Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore bersama dengannya
Andito menggaruk pipinya yang mulai memanas.
"E-ee... yaudah deh."
Ia menunjuk ke arah lapangan yang ada di sebalik bahu dengan ibu jarinya.
"Mau nyoba main bentaran nggak?"
Alis Yuna langsung terangkat.
"Main?"
Andito mengangguk terlalu cepat.
Yuna perlahan menunduk melihat setelan baju bawahnya. Kemudian menatap lapangan untuk beberapa saat.
"Mungkin..."
Ia mencubit sisi rok Pramuka dengan kedua tangan.
"...pergerakanku akan kurang leluasa."
Andito ikut menunduk. Matanya seketika membelalak.
"Lah iya..."
Lalu ia memandang wajah Yuna yang kini sedikit meringis.
Seketika—
Plak!
Telapak tangannya mendarat keras di dahinya sendiri.
"Duhh..."
"Otak gue ke mana, sih? Masa mau ngajakkin main pas dia masih make rok?"
Yuna memperhatikannya beberapa detik.
Lalu—
"Baiklah kalau begitu."
Andito yang masih memegangi dahinya langsung mendongak.
"Hah?"
Yuna sudah menurunkan tas punggungnya. Kemudian melepas hoodie hitam yang sedari tadi ia kenakan di luar seragam Pramuka. Bahkan hasduk merah putih itu masih tergantung rapi dilehernya.
Ia berjalan perlahan menuju tengah lapangan. Sembari sedikit menyingsingkan roknya yang masih membatasi pergerakannya.
Andito pun terpaku.
"Kenapa? Tidak jadi kah?"
"E-eh?"
"Iya!"
"Ayo!"
Ia buru-buru menyambar bola basket yang tergeletak di dekat garis samping.
"Pinjem sini!"
Srett!
Andito merebut bola operan yang sebenarnya sedang mengarah kepada seorang siswa lain.
"Lah?!"
Nazriel refleks mengangkat kedua tangan.
"Woy! Itu operan gue!"
Namun Andito sudah keburu berlari menjauh.
"Pinjem bentar!"
Ia menoleh.
"Nih, Yun!"
Ia mengoper bola pelan.
Swish!
Bola meluncur lurus.
Hap!
Yuna menangkapnya dengan kedua tangan. Meski sempat terdorong sedikit ke belakang akibat tenaga operan itu.
"Wihh bagus juga tangkapan lu!"
Yuna yang mendengar hanya memicingkan mata.
"Coba pegang bolanya dulu. Jangan buru-buru dilempar."
Yuna masih menatap. Namun jemarinya tanpa sadar mulai menyesuaikan posisi pada permukaan bola. Seolah sedang mencari pegangan yang tepat.
Andito pun tersenyum.
"Kalau pegangnya pas, nanti ngarahin bolanya juga bakalan lebih enak."
Sementara itu di sisi lapangan, Nazriel masih berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Di sampingnya, Rizki hanya menggeleng pelan.
"Yaelah... malah latihan berdua."
Rizki menepuk bahunya.
"Udah. Kita pulang aja."
Keduanya pun berjalan meninggalkan lapangan sambil mengusap wajahnya kasar. Karena tak menyangka bola untuk latihannya dirampas hanya demi seorang teman sebangku.
Di lapangan, perhatian Andito kini sepenuhnya tertuju pada Yuna.
"Coba pantulin pelan-pelan, Yun. Sekalian arahin kesini!"
Yuna hanya menurut.
Dug!
"Hap!"
"Bagus. Ayo lagi!"
Andito kembali memantulkannya ke lapangan, sembari mengarahkan arah pantulan itu tepat ke posisi Yuna berdiri. Dan begitu seterusnya ketika mereka belajar passing berdua.
"Nah."
"Gitu."
Yuna memperhatikan pantulan bola itu dengan saksama. Lalu menangkapnya.
Meskipun...
Setiap gerakan selalu ia analisis.
Namun kali ini, pikirannya tidak terlalu mengkalkulasikan seperti biasanya. Melainkan hanya mengikuti tiap instruksi dari seseorang yang sudah terbiasa berada di lapangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi teman sebangku, Andito tidak lagi merasa canggung berada berdua bersama Yuna.
Hingga pada akhirnya ketika bola kembali ke bagian Andito—
Hap!
"Kalau gitu..."
Andito memantulkan bola sekali.
Lalu melemparkannya pelan ke arah Yuna.
Di seberang, Yuna menangkap bola itu dengan mantap.
"Sekarang kita main."
Yuna spontan mengkerutkan dahinya. Sembari membulatkan mulutnya tak percaya.
Melihat itu—
"Santai aja. Anggap aja latihan."
Andito mundur beberapa langkah. Kemudian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar hingga nyaris menutupi jalur di depannya.
"Ayo! Coba lewatin gue!"
Yuna mengangkat alis. Tatapannya naik perlahan.
Dari dada...
Ke bahu...
Sampai wajah Andito.
