Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGUBUR MASA LALU
Raniya lebih ceria terlihat oleh Azis semenjak Taufiq berpamitan semalam. Dia seperti telah mengikhlaskan Nathan sepenuhnya.
"Raniya..." Panggil Azis dengan lembut.
"Iya, Ayah?" Sahutnya menghentikan suapannya.
"Apa yang semalam... Adalah Taufiq yang sama?" Tanya Azis ragu-ragu.
Raniya termangu sejenak. "Bukan, Yah. Dia sekarang Taufiq Haytham, polisi muda yang berstatus duda tiga anak." Sahut Raniya datar.
"Duda?" Aziz sedikit ternganga. Dia terlihat tidak percaya dengan ucapan putri semata wayangnya itu.
"Iya, Yah. Dia duda kematian istri. Istrinya meninggal saat melahirkan anak ke tiga mereka beberapa bulan yang lalu." Ujar Raniya meyakinkan Ayahnya. "Kasihan mereka, Yah. Aku pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Dan itu pasti sangat sulit pula untuk Taufiq sendiri." Ucapnya terdengar normal.
"Yah... Ayah..." Panggil Raniya sedikit menggoyangkan tubuh ayahnya yang terpaku mendengar ceritanya tentang Taufiq.
"Eh? I-iya, Sayang. Ada apa, Nak?"
"Ayah bahkan kewalahan menjagaku seorang diri tanpa ibu bukan, Yah?" Tanya Raniya sendu.
"Tidak, Nak. Ayah tidak pernah merasa begitu. Hanya saja, Ayah merasa pedih jika setiap kali kamu melihat orang sebayamu memiliki ibu. Kamu terlihat sedih, dan itu membuat ayah tidak tahu harus berbuat apa untukmu. Ayah tidak ingin kamu melupakan ibumu, makanya Ayah tidak pernah berniat mencari pengganti ibumu, Nak." Ujar Azis terlihat menerawang.
"Terima kasih, Ayah... Ayah adalah Ayah terbaik. Raniya beruntung menjadi putrinya Ayah" Ucap Raniya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah juga beruntung menjadi Ayahmu, Sayang. Jangan bersedih lagi, Nak. Untuk Ayah..." Pinta Azis berharap penuh.
Raniya mengangguk sembari tersenyum kecil. Dia menyeka air mata ayahnya yang sedikit mengalir di wajah keriput itu.
"Ma'afin Raniya ya, Ayah... Raniya menjadi bodoh hanya karena duka..." Ucapnya lirih. Tampak penyesalan tergambar di muka polosnya.
Keadaan kembali membaik, itu pikir Azis. Raniyanya sudah seperti semula, hanya saja terlihat sedikit dingin. pandangan Azis menangkap perasaan putrinya. Dia sangat yakin bahwa Raniya masih menyukai pemuda yang telah mengantarkan Raniya semalam, Taufiq Haytham.
"Sayang... Nanti ayah ada pertemuan di luar kota. Mungkin ayah pulang sedikit terlambat. Kamu tidak mengapa sendiri, Nak?" Azis memulai lagi obrolan ringan mereka. Itu pertama kali bagi Azis menyampaikan pekerjaannya kepada Raniya semenjak duka empat bulanan lalu berselubung.
"Tidak apa-apa kok, Yah. Rani baik-baik saja. Ayah tidak usah cemas." Sahut Raniya yakin.
"Oh ya, Nak. Kalau kamu bosan, kamu kembali saja bekerja di rumah sakit. Peluang kamu begitu besar untuk menjadi dokter lagi..." Azis menyemangati Raniya. Barangkali saja, Raniya benar-benar memiliki semangat hidup lagi jika kembali mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter.
"Raniya akan coba pikirkan, Yah. Untuk saat ini, Raniya mau istirahat saja terlebih dahulu. Raniya belum berminat." Sahutnya berusaha menyikapi dengan santai usulan ayahnya.
"Hmm... Baiklah... Ayah tidak akan memaksamu, Sayang."
Azis menyudahi sarapannya. Diliriknya jam tangannya dan bergegas bangkit dari kursi yang ia duduki saat itu.
"Ayah berangkat, Ran... Kamu baik-baik di rumah ya. Kalau ada apa-apa, kamu segera hubungi Ayah..."
"Baik, Ayah. Ayah hati-hati..." Sahut Raniya ikut bangkit dan berjalan mengantarkan ayahnya ke depan.
*****
Sepeninggal Ayahnya pergi bekerja, Raniya kembali ke kamarnya. Dia memutar bola matanya, menyapu seluruh ruangan itu. Sesaat, pandangannya menetap pada Foto Nathan yang tersenyum di depan rumah sakit tempat dulunya bekerja, di atas nakas samping tempat tidurnya.
Raniya mendekat ke sana. Tangannya dengan gemetar mengambil foto itu.
"Maafin aku, Nathan... Kita memang tidak memiliki banyak kenangan, tapi bagiku kamu akan selalu terkenang untuk selamanya. Lelaki pertama yang sudah menghalalkan aku, dan mencintai aku dengan tulus hingga akhir hayatmu." Raniya mengusap kaca figura yang di dalamnya ada gambar almarhum Nathan dengan jemarinya.
Nathan... Izinkan aku menguburmu sebagai masa lalu. Aku ingin bahagia di masa depan, Nath. Biarkan aku perlahan kembali mencari jati diriku yang hilang. Sungguh... Aku sangat menghargai cintamu...
Jangan marah, Nath... Tetap tenang di alam sana. Aku yakin, kamu bahagia dengan bidadari-bidadari syurga yang dihadiahkan Allah untukmu. Kamu lelaki baik setelah Ayah yang aku kenal...
Raniya menyeka air matanya yang mengalir deras. Dia terdengar sesenggukan.
Berangsur-angsur, Raniya mengepak semua barang yang berkaitan dengan Nathan. Raniya benar-benar tampak serius dengan tekadnya.
Tidak ada yang tersisa lagi di kamar itu tentang Nathan, kecuali di benaknya. Memorinya masih menyimpan lekat hadirnya Nathan di masa lalu.
Tempat tidurnya yang sebelumnya masih berserakan bunga mawar layu, sekarang bersih. Dia mengganti sprey tempat tidurnya dan menurunkan kelambu-kelambu putih yang berjuntai di atasnya.
Jendela kamarnya yang biasa terkunci pun menganga. Kamar itu tidak lagi kedap. Dia sudah kembali, tapi sebagai Raniya baru yang banyak diam dan sedikit keras.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