Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan main fisik
"APA YANG KAMU LAKUKAN? KAMU SENGAJA, YA MAU MEMBUAT MAMA MALU?" Mama Anya tidak bisa lagi menahan rasa marahnya, dia membentak Nindi dengan berapi-api. Nindi tercengang kaget mendapat bentakan seperti itu, sangat menusuk kedalam hatinya. Tapi Nindi tidak berkecil hati, dia sudah terbiasa mendapat cacian juga makian seperti itu dari Levin.
Semua pengunjung menoleh kerah mereka, merasa terganggu dengan teriakan mama Anya. Mama Anya tidak perduli lagi kalau dirinya tengah menjadi pusat perhatian disana, dia hanya ingin memberi Sheerin pelajaran karena berani-beraninya anak itu berbuat diluar dugaannya.
Para pengunjung terlihat berbisik-bisik membicarakan tentang mereka, juga menerka-nerka apa yang sedang terjadi.
"Kamu mau membangkang mama? Apa kamu pikir dengan cara rendahan seperti ini pernikahannya akan dibatalkan? Tidak! Bagaimanapun juga, apapun yang terjadi, pernikahan ini akan tetap dilangsungkan." Mama Anya masih bicara sambil marah-marah, menoyor kepala Nindi yang tertunduk dengan jarinya.
"Sudah Anya, malu dilihat orang-orang. Ini hanya masalah kecil." Luis mencoba menenangkan wanita paruh baya yang sedang tersulut emosi, tapi sepertinya mama Anya tidak terpengaruh sama sekali.
"Anak ini benar-benar keterlaluan, dia sudah melempar kotoran kewajahku. Dimana aku harus menaruh wajahku?"
Bima hanya terdiam, menyimak drama keluarga yang disuguhkan dihadapannya, belum berniat untuk membuka suara, tapi utuk apa dia buka suara, seruan isi hatinya pasti tidak akan didengar juga, percuma.
Nindi masih diam mematung diposisinya, menundukkan wajahnya dalam-dalam, bukan karena takut kepada mama Anya, dia merasa malu karena sudah berpikir ingin memiliki Bima. Laki-laki itu tampak bergeming dan bersikap tenang meskipun kekacauan terjadi di hadapannya. Membuat Nindi semakin jatuh lebih dalam lagi karena sikap diamnya laki-laki itu. Diamnya saja sudah membuat Nindi mau memberikan separuh hatinya, apalagi kalau Bima bertindak sesuatu, Nindi pasti dengan suka rela menyerahkan seluruh hidup, hati dan dirinya hanya untuk Bima.
Ahh, memikirkan Bima membuat Nindi semakin gila, tanpa sadar dia mengulum senyum dalam tunduknya, masih malu untuk kembali menatap Bima, dia tidak sanggup harus merasakan sengatan listrik yang lebih besar lagi dari ini. Nindi sama sekali tidak menanggapi kemarahan mama Anya, hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.
Mama Anya semakin murka, ocehannya sama sekali tidak didengar Nindi, anak itu malah senyum-senyum sendiri seolah sedang meledek dirinya. Kemarahannya sudah sampai diubun-ubun, mama Anya siap untuk meledak detik itu juga.
"Dasar anak kurang ajar, tidak tau terimakasih, tidak tau caranya membalas jasa orang tua."
Tiba-tiba Nindi melihat sosok Levin didalam diri mama Anya, perkataannya, nada bicaranya, mengingatkan Nindi kepada Levin. Nindi jadi kesal sendiri saat memikirkan musuh bebuyutannya itu, dia meremas bajunya kuat-kuat. Tanpa sadar dia mulai berani membangkang secara terang-terangan.
"Memangnya jasa baik apa yang sudah mama lakukan buat aku? Mama nggak melahirkan aku, mama nggak memperlakukan aku layaknya manusia. Lalu mama mau aku balas jasa mama yang mana?" Entah mendapat keberanian dari mana, Nindi berani menyamai nada bicara mama Anya. Dia sendiripun kaget dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya begitu saja.
