NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyonya Ardila Sakit

Suasana di ruang tunggu VVIP rumah sakit itu terasa sepi dan dingin, seolah udara sendiri pun ikut menahan napas. Aga dan ayahnya menunggu dengan cemas di sana.

Sedangkan Nyonya Ardila, masih diperiksa oleh tenaga medis di ruang rawat, wajahnya pucat pasi, kerutan halus di pelipisnya terlihat lebih jelas tanpa lapisan riasan yang biasa menutupinya. Tangan yang dulu selalu memegang kendali, kini terbaring lemah di atas selimut putih.

Di sudut ruang tunggu, Aga berdiri bersandar pada bingkai jendela kaca. Punggungnya membelakangi orang lain, menatap kosong ke arah taman rumah sakit yang tertata rapi di bawah sana. Cahaya lampu yang masuk lewat kaca memantul di wajahnya, memperjelas bekas kemerahan yang masih tertinggal di pipi kanan—bekas tamparan ayahnya, yang rasanya kini jauh lebih ringan dibandingkan rasa sakit di dalam dada. Pertengkaran tadi masih terngiang jelas, kata‑kata tajam yang terlempar, kebenaran yang akhirnya terungkap, sampai akhirnya tubuh ibunya yang jatuh lemas ke lantai. Rasa bersalah bercampur kemarahan, rasa sayang bercampur kecewa—semuanya berputar kacau di kepalanya, membuatnya sulit bernapas meski ia berdiri di ruangan yang luas itu.

Belum sempat keheningan itu berlalu lama, pintu ruang tunggu VVIP terbuka, langkah kaki yang terukur, sopan, namun penuh kekhawatiran terdengar mendekat. Masuklah keluarga Wijaya, Jainal Wijaya, sosok yang selalu tampak tenang dan berwibawa di dunia bisnis, di sampingnya, sang istri, Jesika Wijaya, wanita anggun yang pandai menyembunyikan emosi di balik senyum sopan, sifatnya hampir seperti Nyonya Ardila. Dan... di belakang mereka, berjalan sedikit lebih pelan, ada Jenna—wanita yang kemarin malam baru saja dikukuhkan sebagai tunangan Aga, wanita yang dipilihkan oleh keluarga Aga, wanita yang sejak kecil sudah diklaim harus menjadi pasangan hidupnya sesuai rencana yang sudah disusun sejak lama.

“Pak Haris… bagaimana keadaan Nyonya Ardila?” suara Pak Jainal memecah keheningan, rendah namun jelas, penuh rasa prihatin.

Pak Haris mengangkat wajah, menoleh perlahan. “Masih belum sadar, Pak Jainal. Dokter bilang tekanan darahnya naik drastis karena emosi yang tidak stabil.”

Jesika Wijaya menghela napas pelan. Dulu, dia dan Ardila Santoso—mereka sering bertemu di acara sosial, saling bersaing dalam hal kesempurnaan penampilan dan wibawa. Melihat saingan sekaligus teman lamanya dalam keadaan seperti ini, hati Jesika terasa tersentuh.

“Semoga beliau segera pulih. Kami sangat terkejut mendengar kabar ini dari kepala pelayan.”

Jenna yang sedari tadi diam, matanya perlahan bergerak menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok yang berdiri di dekat jendela. Aga.

Hati Jenna sedikit bergetar. Ia melihat punggung itu, diam, tertutup, seolah membangun tembok tinggi agar tak ada siapa pun yang bisa masuk. Namun saat Aga perlahan menoleh, tatapan mereka bertemu—dan seketika, ingatan Jenna terseret mundur, membawa serta Aga di dalamnya, kembali ke malam sebelumnya, malam pengumuman pertunangan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi kedua keluarga.

FLASHBACK ON

Kemarin Malam, di Aula Utama Hotel Orion

Lampu‑lampu kristal bergantung berkilauan di langit‑langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur dengan suara percakapan halus dan tawa tamu undangan yang berdatangan—semua orang penting, semua nama besar, semua pasangan yang disegani. Di tengah panggung kecil yang dihiasi bunga putih dan krem, Jenna berdiri tegak mengenakan gaun panjang berkilau, rambutnya disanggul rapi, wajahnya bersinar cantik dan anggun. Di sebelahnya, berdiri Aga.

Saat itu, Jenna sempat berpikir, kami terlihat sempurna. Di mata semua orang, kami adalah pasangan yang tak tercela.

Tapi saat ia menoleh ke samping, menatap wajah tunangannya, ia melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain, sorot mata Aga yang kosong, jauh, seolah jiwanya tidak benar‑benar ada di sisinya.

Saat pembawa acara berseru lantang, mengumumkan pertunangan resmi Aga Santoso dan Jenna Wijaya, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Jenna tersenyum lebar, menahan rasa gugup sekaligus harapan yang tumbuh di hati. Ia merasakan tangan Aga melingkar santai di pinggangnya—sentuhan yang sopan, namun sama sekali tak berisi kehangatan apa pun.

“Kamu terlihat sangat tampan malam ini, Aga,” bisik Jenna pelan, berusaha memecah jarak yang terasa begitu nyata meski tubuh mereka saling berdekatan. “Semua orang bilang kita pasangan yang paling sempurna. Aku… aku juga merasa begitu. Kamu juga merasa begitu kan?”

Aga menoleh sedikit, menatapnya sekilas. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, tapi Jenna tahu itu hanya topeng.

“Kita sedang melakukan apa yang terbaik bagi kedua keluarga, Jenna. Itu yang paling penting.”

