NovelToon NovelToon
Akhir Kisah Cinta Tria

Akhir Kisah Cinta Tria

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:491.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: pecinta hijau

Tria Handayani Marzuki adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama dengan kedua orang tua angkatnya, atas ke inginkan dari ayahnya sebelum beliau meninggal.

Awalnya Tria mengira ia akan hidup bahagia bersama mereka, namun dengan seiring berjalannya waktu yang di dapat Tria hanyalah kesedihan dan kesengsaraan.

Tria di perlakukan seperti seorang pembantu di rumahnya sendiri, Tria mencoba untuk tetap menjalani kehidupannya dengan rasa ikhlas. Keberadaan sahabatnya membuat Tria bertahan untuk hidup, hanya bersama dengan mereka Tria bisa tertawa lepas.

Tria mencintai salah satu dari sahabatnya, Satrio Nugraha yang ternyata ia juga diam diam mencintai Tria. Hingga suatu saat Rio memberanikan dirinya untuk mengutarakan perasaannya kepada Tria, dan Tria menyambutnya dengan bahagia.

Kisah cinta yang baru saja di mulai, harus kandas begitu saja karena Tria di jodohkan dengan pria lain oleh Karmila, mamah angkatnya.

"Aku memilih dia." ucap Tria.

Rio yang mendengarnya sungguh tidak menyangka dengan keputusan yang diambil Tria, Tria mengorbankan kebahagiaannya. Hanya untuk menuruti keinginan Karmila, mamah angkatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta hijau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 16

Di lorong temaram di pertigaan jalan menuju villa Rio.

Tria masih ketakutan, apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang? Dia hanya bisa menanti sebuah keajaiban datang untuk membantu dirinya.

”Siapa kalian? Apa mau kalian sebenarnya?” tanya Tria lagi.

”Hahaha hahaha hahaha.” Ketiga pria itu tertawa keras mendengar pertanyaan Tria.

”Apakah penting jika kamu mengetahui siapa kami, Nona? Hahaha, sama sekali tidak penting! Yang penting sekarang adalah waktunya untuk kita bersenang-senang, Nona!” ucap salah satu pria tersebut.

Tria menggeleng. ”Tidak, lepaskan aku! Jangan macam-macam denganku! Pergi kalian!” Tria mencoba melawan mereka, membela dirinya, yang sebenarnya ia sangat takut sekarang.

”Lepaskan? Hahahaha, sangat rugi untuk melepaskan mu sekarang, Nona! Kita bersenang-senang sedikit dulu, Nona!” ucap pria tersebut lagi.

”Hahahaha, itu benar sekali kawan! Saatnya untuk kita bersenang-senang, hahahaha.” sambung kedua pria lainnya.

Lelaki yang berdiri di tengah-tengah di antara ke tiga pria tersebut berjalan mendekati Tria. Semakin dekat pria itu berjalan maju, perlahan-lahan Tria berjalan mundur kebelakang menghindari pria tersebut.

”Tidak, jangan dekati aku!”

”Jangan takut, Nona! Kami tidak akan kasar padamu. Kami akan bermain dengan lembut!” sahut pria tersebut sambil terus melangkah maju.

Tria tidak bisa berjalan mundur lagi, tubuhnya mentok, sudah tertahan dinding.

Oh tidak! Ya Allah... Rio tolonglah aku! Rio.. Risno.. Bagas..tolong aku! benak Tria.

Tria semakin ketakutan. Lelaki itu sudah berdiri tepat di depannya dengan menyeringai jahat, melihatnya dengan penuh nafsu.

”Hanya sebentar saja, Nona! Bersenang-senanglah denganku! Setelah aku, giliran mereka berdua.” ucap pria itu sambil menunjuk kedua temannya.

”Hahaha hahaha,” kedua pria yang di tunjuk tertawa mendengar ucapan temannya itu.

Tria kembali menggeleng, ”Tidak...! Tolong...! Jangan..! Lepaskan aku...!” teriak Tria saat pria itu memegang kedua tangannya, menghimpitnya di dinding tersebut.

