NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Bu Farida berdiri di ambang pintu seperti penjaga gerbang.

Rumah kecil itu bau minyak goreng dan kapur barus. Televisi di ruang tengah masih menyala, menampilkan sinetron malam dengan suara terlalu keras. Bowo berdiri di samping istrinya, wajahnya gelap.

"Kamu datang malam-malam mau ribut?" tanya Bowo.

Kirana menatapnya. "Aku mau mengambil barangku."

"Tidak ada barangmu di sini."

"Kalau tidak ada, kenapa kalian takut?"

Bu Farida langsung menyahut, "Siapa yang takut? Kamu ini memang dari dulu suka menuduh. Sudah dibesarkan, dikasih makan, masih saja tidak tahu terima kasih."

Raka berdiri di samping Kirana. Ia tidak bicara, tapi kehadirannya membuat Bu Farida tidak berani mendekat.

Kirana mengatur napas.

Dulu ia selalu kalah di depan pintu rumah ini. Baru pulang sekolah, ia dimarahi karena sepatu kotor. Baru mendapat nilai bagus, ia ditanya kenapa tidak dapat uang beasiswa. Baru menang lomba masak kecil, Bu Farida berkata tidak usah sombong karena perempuan seperti dia tetap akan berakhir di dapur orang.

Malam ini ia tidak mau kalah sebelum bicara.

"Aku tidak minta semua," kata Kirana. "Aku hanya mau melihat barang-barang lamaku. Foto, kain, apa pun yang dulu dibawa ibuku."

Wajah Bowo berubah cepat. "Siapa bilang ada?"

"Bu Farida."

Bu Farida menoleh tajam pada suaminya. "Aku tidak bilang begitu."

"Wajah Ibu bilang."

"Kurang ajar."

Raka berkata pelan, "Bu, kalau barang itu memang tidak ada, izinkan kami lihat. Setelah itu kami pergi."

Bowo mendengus. "Kamu pikir ini rumah siapa? Mau geledah seenaknya?"

"Kalau perlu, kita datang dengan pengacara," kata Raka.

Kirana menoleh.

Bowo tertawa keras, tapi terdengar dipaksakan. "Pengacara? Kamu ini siapa? Sopir tidak jelas mau ancam saya pakai pengacara?"

Raka menatapnya. "Mau coba?"

Tawa Bowo berhenti.

Bu Farida menarik lengan suaminya. Ia lebih paham membaca bahaya daripada Bowo.

"Sudahlah," katanya cepat. "Kalau cuma lihat, lihat saja. Tapi jangan membuat rumah berantakan."

Ia masuk ke dalam.

Kirana mengikuti, lalu berhenti di depan kamar kecil yang dulu ia tempati. Kamar itu sekarang dipakai menyimpan barang. Kardus menumpuk. Koper lama. Baju bekas. Alat masak rusak.

Bu Farida menunjuk satu kardus di sudut.

"Kalau masih ada, mungkin di situ."

Kirana berlutut dan membuka kardus.

Bau lembap langsung keluar.

Di dalamnya ada beberapa buku sekolah lama, satu boneka tanpa mata, sertifikat lomba yang sudah menguning, dan map plastik berisi kertas-kertas kusut. Kirana menyentuh satu per satu dengan dada yang terasa penuh.

Raka berjongkok di sampingnya tanpa menyentuh apa pun.

"Ini punyamu?"

"Sebagian."

Kirana menemukan foto dirinya saat kecil memakai seragam TK. Di belakangnya ada tulisan tangan yang tidak ia kenal.

Kirana, tiga tahun. Jangan biarkan dia lupa tertawa.

Tangannya berhenti.

"Ini tulisan siapa?"

Bu Farida langsung berkata, "Mana aku tahu."

Kirana memasukkan foto itu ke map.

Di bagian bawah kardus ada kain bayi lusuh berwarna putih. Di sudutnya tersulam huruf K kecil dengan benang biru. Kirana menggenggam kain itu. Untuk alasan yang tidak ia pahami, matanya panas.

Raka melihatnya, lalu mengalihkan pandangan agar ia tidak merasa ditelanjangi.

Kirana terus mencari.

Tidak ada gelang.

Tidak ada foto ibunya.

"Hanya ini?" tanyanya.

Bu Farida menjawab terlalu cepat. "Iya."

Kirana menatap lemari tua di pojok kamar.

"Buka itu."

"Itu barangku!"

"Aku hanya melihat."

"Tidak."

Raka berdiri. "Bu Farida."

Nada suaranya membuat ruangan mengecil.

Bowo maju. "Jangan paksa istri saya."

Raka menatapnya. "Saya belum memaksa."

Kirana berjalan ke lemari dan membuka pintunya sebelum Bu Farida sempat menahan. Di rak bawah ada kotak sepatu tua. Bu Farida langsung berseru.

"Jangan sentuh!"

Terlambat.

Kirana membuka kotak itu.

Di dalamnya ada amplop foto, beberapa surat, dan satu kantong kain kosong dengan bekas bentuk melingkar, seolah pernah menyimpan gelang.

Ia mengambil amplop foto.

Foto pertama membuat napasnya tersangkut.

Seorang perempuan muda tersenyum sambil menggendong bayi. Wajahnya cantik, lelah, tapi matanya hangat.

Di belakang foto tertulis: Safira dan Kirana.

"Ibu..." bisik Kirana.

Bu Farida merebut foto itu, tapi Raka lebih cepat menahan tangannya.

"Jangan," kata Raka.

Bu Farida gemetar. "Itu bukan punyamu."

Kirana berdiri perlahan. "Kalau itu bukan punyaku, kenapa ada namaku?"