Lalu kembali turun.
Kemudian bibirnya meringis. Seolah ingin berkata bahwa, "dirimu terlalu tinggi."
Melihat gestur pesimis itu, justru membuat Andito terkekeh geli.
"Coba aja, Yun! Biasanya juga udah kalkulasiin semuanya!"
Akhirnya Yuna menarik napas pendek. Kemudian mulai menggiring bola.
Duk.
Duk.
Duk.
Rok pramuka yang ia kenakan membuat langkahnya tak bisa seleluasa biasanya. Bahkan beberapa kali ia harus memperpendek langkah untuk merapikan roknya yang sesekali berkibar mengganggu.
Andito langsung bergerak untuk menghalangi dari keranjang basket.
Tentu saja...
Tak seserius ketika latihan bersama tim.
"Makan nih!"
Yuna mencoba mempertahankan bola itu pada dekapan dadanya erat-erat. Meski jika dilihat-lihat, itu sudah pelanggaran jika terdapat wasit yang berdiri di tepi lapangan.
Andito terus mencoba menutup arah gerak Yuna. Tangannya ia rentangkan lebar-lebar seperti seorang kiper. Meski hanya gertakan, dan tak berniat untuk merebutnya.
Pada akhirnya,
Yuna mengubah arah dribble dengan memutar tubuhnya sekali.
Dug!
Bola berpindah ke tangan kiri. Lalu tubuh mungilnya menyelinap melewati kiri bawah Andito.
"Lah?!"
Andito terlambat berbalik.
"Anjir!"
"Gue di-gocek!"
Yuna berlari kecil sambil tetap memantulkan bola. Rambut pendeknya bergoyang mengikuti langkah.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya benar-benar hidup.
Ia menoleh sekilas ke belakang.
"Pertahananmu lemah."
Lalu kembali menghadap ring.
"Apa kamu sudah kehabisan tenaga kah?"
Andito melotot.
"Ih!"
"Sombong banget, Anjir!"
Sementara itu di pinggir lapangan, Nazriel dan Rizki baru saja keluar dari ruang ganti. Mereka seketika berhenti melangkah saat melihat pemandangan itu.
Melihat Andito yang tadi mengaku hampir tumbang karena kelelahan, kini malah berlari mengejar seorang siswi.
Nazriel mengangkat sebelah alis.
"Tadi katanya lemah."
Rizki menyambung datar.
"Katanya letih."
Nazriel mengangguk.
"Katanya ngos-ngosan."
"Kakinya keram."
"Lah itu?"
Mereka berdua menatap ke arah lapangan. Menonton Andito yang justru berlari paling semangat.
"Malah hidup lagi."
Keduanya menggeleng bersamaan.
"Udah."
"Pulang."
"Iya."
"Biar aja."
Di lapangan, Yuna sudah sampai di depan ring.
Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas. Bola diangkat di depan dada.
Kemudian—
Swish!
Lemparan dilepas. Melengkung hingga membentuk busur indah.
Dengan tanpa kalkulasi. Tanpa strategi. Hanya murni lemparan asal yang ia lambungkan dengan sengaja.
Tok!
Krak!
Bola jatuh bersih menembus jaring.
"Yes!"
Yuna spontan mengepalkan tangan ke udara.
"Satu poin untuk Yuna!" serunya lantang sembari berjingkrak kecil.
Andito yang baru datang beberapa langkah di belakang hanya bisa berkacak pinggang.
"Ish..."
"Sombong banget."
Yuna menoleh. Sudut bibirnya terangkat lebih tinggi daripada biasanya.
"Karena aku menang, kamu besok harus mengerjakan tugasmu sendiri!"
Jawaban itu begitu sederhana. Namun diikuti tawa kecil yang akhirnya lolos begitu saja.
Bukan senyum sopan. Bukan senyum tipis yang selama ini selalu ia tampilkan. Melainkan tawa ringan yang benar-benar muncul karena ia sedang bersenang-senang.
Andito terdiam.
Entah kenapa, dadanya justru terasa semakin sesak.
Selama beberapa bulan terakhir, ia selalu mengira Yuna adalah gadis yang dingin.
Terlalu logis.
Terlalu kaku.
Terlalu sulit ditebak.
Padahal di balik semua itu...
Ada seorang gadis yang bisa tertawa lepas hanya karena berhasil memasukkan satu bola ke dalam ring.
"Begini ya..."
"Wajah asli kamu."
Andito tersenyum kecil.
Kalimat yang selama berminggu-minggu sempat beberapa kali muncul di ujung lidahnya kini kembali ia telan.
Belum.
Belum sekarang.
Andito kembali menatap Yuna yang masih tersenyum sendiri karena satu lemparan yang bahkan tidak sempurna.
Sudut bibirnya ikut terangkat.
Mungkin...
Hari ini memang bukan tentang menyatakan perasaan.
Melainkan tentang melihat seseorang tersenyum tanpa beban.
sebelumnya lebar lapangan