Harusnya dia tetap bersikap baik seperti halnya Sheerin yang selalu patuh, lalu apa kali ini dia sudah gagal melakukan pekerjaannya? Lalu bagaimana dengan uang 50 juta?
"Beraninya kamu!" Mama Anya melayangkan tangannya, benar-benar tidak terima mendapat perlawanan seperti itu, bersiap untuk menampar Nindi. Nindi reflek memejamkan matanya, sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan mama Anya terhadap dirinya.
Sebelum tangannya benar-benar menyentuh pipi Nindi, sebuah tangan lain berhasil menahannya. Ternyata Bima yang menyadari akan adanya kekerasan fisik tidak hanya tinggal diam saja, dia beranjak dari kursinya lalu menghentian tangan mama Anya untuk tidak berbuat lebih.
"Wow." Luis menutupi seringai menggunakan jarinya, baru kali ini dia melihat keberanian dari dalam diri putranya. Selama ini, jika Luis melakukan kekerasan kepada Bima, anak itu hanya diam saja tanpa berani melawan, mengeluh ataupun menangis. Suatu keajaiban bukan, jika anak itu sekarang berani melawan seseorang untuk tidak melakukan kekerasan. Ada kebanggan tersendiri didalam hati Luis kepada anaknya, akhirnya dia memiliki keinginan untuk melawan seseorang yang berbuat salah.
Mama Anya terkesiap, dia melihat tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu beralih menatap siapa pemilik tangan itu. Tatapan mereka bertemu, entah apa yang mama Anya fikirkan, matanya terlihat berkabut, tapi sebisa mungkin dia tidak membiarkan hujan air matanya turun.
Bima pun merasakan suatu perasaan yang aneh, dia pernah merasakan perasaan seperti ini, tapi kapan? Dimana? Dengan siapa? Sepertinya perasaan seperti ini sudah lama sekali singgah di hatinya, sehingga dia mulai lupa dengan perasaan yang entah apa namanya itu.
Nindi masih memejamkan matanya, dia sudah sangat siap mendapat tamparan itu, tapi detik demi detik berganti, bahkan menitpun sepertinya berlalu, Nindi tidak kunjung merasakan sakit di pipinya.
Apa yang terjadi?
Nindi perlahan membuka matanya, mencari tau kemana telapak tangan itu akhirnya berlabuh. Pemandangan mengejutkan terjadi didepan matanya. Bima sedang menahan tangan mama Anya tanpa bersuara sedikitpun, begitupun mama Anya, sebuah ketegangan sangat terlihat jelas dari sorot matanya.
"Tidak baik melakukan kekerasan fisik terhadap anak perempuan." Ucap Bima lirih, dia menghempaskan tangan mama Anya perlahan, lalu kembali duduk di kursinya.
Astaga!
'Apa gue nggak salah lihat? Apa gue lagi nggak salah dengar? Kak Bima ngebelain gue? Ahh senengnya hati gue.' Nindi malah kegirangan dalam hati. Jika boleh, sekarang dia ingin jingkrak-jingkrak dan guling-guling ditanah.
Mendapat pembelaan seperti itu, membuat Nindi merasa dilindungi. Ya, Bima telah menjadi pelindung bagi dirinya. Nindi semakin yakin untuk memberikan sebagian hatinya kepada laki-laki itu. Dia sudah terlanjur kagum kepada sosok dingin tapi berhati hangat itu.
Luis berdiri lalu membimbing mama Anya untuk kembali duduk di kursinya, untung saja mama Anya mau menurut, tapi tatapan matanya tidak lepas dari sosok Nindi yang masih mematung diposisinya.
Luis memberikan Mama Anya segelas air putih, mama Anya menerimanya tanpa menoleh kearah Luis, kemudian menegunya sampai habis tak bersisa. Dadanya masih kembang kempis, seperti sedang menahan amarah.
Luis menyadari situasi tidak mengenakkan diantara mereka, dia memilih untuk memisahkan mama Anya dengan Nindi yang dia sangka Sheerin. Atau tidak, emosi mama Anya akan kembali membeludak saat Sheerin memberikan perlawanan.
