bercangkung di hadapan meja itu. Dia menarik daun pintu lemari di bawah meja. Diambilnya sebotol minuman keras dan pembuka tutup botol. Dia berdiri. Diletakkan di meja. Kemudian, dia duduk di tepi kasur dan melirik Nara.

"Adam, kau—kau...," Nara berjalan mendekati meja, kemudian melihat pria itu. "Kumohon, jangan minum lagi. Hiks."

Pria itu tak peduli permohonan Nara. Dengan secepat kilat, dia meraih botol itu serta pembuka tutupnya. Nara menarik botol itu dari tangannya.

"Jangan melarangku, Nara. Ini semua karena dirimu. Aku terobsesi, mencintaimu, posesif, dan cemburu. Aku tak bisa menghilangkan hal itu dari pikiranku. Sakit dan berat rasanya," ujar pria itu dengan santai. Nara terus ingin merenggut botol itu dari tangan pria itu. Pria itu menghempaskan botol ke kasur. Dia berdiri dan mencengkram kedua pergelangan tangan Nara.

"Jangan melarangku," dia menekan kata-katanya.

"Aku bukan melarangmu, tapi aku tidak ingin kau sakit, Adam. Kau kecanduan alkohol nantinya—"

"Aku tak peduli. Biar kulakukan apa yang kumau." Pria itu melepaskan genggamannya. Bergegas dia membuka tutup botol. Nara terus memukul badannya di belakang, namun ia tak peduli.

Tutup botol terjatuh ke lantai, berguling secara lamban, kemudian telungkup. Jantung Nara berdetak tak bisa dikontrol lagi. Yang ia takutkan adalah saat pria itu kehilangan kesadaran. Genggaman saat dia mabuk 50 kali lebih kuat daripada dia sadar. Nara mundur beberapa langkah ketika bibir botol dekat dengan bibir pria itu. Tegukan demi tegukan terdengar. Kaki Nara tak sengaja menginjak potongan doritos yang tadi dimakan. Nara terdiam. Dia menutup mulutnya sendiri.

Pria itu berbalik badan. Bibirnya menyunggingkan senyuman miring. Diletakkan botol ke meja. Nara mundur sedikit demi sedikit. Kakinya gemetaran. Pria itu berjalan maju.

"Kemarilah, Nara. Jangan sampai kuseret dirimu."

Nara meneguk ludah. Dia mematung. Kakinya tambah gemetar.

"Aku tidak berbahaya untukmu, Nara." Pria itu melangkah lebih cepat hingga ia berada di hadapan Nara.

"Ikut aku, sayang," pria itu spontan menarik pergelangan tangan kanan Nara. Nara tak berani meronta lagi. Pria itu hampir kehilangan kesadarannya.

Dia menyuruh Nara tidur di kasur. Nara menurutinya sebelum dia menggila. Nara memikirkan bagaimana bila mereka telah menikah nanti. Nara harus menuruti apa yang dia mau. Tak ada melawan. Tak bisa menasihati pria itu. Takut. Semua ketakutannya merajalela. Tapi bagaimana kalau Nara sudah bisa memberi perhatian padanya? Apa mungkin pria itu bertindak seperti orang-oranh normal?

Pria itu menghabiskan minuman kerasnya. Dia beranjak ke kasur. Direbahkan tubuh kekarnya. Badannya menghadap Nara. Jari jemarinya usil menyentuh pipi Nara. Nara tak berani berkutik.

"Aku tak peduli kau siap menikah denganku atau tidak, kau mencintaiku atau tidak. Yang penting, kau telah berada dalam perangkapku. Itu yang kumau," ujar pria itu dengan suara rendahnya, "kau mau melarikan diri saat pernikahan berlangsung? Tidak... tidak."

"Adam...," panggil Nara sembari menyentuh pipinya. "Jangan menakutiku lagi."

"Hahaha. Kenapa emang, ha?" Pria itu sedang kehilangan setengah kesadarannya. 

Nara mengecup kening pria itu, kemudian dipeluk kepalanya. Dia berusaha bertindak seperti menyanyanginya.

"Aku sudah lama tak merasakan hal ini, Nara. Terima kasih," kata pria itu. Dia menggenggam lengan Nara. Nara terdiam. Air matanya mengalir.

-oOo-

Just hell.

1
Mxxnlight._
terbaikk
Nurul Hofa
kurang suka sama visual lorence
Nisa Larasati
aq benci pada mu lorent ingin rasanya membunuh mu saat kau tertidur 😈🗡🪓
Nisa Larasati
maafin aq kk tapi aq beneran trauma baca nya tapi aq juga selalu penasaran sama cerita nya 😭
Nisa Larasati
HAH sumpah aq bisa mati klo jumpa sama cowok yg modelannya begini 🤬 lagi pula si nara di ksih kebebasan walau hanya 15 menit kenapa gx lari ke dapur aja sih ambil pisau bunuh diri aja 😂 atau bunuh si adam nya aja 😂 canda bunuh diri 😂
n a n a
devan deh kek nya
Yenny Rachman
thor.. ini sudah tamat kah😅😅😅
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
Yenny Rachman
lanjut thor😅😅😅🥰🥰😍...
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
paulaa
seru
Yesika novel03
lanjut donk udh nunggu lama nie
Hesti Sagita
Akhirnya Nara sampe ke tahap itu
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
Hesti Sagita
stress
Hesti Sagita
mengunci diri di dlm kamar mandi
ahh hasil nya sama aja
Hesti Sagita
Adam kah
Hesti Sagita
penasaran awal mula Adam suka ke Nara
Hesti Sagita
kasian si Nara
Hesti Sagita
cinta dan obsesi
Hesti Sagita
mamapir baca kak.
berawal dr WP
lucia de lamendoza
lorence itu adam ?
lucia de lamendoza
kynya adam atasan nya gk sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!