Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.
Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.
Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏
Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊
Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
...Happy Reading....
Ana berdiri sejenak di depan pintu ruang kerja Arley. Hatinya campur aduk. Deg degan, takut, cemas, kesal, jadi satu.
Ana mengangkat tangan kanannya lalu mengetuk pintu tiga kali. Setelah itu dia membuka pintu pelan pelan dan masuk. Di dapatnya ada Heru dan Joy di dalam sedang duduk berhadapan dengan pimpinannya. Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Mungkinkah tentang pemecatan pak Riko?
Tapi kenapa dia di pecat? Apa ada hubungannya dengan kejadian semalam?"
batin Ana.
"Nona Attilah, silahkan duduk." suara Heru membuyarkan lamunannya.
"I iya pak." jawab Ana pelan dan gugup.
Ana merasa lega karena ada mereka diruang ini. Dia tidak sendirian bersama dengan Arley di ruang ber-AC tapi yang terasa panas baginya.
Ana berjalan mendekati sofa dan duduk.
Beberapa saat kemudian Heru dan Joy segera pamit keluar. Kepergian mereka membuat Ana tegang tidak tenang.
Arley bangkit dari duduknya, melepas jas dan dasinya, di letakkan asal di kursi kerja.
Setelah itu berjalan mendekati Ana sembari membuka dua kancing kemeja bagian atas.
Ana deg degan, dia segera bangkit berdiri. Arley semakin mendekat. Ana mundur hingga betisnya menabrak sofa.
Begitu dekat Arley langsung mengangkat tubuh Ana ala bridal style.
Ana kaget dan tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya di bahu Arley.
"Anda mau apa? Turunkan saya." meronta.
"Diam jangan bergerak. Nanti kita jatuh." kata Arley sambil melangkah menuju ruang pribadinya.
Ana kembali kaget melihat ruang tidur. Hatinya semakin tidak tenang.
"Kenapa Anda bawa saya ke sini?"
Arley membawanya ke meja makan.
Bahkan di ruang ini ada meja dan kursi makan.
Arley mendudukkan Ana pelan pelan. Di meja itu sudah tersedia dua menu makanan. Lengkap dengan makanan penutup juga minumnya.
"Kata pelayan rumah kau tidak menyentuh makanan apapun. Bahkan susu segelas pun tidak kau habiskan." Kata Arley sambil meletakkan sandwich daging ke piringnya.
Ana menoleh ke arahnya.
"Sebelumnya terimakasih atas perhatian bapak, tapi saya tidak berselera untuk makan, Maaf." katanya pelan dan hati hati.
"Bapak?" ucap Arley dengan dahi mengernyit.
"Apa aku setua itu? Umurku baru 28 tahun dan kau memanggilku bapak?" katanya menatap Ana.
"Maksud saya bukan seperti itu. Itu cara saya menghormati anda sebagai pimpinan, Maaf tuan Arley." kata Ana terbata bata.
Hahahaha
"Tuan?" Arley tertawa kecil.
Dia memegang dagu Ana dan membawanya dekat pada wajahnya, kemudian mengecup bibir Ana dengan cepat.
"Panggil aku sayang, sayang. Bukan Bapak atau Tuan."
Ana kaget, mata bulat dengan kecupan tiba tiba. Dia melepas pegangan Arley di dagunya.
"Sekarang makanlah, Aku sengaja menyiapkan ini untukmu." kata Arley.
Dahi Ana mengerut.
"Untukku? Maaf, saya tidak berselera." Ana hendak bangkit berdiri, tapi Arley menahan tangannya sehingga dia terduduk kembali.
"Ana, aku tidak suka di bantah, duduk dan diam. Menurut lah apa yang aku katakan." kata Arley kembali dengan tegas
"Saya tidak mau makan, saya tidak lapar." Ara tetap bersikeras.
"Wajahmu pucat Ana, tubuhmu lemah. Lihat tanganmu gemetaran." Arley memegang kedua tangannya yang tampak gemetaran.
Ana segera menarik tangannya.
"Gemetaran Ini bukan karena aku lapar, tapi karena takut," batin Ana. Takut hanya berdua di ruang pribadi seperti ini. Dia takut Arley akan melakukan sesuatu lagi padanya.
"Lagi pula apa urusannya dia memaksa aku makan? Ini kan perutku, terserah aku mau makan atau tidak. Mau kelaparan kek, atau kenyang, kenapa dia pusing?" batin Ana kembali.