"Kalian bicaralah berdua, coba untuk mengakrabkan diri. Kita bicara di meja sebelah sana Anya!" Luis menunjuk meja kosong disudut restoran itu, Mama Anya dengan hati yang masih dongkol terpaksa mengikuti Luis karena tangannya ditarik paksa.
Tinggallah Nindi dan Bima disana, jika Bima masih dengan enjoynya duduk bersandar, maka lain halnya dengan Nindi. Dia masih berdiri mematung dengan hati yang berdebar-debar tak menentu. Dia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa sekarang.
Bima menoleh kearah Nindi dengan dahi yang mengerut.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disana?" Bima mulai pegal melihat Nindi yang masih saja berdiri, padahal Nindi yang berdiri, tapi kenapa jadi Bima yang pegal, ya?
"Ehh." Nindi tidak menyangka si tampan itu mau bicara kepada dirinya, dia pikir kalau laki-laki itu sudah ilfeel duluan kepadanya.
"Hehe, iya." Cengiran khas Nindi akhirnya keluar juga, diapun akhirnya menarik kursi terdekat dan mendudukinya.
Suasana terasa canggung, tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan diantara mereka.
Kita tinggakan dulu sejenak mereka yang saling berdiam-diaman seperti musuh. Kita intip dulu apa yang sedang dibicarakan Luis dan Mama Anya di meja pojok.
"Dasar anak kurang ajar, berani sekali dia mau menggagalkan rencana pernikahan ini!" Mama Anya bersungut-sungut memaki Nindi.
"Sudalah Anya, apapun yang dia lakukan hanya sia-sia, pada akhirnya rencana kitalah yang akan berhasil." Ucap Luis.
"...jadi, apa kamu sudah bertemu dengannya?" Tanya Luis mengalihkan topik pembicaraan.
Mama Anya mencoba untuk melupakan persoalannya dengan Sheerin palsu untuk sejenak. Tapi nanti, lihat saja, anak itu tidak akan lolos dengan mudah.
"Ya." Jawab mama Anya singkat.
"Lalu, apa dia terlihat mencurigai kamu?" Tanya Luis.
"Untuk saat ini belum, dia masih mempercayai aku, kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Maka dari itu, singkirkan dia secepatnya setelah pernikahan ini berlangsung." Jawab mama Anya.
"Bagus Anya, soal singkir menyingkirkan itu pekerjaanku." Luis dan mama Anya kemudian saling melempar senyum sinis, tanda kemenangan mereka.
Hayo, mereka sedang membicarakan siapa? Siapa yang ingin mereka singkirkan?
Kembali kepada Nindi dan Bima.
Ternyata, sedari tadi kita tinggalkan, mereka masih saja saling diam, author jadi gemas ingin menarik mulut Bima agar dia mau buka suara. Sedangkan Nindi, dia merasa ini bukan dirinya, dia mendadak berubah menjadi perempuan dengan nyali yang ciut. Biasanya dengan siapapun dia bertemu, bahkan dengan orang yang baru dia kenal sekaipun, dia selalu bisa dengan cepat mengakrabkan diri, dia orang yang supel. Tapi kenapa saat dihadapkan dengan Bima, semua kelebihannya itu seolah pergi meninggalkannya. Sedari tadi dia hanya memainkan jari-jarinya saja.
"Sudahlah, apapun yang kamu lakukan, tidak akan bisa membuat pernikahan ini batal." Bima tiba-tiba saja bicara, suatu rekor baru dia mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Nindi yang merasa diajak bicara, sontak menoleh kearah Bima.
'Ehh, dia bicara sama gue, kan?' Nindi kemudian celingukan mencari orang yang mungkin sedang diajak Bima bicara, tapi tidak ada, semua pengunjung sibuk dimeja masing-masing. Berarti benar, Bima sedang bicara kepada dirinya. Ahh, hati Nindi jadi berbunga-bunga meskipun hanya diajak bicara.
'Ehh, tapi tadi dia bilang apa? Apa itu artinya dia setuju dengan pernikahan ini? Apa iya cinta pada pandangan pertama gue ini yang akan jadi jodoh gue? Kenapa dia bisa sepasrah itu?' Nindi mulai menghalu.