”Lepaskan kamu? Ok, setelah aku puas mencicipi mu, baru aku lepaskan.” jawab pria tersebut.

”Hahaha hahaha.” kedua teman pria itu kembali tertawa saat mendengar ucapan temannya.

Tria kembali menggeleng, ”Tidak! Aku mohon, lepaskan aku! Aku akan memberikan apapun yang kalian minta. Tapi, tolong biarkan aku pergi!” Ia kembali memohon pada mereka untuk melepaskannya dengan pandangan mengiba.

Pria di depannya menggeleng cepat, ”Kami, hanya menginginkan ini, Nona.” Lelaki itu meraba tubuh Tria.

”Tidak! Jangan sentuh aku!” teriak Tria

”Hahahaha. Teriak lah, Nona! Tidak ada orang yang akan mendengar teriakan mu di sini, Nona! Teriak lah...sebut nama ku.. Nona... gairah ku semakin membara...” ucap pria itu.

Bagaimana aku bisa berontak! Tubuhku dihimpit begitu kuat di dinding ini, susah di gerakkan! Kedua tangan ku di pegang erat-erat! Bagaimana caraku terlepas dari mereka? Semoga Rio, Risno, Bagas menemukan aku disini! Aku hanya bisa mengelabui mereka saja...semoga saja ada yang akan datang menolong ku nanti...benak Tria.

”Rio...kamu sudah datang! Tolong aku Rio....” Tria sengaja mengalihkan perhatian ketiga pria tersebut.

Ucapan Tria berhasil membuat ketiga pria itu menoleh kebelakang. Tria tidak mensiakan waktu. Ia menendang ************ pria di depannya dengan kuat. Hingga pria tersebut menjerit kesakitan sambil memegang pusaka nya dan mundur beberapa langkah dari Tria.

Tria segera berlari.

”Gadis kurang ngajar! Tunggu saja kamu! Argh, sakit sekali! Kuat juga tenaganya wanita itu. Hei, kalian! Tahan wanita itu!” teriaknya pada kedua temannya.

Kedua pria yang di maksud, kembali menoleh, mereka melihat temannya sedang memegang pusaka nya dengan meringis kesakitan. Salah satu dari kedua pria itu menangkap Tria kembali.

”Tidak, lepaskan aku! Tolong...!”

”Kamu tidak bisa lepas dari kami dengan begitu mudah, Nona!” ucap pria yang sedang menahan Tria.

Pria yang kesakitan tadi sudah sedikit pulih, ia mendekati Tria. Ia menarik tubuh Tria dengan kuat dari temannya itu. Ia menjepit kedua wajah Tria dengan kuat.

”Mau mencoba ngerjain kami, Nona?!” ucap pria itu dengan marah. Ia menjatuhkan tubuh Tria ke lantai dengan kasar. Kakinya menahan kaki Tria, kedua tangan Tria di satukan dan di tahan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mulai menjamah tubuh Tria.

”Tidak, tolong.... tolong ....” teriak Tria dengan ketakutan. Ia menangis dan menjerit meminta tolong, berharap ada orang yang datang menolongnya.

”Teriak saja sepuas mu, Nona! Tidak ada yang akan datang menolong mu disini!” ucap pria tersebut.

”Hahahaha hahaha.” kedua temannya yang lain kembali tertawa.

Tria terus menggerakkan badannya mencoba untuk melepaskan diri dari kungkungan pria bejat yang berada di atas tubuhnya. Ia menggeleng kan kepala menolak ciuman dari pria tersebut. Tria menanduk wajah pria di depannya itu dengan kuat, yang membuat jidatnya sendiri memerah.

”Argh! Kurang ajar!” pria tersebut menjerit kesakitan. Ia semakin geram, pria itu semakin mencengkram kuat tangan Tria dan semakin menjepit tubuh Tria dengan tubuhnya agar Tria sulit untuk memberontak.