Kecupan lembut mendarat tiba tiba di bibirnya
membuat Ana terkejut.
"Kau mengatai aku apa di dalam pikiranmu?" kata Arley menatap tajam.
Ana kaget gugup dan salah tingkah.
"Kok, dia bisa tahu sih." batinnya kembali.
"Nggak, nggak ada pak." kata Ana kelabakan.
Arley tersenyum tipis.
"Cepat makan, atau mau ku paksa?"
"Saya nggak lapar, bapak saja yang makan. Lagi pula apa hak bapak memaksa saya untuk makan?" Ana kembali bangkit berdiri.
"Kalau tidak ada hal penting yang ingin bapak bicarakan, saya permisi dulu." Ana melangkah dari kursinya.
Arley segera menarik tangannya kuat, hingga tubuh Ana terduduk di pangkuannya. Dia memeluk tubuh Ana kuat dari belakang.
"Apa yang bapak lakukan? lepas." Ana kaget dan berusaha untuk berdiri.
"Hal penting kenapa aku menyuruhmu datang kesini karena untuk mengajakmu makan siang. Aku tahu tubuhmu lemah sayang, setelah permainan kita semalam. Dan mengenai hak ku atas dirimu? Aku berhak atas dirimu karena kamu milikku, kamu wanita ku, aku perduli padamu. Kau dengar itu?" kata Arley tegas.
"Apa? Ini gak benar, tolong lepaskan saya." Ana berontak berusaha melepaskan tangan Arley di perutnya.
"Memang apanya yang gak benar? Apa aku salah memeluk wanitaku?" Arley semakin mendekap erat tubuhnya. Dia mendaratkan satu kecupan kuat di tengkuk Ana.
Ana mendengus kesal, meraba tengkuknya.
"Jangan mencium ku. Memangnya sejak kapan saya jadi wanita anda? Lepas," protes Ana semakin berontak dalam pangkuan Arley.
"Tentu saja sejak penyatuan tubuh kita semalam sayang. Sejak malam itu kau milikku dan aku milikmu." bisik Arley lembut menggoda di belakang telinganya.
Dia mengerang pelan merasakan gesekan gesekan bokong Ana pada miliknya yang sudah mengeras.
"Yang terjadi semalam adalah sebuah kesalahan. Semua diluar kendali saya, saya tidak menginginkannya, saya bahkan menyesalinya." protes Ana kembali agak keras.
"Tidak ada penolakan, kau kekasihku, kau wanitaku. Dan aku tidak butuh persetujuan mu untuk menjadikanmu milikku." kata Arley kembali menegaskan.
"Nggak, saya nggak mau. Anda tidak bisa memaksa saya untuk menjadi milik anda. Saya sudah ikhlas menerima kejadian yang terjadi pada saya semalam. Karena itu sebuah kecelakaan dari obat laknat itu. Saya akan melupakannya. Anda pun harus melupakannya, anggap itu tidak pernah terjadi. Sekarang tolong lepas kan saya." ujar Ana dengan nafas memburu cepat, jantungnya berdegup kencang merasakan sesuatu yang tegang di bawah bokongnya. Dia harus secepatnya bisa lepas dari tubuh laki laki ini.
"Kenapa aku tidak bisa memaksamu sayang? Sementara kau sendiri memaksa aku semalam. Aku sudah berusaha menolak dan menjauh darimu, tapi kau terus menyerang ku. Aku pria normal Ana, tidak tahan dengan sentuhan. Apalagi itu merupakan hal pertama bagi kita berdua. Semalam kita sama sama sangat menikmatinya." ucap Arley tersenyum menyeringai. Dia dapat mendengar debaran jantung gadis ini.
Arley mengecup punggung Ana lembut.
Satu tangannya menjalar masuk ke dalam rok dan meraba paha Ana. Dia tidak tahan untuk tidak menyentuh tubuh gadis ini, apalagi gadis ini berada di atas pangkuannya.
Ana mengeluh sedih seraya memejamkan mata. Dia menahan kuat tangan Arley.
"Jangan pak. Tolong jangan lakukan ini!"
"Apa masih sakit?" tanya Arley menyentuh dalaman pahanya.
"Tidak jangan__jangan sentuh." Ana menarik kuat tangan kekar itu.
Arley tersenyum kecil."Sayang, semalam kau memintaku menyentuh tubuhmu, kau bahkan memohon agar aku menjamah setiap inci dari tubuhmu." tangan kanannya berpindah masuk ke dalam blouse Ana.
