Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-016
Elis sudah terlihat rapih pagi itu. Hari terakhirnya berada dipesantren harus lebih maksimal senyumnya dan harus extra bertenaga.
Sebutir multivitamin yang diberikan Khafi diteguknya bersamaan dengan segelas air putih.
Elis akan ke dapur bantu bi Saodah kemudian pamit. Jika Elis bisa kerja disini maka Elis akan ke kantor dan mengajukan surat pengunduran diri. Jika nggak bisa berarti setiap weekend Elis liburannya ke sini aja.
Segala rencana telah tersusun matang dalam benak Elis, ia mantap melangkahkan kakinya keluar dari pintu itu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Elis saat berpas pasan dengan Ariqah.
“Waalaikumsalam Elis, mau ke dapur ya?” sahut Ariqah. Masih seperti biasa, ia begitu lembut dan ramah.
“Iya, Elis sekalian pamit ke Ariqah deh. Sebentar Elis akan balik. Lusa Elis sudah mulai ngantor lagi. Elis mau ucapin terimakasih buat baju ini,” ucap Elis sembari menunjuk gaun yang dikenakannya.
“Itu hanya beberapa potong baju aja kok Elis. Oh ya, semoga sukses selalu dengan pekerjaan mu,” ujar Ariqah.
“Kamu juga, semoga sukses mengajarnya,” Elis membalas dengan tersenyum ramah.
“Ariqah duluan ya, hampir telat nih,” ucap Ariqah.
“Oh iya Silahkan.”
“Assalamualaikum.” Ariqah berlalu meninggalkan Elis.
“Waalaikumsalam.” Elis masih berdiri menatap Ariqah dengan takjub.
Pria bodoh mana yang tak ingin mendapatkan wanita sesempurna itu? Oh ya, karena penyakitnya, Khafi mundur dari Ariqah. Bahkan Khafi yang terlihat sempurna tak ingin membuat wanita sempurna itu kecewa.
“Elis?” Amel sudah berdiri di samping Elis.
“Teteh mau kemana?” Elis menatap Amelia yang telah rapih berdiri disampingnya.
“Teteh mau ketemu suami teteh, hari ini dia pulang.”
“Teteh punya suami? Kenapa Elis nggak tau?” wajah Elis sedikit kaget.
Amel mengangguk, wajahnya datar tak ada ekspresi apapun.
“Bye, assalamualaikum,” Amel pun menuju ke sebuah motor yang terparkir tak jauh disitu.
“Waalaikumsalam, hati hati di jalan teh.”
Amel tersenyum dari balik helm hitam dan langsung pergi dari situ.
Elis pun langsung menuju dapur.
Hari itu personel didapur berkurang dua orang. Mbak Rima yang izin mengambil raport anaknya dan bi Jum yang sedang sakit. Otomatis tugas bertambah berat untuk setiap orang saat itu.
Untung saja Elis yang sudah mulai cekatan bisa menangani beberapa pekerjaan.
Hari pun mulai sore. Para ibu ibu duduk berbincang dengan teh panas dan cemilan sore. Saat yang tepat untuk Elis pamitan saat itu.
“Bi Saodah, Elis mau ngomong.” ucap Elis tiba tiba disela canda dan tawa mereka.
“Ada apa nak?” tanya Saodah.
“Malam nanti Elis balik kos kosan. Lusa Elis sudah mulai kerja, jadi hari ini Elis pamit,” ucap Elis.
Wajah Saodah langsung berubah. Ia sebenarnya berat melihat anak itu pergi.
“Baiklah, sebelum maghrib kita pamitan dirimah syekh ya?” ajak Saodah ramah.
Setelah semua pekerjaan didapur rampung, Saodah langsung mengajak Elis menuju rumah syekh.
Dirumah syekh, Saodah mencari kakaknya yang tengah istirahat sore sedangkan Elis duduk manis disebuah sofa di ruang tamu.
“Assalammualaikum syekh,” ucap Elis sambil berdiri sebagai tanda hormat begitu melihat Umar tiba diruangan itu.
“Waalaikumsalam. Duduklah,” Umar bicara dengan ramah.
Syekh dan Saodah mengambil tempat duduk dihadapan Elis.
“Aa, Elis ke sini ingin pamitan. Lusa dia sudah mulai kerja, jadi malam ini dia akan kembali ke Jakarta.” Saodah mengambil inisiatif memulai percakapan.
Umar manggut manggut sembari berpikir sesuatu. “Apa Amel sudah ngomong ke Elis?” tanya Syekh.
“Soal apa Syekh?” Elis balik bertanya.
“Hmmm, benarkah Elis bersedia menikah dengan anakku?” tanya Syekh. Wajahnya serius.
Elis tak menyangka niatnya pamitan tapi pembahasannya malah menjadi serius..
“Ya, jika Khafi bersedia.” Kata kata Elis lemah. Ia sedikit malu membahas masalah pernikahan.
“Kenapa kamu bersedia menikah dengan anakku setelah tau kondisinya saat ini?” tanya Umar penuh seksama.
“Aku.. aku juga memiliki kondisi yang sama dengan Khafi.” ucap Elis.
“Mungkin dia tak pernah bisa mencintaiku karena mengidap anhedonia. Sedangkan aku tak pernah bisa mencintainya karena aku telah kecewa terhadap seseorang. Jika saat itu Khafi tak menolong ku, mungkin saat ini Elis sudah mati. Elis merasa tubuh Elis saat ini hidup, tapi hati Elis sudah mati. Bukankah kami sama saja?” lanjutnya lirih.
