Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arsen
Arsen tersenyum saat mendengar ancaman Risna pada Sinta.
"Jadi kamu menikahi kepala desa itu karena ancaman? Sinta sayang, kekayaan papaku akan mampu menebus semua hutangmu itu. Tunggu saja." Arsen pun melangkah keluar dari mansion mewah itu. Ia menelepon seseorang.
Sementara itu, Gizel membawakan kopi ke ruangan kerja Mahendra. Lelaki itu sebenarnya tak pernah suka kopi buatan Gizel namun ia juga tak pernah menolak jika Gizel membuatkan kopi karena tak ingin menyinggung perasaan Gizel.
"Sayang, aku bawakan kopi untukmu." kata Gizel.
"Terima kasih." kata Mahendra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop nya.
"Sayang, aku kangen." Gizel langsung memasang wajah manjanya. Ia duduk di pangkuan Mahendra.
"Gizel, aku sedang kerja."
"Sayang, semenjak kamu menikah dengan Sinta, kita belum pernah bercinta. Aku sudah sangat menginginkan kamu ada di dalamku. Ayolah!"
Mahendra membiarkan Gizel mencium bibirnya. Lalu perlahan ia mendorong tubuh mungil istrinya itu.
"Aku masih kerja."
Gizel turun dari pangkuan Mahendra. "Baiklah. Aku akan tunggu!" lalu ia duduk di sofa.
Mahendra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan pada hal sebenarnya pekerjaan ini tak terlalu penting. Mahendra merasa lelah karena dari pagi sampai sore ia ada di proyek jalan lingkar dan tadi sore saat pulang ke rumah dan menemukan Sinta yang sedang mandi, lelaki itu justru tak bisa menahan hasratnya untuk tak menyentuh Sinta. Pada hal kemarin malam ia juga sudah menghabiskan sepanjang malam untuk bercinta dengan istri keduanya itu.
Sedangkan Sinta, ada di kamar bawah justru menerima telepon dari mertuanya. "Segera ke kamar atas, Sinta. Pokoknya kamu harus ada."
"Ma, pasti Abang mau bersama dengan istri pertamanya. Biarlah aku di kamarku."
"Ke atas Sinta!"
Sinta akhirnya keluar kamar. Ia harus menuruti keinginan mama mertuanya walaupun ia sangat yakin kalau Mahendra pasti bersama dengan Gizel.
"Sinta....!"
Sinta menghentikan langkahnya. Ia tahu itu suara Arsen. Perlahan ia membalikan badannya. "Ada apa, Arsen?"
"Aku tidak bisa tidur. Mau menemani aku minum kopi? Aku tahu kopi buatanmu sangat enak."
"Aku harus ke kamar atas."
"Kamu tidur di kamar uncle ku? Namun aku lihat kalau uncle masuk ke kamar aunty Gizel tadi."
"Aku harus tidur di atas karena saluran air di kamar ku ini sedang rusak."
Arsen menatap Sinta dengan seksama. "Sinta, memangnya kita tak boleh berteman?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Arsen?"
"Kamu kelihatannya seperti tak mengenal aku."
"Bukan begitu, Arsen."
"Apakah paman ku cemburuan orangnya?"
"Tidak."
"Ya sudah. Ayo kita ke dapur!" Arsen menarik tangan Sinta. Perempuan itu tak tahu bagaimana menolak Arsen.
Sinta mengeluarkan kopi, gula dan cream. Ia juga memanaskan air.
"Sinta, apakah semua urusanmu di kampus sudah selesai?" tanya Arsen.
"Sudah."
"Kamu tak ingin melanjutkan S2? Bukankah tawaran beasiswanya masih berlaku?"
"Bagaimana mau melanjutkan jika sudah menikah?" ujar Sinta sambil tersenyum pahit.
"Kamu pasti bisa, Sin. Sayang lho kalau sampai nggak memanfaatkan kesempatan itu."
"Kan S2 nya di luar negeri."
"Aku yakin kalau uncle akan mengerti."
