"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 15
Happy reading!
.
***
Kedua manusia berbeda jenis itu masih tertawa. Entah apa yang mereka bahas, Diego tidak ingin mendengar. Dia menyesal telah ikut ke sekolah hari ini, lebih baik tidur di rumah atau berkeliaran dengan Valent, sesalnya.
Hanya sayang, suara kedua orang itu mustahil tidak didengar. Suara Alita yang melengking, juga suara Summer yang tidak kecil.
"Kamu janji tidak akan mengkhianati aku 'kan?"
Itu suara Alita. Diego ingin tertawa tapi bibirnya kelu, rasa kesal lebih mendominasi. Seorang gadis yang tidak pernah meresahkan perihal ditinggalkan atau dikhianati, kini seperti anak kecil yang merengek agar tetap ikut ke mana pun orang tuanya pergi.
Yang lebih menyebalkan lagi, Summer juga seolah terhipnotis. Pemuda itu ikut berjanji. "Aku janji," ucapnya yang terdengar jelas di telinga Diego.
Diego meringis pelan. Ulu hatinya seolah teriris oleh belati tajam, sakit tapi tidak berdarah. "Manusia tidak ada akhlak. Setan," gumamnya.
Berusaha tidak memedulikan kedua orang itu, Diego memejamkan matanya di punggung meja, benar-benar menulikan telinga dari suara apapun.
Malangnya, seperti guntur yang menggelegar, suara Alita melengking lagi. "Berkencan? Astaga, ini yang sangat aku nantikan."
Teriakan histeris gadis itu memenuhi gendang telinga Diego. Dia hendak marah, tapi lebih melapangkan dada. "Sabar, orang sabar disayang Tuhan."
"Kita akan berkencan di mana?" tanya Alita antusias.
"Kamu suka ke mana?" Suara Summer menanggapi.
Telinga Diego mulai memanas, bukan karena pendingin ruangan di kelas rusak, tapi karena api dari belakangnya mulai membara. Pasangan kekasih yang menganggapnya seolah tidak ada.
Colekan di punggungnya membuat Diego menoleh. Dia mengangkat alisnya bertanya, "Kenapa?" tanyanya mulai kesal.
"Rekomendasiin tempat kencan yang bagus dong," pinta Summer. "Aku dan Alita akan berkencan," lanjut pemuda itu lagi.
Diego menyeringai tipis. Ingin memukul kepala Summer ke tembok, tapi sayang, dia teman. "Kenapa harus aku? Cari di internet sana," tukasnya kesal. Dia menatap tajam pasangan kekasih tidak ada akhlak itu.
"Come on, Man. Kamu tahu aku belum pernah melakukan hal seperti ini."
Summer mulai memelas, wajah tampan dan imut yang menyebalkan makin membuat Diego tidak tahan.
"Masuk ke hutan Amazon lalu pergi gurun Sahara. Setelah itu, terjun bebas ke Angel Falls, dan mati bersama di kawah Yellowstone," ujar Diego kesal. Dia sangat kesal sekarang.
Kedua orang yang saling memadu cinta itu kini terdiam dan saling menatap. Memandang heran pada Diego yang terlihat lusuh.
"Kamu kenapa?" tanya Summer.
Diego menahan kesal. Sebegitu polosnya Summer sampai tidak mengerti tanda darinya. Ternyata, selain cupu, temannya itu juga tidak peka. Pantas saja bisa dikelabuhi oleh Alita.
"Kenapa kepalamu? Aku ingin kalian berdua tetap bersama sampai maut memisahkan. Bahagia bersama, kesusahan bersama dan mati bersama," ucapnya kesal.
Diego mengepalkan tangan di bawah meja, ingin memukul kepala pemuda yang sangat songong di tempat duduknya. "Mati bersama di kawah Yellowstone lebih baik daripada berisik di kelas," tambahnya lagi dan berbalik, tidur dan menutup telinganya dari gangguan.
Kedua orang di belakangnya kini tertawa ngakak. Diego tidak tahu apalagi yang sedang mereka bicarakan. Tidak ingin diganggu seperti tadi lagi, Diego memasang earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya dari seorang penyanyi muda asal Inggris.
Lagu berjudul Dive dari penyanyi Ed Sheeran sangat cocok dengan keadaannya sekarang. Diego meresapi isi syair itu, menyibukkan pikirannya dari segala hal tentang Alita dan Summer.
Tidak ada guru yang masuk membuat suasana kelas makin ramai. Diego tetap bergeming, memutar musik, lagu kian berganti dan dia masih menunduk, tidur dalam pangkuan meja yang menjadi tempatnya berkeluh kesah.
***
Pemilik manik cokelat itu keluar dari gerbang sekolah setelah Alita mengatakan akan pulang diantar pacarnya. Sebenarnya Diego enggan, tapi demi kebahagiaan gadis itu, dia harus merelakannya.