Bowo menarik napas kasar. "Kirana, cukup. Barang itu disimpan karena..."

"Karena apa?"

Tidak ada jawaban.

Kirana mengambil semua foto dalam amplop. Ada beberapa foto Safira, satu foto bayi Kirana dengan gelang di pergelangan kecilnya, dan satu foto buram seorang lelaki tua yang Kirana tidak kenal berdiri di samping Safira.

Raka mengambil foto bayi itu dengan tangan hati-hati.

Di pergelangan bayi Kirana, terlihat jelas gelang naga dan burung.

Gelang yang sekarang dipakai Nadira.

Raka menatap foto itu lama.

Kirana melihat wajahnya berubah.

"Raka."

Ia menyerahkan foto itu padanya.

"Gelang itu..." Suara Kirana hampir hilang.

"Iya."

Bu Farida langsung panik. "Itu foto lama. Bisa saja gelangnya mirip."

Raka menoleh. "Kenapa kantong kainnya kosong?"

Bu Farida bungkam.

Bowo akhirnya berkata, "Dulu Bu Ratna meminta barang itu. Kami cuma menyerahkan."

Bu Farida menatap suaminya dengan marah.

Kirana merasa tubuhnya dingin.

"Jadi kalian tahu."

"Kami tidak tahu apa-apa!" Bu Farida membela diri. "Nyonya Ratna bilang barang itu milik keluarga Hendra. Kami hanya orang kecil."

"Orang kecil yang ikut menyembunyikan hidupku."

"Kamu jangan dramatis."

Kirana tertawa pelan. Tidak ada humor di dalamnya.

"Selama ini aku dimaki karena tidak tahu asal-usulku. Ternyata kalian menyimpan foto ibuku di kotak sepatu."

Bu Farida memalingkan wajah.

Bowo terlihat tidak nyaman, tapi tidak cukup merasa bersalah.

Raka mengumpulkan foto dan surat ke dalam map. "Semua ini dibawa Kirana."

"Tidak bisa!" kata Bu Farida.

Raka menatapnya. "Coba larang."

Tidak ada yang bergerak.

Kirana memasukkan map ke tas. Tangannya masih gemetar. Saat ia keluar dari kamar kecil itu, ingatannya seperti penuh suara masa lalu.

Kamu anak tidak jelas.

Ibumu perempuan tidak tahu malu.

Kamu harus berterima kasih kami mau membesarkanmu.

Semua kalimat itu kini berdiri di depan foto perempuan yang tersenyum sambil menggendongnya.

Di teras, Kirana berhenti.

Bu Farida menyusul. "Kirana, jangan macam-macam dengan keluarga Hendra. Kamu tidak tahu apa yang mereka bisa lakukan."

Kirana menoleh. "Ibu tahu?"

Bu Farida diam.

"Apa yang mereka lakukan pada ibuku?"

"Aku tidak tahu."

"Bohong."

Bu Farida menelan ludah. "Aku cuma dengar Bu Ratna bilang ibumu membawa aib. Itu saja."

"Dan Ibu percaya."

"Semua orang percaya!"

"Karena lebih mudah percaya perempuan miskin itu salah."

Bu Farida tidak menjawab.

Kirana berjalan keluar pagar. Raka mengikuti. Mereka tidak langsung bicara sampai tiba di jalan besar.

Kirana membuka foto bayi itu lagi di bawah lampu jalan.

Gelang itu jelas.

Raka berdiri diam di sampingnya.

"Jadi," kata Kirana, "gelang yang kamu cari pernah ada padaku."

"Iya."

"Berarti Nadira memakainya dari barangku."

"Iya."

"Dan kamu datang ke keluarga Hendra karena mengira dia anak perempuan itu."

Raka menatapnya. "Kirana..."

"Kalau foto ini ditemukan lebih awal, apa kamu akan datang mencariku?"

"Iya."

"Atau kamu akan tetap memilih Nadira karena dia lebih mudah diterima?"

Raka menggenggam bahunya pelan, membuatnya menatap.

"Saya tidak memilih Nadira."

"Tapi kamu hampir."

"Saya mencari jawaban. Saya salah tempat."

Kirana menahan air mata. Ia benci menangis karena hal yang belum sepenuhnya ia pahami.

"Aku tidak tahu apakah aku anak perempuan yang kamu cari."

"Kita akan cari tahu."

"Dan kalau iya?"

Raka menatap foto itu, lalu Kirana.

"Maka saya berutang nyawa pada perempuan yang sedang mencicil goresan mobil saya sendiri."

Kirana hampir tertawa, hampir menangis.

"Jangan bercanda."

"Saya tidak bercanda."

Ia mengambil foto itu dengan hati-hati dan memasukkannya kembali ke map.

"Mulai sekarang, jangan beri foto ini pada siapa pun."

"Termasuk kamu?"

Raka menatapnya. "Terutama saya, kalau kamu belum percaya."

Kalimat itu membuat Kirana diam.

Malam itu mereka pulang ke kontrakan dengan map tua di pangkuan Kirana.

Di rumah Hendra, Bu Ratna menerima telepon dari Bu Farida. Setelah mendengar bahwa Kirana membawa foto-foto itu, wajahnya berubah pucat.

Nadira berdiri di dekat meja rias, masih memakai gelang itu.

"Kenapa, Ma?"

Bu Ratna menatap gelang di tangan putrinya.

"Kita harus mengambil foto itu kembali."

"Kenapa?"

"Karena kalau Raka melihatnya, dia akan tahu gelang itu bukan milikmu."

Nadira perlahan menggenggam gelang itu.

Untuk pertama kalinya, benda indah di tangannya terasa seperti rantai.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!