Ana menjerit kecil merasakan remasan. Dia mulai menangis.
"Yang terjadi semalam di luar kesadaran ku.Tolong jangan aku lagi." pinta Ana menahan tangan Arley yang bergerak menyusup di antara kedua pahanya. Sungguh dia tidak kuat melawan kekuatan tangan kekar pria ini.
Arley kembali tersenyum.
Tangisan Ana terdengar menggemaskan di telinganya dan membuat bergairah. Dia kembali mengecup dan mencium punggung Ana. Dia sangat suka aroma wangi bedak bayi ditubuh gadis ini.
Arley tiba tiba bangkit berdiri mengangkat tubuh Ana dengan posisi tangannya masih tetap pada bagian pribadi Ana. Dia tidak tahan duduk terus seperti itu. Miliknya tidak sabar dan tahan lagi.
Ana kaget melihat mereka menuju tempat tidur.
"Mau apa ke sini?"menjerit dan meronta.
Arley membaringkan tubuh Ana dengan posisi menelungkup. Dia menekan belakang panggung Ana dengan satu tangannya, dan satu tangannya melepas kemejanya.
Setelah itu dia memeluk tubuh Ana dari belakang. Menciumi tengkuk dan punggung Ana yang terbuka. Blouse Ana sudah terangkat ke atas. Pengait bra Ana pun sudah terlepas sehingga dia leluasa menikmati punggung indah ini. Dia tidak perduli dengan tangisan Ana.
Puas bermain pada belakang punggung dan pinggang, Arley segera membalikkan tubuh Ana dan mengurung tubuh gadis itu dibawah tubuhnya. Dia melihat wajah Ana yang basah dengan air mata.
"Jangan pak, jangan." pinta Ana di sela tangisnya.
Arley menyentuh bibir ranum yang berwarna merah alami dengan bibirnya. Matanya melihat tanda-tanda ungu dan kehitaman di sekitar leher dan dada gadis Ana.
Dia tersenyum melihat hasil karya indah yang di buat oleh bibirnya semalam. Dia kembali menatap bibir sensual Ana. Bukannya berhenti dan tergugah dengan permintaan Ana, Arley malah menyerang bibir Ana. Di lumatnya dengan penuh gairah dan berhenti saat melihat Ana kesulitan bernafas.
Ana tiba tiba menggigit kuat bibir bawahnya saat merasakan bibir dan lidah pimpinannya ini merambah ke leher dan dadanya. Tubuhnya tegang, kepalanya pening karena mulai terbuai oleh sentuhan indah ini.
"Akhh pak__jangan__hentikan." Ana menarik kuat rambut Arley yang semakin agresif di dadanya. Dia harus menghentikan ini sebelum terjadi zina lagi di antara mereka.
"Tuan, jangan__saya mohon hentikan. Semalam kita telah melakukan dosa besar, Jangan melakukan lagi. Baiklah saya akan menuruti perintah anda, saya akan makan, saya akan habiskan semua makanan itu." Pinta Ana di sela tangis dan rasa gairah yang di tekan.
Sentuhan dan Ciuman Arley yang saat ini sudah merambah di atas permukaan pribadi Ana yang masih tertutup kain tipis, terhenti. Dia terpaku setelah mendengar ucapan gadis ini. Bukan tentang makanan, tapi tentang zina yang terjadi semalam di antara mereka.
Perlahan Arley menaikkan tubuhnya ke atas.
Dia melihat wajah Ana yang basah oleh air mata, pucat dan takut. Gadis ini terlihat pasrah dan tak berdaya.
"Ana.....!" mengelus pipi Ana lembut.
"Sayang maafkan aku!" dia memeluk Ana dari atas.
"Maafkan aku, buka matamu." ucapnya menyentuh lembut pipi kanannya.
Ana membuka matanya perlahan, dia melihat wajah Arley yang berada sangat dekat depannya.
Ana kembali terisak Isak.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku mohon jangan menyentuh ku." menggelengkan kepalanya.
"Iya Ana, aku tidak akan melakukannya, maafkan aku." Arley mengecup lembut Keningnya.
"Aku terdorong oleh hasrat dan gairahku sehingga tak sadar diri dan hilang kendali. Maafkan aku ya. Jangan menangis." kembali mengecup kening dan bibir Ana lembut.
Kata katanya malah membuat Ana semakin menangis. Arley semakin terenyuh. Dia menyapu air mata gadis ini lembut.
