NovelToon NovelToon
To Be New Yiyi

To Be New Yiyi

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:184.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Virgi

Sinopsis

Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan ke-2

"Silver, ayo kita jalan lagi! Sepertinya kita harus keluar dari sini," ajakku yang sudah menungganginya.

Kami masih berjalan sekitaran hutan. Kisaran dua kilometer, aku mendengar seseorang sedang bertarung. Suara yang tidak asing di telingaku. Aku memacu kudaku ke arah yang membuatku penasaran dengan kebisingan itu. Silverku sangat peka dengan maksudku.

"Berhenti!" suruhku pada si Silver. Aku turun dari kudaku dan mengintip dari semak-semak. "Silver, kamu tunggu aku di sini! Aku akan ke sana sebentar." Dia terlihat penurut sekali.

Aku berjalan mendekati arah suara yang tidak asing itu. Ternyata selir ke-2 Gu Mei sedang bertarung melawan seekor macan tutul yang terlihat sangat marah. Macan itu mengaum kencang sambil menyerang selir Gu Mei. Tampak selir Gu Mei kewalahan menghadapi macan tersebut dengan pedangnya. Karena tidak tega, aku langsung ikut turun tangan.

" Adik Yi!" serunya yang sudah melihatku tiba.

"Kakak, kamu tidak apa-apa?" tanyaku cemas.

"Cih..." jawabnya angkuh. "Aku mana mungkin akan menyerah pada hewan tidak berguna itu," lanjutnya yang sudah maju melawan macan itu.

"Sombong sekali!" kataku kesal. Akhirnya, aku memutuskan untuk berdiri diam saja menyaksikan pertarungan mereka.

Macan tutul yang amarahnya masih berapi-api tidak melepaskan selir Gu Mei begitu saja. Pada akhirnya, dia melukai tangan kiri selir dengan cakarnya yang tajam. Darah segar membasahi pakaian selir. Setelah terluka, selir lari ke arahku untuk memancing si macan itu datang melawanku, dan itu berhasil. Disaat itu pula, selir sudah melarikan diri entah kemana. Macan itu datang menghampiriku sambil berlari kencang. Aku menyerangnya dengan tenaga dalamku dari jarak jauh hingga dia terpental ke atas dahan pohon

Setelah kupastikan si macan itu benar-benar lumpuh, aku menghampirinya dengan waspada.

ini ilustrasi si macan tutul yang menyerang selir Gu Mei.

"Sudah mati," ucapku yang sudah memastikan keadaannya.

"Bagus sekali, adik Yi!" seru selir Gu Mei yang tiba-tiba ada di belakangku. Entah darimana dia keluar, aku tidak tahu sama sekali. Dia berjalan melewatiku dan menarik salah satu kaki macan itu hingga jatuh ke tanah. "Ini, milikku! Bukan milikmu. Aku akan membawanya pulang sebagai hasil buruku hari ini," katanya yang sudah berjalan sambil menyeret si macan tutul ke arah kudanya. "Aku tidak sabar melihat Yang Mulia senang dengan hasil buruanku ini. Semoga malam ini menjadi malam yang romantis untuk kami berdua," katanya lagi yang sudah berjalan meninggalkanku sendiri.

"Dasar selir Gu Mei!" umpatku kesal melihat gayanya yang sok berkuasa. "Ahhh... sudahlah! Aku mau pulang saja sekarang," kataku sembari berjalan ke Silver.

Aku melewati semak-semak yang sudah kulalui tadi untuk menemui Silver. Suara berisik dari patahan ranting pohon yang kuinjak di tanah yang gersang menemani langkah kakiku. Silver dengan setia menungguku tiba. Dia menghampiriku ketika melihatku keluar dari semak belukar.

"Silver, ayo kita pulang sekarang! Hari sudah menjelang sore, sebentar lagi akan gelap" kataku sambil membelai rambutnya yang halus dan beranjak pulang dengannya.

Perburuan hari pertama ini, aku tidak membawakan hasil buruanku. Bisa saja aku membawa pulang si macan tutul yang sudah kubunuh itu, tapi sudah di dahului oleh si selir sombong Gu Mei.

'Ya.... aku harus mengalah dulu dalam permainan kecil ini,' ucapku dalam hati.

Ternyata mereka semua sudah berkumpul jadi satu di depan api unggun yang sudah disiapkan untuk membakar daging hewan buruan sebagai santapan hari ini. Aku adalah orang terakhir yang tiba di sana.

"Kau darimana saja, adik Yi? Kenapa baru tiba sekarang?" tanya selir ke-3, Fu Ching.

Aku turun dari kudaku dan menghampiri mereka yang sudah kumpul ria. "Aku habis berkeliling dan hari ini aku belum bisa membawa hasil buruanku."

"Hahahaha...." tawa keras selir ke-3. "Sudah kuduga kalau kau ini tidak bisa apa-apa," lanjutnya mengejekku. "Lihat kak Gu (selir ke-2), dia begitu hebat membunuh seekor macan tutul!" pujinya pada selir ke-2 sambil melirikku dengan angkuh.

"Selir Gu, kau hebat sekali bisa membunuh seekor macan tutul hari ini!" timpal Mo Yan.

"Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia dan adik Ching. Hamba hanya melakukan tugas hamba, walaupun hamba terluka tapi hamba sangat puas dengan buruan hari ini," katanya dengan gaya manja menjijikkan. "Rencananya, kulit macan ini akan kuhadiahi untuk ibunda permaisuri sepulang dari sini."

Dia benar-benar hebat mencari perhatian Mo Yan. Tapi terlalu munafik. Aku segera masuk ke dalam tenda tanpa bicara sepatah kata pun. Melihat gaya ke dua selir itu saja sudah membuat selera makanku hilang. Mo Yan juga tidak peduli dengan tingkahku.

Ku rebahkan tubuhku yang lelah ini di atas ranjang. Para selir masih membahas cerita petualangan mereka dalam berburu tadi. Mo Yan hanya menjadi pendengar yang baik, sedangkan Lang Zhe sibuk menyiapkan makanan. Setiap pembicaraan mereka terdengar jelas olehku.

"Adik Hua, apa yang kamu dapat hari ini?" tanya selir ke-2 kepada selir ke-6 yang ingin tahu jawabannya.

"Adik hanya mendapatkan seekor burung merpati, kak Gu," jawabnya sambil merendah diri.

"Kalau adik Ching?" tanyanya pada selir ke-3.

"Kalau saya hanya mendapatkan seekor kelinci, kak Gu," jawab selir ke-3.

"Selir Gu, aku ingin tahu bagaimana caramu membunuh macan tutul itu?" tanya Mo Yan penasaran.

"Ng... tadi... tadi... tadi pas hamba lihat dia lagi tidur, hamba langsung membunuhnya dengan sebuah pedangku," jawabnya dengan panik.

"Bagaimana cara kamu memukulnya? Setahu aku, walaupun seekor macan sedang tidur, instingnya tetap kuat menangkap sinyal bahaya yang mengincarnya," jelas Mo Yan yang makin membuatnya gugup.

"I... itu... itu sebenarnya dia sempat bangun ingin menerkamku, tapi dia hanya melukai tanganku saja karena sempat ku lawan. Lagi pula dia sudah terlihat tidak berdaya, jadi hamba langsung membunuhnya dengan sekali pukulan saja," jawabnya asal.

'Dasar bodoh!' umpatku dalam hati setelah mendengar ceritanya yang tidak masuk akal. Dia bercerita seolah-olah membohongi anak kecil. 'Ternyata dia hanya gayanya saja yang sombong, tapi otaknya bodoh,' umpatku lagi sambil tersenyum sendiri.

"Selir Ching, selir Hua, bagaimana pendapat kalian tentang cerita selir Gu?" tanya Mo Yan pada ke dua selirnya yang lain.

"Kak Gu sangat hebat dan pemberani karena bisa menaklukkan hewan liar ini," kata selir Fu Ching.

"Ya, benar. Hamba sependapat dengan kak Ching juga kalau kak Gu benar-benar hebat," kata selir Mei Hua.

"Bagaimana denganmu, Ling Zhe?" tanya Mo Yan pada pengawal kesayangannya.

"Kalau menurut hamba pribadi, selir Gu tidak sehebat ceritanya. Maaf jika sudah lancang," jawabnya yang membuat aku makin tersenyum bahagia.

"K... Kau?" kata selir Gu Mei yang tidak terima perkataan Ling Zhe.

"Selir Gu, kau harusnya bisa menahan emosimu. Jika tidak benar seperti yang di ucapkan oleh Ling Zhe, kenapa harus marah? Dan menurut pendapatku, ini bukan hasil buruanmu bukan? Tapi tidak apa-apa juga, karena ini tidak jadi masalah buatku. Yang penting kalian bersenang-senang," kata Mo Yan panjang lebar.

'Bersenang-senang?' kataku dalam hati mengulangi perkataannya. 'Dia tidak tahu kalau kami bisa saja mati di sana,' lanjutku kesal dengan gaya bicaranya.

1
Ibuk'e Denia
aq mampir thor
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Ni Ketut Patmiari
Ini balas dendam nya kapan ya?
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
ucan
bagus banget ceritanya thor
Virgi: terima kasih😻
total 1 replies
Sri Tati
Luar biasa
nuke
payah masa pake jampi2 segala
IndraAsya
next 💪💪💪😘😘😘
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘 😘😘
Natsuki
Wihhh keren "..... 😎
Rani Wardanan
setidaknya mereka diberikan keturunanlah..
Mio mio
semangat kak
Anifka Widha
bukan ngontrak say tapi ngekos
Anifka Widha
tuh kan apa kubilang jampi jampi alias pelet ikan
LilyArni
selir sampe 6 ckckckck.....
Ria Diana Santi
Boom like untuk mu Thor!

Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘
Ria Diana Santi: Sama²...
total 2 replies
Indri Satria
thor semangat
BIDADARIQ 1516: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya
"Kaisar Rubah"
thanks 🦋🦋🦋
total 1 replies
Rusmina Hz
semangat Thor
Virgi: terima kasih🙏
total 1 replies
Rusmina Hz
ok lanjut
Rusmina Hz
semangat thor
Raina Yuni Apriani
aduhhhh peran nya bodoh banget sih udah tau selir itu jahat masih mau ngebantuin mana katanya mau bales demdam uhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!