Sinta menggeleng. "Aku punya tanggungjawab sebagai seorang istri." Sebenarnya yang Sinta maksudkan adalah ia punya misi dalam pernikahan ini. Jika misinya selesai, Sinta berharap akan kembali mengejar cita-citanya.
"Sudah pernah bertanya pada uncle Mahendra?"
Sinta menggeleng. Ia menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi. Setelah semua bahan dalam gelas itu tercampur, Sinta menutupnya. Begitulah cara dia membuat kopi.
"Kamu nggak minum kopi?" tanya Arsen.
Sinta menggeleng.
"Kamu minumlah. Maaf ya, aku tak bisa menemani. Aku capek sekali hari ini. Selamat malam." Sinta meninggalkan dapur. Tepat di saat itu, Mahendra baru saja menuruni tangga. Lelaki itu menatap Sinta kemudian ke arah Arsen yang berjalan di belakang Sinta sambil memegang gelas yang berisi kopi.
"Aku pikir kalau uncle sudah tidur." kata Arsen.
Mahendra hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangan Arsen.
"Aku meminta Sinta untuk membuat kan kopi. Nggak apa-apa kan uncle? Soalnya para pembantu sudah nggak ada. Kopi buatkan Sinta juga sangat enak." Seakan mengerti dengan arah mata Mahendra, Arsen mengangkat gelas kopinya sambil bicara.
"Apa bisa tidur jika minum kopi di jam seperti ini?" Mahendra melangkah memasuki dapur.
"Abang butuh sesuatu?" tanya Sinta sambil menyusul langkah Mahendra.
"Tidak. Segeralah tidur."
Sinta mengangguk. Ia segera meninggalkan dapur dan menaiki tangga untuk menuju ke kamar Mahendra. Sinta langsung tidur setelah mematikan lampu utama. Ia yakin kalau Mahendra akan tidur di kamar Gizel. Tak disangka, Mahendra justru memasuki kamarnya.
"Abang, tidak ke kamar mba Gizel?" tanya Sinta.
"Tidak!" jawab Mahendra lalu segera ikut membaringkan tubuhnya di samping Sinta.
"Abang, nanti mba Gizel marah."
Mahendra memeluk tubuh Sinta dan menariknya ke arah tubuhnya. "Tidurlah. Aku mengantuk."
Sinta diam. Tak lagi bertanya. Walaupun sebenarnya ia sangat penasaran mengapa suaminya tak ada di kamar istri pertama.
2 jam sebelumnya......
Gizel mencium Mahendra dengan penuh bergairah. Ia nampak sangat bernafsu sehingga mengambil posisi di atas suaminya.
Namun tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu yang meleleh dari inti tubuhnya. Gizel turun dari ranjang dan memeriksanya.
"Ah ...., sial....!"
Mahendra menatap istri pertamanya itu. "Kamu datang bulan?"
"Iya, sayang. Kok bisa sih? Pada hal belum tanggalnya juga."
"Mungkin karena kamu kecapean karena mengurus papa sehingga hormon jadi terganggu."
Gizel segera ke kamar mandi dan mencari pembalut sedangkan Mahendra mengenakan kaosnya lagi. Ia tak marah apalagi kesal karena mereka tak jadi bercinta. Lelaki itu justru bersyukur karena sebenarnya ia sedang tidak mood.
Tak lama kemudian, Gizel keluar dari kamar mandi masih dengan wajah yang kesal.
"Tidurlah, Gizel. Aku juga sangat capek malam ini." kata Mahendra lalu pura-pura memejamkan matanya. Gizel pun berbaring sambil memeluk suaminya. Ia sangat dongkol karena tak bisa bercinta dengan Mahendra.
Setelah Gizel tertidur, Mahendra justru keluar kamar. Ia menuju ke kamarnya untuk memeriksa keadaan Sinta namun ternyata istrinya itu tak ada di sana.
Saat Mahendra turun ke bawa untuk melihat Sinta di kamarnya, ia justru melihat istrinya itu keluar dari dapur dan ada Arsen di belakangnya.
***********
Risna menatap Gizel yang nampak sedikit lebih pagi ini.