Umar berpikir sejenak. Terlalu klise kisah kedua anak itu, Umar berharap pertemuan mereka telah ditentukan oleh Allah dan semoga mereka berdua bisa sama sama saling mengobati.
“Kamu bersedia menjadi seorang mualaf?” tanya Umar.
“Mualaf?” Elis kebingungan dengan kata asing yang didengarnya.
“Mualaf adalah sebutan bagi orang non-muslim yang mempunyai harapan masuk agama Islam atau orang yang baru masuk Islam,” jelas Saodah.
Selama Elis tinggal disini sedikit banyak Elis sudah melihat bagaimana Islam itu. Elis rasa ada ketertarikan. Manakala adzan berkumandang semua berbondong bondong meninggalkan pekerjaan kemudian melakukan solat. Tutur kata mereka sangat lembut. Pakaian mereka sopan dan yang terpenting Elis merasa betah berada di lingkungan ini.
“Elis bersedia,” sebuah ucapan akhirnya keluar dari mulutnya setelah berpikir cukup panjang.
“Apakah terpaksa?” tanya Saodah.
Elis menggeleng. “Elis yakin dengan pilihan Elis. Selama beberapa hari disini, Elis telah belajar sedikit tentang Islam.”
Elis teringat akan Yuyun dan Ayudia yang setiap malam membacakannya buku buku pelajaran agama. Setiap kedua anak itu memegang buku, Elis pasti akan meminta mereka membaca dengan suara yang keras. Dan Elis tertarik dengan semua buku buku yang mereka pelajari.
“Kapan kami bisa menemui kedua orang tuamu?” tanya Syekh.
“Papa? Papa hanya bisa saat hari minggu.”
“Sekarang hari Selasa, lima hari lagi kita akan langsung ke Medan menemui papamu,” ujar Umar.
Wajah Elis datar tanpa Ekspresi. Ia berusaha menutupi kekhawatiran akan sikap papanya. Papanya orang yang agak kasar dan sangat keras. Terlebih jika bersangkutan dengan Elis papanya pasti akan sangat merasa terganggu. Bagaimana jika Syekh datang dan papa mengusir mereka!
“Jam berapa kamu akan pulang ke kos kosan kamu?” tanya Umar.
“Elis sudah siap siap, barang bawaan Elis nggak banyak. Jadi Elis tinggal telpon taxi.”
“Minta lah Khafi mengantarmu. Jika kamu ingin kesini mintalah dia menjemputmu,” ucap Syekh.
Elis menatap sekilas wajah Umar dan Saodah. Umar seorang pemimpin yang penuh wibawa dan berhati mulia. Saodah dengan senyuman tulus, seolah hal bahagia sedang meliputinya.
“Malam ini Elis makan malam disini sebelum pulang, biar bibi bungkus kan makanan untuk Elis bekal selama beberapa hari di kos,” ujar Saodah.
“Baik bi.” Elis pun ikut tersenyum.
Mereka sangat baik, Elis akan jadi bagian dari keluarga mereka.
Sambil menunggu waktu makan malam Elis membantu Saodah menyiapkan beberapa menu kemudian menyiapkan meja makan.
Malam itu adalah kali kedua Elis makan bersama keluarga itu. Terasa sangat canggung, saat makan semua orang sibuk mengunyah makanan dalam mulut mereka. Tak ada yang bicara. Terlebih Khafi, ia terus saja makan dengan lahap menu tempe oreg yang ada dihadapannya.
“Alhamdulillah,” ucap Umar lantang begitu selelsai dengan menu diatas piringnya.
“Khafi, usai mengantar Elosabeth kamu belikan abi koyo di apotik. Akhir akhir ini pinggang abi sering terasa nyeri,” lanjut Umar.
“Ayo Elis siap siap sekarang, Khafi akan langsung mengantar kamu,” ucap Saodah.
“Elis akan bantu bibi dulu sebentar.” Elis langusng mengangkat semua piring bekas makanan di atas meja. Merapihkan meja kemudian membantu Saodah mencuci piring.
“Pekerjaan sudah beres semua, ayo ajak Khafi sekarang,” ujar Saodah.
“Elis malu bi, kesan nya Elis menyuruhnya mengantar Elis,” ujar Elis.
Saodah langsung menarik tangan Elis menuju ruang keluarga dimana Khafi duduk seorang diri.
“Nak, Elisabeth sudah selelsai membantu bibi. Kamu bisa mengantarnya sekarang,” ucap Saodah.
“Makasih bi, Elis pamit.” ujarnya langsung memeluk Saodah.
“Syekh diruang depan, pamit kemudian cium tangannya,” ucap Saodah pelan.
“Syekh, Elis pamit sekarang. Terimakasih sudah menampung Elis tinggal disini,” ujar Elis menyalim tangan Umar.
“Hati hati dijalan, jika nggak sibuk mintalah Khafi menjemputmu. Kamu bisa datang kesini makan malam bersama kami,” ucap Syekh.
“Baik syekh. Permisi Asalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Sahut Syekh.
Elis dan Khafi pun berlalu dari ruangan itu.
Khafi membukakan pintu untuk Elis masuk ke dalam mobil.
Pake di bukakan pintu segala. Hufftttt saat berduaan malah jadi sedikit canggung.
“Elis masih harus mengambil tas di asrama, bisa mampir sebentar,” ucap Elis begitu mesin mobil menyala.
“Baiklah,” ucap Khafi singkat.
Mobil berhenti tepat didepan asrama putri. Elis mengambil tas dan beberapa pakaian miliknya yang sudah dikemas rapih. Berpamitan dengan beberapa anak santri wanita kemudian kembali ke mobil dimana Khafi sedang menunggunya.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