"M.. maksudnya apa? A.. apa kamu tau sesuatu kenapa mereka ingin sekali me.. menikahkan kita berdua?" Tanya Nindi gugup. Hah, Nindi menjadi seperti Aziz Gagap, bicaranya jadi berbata-bata.
"Aku tidak tau, tapi yang aku tau pasti adalah, jika ayahku sudah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu harus terjadi, apapun dan bagaimanapun caranya." Ucap Bima.
Nindi tidak tau apa Bima sedang berbohong atau tidak tentang rencana dibalik pernikahan ini, tapi yang jelas, Nindi menangkap suatu keseriusan di wajah laki-laki itu. Apa Nindi harus percaya? Apa laki-laki asing yang baru ditemuinya ini bisa dipercaya?
Hatinya mendesak untuk mempercayai Bima karena akal sehatnya sudah tidak berfungsi lagi dengan baik, lalu apa yang harus Nindi lakukan setelah ini? Dia benar-benar sudah terjebak dalam situasi dan perasaan yang seharusnya tidak dia masuki.
***
Sheerin merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia melupakan ponsel Nindi selama beberapa jam terakhir karena sibuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia memperhatikan dengan detail setiap inci ponsel itu, tidak sebagus ponsel miliknya, meskipun android, tapi terkesan jadul. Tapi Sheerin tidak memperdulikan hal itu, asalkan benda itu masih bisa digunakan sesuai dengan fungsinya.
Ada beberapa chat yang masuk dan panggilan tak terjawab, salah satunya dari Vena yang menanyakan keadaannya. Sheerin mengabaikan chat dari Vena karena tadi mereka sudah membahas masalah keadaannya panjang lebar.
Dan ada chat dari kontak bernama Sheerin, Sheerin cepat-cepat membuka chat dari Nindi itu.
'Gimana? Apa keluarga gue percaya kalau loe itu gue?'
'Nyokap loe percaya gue itu loe, tapi dia curiga katanya kenapa kulit gue kok jadi keliatan kusam? Hihi.'
'Sheerin, malam ini gue bakal ketemu sama cowo loe itu, gue yakin rencana kita bakal berhasil, cowo itu bakal ilfeel ngeliat gue. Dan sesuai dengan apa yang loe inginkan, pernikahan loe bakal dibatalkan.'
Sheerin senyum-senyum sendiri membaca rentetan pesan chat dari Nindi. Dia berinisiatif ingin bicara langsung kepada Nindi, dan menanyakan banyak hal, diapun melakukan panggilan suara.
Terdengar nada dering diujung telfon, namun selang beberapa detik tidak juga ada jawaban dari sebrang sana. Sheerin melakukannya hingga beberapa kali.
"Kenapa nggak diangkat sih? Apa Nindi masih sama cowo itu, ya?" Sheerin menatap layar ponsel Nindi sambil bertanya-tanya.
Tiba-tiba, Yuvi masuk kedalam kamarnya, dia dengan santainya berjalan mendekati cermin dan mulai memoles wajahnya. Sheerin yang sedang berjibaku dengan pemikirannya menoleh kearah Yuvi, kembali berbagai pertanyaan muncul dikepala Sheerin.
"Kak Yuvi mau kemana?" Tanya Sheerin benar-benar ingin tau, waktu sudah hampir menunjukan pukul setengah 10 malam, dan Yuvi akan pergi? Kemana? Perempuan berhijab itu tidak mungkin kelayapan di malam-malam seperti ini, kan?
"Kemana lagi, kerjalah. Kamu nggak liat seragam ini?" Yuvi berkata tanpa berpaling dari wajahnya dicermin.
Ahh, iya. Sheerin melupakan fakta kalau kakaknya Nindi ini profesinya sebagai buruh pabrik dan waktu bekerjanya dibagi menjadi tiga shift. Sheerin hanya manggut-manggut saja tanpa beranjak dari posisi tengkurapannya.
"Titip ibu, ya. Jangan keluar lagi, kasian ibu nggak ada temennya. Kalau ibu butuh apa-apa tolong kamu bantu." Yuvi mewanti-wanti.
"Iya kak." Balas Sheerin.