”Tolong... Rio... Risno... Bagas...tolong aku...tidak, lepaskan aku....” teriak Tria.

Bugh! Bugh!

Kedua teman pria bejat itu jatuh tersungkur di samping Tria, membuat pria yang menindih tubuh Tria bangkit seketika.

Bugh! Pria itu mendapat pukulan dan tendangan keras dan membabi buta dari Bagas saat ia berdiri.

”Bangsat, beraninya kalian menyentuhnya! teriak Bagas dengan marah.

Tria sangat bahagia mendengar suara Bagas. Dia segera bangun dan berdiri. Ia berlari ke samping kanan Bagas, memegang kuat bahu kanan dan lengan Bagas. Bagas bisa merasakan ketakutan Tria, dari tangan Tria yang gemetar saat memegang lengan dan bahunya.

”Kamu tidak apa-apa, Tria?” Bagas membelai wajah ketakutan Tria. Ia melihat jidat Tria yang memerah dan sedikit membengkak, seluruh badannya masih terlihat gemetar. Bagas memeluk Tria, ”Kamu tenanglah! Kamu aman sekarang, ada aku disini.” dia menenangkan Tria.

”A..aku... aku ti..tidak apa-apa! Ba...Ba..Bagas! Me-mereka..!” Tria tidak melanjutkan ucapannya, ia berganti dengan menunjuk ketiga pria bejat itu. Bagas menoleh melihat mereka.

Bagas mendorong pelan tubuh Tria kebelakang, ketika ketiga pria itu melancarkan aksinya ingin mengeroyok memukul Bagas.

Bagas yang memiliki kemampuan karate, melawan mereka bertiga bukan lah apa-apa baginya. Perkelahian tidak terelakkan lagi. Mereka saling menghajar dan meninju.

Salah satu di antara mereka kembali tersungkur ke tanah mendapat satu tendangan keras dari Bagas tepat mengenai perutnya.

Di waktu bersamaan Rio mendengar suara orang ribut berkelahi. Rio semakin mempercepat langkah kakinya mendekati arah suara ricuh tersebut.

Pria yang tersungkur di tanah bangkit kembali, ia mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya.

Tria melihatnya, ia menggeleng. Tidak, Bagas! benaknya.

Tria berlari cepat ke arah Bagas.

Saat Bagas masih saling hajar dengan kedua pria bejat lainnya dengan posisi Bagas yang membelakangi pria yang memegang pisau itu, pria itu menusuk Bagas dari arah samping.

Jlep!

Jlep!

”Argh!” jerit Tria kesakitan sambil memegang perutnya.

”Tria..!” Rio berteriak histeris melihat Tria yang tertusuk pisau.

Ia berlari kencang menghampiri Tria. Ia menendang dan meninju pria yang sudah menikam Tria dengan tendangan dan pukulan yang membabi buta. Hingga pria tersebut jatuh tersungkur tidak berdaya ke tanah.

Bagas sudah mengalahkan kedua preman lainnya, ia terkejut mendengar teriakan Rio. Bagas menoleh kebelakang, ia lebih terkejut melihat darah yang keluar dari perut Tria. Sigap Bagas menangkap tubuh Tria yang terjatuh. Bagas syok melihat keadaan Tria seperti itu.

”Tria... Tria buka matamu, Tria...” ucap Bagas dengan cemas dan panik sambil menepuk pelan pipi Tria.

Yuli tersenyum senang, Bagus! Kerja bagus! Tidak sia-sia aku membayar kalian. benaknya.

Rio segera mendekati Bagas, dia mengambil tubuh Tria dari tangan Bagas.

”Tria, bertahan lah Tria...ku mohon...bertahan lah....” ucap Rio dengan khawatir. Matanya berkaca-kaca melihat Tria yang terluka. Begitu banyak darah yang terus keluar dari perut Tria.

Tanpa membuka matanya, Tria mengangguk lemah.

Rio segera menggendong tubuh Tria. Ia berlari membawa Tria keluar dari lorong sempit itu. Yuli dan Bagas mengekor di belakang Rio.

