NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebenarnya..

Pov Althaf

" Ada Diantha , ada.." lirihku menatap punggung Diantha yang berjalan lebih cepat , entah dia tidak suka saat aku menanyakan tentang Kak Reyhan atau mungkin dia salting..

Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama sampai netraku menatap mata indah milik Diantha, seperti terhipnotis dalam hitungan detik , aku begitu terpana melihat paras manis dengan mata yang tajam..

Diantha si gadis manis yang mencuri perhatianku , aku pun tidak mengerti kenapa ada perasaan tertarik begitu besar terhadapnya , rasanya ingin berdekatan terus, mengajaknya berbicara, berjalan menghabiskan waktu..

Tapi aku sadar untuk tidak terlalu mengejarnya, aku belum tau apakah ia juga tertarik kepadaku atau tidak.

untuk sekarang, aku hanya akan membuatnya nyaman di dekatku, entah nanti dia suka atau tidak kepadaku, aku akan tetap menjadi orang yang akan selalu membuatnya merasa tidak sendirian..

Aku kembali melanjutkan langkahku menuju kelas kami, Diantha sudah duduk dibangkunya, aku pun hendak duduk di dekatnya, tapi sebelum sampai, Nia salah satu teman sekelas kami sudah lebih dulu mendudukkan bokongnya di kursi samping Diantha..

"Hai , Diantha kan ?" Tanya Sari setelah mengagetkan Diantha karena tiba-tiba sudah duduk disampingnya.

"iya, Kamu Sari ?" balas Diantha yang juga ingin memastikan ia tidak salah nama.

"iya , bener banget.. Aku boleh pindah duduk disini nggak? Di belakang sana nggak seru, aku mau ngobrol-ngobrol sama kamu" Tanya Sari antusias

Diantha tidak segera menjawabnya, ia malah menoleh ke arahku seolah meminta persetujuan karena sebelum turun ke lapangan tadi, aku sudah lebih dulu duduk bersamanya.

Aku hanya mengedipkan mata mengisyaratkan iya kepada Diantha..

Melihat isyarat kedipan mataku, Diantha akhirnya mengangguk kecil kepada Sari. "Boleh kok, Sari. Duduk aja," jawabnya dengan senyum tipis yang mendadak membuat dadaku terasa hangat..

Aku menghela napas pelan, menelan sedikit rasa kecewa karena gagal duduk di samping gadis manis itu..

Dengan langkah yang sengaja kuperlambat, aku memutar arah menuju bangkuku yang kemarin, posisi paling depan di sisi dekat jendela.

Sebuah posisi yang sebenarnya sangat strategis untuk melamun, tapi kali ini fungsinya berubah menjadi pos pengamatan. Karena dari sudut depan dekat jendela ini, aku hanya perlu menolehkan kepala sedikit ke arah dalam kelas untuk bisa melihat Diantha dengan jelas.

Tak lama kemudian, Pak Gunawan masuk ke kelas untuk menjelaskan kegiatan kami selanjutnya.

Suasana yang tadinya bising berangsur-angsur tenang, menyisakan suara ketukan spidol di papan tulis dan penjelasan yang entah kenapa terdengar seperti angin lalu di telingaku..

Fokusku benar-benar buyar. Alih-alih mencatat materi di papan tulis yang tepat berada di depan mataku, netraku justru bergerak sendiri, bergeser ke arah kanan belakang, tempat Diantha berada..

Magnetnya tetap sama.

Dari tempatku duduk, aku bisa melihat bagaimana ia mendengarkan penjelasan Pak Gunawan, atau bagaimana jemari lentiknya sesekali menyelipkan anak rambut ke belakang telinga..

Sungguh, aku seperti orang bodoh yang terhipnotis.

Setiap beberapa menit sekali, aku pasti mencuri pandang ke arahnya, lalu buru-buru menghadap ke depan lagi karena sadar nanti aku bisa ketahuan Pak Gunawan..

Gila, Althaf. Lo bisa ketahuan kalau kayak gini terus..

 batinku merutuki diri sendiri..

Aku mencoba menatap kedepan kearah Pak Gunawan menjelaskan bagaimana kami akan menyelesaikan kegiatan di jam pelajaran yang tersisa ini.

Namun, baru sebentar berlagak fokus, dorongan untuk melihatnya lagi kembali muncul. Aku menegakkan punggung, berpura-pura meregangkan leher yang pegal, lalu perlahan menggeser pandanganku ke belakang..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!