Cibiran dan hinaan dari sebagian siswa yang melihatnya diacuhkan oleh Diego. Menurutnya, jika diladeni maka hanya berakhir dengan sakit mental dan berakhir di rumah sakit jiwa.
Bibirnya tersenyum tipis mendapati sang asisten sudah sigap di parkiran. Valent membukakan pintu mobil untuknya dan tanpa sungkan Diego langsung menyuruh pria itu ke sebuah pusat pembelanjaan besar di kota LA.
"Apa yang Anda butuhkan, Signore? Anda bisa menyuruhku melakukannya tanpa turun sendiri." Valent yang cemas segera mewanti Diego agar tidak melakukan keusilan di mall itu.
Diego terkekeh. Pria di sampingnya selalu waspada karena setiap ada kesempatan Valent akan menjadi sasaran kejahilan Diego. "Aku ingin membeli balon," ucap Diego.
Valent mengerutkan kening, tidak paham. "Biar saya yang membelikannya, Signore."
Diego menahan Valent ketika pria itu hendak keluar dari mobil. "Jaga saja mobilmu, aku takut ada yang menginginkan mobil mewah ini. Kamu bisa bangkrut jika tidak menjaga dengan baik."
Pria itu makin tidak paham. Mana ada orang yang akan mencuri mobil sementara cctv terpajang di seluruh sudut.
"Aku tidak lama," ujar Diego lagi saat Valent hendak bersuara.
Mengenakan sweater berhoodie, Diego menutup kepalanya juga mukanya ditutupi masker. Tanpa peduli larangan Valent, Diego masuk ke sana dan membeli perlengkapan yang diinginkannya.
Balon, snack, kertas minyak, kertas aneka warna, lakban dan juga lem putih, juga berbagai bahan untuk membuat sesuatu yang kini terlintas di benak Diego. Membayangkan itu, bibirnya menyeringai.
Keluar dengan lima kantong penuh benda itu, Diego menyeretnya dan beruntung Valent juga mengikutinya.
"Untung kamu datang," celetuk Diego sambil tertawa kemudian meminta pria itu membantunya. Padahal tadi mati-matian tidak ingin Valent mengikuti.
"Apa yang Anda rencanakan, Signore?" Valent melirik banyak benda yang aneh, seperti akan menghias rumah. Padahal Natal masih sangat lama.
Diego menyeringai tipis. "Seperti saranmu, aku selalu maju terus pantang mundur," tukasnya sedikit sombong.
"Dan berniat menghias rumah?" Valent menebak apa yang akan dilakukan Diego.
Keduanya meninggalkan pelataran mall besar.
"Ya, aku ingin melihat hiasan yang indah dan juga mencuci mata seolah ada hunian baru."
Diego tertawa membayangkan bagaimana ekspresi Alita jika melihat keadaan rumah yang akan berubah karena ulah Diego.
"Anda yakin, Signore? Saya sepertinya meragukan tujuan Anda," ujar Valent sedikit ragu. Pasalnya dia tahu betul bagaimana Diego. Usil dan jahil, serta kejam disaat bersamaan.
Diego terkekeh, menyandarkan kepalanya di dada kursi dan mulai memejamkan mata lagi. "Kamu tidak perlu paham, hanya perlu melihat dan menikmati hidup."
Valent diam sesaat ketika melirik Diego yang sudah memejamkan mata. Itu artinya Diego tidak bisa diganggu lagi. Sampai di kawasan elit di mana apartemen Diego berada, Valent membangunkan.
"Kenapa tidak memutar dulu, Valent?" protes Diego karena tidurnya terganggu.
"Anda sebaiknya bersiap-siap kalau ingin menghias rumah, Signore. Waktu Anda tidak banyak, sebentar lagi Nona Lele akan pulang." Valent mengingatkan.
Diego memicingkan matanya dan meregangkan otot yang sempat pegal. "Tolong bantu aku mengangkat barang itu."
Valent segera mengangkat barang-barang tersebut sementara Diego masih tenang dipelukan kursi. Berkali-kali mulutnya menguap, pertanda semalam tidurnya tidak nyenyak.
"Signore, Anda bisa masuk sekarang."
Diego keluar dengan seringai di bibir. Valent mulai waspada, takut Diego melemparkan binatang yang ditakutinya. Namun, ketakutan itu tidak terjadi. Diego menaiki lift dan Valent mulai menyalakan mesin mobil.
Sialnya, mobil itu tidak menyala dan berakhir dengan jeritan Valent yang menerima nasib malang lagi karena ulah Diego. "Dia pasti menyiram mesinnya," gumam Valent.
Sementara di dalam lift, Diego tergelak. Dia tahu kesialan bagi Valent karena menjadi bawahannya. Tepat di depan pintu apartemennya, bibir Diego kembali menyeringai melihat banyak barang yang dibelinya tadi.
"Kamu akan mendapatkan kejutan manis lagi, Kucing kecil," ucapnya.
.
---
***