Setelah keluar dari lorong, Bagas mendahului langkah Rio, ia bergegas menahan taksi atau mobil yang lewat disekitar gang itu.

Mobil hitam berhenti tepat di depan Bagas,

kaca mobilnya turun perlahan, terlihat seorang wanita yang mengendarai mobil tersebut.

”Kenapa Bang?” tanya wanita itu.

”Bisa tolong putar balik? Temanku kecelakaan, dia harus segera di bawa ke rumah sakit!” jawab Bagas.

Wanita itu mengangguk dan memutar arah mobil dan segera membuka kunci pintu belakang mobilnya.

”Buruan, Rio! Kita harus cepat!” ucap Bagas lagi.

Kening wanita itu mengerut mendengar nama pria yang di panggil Bagas.

Rio? Apakah itu Rio, ku? Satrio Nugraha? benak wanita itu.

Rio masuk ke dalam mobil, dia memangku tubuh Tria yang melemah. Bagas menyusul masuk ke dalam mobil. Sedangkan Yuli, ia duduk di bangku depan bersama wanita itu.

Wanita itu menjalankan mobil dengan melaju cepat, membelah jalan sempit itu menuju rumah sakit terdekat di area sekitar. Hening! Itulah suasana dalam mobil.

Sesekali wanita pemilik mobil itu memandang Rio dan Bagas lewat kaca spionnya.

Siapa wanita yang sedang terluka itu? Rio terlihat begitu cemas, begitu juga pria yang duduk di sampingnya. Tidak kalah cemasnya dari Rio. Apa wanita itu adik mereka? benak wanita itu.

Wanita itu melirik dan memperhatikan Rio, sesekali ia melihat ke jalan raya dan sesekali melirik Rio. Ia ingin memastikan lagi apakah itu Rio nya atau bukan?

Wajah itu, bibir, dan mata itu? Iya benar, dia adalah Satrio Nugraha, pujaan hatiku. Takdir kembali mempertemukan kita, Rio. Tapi, apakah kamu masih mengenaliku? Sudah enam tahun kita berpisah, Rio. Ku harap, kamu masih mengenal ku. benak wanita itu.

Ia menghela nafas, ia memutar mobilnya, memasuki area parkir rumah sakit. Ia segera menghentikan mobilnya. Bagas segera membuka pintu mobil dan segera turun disusul Rio. Rio segera berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil menggendong tubuh lemah Tria.

”Bertahanlah Tria, ku mohon..! Jangan terjadi apa-apa dengan mu..! Bertahanlah, kita sudah sampai di rumah sakit! Kamu akan segera di obati...” ucap Rio pelan.

Bagas menutup kembali pintu mobil. ”Terima kasih, kamu sudah bersedia membantu kami.” ucapnya tulus.

”Tidak masalah. Sesama manusia bukan kah kita harus saling tolong menolong?” sahut wanita itu.

”Iya, kamu benar! Sekali lagi terima kasih untuk mu, Nona.”

”Nisa,” Nisa langsung menyebutkan namanya.

Bagas tersenyum, ”Terima kasih, Nona Nisa.”

”Sama-sama, Bang.” sahut Nisa.

”Bagas.” Bagas melakukan hal yang sama dengan Nisa, menyebutkan namanya.

Nisa tersenyum ramah. ”Bagas. Baiklah, aku pergi sekarang. Semoga teman kalian cepat sembuh.” pamitnya.

”Hum, terima kasih, doanya.” sahut Bagas.

Nisa mengangguk dan menutup pintu mobil depannya yang tidak di tutup oleh Yuli, saat Yuli turun dari mobil.

Nisa menaikkan kaca mobilnya perlahan dan berlalu dari halaman parkir rumah sakit.

Bagas dan Yuli segera masuk ke dalam rumah sakit, menyusul Rio.

”Dokter! Suster! Tolong aku...” teriak Rio.