"Udah mau berangkat nak?" Tiba-tiba ibu ikut bergabung dan duduk ditepi kasur lepet tidak beranjang itu, sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Ibu belum tidur?" Tanya Sheerin, dia langsung merubah posisinya dan duduk menghadap sang ibu.
"Ibu baru selesai membuat dimsum, ayo kita makan dulu, mumpung masih hangat." Ibu meletakkan piring berisi dimsum itu diatas kasur. Sheerin menatap makanan hangat itu dengan mata berbinar-binar, seperti baru saja menemukan harta karun sungguhan.
"Waah, kesukaan aku ini bu, aku mau bekal juga ke pabrik ya bu, masih ada?" Tanya Yuvi, dia ikut-ikutan duduk di kasur bersama ibu dan Sheerin.
"Ada, kamu ambil didapur ya." Ibu mengambil satu dimsum dan mencocolkannya kedalam saus pedas, Sheerin ikut melakukan apa yang dilakukan ibu, dia sudah ngiler duluan melihat dimsum itu yang seolah melambai-lambai kearahnya minta dimakan.
"Gimana? Ibu udah enakan? Jangan bekerja terlalu keras, nanti asmanya kambuh lagi. Dan pakai sweeter juga, ibu nggak boleh sampai kedinginan." Ucap Yuvi protektif.
"...dan kamu Nindi, pastikan ibu meminum obatnya tepat waktu, kalau tidak, pengobatan ibu harus dimulai dari awal lagi." Sambungnya kemudian.
"Iya kak, nanti Nindi yang akan menyiapkan obatnya." Sheerin yang tidak tau apa-apa hanya meng-iyakan saja setiap perkataan Yuvi, agar persoalannya cepat selesai, begitu.
"Ibu beruntung sekali memiliki dua anak gadis seperti kalian yang sangat perhatian kepada ibu tidak berguna dan penyakitan ini." Sorot mata ibu memancarkan kesedihan, Sheerin bisa melihat itu dengan jelas. Dengan reflek Sheerin memeluk ibu, ibu membalas pelukan Sheerin. Rasanya hangat sekali berada didalam pelukkan seorang ibu, seumur hidupnya, Sheerin tidak pernah merasakan hal seperti ini. Di tempat sederhana ini, Sheerin bisa dengan mudah mendapatkan kasih sayang yang terasa tulus dari orang-orang yang baru dijumpainya, sedangkan di rumahnya sendiri, kasih sayang itu terasa sangat mahal harganya, bahkan mungkin kekayaan yang dimiliki ayah Sheerin tidak akan mampu membeli kasih sayang itu.
"Ibu jangan berfikir seperti itu, ibu adalah ibu terhebat didunia." Ucap Yuvi yang membuat suasana haru semakin kental.
'Ahh, beruntungnya jadi Nindi, dia dikelilingi oleh orang-orang yang berhati hangat. Gue jadi iri sama loe Nin.' Sheerin membatin, tanpa sadar matanya mulai berkabut.
Ibu mengelus pundak Sheerin dengan lembut, membuat Sheerin merasa dimanja dan disayang. Yuvi tersenyum hangat melihat adiknya yang terlihat manja, tidak seperti biasanya, tapi Yuvi bersyukur karena Nindi tidak lagi acuh tak acuh kepada sang ibu.
"Ayo habiskan dimsumnya, kalau kurang nanti ibu ambilkan lagi."
Dan akhirnya sebelum berangkat, Yuvi menemani ibu dan Sheerin menghabiskan dimsum buatan sang ibu. Disana, Sheerin yang terlihat paling lahap dan menghabiskan banyak dimsum. Masakan seorang ibu kenapa bisa selezat itu?
Meskipun baru beberapa jam Sheerin mengenal mereka, entah kenapa dia sudah merasa nyaman tinggal bersama mereka. Jika bisa, dia ingin selamanya berada ditengah-tengah keluarga hangat ini.
***
Hai siapapun yang baca nove ini, author mengajak kalian untuk meninggalkan jejak setelah membaca, baik itu berupa like, komentar atau
rate bintang 5, karena support dari kalian mempengaruhi semangat author buat nulis...