"Kamu kenapa, Gizel?" tanya Risna. Perempuan itu sudah bersiap dengan baju kerjanya. Gizel senang karena ibu mertuanya akan pergi ke kota hari ini.
"Biasa, ma. Haid hari pertamanya. Badanku rasanya sakit semua." kata Gizel.
"Oh, minum saja vitamin." Risna tersenyum. Rencana nya berhasil. Semalam, Gizel tak menyadari kalau air minumnya dicampurkan obat yang akan membuatnya datang bulan lebih cepat. Risna sengaja tak ingin putranya tidur dengan Gizel.
Tak lama kemudian, Mahendra dan Sinta memasuki ruang makan.
"Sinta, kamu baru bangun?" tanya Risna.
"Sudah dari tadi, ma. Aku buatkan sarapan terus membangunkan abang. Soalnya pak sekdes sudah menunggu."
"Oh, begitu ya?" Risna menatap putranya. "Pasti tidurmu nyenyak sekali sampai terlambat bangun, nak." ujar Risna lembut.
Mahendra hanya tersenyum. Gizel menahan kesal. Ia yakin kalau mama mertuanya sengaja ingin membuat nya kesal.
"Nak, mama pergi dulu. Ada pasien yang akan melahirkan pagi ini." kata Risna.
"Mama nggak sarapan dulu?"
"Nanti di kota saja. Mama hampir terlambat." Risna segera meninggalkan ruang makan.
"Selamat pagi!" Arsen memasuki ruang makan dengan dandanan kasual membuat ia terlihat tampan dengan rambut yang basah.
"Pagi, sayang." Gizel menatap ponakannya dengan bangga.
"Wah, apakah ini nasi goreng ikan asin?"'tanya Arsen saat melihat sajian nasi goreng di atas meja makan.
"Iya." mbo Sarmi yang menjawabnya. "Nyonya Sinta yang membuatnya."
"Aku tahu. Karena aku pernah beberapa kali memakannya. Sinta selalu membawa bekal saat di kampus. Dan bekalnya itu selalu dihabiskan oleh aku dan Natari." kata Arsen lalu langsung menuangkan nasi goreng itu ke piringnya.
Mahendra sempat melirik ke arah Sinta. Namun istrinya itu tak memperhatikan tatapan dingin Mahendra.
"Uncle, bolehkah aku mengajak Sinta untuk jalan-jalan di desa ini sekalian hendak wawancara dengan beberapa penduduk desa untuk bahan tesis ku?" tanya Arsen saat sarapannya sudah selesai.
"Kenapa tak mengajak aunty mu saja? Sinta belum terlalu lama ada di desa ini." kata Mahendra.
"Maaf sayang, aku nggak bisa. Kamu kan tahu kalau haid hari pertama aku suka lemas." kata Gizel sambil memegang perutnya. Ia kemudian permisi untuk beristirahat di kamar.
Sinta termenung. Jadi semalam mereka tak tidur bersama karena mba Gizel sedang datang bulan? Batin Sinta. Ia ingat dengan dirinya yang beberapa hari yang lalu juga datang bulan. Mahendra tetap tidur di sampingnya.
Mahendra meletakan gelas kopinya yang sudah kosong. "Terserah Sinta. Kalau memang dia mau menemani kamu. Kalau tidak, aku boleh minta pak sekdes untuk menemanimu." lalu Mahendra berdiri. Ia segera meninggalkan ruang makan.
Arsen menatap Sinta. "Kamu mau menemani aku kan, Ta?"
Langkah Mahendra terhenti di balik dinding. Ia ingin mendengar jawaban Sinta.
"Boleh."
"Makasi. Kamu memang terbaik, deh."
Mahendra pun bergegas pergi. Sedangkan Arsen tersenyum senang. Sebenarnya tak ada masalah dengan tesisnya. Dia saja yang ingin memiliki lebih banyak waktu dengan Sinta. Arsen bertekad merebut Sinta dengan menunjukkan betapa tidak menyenangkan menjadi istri kedua.
Maaf ya baru up...
emak lagi liburan
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