Ia melihat satu brankar kosong. Ia membaringkan tubuh Tria yang sudah lemah di atas brankar tersebut. Suster yang melihatnya segera menghampiri Rio dan membantu Rio mendorong brankar keruang UGD dan suster lainnya memanggil dokter.

”Pak, silahkan tunggu di situ.” cegah suster pada Rio yang ingin ikut masuk ke dalam ruangan UGD, bersama dokter. Dia menunjukan tempat duduk untuk Rio. Suster itu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu ruangan UGD.

Rio duduk bersandar di salah satu bangku yang tersedia di sana, ia menutup matanya, menarik nafas panjang dan menghempaskan ke udara dengan pelan.

”Gimana keadaannya?” tanya Bagas, yang sudah duduk di sebelah Rio.

Rio membuka matanya, menoleh, melihat Bagas sebentar. ”Tria masih di dalam, dokter baru saja masuk memeriksanya.” jawabnya. Suaranya bergetar, karena khawatir dan cemas.

Bagas menepuk bahu Rio pelan, ”Semua akan baik-baik saja! Jangan terlalu cemas, di sini banyak dokter ahli.” dia menenangkan Rio. Padahal dia sendiri sedang cemas.

Rio kembali menghela nafas, ia mengangguk.

Yuli sangat cemburu dan marah melihat Rio yang begitu tertekan dengan kondisi Tria sekarang. Kenapa Rio begitu perhatian dengan Tria? Kenapa Rio tidak bisa perhatian padanya, seperti dia perhatian pada Tria?

Semoga dua luka tusukan itu bisa mengakhiri hidupmu, Tria! Lebih cepat kamu mati, membuat ku lebih gampang memiliki Rio. benak Yuli.

1
Denni Siahaan
"semoga dapat ganjaran Karmila
Kadek Bella
lanjut thoor,nggak ada party nya
Aldin Andi
cerita yang bagus
Rosita Husin Zen
tria hamil apa lgi athor kasih tria hamil sepasang anak kembar alhamduliah banget biar tambah bahagia banget kehidupan rumah tangganya rio dan trià aaamiin
Rosita Husin Zen
tria laki laki masih babyàk banget yg lebih baik dari rio jdi jangan tàkut di tinggal sama di sàkiti sama rio aruh selagi kamu tria masih gadis bàik cantik
Rosita Husin Zen
thor knp ga mampus aja sih orang jahat dan licik seprti yuli dan mamanya
Rosita Husin Zen
cepat cepat kàsih tau thor yg jahatin tria kan kasohan banget tria thor
Rosita Husin Zen
cerita ini ga pakai sholat dan mengaji dan memakai jilbab/pakai baju syari yà thor
pecinta hijau: iya...
total 1 replies
Rosita Husin Zen
ini certa nya tetantang keserakahan licik saudra angkat yg tidak tau diri dan tidak punya malu dengan mengambil hak punya orang lain astagfirllohhalazim
Elmiah
senang aku liat rio sama tria nikah mantao
Elmiah
senang aku tapi air mata ku menetis bacanya ro mane kasih tahu juga dong
Elmiah
tria harus kuat
Elmiah
tria lemah takut jadi gak seru bacanya seandai nya tria kawin sama ismael rio nya lemah gak seru
🌻Ruby Kejora
Salam kenal kk. Sukses bwt kk 🌼🌼❤️
pecinta hijau: salam kenal juga.. aamiin...terima kasih
total 1 replies
Aldin Andi
diam diam cinta... langsung saja katakan kalau cinta...nanti xesel loh kalau Rio mencoba mencintai wanita lain.
Aldin Andi
wah...saingan cintax Rio..
Aldin Andi
benar sekali...rindu itu sangat menyiksa....
Aldin Andi
tenang. Mamanya Rio juga setuju kok
Aldin Andi
dekat dekat Tria hanya untuk seorang pria. Ada maunya saja.
Aldin Andi
kamu salah, seharusnya kamu berbagi suka duka dengan teman mu. apa artinya sahabat kalau kamu tidak berbagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!