"Ana, tatap mataku." ucapnya pelan menyapu air mata Ana yang masih mengalir di kedua ujung matanya.
"Tatap mataku Ana__"
"Nggak, anda pasti mau mencium ku lagi." Kata Ana menutup mulutnya.
Arley tersenyum kecil.
"Tidak sayang, aku ingin bertanya sesuatu padamu, percayalah, buka matamu."
Ana mengikuti ucapannya, perlahan membuka mata. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Aku ingin bertanya. Apa kau punya perasaan padaku? Apa kau menyukaiku? Apa kau tertarik padaku?" tanya Arley sambil mengelus lembut pipi Ana dengan punggung jarinya.
Ana menelan ludah dan menarik nafas mendengar pertanyaan itu. Dia diam tidak menjawab. Wanita mana yang tidak menyukai pria tampan dan mapan seperti Arley? Semua wanita pasti menginginkan pria ini. Tapi apa dia pantas untuk Arley? Status mereka yang sangat jauh berbeda antara langit dan bumi. Dan lebih penting dari itu Ana lebih menjaga dirinya. Mungkin saja Arley hanya pura pura dan main main padanya. Tidak tulus mencintainya, hanya mencari kesenangan darinya.
"Ana, Aku mencintai mu, benar-benar sangat mencintaimu. Aku pun berharap kau memiliki rasa yang sama sepertiku." kata Arley kembali.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku, menjadi wanitaku, istriku dan ibu dari anak-anakku. Aku serius dan tidak main-main." kata Arley kembali menatapnya dalam dalam dan serius.
Dahi Ana mengernyit mendengar ucapannya, hatinya sedikit tersentak. Dia menatap pupil mata Arley. Dia melihat kejujuran dan keseriusan di mata pria ini.
Tapi meski begitu, dia tak menjawab dan tetap diam.
"Apa kau masih ingat, sebelumnya kita pernah dekat seperti ini, tanpa celah dan penghalang tubuh sama sekali. Aku pernah mengatakan padamu kan?" ucap Arley
Ana mengangguk lemah.
Arley tersenyum. Dia mengecup bibir Ana.
"Apa kau masih ingat ulang tahun perusahaan di bali?" tanyanya kembali.
Bola mata Ana bergerak ke atas, lalu kembali menatap pada Arley. Kemudian dia mengangguk.
"Saat itu kau salah meminum minuman temanmu Roy yang mengandung alkohol, lalu beberapa saat kemudian kau mabuk. Terus Seorang pria mengajakmu berdansa, pria gendut, perut keledai yang kandungannya menempel di perutmu. Kamu sendiri yang bilang begitu, apa kau ingat?" Arley tersenyum menatap dengan tatapan menggoda.
"Setelah itu dia mulai bertingkah tidak senonoh padamu. Meraba raba punggung mu dan hendak mencium mu. Lalu datang seorang pria tampan menghentikan aksi bejatnya, Kau sendiri yang mengatakan begitu, dia pria tampan mulutnya wangi dan kau meraba raba bibirnya. Apa kau ingat?"
Wajah Ana berubah merah merona.
Dia mulai ingat. Arley kembali tersenyum melihat perubahan di wajahnya.
"Kau mengatakan tidak pernah berciuman di bibir, karena takut kesetrum dan mati. Lalu pria tampan itu mencium mu di lift, dan perlahan lahan kau membalasnya. Kalian berciuman sangat panas, bercumbu di atas ranjang dan tiba tiba kau menghentikan ku."
"Cukup." kata Ana tiba tiba. Dia segera menutup mulut Arley. "Jangan di teruskan."
Arley tersenyum dan melepas tangan Ana dari mulutnya.
"Pemabuk cantik, Apa kau sudah ingat siapa pria tampan itu?" bisiknya menggoda.
Ana tersipu mendengar Arley kembali menyebutnya pemabuk cantik. Ana malu dan langsung mengalihkan pandangannya ke sebelah. Dia mulai ingat semuanya. Dia ingat pria tampan itu adalah Arley. Dia juga sudah mengingat bagaimana panasnya cumbuan mereka di atas ranjang, sampai sampai pria yang tak di sangka adalah pimpinannya ini menjamah milik pribadinya, dan hampir merenggut keperawanannya malam itu jika saja dia tidak memohon. Dan untung saja Arley tersentuh dan tidak tega meneruskan.
Ana tiba tiba teringat sesuatu. Dia menatap Arley.