Jawaban itu singkat, padat, dan sekaligus menutup pintu bagi segala harapan yang ingin Jenna bangun.

Di tengah keramaian, saat orang tua mereka saling bersalaman dan saling mengucapkan selamat seolah sedang menyegel kesepakatan bisnis terbesar, Jenna sempat melihat sekilas ke arah mata Aga, bahwa pria itu terpaksa atas pertunangan ini.

Sempat ada jeda kecil saat musik sedikit mereda. Jenna memberanikan diri bertanya lagi, suaranya hampir tak terdengar, hanya untuk telinga Aga saja.

“Apa kamu tidak menginginkan pertunangan ini?”

Aga terdiam. Hening yang ckup panjang.

“Keinginan pribadi jarang sekali jadi pertimbangan utama bagi pewaris keluarga seperti kita, Jenna,” jawabnya, setelah cukup lama terdiam, nada bicaranya tenang namun menyakitkan. “Kita sudah terlahir dengan kewajiban, bahkan sampai tidak memiliki hak untuk memilih.”

Malam itu berakhir dengan pujian, foto, dan ucapan selamat yang tak berujung. Namun bagi Jenna, pesta itu terasa seperti panggung sandiwara yang megah—dan mereka berdua adalah aktor yang terpaksa memerankan kisah cinta yang tak pernah ada.

Ingatan itu perlahan memudar, lenyap kembali ke sudut pikiran saat suara di ruangan kembali terdengar jelas. Jenna mengedipkan mata, menyadari dirinya masih berdiri di ambang pintu, menatap Aga yang kini juga menatapnya—tanpa kehangatan, tanpa kelembutan, persis seperti kemarin malam.

“Maaf kalau kami datang terlambat,” ucap Jenna pelan, berusaha menyusun kembali sikapnya yang anggun. “Kami… sangat khawatir saat mendengar kabar Nyonya Ardila jatuh sakit mendadak.”

Aga hanya diam menatap dengan tatapan datar.

Belum sempat percakapan berkembang lebih jauh, pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini masuklah dokter yang menangani Nyonya Ardila, mengenakan seragam putih bersih, wajahnya tampak lebih santai dibandingkan saat pertama kali ia datang dengan tergesa‑gesa. Langkahnya tenang, seolah membawa kabar yang ditunggu‑tunggu semua orang.

Pak Haris langsung mendekat dengan napas tertahan. “Bagaimana kindisi istri saya, Dokter? Apakah… apakah ada perubahan?”

Jainal dan Jesika juga ikut maju selangkah, Jenna berdiri di belakang mereka, jantungnya berdebar menanti jawaban. Bahkan Aga pun, meski masih menjaga jarak, menatap dokter itu lekat‑lekat—berharap, sekaligus takut akan apa yang akan didengarnya.

Dokter itu tersenyum tipis, lalu mengangguk perlahan, seolah ingin menenangkan semua ketegangan yang memenuhi ruangan itu.

“Syukurlah, Pak Haris. Nyonya Ardila sudah sadar.”

Sebuah hening singkat menyelimuti ruangan, seolah semua orang butuh waktu untuk memproses kabar itu, sebelum akhirnya rasa lega yang luar biasa meledak pelan.

“Benarkah?” tanya Pak Haris, suaranya bergetar karena terharu.

“Iya, Pak Haris. Walaupun Nyonya Ardila masih sangat lemah. Tapi tekanan darahnya sudah turun kembali ke batas aman, irama jantungnya juga stabil.”

Jesika menghela napas panjang, menepuk dada pelan. “Syukurlah… sungguh syukurlah.”

“Bolehkah kami masuk melihatnya?” tanya Jainal sopan.

“Boleh saja,” jawab dokter sambil menoleh sedikit ke arah Pak Haris, lalu kembali menatap semua orang. “Tapi saya sarankan, jangan terlalu banyak orang sekaligus, jangan bicara hal‑hal yang berat atau emosional, dan mengunjunginya jangan terlalu lama. Beliau butuh ketenangan mutlak untuk pemulihan. Perasaan yang tenang sama pentingnya dengan obat‑obatan.”

Pak Haris mengangguk setuju. “Baik, Dokter. Kami mengerti. Terima kasih banyak atas kerja keras Anda.”

Setelah dokter pamit dan melangkah keluar menutup pintu rapat‑rapat, suasana di dalam ruangan berubah perlahan. Jenna menatap Aga sekali lagi, kali ini dengan pandangan yang lebih lembut, lebih berani menyiratkan rasa peduli.

“Kamu mau masuk duluan, Aga?” tanyanya pelan. “Kami… kami bisa menunggu sebentar kalau kamu ingin bicara berdua dulu dengan ibumu.”

Aga menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dada.

“Aku akan masuk sebentar saja,” jawabnya, dengan suara yang tenang namun berat. “Hanya sebentar.”

Ia lantas melangkah keluar dari ruang tunggu VVIP, meninggalkan Jenna dan orang tua mereka yang masih menunggu di ruangan itu.

Setibanya di kamar rawat Nyonya Ardila, Aga berhenti sejenak di ambang pintu, menatap sosok Nyonya Ardila yang tampak memejamkan matanya.

Perlahan Aga mendekat. Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas terlihat wajah ibunya yang terbaring diam, mata terpejam sebentar sebelum perlahan terbuka, menatap putranya yang berdiri tepat di sisi tempat tidur.

Di antara mereka berdua, masih ada jarak yang terasa jauh, masih ada pertanyaan yang belum terjawab, masih ada luka yang belum sembuh.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!