"Kenapa menatapku?" tanya Arley melihat Ana tiba tiba menatapnya.
"Jadi jet pribadi yang aku naikin malam itu punya Bapak?" tanya Ana menatapnya lekat.
"Iya, aku sendiri kaget saat melihat kau berada di dalam pesawat ku dan sedang tertidur. Padahal aku sedang khawatir memikirkan dirimu saat melihat kau sudah tidak berada di kamarku. Aku khawatir kau akan bertemu dengan Bram lagi di luar dengan kondisi dirimu yang belum sepenuhnya sadar dari alkohol." kata Arley membelai lembut pipinya.
Ana menelan ludahnya sesaat.
"Aku terbangun oleh suara panggilan telepon yang masuk. Makanya aku langsung keluar dan turun menemui Ririn dan Risma."
"Syukurlah kau baik baik saja, aku sangat khawatir dengan mu saat itu. Aku takut kau akan bertemu dengan Bram atau orang orang sepertinya." kata Arley.
"Berarti bapak yang membawa ku ke ruang tidur yang berada dalam pesawat?" Ana bertanya pelan.
Arley mengangguk.
"Biar tidur mu nyaman. Aku melihatmu duduk tertidur. Makanya ku pindahkan di ruang kamar."
Arley tersenyum lalu mengecup bibirnya. Dia ingin sekali melahap dua gunung kembar terbuka yang bersentuhan dengan dadanya. Tapi dia khawatir Ana akan sedih dan menangis lagi.
"Ana, kau mau mau tahu saat pertama kali aku tertarik dan suka padamu?"
Ana kembali menatapnya. Hembusan nafas wangi Arley menerpa di wajahnya, begitu juga sebaliknya.
"Apa saat aku sedang mabuk?" tanya Ana pelan pelan dan agak malu.
Arley tertawa kecil.
"Kau sangat menggemaskan saat sedang mabuk sayang, dan kau membuatku bergairah." bisik Arley mesra. Merasa tak tahan, Arley melahap kedua buah kembar itu dengan rakus.
Ana kaget di serang tiba-tiba, dia mendesah tertahan sambil menggigit bibir bawahnya.
"Bapak sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi." keluh Ana kesal seraya menutup kedua buahnya dengan tangan.
"Itu kan hanya payudara mu sayang, bukan milik pribadi mu, jadi gak dosa. Salah sendiri mereka berdua nantangin aku sejak tadi." Arley tertawa kecil.
Ana menatapnya kesal.
"Aku tertarik dan suka padamu saat melihatmu di pesawat komersial." ucap Arley kembali.
Dahi Ana mengernyit.
"Saat kau sedang perjalanan ke Bali untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan. Masih ingat nggak siapa yang duduk di sebelah mu?"
Ana langsung mengingat dengan dahinya yang mengerut.
"Penumpang laki laki, dia sedang tidur, dan wajahnya ditutupi masker." kata Arley membantu ingatan Ana.
Tiba tiba Ana teringat."Jadi pria itu Bapak?"
Arley mengangguk.
"Kau lihat ini cakaran kuku mu?" memperlihatkan bekas luka cakaran kuku Ana di punggung tangan kanannya.
"Ma maaf pak, saya tidak sadar melakukannya." Ana merasa bersalah.
"Aku tahu. Kamu sepertinya sedang mimpi buruk saat itu, makanya ku biarkan."
Arley memegang wajahnya lembut. Keduanya kembali bertatapan.
"Ana, mulai dari pesawat itu aku memiliki rasa suka padamu. Dan rasa Cintaku tumbuh saat melihatmu di ballroom. Aku tidak tahu kalau kau adalah pegawai ku yang bekerja di kantor cabang di 2 milikku. Aku juga tidak tahu kau arsitektur cabang dua yang telah memberikan kontribusi besar pada perusahaan ku. Aku senang sekali karena dapat bertemu lagi dengan mu di ballroom."
Arley memegang kedua tangan lembut, menatap matanya dalam dalam.
"Sayang, kita berdua sudah melakukan dosa besar. Maka jadilah wanitaku, jadilah istriku. Aku benar-benar sayang padamu, tulus mencintaimu. Kau jangan ragu akan hal itu." menatap serius.
Ana tak menjawab, dia ragu. Karena melihat status Arley bukan orang sembarangan dan dari kelas atas, bahkan seorang bos di perusahaan besar ternama. Sedangkan dia?
Sungguh sangat tidak sepadan dengan dirinya.
Dia khawatir Arley hanya sekedar main-main dengannya untuk mencari kesenangan. Karena tidak mungkin pria seperti Arley yang memiliki segalanya tidak mempunyai wanita dalam hidupnya.
"Karena kau diam tak menjawab, aku menganggap kau menerimaku. Sekarang kita adalah pasangan kekasih. Kau adalah milikku dan aku milikmu." kata Arley.
Ana terkejut.
Arley tersenyum.
"Kita jadian sayang." Arley mengecup bibirnya, dan tanpa permisi kembali menyerang benda kenyal itu. Sampai Ana memukul bahunya karena susah bernafas barulah dia berhenti.
"Sekarang kau makan." Kata Arley setelah melepaskan pangutan bibirnya. Dia bangun dari tubuh Ana.
Ana segera menutup dadanya.
"Buat apa ditutupi sayang. Aku sudah melihat dan mencicipinya berulang kali." kata Arley tersenyum menggoda.
Ana manyun manyun melihatnya. Arley segera memakaikan bra dan blouse Ana. Sebenarnya dia ingin sekali melakukan hal intim tapi tak ingin membuat Ana sedih.
Ponselnya bergetar. Arley segera meraihnya.
Sebuah pesan masuk membuat raut wajahnya langsung tegang.
"Tuan, Savira sedang menuju ruang kerja anda, sedikit lagi dia sampai." Pesan dari Heru. Di susul satu pesan lagi.
Arley menoleh pada Ana yang sedang berdiri mengunci pengait rok di belakang. Arley segera mendekat dan membantunya mengaitkan, karena dia yang melepas tadi. Setelah pakaian Ana rapi, dia segera membawa gadis itu ke meja makan.
"Ana, dengarkan aku. Setelah makan Istirahatlah di sini. Kau pasti capek dan mengantuk kan? Jadi tidurlah. Jangan kemana-mana sampai aku datang, kau dengar? Tetaplah di sini jangan keluar. Dan jangan memberitahukan keberadaan mu pada siapapun di sini, jika perlu matikan ponselmu."
"Kenapa?" tanya Ana bingung.
"Tidak ada apa sayang, aku hanya ingin kau istirahat dengan nyaman tanpa ada gangguan. Karena aku tahu ragamu lelah. Dan nanti sore aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Jadi tidurlah sebentar. Kalau kau ingin mandi, mandilah dulu. Ada beberapa potong pakaian ku di dalam lemari."
Arley mengambil kemejanya dan segera di pakai. Dia mendengus kesal karena miliknya yang sakit dan masih tegang. Hasrat tidak tersalurkan dan membuatnya tersiksa.
"Tapi bukannya sebentar lagi akan ada rapat tertutup? Kata Roy, bapak juga menyuruh Tim kami untuk bergabung." kata Ana menatapnya.
"Kau tidak perlu ikut. Nanti akan ku suruh Heru untuk menyampaikan ke teman-teman mu." Arley mendudukkannya di kursi makan.
"Makan yang banyak ya? Aku pergi dulu." Arley mengecup keningnya. Lalu berbalik dan melangkah buru buru.
"Pak__" panggil Ana pelan.
Langkahnya terhenti, dia berbalik menatap Ana."Ada apa?"
"Apa benar anda memecat pak Riko?"
"Kau jangan sebut namanya lagi. Ingat, jangan pernah lagi berhubungan dengannya. Jika dia menghubungimu, jangan di layani. Sekalian blokir saja nomornya." titah Arley tegas.
Ana menelan ludah, lalu mengangguk.
Arley mendekat dan menyapu kepalanya lembut."Teruskan makan mu. Aku pergi dulu."
Ucapnya lembut. Dia mengecup puncak kepala Ana, Lalu melangkah cepat menuju pintu. Ana menatap kepergiannya sampai hilang di balik pintu. Lalu menerus kan makannya. Sebenarnya dia lapar, tapi tak berselera untuk makan.
Arley keluar pelan pelan dan segera menguncinya dari luar. Dengan cepat Arley menyambar sebuah buku dan headset yang telah di letakkan Heru sebelumnya. Dia segera menjauhi pintu kamar pribadinya.
Dia segera duduk, memasang headset di telinga, dan pura pura membaca.
"Katakan di mana tuan mu Heru?" Terdengar suara agak keras seorang wanita dari ruang kerjanya. Suara Savira. Yang datang tiba-tiba ke kantornya.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya...
plisss buat season 2 nya